Menghindari Stres di Masa Bayi

Menghindari Stres di Masa Bayi

Masa bayi ialah masa krusial dalam tumbuh bunga fisik dan mental seorang anak. Oleh sebab itu, krusial buat membuat bayi bahagia, tenang, dan merasa aman. Kini, banyak ditemui kasus bayi stres. Stres pada bayi disebabkan oleh banyak hal. Ketahui lebih lanjut mengenai stres pada bayi dalam artikel ini.



Penyebab Stres di Masa Bayi

Penyebab stres pada orang dewasa sudah jelas diketahui penyebabnya, yakni permasalahan hayati seperti persoalan ekonomi, sosial, dan sebagainya. Lantas apa penyebab stres pada bayi? Bagi orang awam, barangkali bayi nan stres terdengar tak mungkin. Bagaimana mungkin seorang bayi nan hidupnya belum rumit dapat mengalami stres?

Akan tetapi jangan salah, bayi dapat stres sebab hal-hal kecil nan terjadi setiap hari, apalagi hal-hal besar. Inilah beberapa penyebab stres pada bayi nan generik ditemui di lapangan:



1. Rasa lapar dan haus nan ditahan

Bayi belum mampu menahan rasa lapar dan haus. Jika merasa lapar ataupun haus, seketika ia akan menjadi rewel. Jika bayi dipaksa berlama-lama menahan lapar dan haus beberapa kali (misalnya sebab tak ada sumber makanan atau air susu sebab alasan ekonomi), bayi dapat menjadi stres. Namun stres seperti ini dapat hilang jika bayi mendapatkan makanannya lagi secara teratur.



2. Kurang perhatian dari orang tua

Meskipun bayi terlihat belum mampu berkomunikasi, sebetulnya bayi sudah dapat merasakan. Ia bisa merasakan jika orang tuanya tak memperhatikannya. Ini akan membuatnya menangis terus menerus. Seperti stres sebab lapar, stres sebab kurang perhatian dapat ditangani dengan segera.



3. Diperlakukan kasar

Dalam beberapa kasus, bayi nan diasuh oleh orang lain nan bukan ibunya (misalnya oleh pengasuh) terkadang diperlakukan kasar tanpa kasih sayang. Perlakuan kasar nan dapat menjurus pada kekerasan akan membuat bayi tak nyaman, walaupun bayi tak menangis sebab dikasari. Akibat stres dampak perlakuan kasar sangat signifikan dan berpengaruh kepada pertumbuhan psikologisnya, ia akan tumbuh menjadi anak nan rewel, pemarah, pemurung, atau pengganggu.



4. Melihat dan mendengar pertengkaran orang tua

Bayi ialah makhluk kecil nan peka terhadap emosi nan muncul di sekitarnya. Walaupun tak memahami perkataan dalam pertengkaran orang tuanya, bayi dapat merasakan suasana tegang dan melihat aktualisasi diri paras negatif orang tuanya, termasuk nada bicara nan keras dan tinggi. Dengan begini, bayi dapat menjadi stres. Apalagi jika ia sering menyaksikan ibunya dikasari oleh sang ayah.



5. ‘Tertular’ stres dari ibu

Stres dan depresi dapat menular. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada bayi. Seorang ibu nan stres (lesu, sering menangis, cepat marah) tak bisa mengasuh bayinya dengan baik. Si bayi akan melihat aktualisasi diri paras dan perlakuan ibu nan negatif kepadanya, dan hal ini bisa memicu rasa tak nyaman dan stres.



6. Rasa sakit nan diabaikan

Jika sakit, seorang bayi akan menjadi rewel buat memberi tahu orang tuanya bahwa ada nan tak nyaman dengan tubuhnya. Setelah itu biasanya orang tua sigap mencari tahu penyebab rasa sakit dengan membawanya ke dokter anak atau berkonsultasi pada orang nan lebih mengerti. Akan tetapi jika orang tua tak serius bahkan mengabaikan rasa sakit pada bayi, bayi tersebut bukan saja akan merasa semakin sakit tetapi juga tertekan dan stres sebab menahan rasa sakitnya.



Gejala Stres di Masa Bayi

Karena bayi tak dapat berbicara, ia belum mampu mengutarakan perasaannya. Begitu juga saat ia mengalami stres. Oleh sebab itu, kepekaan orang tua—terutama ibu—adalah hal nan krusial buat mencari tahu bahwa bayinya mengalami stres. Untuk membantu Anda mengetahui ciri-ciri bayi nan stres, simak gejala stres nan generik muncul pada bayi berikut ini:



1. Rewel berlebihan

Bayi memang pada dasarnya menjadi rewel jika merasa tak nyaman, seperti ketika lapar atau mengompol. Akan tetapi jika rewel tersebut hiperbola (dalam hal frekuensi dan intensitas) dan tak seperti biasanya, sebaiknya Anda segera mewaspadai penyebabnya. Rewel hiperbola dapat jadi dampak bayi sakit atau depresi. Untuk membedakannya, Anda sebaiknya memahami dan mengenali makna serta maksud tangisan si kecil.



2. Gelisah saat tidur

Ada sebuah ungkapan nan menyatakan “sleep like a baby” nan berarti tidur nyenyak seperti bayi. Si kecil seharusnya tidur lelap dan hanya terbangun sebab lapar atau mengompol. Akan tetapi seorang bayi nan stres cenderung gelisah dan tak nyenyak tidurnya. Dalam semalaman, ia dapat berkali-kali terbangun meskipun popoknya kering dan tak lapar. Secara psikologis ia merasa tak nyaman.



3. Berat badan merosot

Bayi nan depresi cenderung susah makan dan minum susu. Ia merasa tak selera makan sebab keadaan psikisnya sedang tak baik. Ini lambat laun mengakibatkan berat badan bayi menurun. Penurunan berat badan dapat terjadi secara bertahap maupun secara drastis. Hal ini membahayakan, masa- masa bayi ialah masa tumbuh bunga nan membutuhkan banyak nutrisi. Jika ia menolak makan dan minum susu, bisa-bisa ia kekurangan gizi dan tumbuh kembangnya terhambat.



4. Terlihat tak ceria dan selalu murung

Jika diajak bermain dan berkomunikasi, bayi nan normal akan merespons dengan tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak. Bayi nan sehat ialah bayi nan ceria. Sementara itu seorang bayi nan dilanda stres cenderung bersikap dingin, murung, dan acuh tidak acuh. Ia terlihat tak bahagia.



5. Tidak mau lepas dari ibunya

Ibu ialah pemberi rasa kondusif dan nyaman bagi bayinya. Bayi normal dapat ditinggal selama beberapa saat tanpa menjadi rewel. Akan tetapi bayi nan stres dan tak nyaman secara psikis menjadi lebih bergantung pada ibunya dan panik jika ditinggalkan walaupun hanya sebentar.



Menghindari Stres di Masa Bayi

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh sebab itu sebaiknya jauhi bayi dari penyebab-penyebab stres sebelum stres tersebut menyerang bayi. Untuk menjaga bayi dari stres cukup mudah. Intinya ialah selalu membuat bayi merasa nyaman dan dicintai serta diperhatikan. Penuhi kebutuhan dasarnya, terutama makan dan minum serta kebutuhan kesehatan secara konsisten agar bayi merasa nyaman dan aman. Jangan tunda jam makan atau jam minum susunya dan segera ganti popoknya ketika mengompol.

Selain itu, ciptakanlah lingkungan nan kondusif. Lingkungan nan aman mencakup keadaan lingkungan nan higienis dan nyaman, tak berisik, dan keadaan orang tua nan mesra sehingga jauh dari pertengkaran. Lingkungan nan aman juga diciptakan dengan menghindari orang tua dari stres. Ingat, orang tua nan stres bisa menularkan perasaan tertekan pada bayinya.

Jika menggunakan jasa pengasuh bayi, pastikan Anda mengawasi kerjanya. Walaupun kelihatannya sang pengasuh dapat dipercaya, tetap saja Anda tak dapat lepas tanggung jawab. Afeksi seorang pengasuh berbeda dengan afeksi seorang ibu. Seorang ibu dapat saja sabar menghadapi tangisan bayinya sebab ia menyayanginya, sedangkan pengasuh tak selalu dapat bersabar seperti itu.

Apabila bayi Anda terlanjur mengalami stres, segera limpahkan seluruh afeksi Anda padanya. Stres ringan dapat disembuhkan dengan afeksi dan perhatian nan cukup dari kedua orang tua. Namun jika tidak kunjung sembuh (bayi Anda tetap rewel dan tidak ceria), berkonsultasilah dengan psikiater sebab barangkali bayi Anda memerlukan terapi dan perawatan spesifik buat kembali normal. Jangan remehkan gejala stres di masa bayi, sebab hal tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan mental dan fisik bayi secara signifikan.