Usia 6 Bulan - 1 Tahun

Usia 6 Bulan - 1 Tahun

Bayi membutuhkan nutrisi dalam jumlah nan memadai buat dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangannya nan berjalan dengan pesat. Makanan nan diberikan tidaklah cukup hanya sekadar memenuhi rasa laparnya saja. Namun nan terpenting, juga harus memenuhi angka kecukupan gizi nan ditetapkan berdasarkan usia anak.

Pemberian nutrisi nan baik dan tepat akan sangat krusial buat menunjang kesehatan anak. Kebutuhan nutrisi bayi tentu saja berbeda dengan kebutuhan nutrisi pada orang dewasa, sehingga angka kecukupan gizinya pun tentu akan berbeda.

Perbedaan ini terlihat baik dalam hal jumlah maupun proporsi nutrisinya. Misalnya saja proporsi antara karbohidrat, protein, dan lemak. Pada bayi, proporsi lemak lebih banyak dibutuhkan dibandingkan proporsi karbohidrat dan protein. Kebutuhan nutrisi pada bayi akan terus mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia dan aktivitasnya.

Sebelum melangkah lebih jauh membahas mengenai angka kecukupan gizi pada bayi, sebetulnya apa nan dimaksud dengan angka kecukupan gizi itu? Angka kecukupan gizi ialah kebutuhan tubuh secara generik akan nutrisi-nutrisi nan dibutuhkan oleh tubuh.

Namun, angka kecukupan gizi ini bukanlah angka nan mutlak. Hal ini dikarenakan angka kecukupan gizi ini dapat saja berbeda antara satu orang dengan nan lain. Disparitas ini biasanya tergantung pada kebutuhan setiap bayi, dipengaruhi pula oleh jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, dan aktivitas fisik.



Angka Kecukupan Gizi pada Bayi Usia 0 - 6 Bulan

Pada saat bayi, semua kebutuhannya akan zat gizi sudah terpenuhi dengan baik oleh Air Susu Ibu (ASI). Sehingga, tak diperlukannya makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan. Peranan ASI dalam mencukupi kebutuhan bayi pun berkurang ketika bayi berusia 6 bulan. Ketika itu, ASI hanya mampu mencukupi sekitar 70% dari kebutuhan nutrisi bayi, sementara sisanya harus terpenuhi dari makanan tambahan nan diberikan sebagai pendamping ASI.

Berikut ini ialah angka kecukupan gizi pada bayi 0 - 6 bulan, berdasarkan jenis zat gizi.
• Energi: 550 kkal
• Protein : 10 g
• Vitamin A : 375 RE
• Vitamin D : 5 ug
• Vitamin E : 4 mg
• Vitamin K : 5 ug
• Thiamin : 0,3 mg
• Riboflavin : 0,3 mg
• Niasin : 2 mg
• Asam Folat: 65 ug
• Piridoksin : 0,1 mg
• Vitamin B12 : 0,4 ug
• Vitamin C : 40 mg
• Kalsium : 200 mg
• Fosfor : 100 mg
• Magnesium: 25 mg
• Besi : 0,5 mg
• Yodium : 90 ug
• Seng : 1,3 mg
• Selenium : 5 ug
• Mangan : 0.003 mg
• Flour : 0,01 mg



Angka Kecukupan Gizi pada Bayi Usia 6 Bulan - 1 Tahun

Tahun pertama merupakan masa krusial dalam masa pertumbuhan dan perkembangan bayi. Biasanya, bayi mengalami pertumbuhan nan pesat pada masa ini, sehingga angka kecukupan gizinya pun tentu juga bertambah. Selain itu, bayi juga mulai diberikan makanan tambahan sebagai pendamping ASI.



1. Energi

Kebutuhan energi bayi pada usia ini ialah 2-4 kali lebih besar dibandingkan energi nan dibutuhkan oleh orang dewasa. Tingginya asupan kalori ini digunakan buat menunjang begitu pesatnya pertumbuhan dan perkembangan anak serta cepatnya metabolisme dalam tubuh bayi. Itulah sebabnya, mengapa bayi lebih sering dan cepat merasa lapar dibandingkan orang dewasa.



2. Protein

Protein dikenal memegang peranan krusial dalam pertumbuhan dan perkembangan. Protein nan terdapat dalam ASI mengandung asam amino essensial nan krusial bagi pertumbuhan. Meskipun merupakan zat nan sangat dibutuhkan tubuh, namun jumlah asupan protein tidaklah melebihi 20% dari asupan total makanan. Kenapa? Karena kelebihan protein hanya akan memperberat kerja ginjal bayi.



3. Lemak

Lemak berperan sebagai sumber energi terbesar bagi bayi. Dari total holistik energi, lemak nan dibutuhkan tubuh ialah sekitar 30-50%. Jumlah ini merupakan jumlah proporsional, sinkron dengan angka kecukupan gizi bayi. Jika terlalu banyak nan masuk ke dalam tubuh maka akan mengakibatkan gangguan pencernaan.



4. Vitamin dan mineral

Terdapat berbagai macam vitamin nan dibutuhkan oleh bayi. Namun di awal kehidupannya, vitamin K merupakan vitamin esensial nan diperlukan. Vitamin K berperan dalam hal pencegahan terhadap risiko terjadinya perdarahan pada bayi baru lahir.

Kini, pemberian vitamin K diberikan secara rutin pada setiap bayi nan baru lahir, biasanya dalam bentuk suntikan. Vitamin ini bisa diberikan sampai bakteri usus pada bayi mampu membuat vitamin K sendiri. Vitamin lain nan dibutuhkan ialah vitamin D nan berperan dalam pembentukan tulang dan gigi serta membantu penyerapan kalsium oleh tubuh.

Kebiasaan baik nan dilakukan sejak dahulu ialah menjemur bayi di pagi hari. Hal ini memang baik dan memberikan kegunaan bagi tubuh, sebab sinar matahari merupakan sumber vitamin D alami. Sebaiknya, menjemur bayi dipagi hari antara pukul 6 hingga 8 pagi selama 15-30 menit, sinar matahari di atas pukul 8 biasanya kurang bagus bagi kesehatan. Apalagi banyaknya lapisan ozon nan berlubang, menyebabkan sinar ultraviolet berbahaya dapat lolos masuk ke bumi.

Selain itu, cadangan zat besi pada bayi biasanya akan mulai berkurang pada usia sekitar 4 bulan. Itulah sebabnya, krusial buat memberikan suplementasi zat besi ketika bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI. Makanan nan kaya akan zat besi ialah beras merah, daging merah, hati, dan lain sebagainya. Yodium dan seng ialah jenis mineral krusial nan dibutuhkan buat menunjang pertumbuhan bayi.



5. Air

Kebutuhan air pada bayi sekitar 1,5 ml buat setiap kalori nan terkandung dalam makanannya. Sebagai contoh, jika dalam sehari kebutuhan kalori nan harus dipenuhi ialah 650 kkal maka kebutuhan airnya ialah 975 ml atau kurang dari 1 liter air.

Kebutuhannya akan air biasanya sudah terpenuhi dari ASI atau susu formula nan biasa dikonsumsinya. Sebab, keduanya mengandung 95% air. Namun dalam beberapa kondisi tertentu, dibutuhkan air dalam jumlah nan lebih banyak, misalnya saat bayi diare, demam, dan muntah-muntah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan bayi mengalami dehidrasi, jika tak dibarengi dengan tambahan air nan memadai.

Berikut ini ialah angka kecukupan gizi berdasarkan jenis zat gizi pada bayi 6 bulan - 1 tahun, yaitu sebagai berikut.
• Energi : 650 kkal
• Protein : 16 g
• Vitamin A : 400 RE
• Vitamin D : 5 ug
• Vitamin E : 5 mg
• Vitamin K : 10 ug
• Thiamin : 0,4 mg
• Riboflavin : 0,4 mg
• Niasin : 4 mg
• Asam Folat: 80 ug
• Piridoksin : 0,3 mg
• Vitamin B12 : 0,5 ug
• Vitamin C : 40 mg
• Kalsium : 400 mg
• Fosfor : 225 mg
• Magnesium : 55 mg
• Besi : 7 mg
• Yodium : 90 ug
• Seng : 7,5 mg
• Selenium : 10 ug
• Mangan : 0.6 mg
• Flour: 0,4 mg



Panduan Generik Pemberian Makanan pada Bayi

Secara umum, terdapat beberapa anggaran dalam pemberian makanan pada bayi, terutama bayi di awal pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), yaitu sebagai berikut.



1. Tidak dianjurkan memberikan madu dan sirup jagung

Kedua produk ini mungkin mengandung spora clostriduim botulinum nan akan berkembang dalam saluran pencernaan dan menghasilkan racun nan bisa meracuni tubuh.



2. Tidak dianjurkan memberikan gula dan garam dalam makanan

Gula dan garam tak dianjurkan diberikan kepada bayi, setidaknya 1 tahun pertama. Ada beberapa alasan mengapa gula dan garam tak diperbolehkan. Salah satunya, sebab bayi harus mengenali cita rasa orisinil dari suatu makanan, tanpa diberikan bahan tambahan atau penyedap rasa apa pun.

Hal ini krusial bagi kelanjutan aktivitas makannya di masa mendatang. Selain itu, gula dan garam pun dapat memperberat kerja ginjal bayi nan belum berkembang dengan sempurna, sehingga tentu saja dapat membahayakan bagi bayi.



3. Hindari makanan nan membuat bayi tersedak

Sebaiknya, hindari makanan dalam bentuk potongan nan besar sebab dapat menyebabkan bayi tersedak. Di awal pemberian makanan, sebaiknya bayi diberikan makanan dalam tekstur nan lembut dan berukuran cukup kecil, sehingga memudahkan bayi menelannya.

Dari uraian di atas, dapat terlihat dengan jelas bahwa terdapat perbedaaan antara angka kecukupan gizi pada bayi di bawah 6 bulan dengan di atas 6 bulan. Kebutuhan zat gizi selalu bertambah seiring dengan pertambahan usia dan aktivitas si kecil. Oleh sebab itulah, makanan sebagai komponen krusial nan menunjang pertumbuhan dan perkembangannya harus selalu diperhatikan. Anak tak saja harus makan dalam jumlah nan banyak, namun nan terpenting ialah kualitas makanan nan dikonsumsinya harus syarat akan zat gizi nan memang dibutuhkan.