Waktu Global - Sekilas Zona Waktu Indonesia

Waktu Global - Sekilas Zona Waktu Indonesia

Waktu dunia sekarang kita kenal dengan hitungan 24 jam sehari. Namun, pernahkah kita bertanya, kenapa mesti 24 jam sehari? Kenapa 1 jam 60 menit? Kenapa 1 menit 60 detik? Bagaimanakah sistem waktu global ini berawal?

Manusia saat ini banyak menggunakan sistem sapta berbasis 10. Namun, sistem duodesimal berbasis 12 dan sexadesimal berbasis 60 nan dipakai buat mengukur waktu. Sistem sapta ini pertama kali diperkenalkan buat membagi hari pada masa Mediterania kuno.

Ilmuwan di International Measures dan Bureu of Weights di Paris, Prancis, mempertimbangkan menghapus bulan depan. Hal ini dilakukan buat mengubah cara manusia menyebut waktu global nan kebanyakan orang tidak mengetahui keberadaannya.

Ilmuwan ini berencana menghapus ‘lompatan detik’ dari Coordinated Universal Time (UTC). Kebanyakan orang menyadari adanya lompatan tahun nan akan ada hari ekstra seperti pada akhir Februari nan terjadi tiap empat tahun sekali buat menyesuaikan dengan rotasi tahunan Bumi.

Namun,lompatan detik memiliki akibat jauh tidak terduga, yakni menambahkan detik pada jam dalam pola nan tidak prediksi. Hal ini disebabkan pelambatan perlahan rotasi Bumi dampak pasang surut samudera atau daya tarik Bulan.

Sederhananya, sejak dulu, kita harus menghentikan jam selama beberapa detik. Bumi dapat sinkron pengukuran waktu. Menghapuskan gangguan kecil ini bisa memastikan tidak adanya berhentinya waktu global secara mendadak.

Dalam pandangan bahwa waktu global hanya berjalan satu arah, jika kita melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, dan membunuh kakek buyut kita, tentunya hal itu berakibat mencegah kelahiran kita ke dunia. Akan tetapi, jika kita tak pernah ada, kita tak akan pernah melakukan perjalanan kembali ke masa lalu buat membunuh leluhur kita.

Dan, kemungkinan kita tetap akan lahir ke dunia. Itu menjadi semacam siklus-tanpa-akhir nan membingungkan. Sementara, dalam pandangan nan meyakini akan adanya global paralel, perubahan nan kita lakukan di masa lalu tak berdampak pada global dimana kita hidup, melainkan hanya pada global dimana kita melakukan tindakan.

Jadi, jika kita melakukan seperti contoh diatas, dengan membunuh leluhur kita di masa lalu, kita mencegah kelahiran ‘diri kita’ di dimensi tersebut, bukan di global nan sama loka kita hidup.



Waktu Global - Dari Mesir Antik Hingga Ptolemy

Orang-orang Mesir kuno, sekitar 1500 SM, mengembangkan sebuah sistem berbentuk seperti huruf T buat membuat jam matahari dan menggunakan sapta berbasis 12. Benda tersebut ditaruh di atas tanah, kemudian mereka membagi waktu dengan sistem berbasis 12 bagian. Waktu tersebut dihitung berdasarkan matahari terbit dan tenggelam.

Menurut sejarawan, mereka memanfaatkan sistem sapta 12 berdasarkan jumlah siklus bulan dalam setahun. Selain itu, didasarkan pula pada jumlah sendi jari, nan memungkinkan mereka menghitung sampai 12 menggunakan jempol. Astronomi Mesir antik juga membagi malam menjadi 12 bagian. Hal ini didasarkan pada 12 bintang nan ada di malam hari. Dari sini manusia mulai mengenal konsep 24 jam sehari.

Hipparchus, seorang pakar astronomi Yunani, pada 147-127 SM menyarankan jam dalam sehari tetap dibuat 24 jam. Sistem ini disebut sistem waktu equinoctial. Ketika jam mekanik ditemukan pada abad ke-14 di Eropa, sistem ini baru diberlakukan.

Jam mekanik sendiri dibuat pada 1200-an, menggunakan pemberat sebagai penggeraknya, tapi tidak memiliki bandul. Penanda satuan waktunya ialah bunyi lonceng atau bel. Sejarah sistem waktu global kemudian diperkenalkan juga oleh Eratosthenes pada 276-194 SM. Ia merupakan astronom Yunani. Ia membuat sistem geografis latitude berdasarkan sebuah lingkaran menjadi 60 bagian.

Sistem nan diperkenalkan Eratosthenes ini sebenarnya sudah dipergunakan oleh orang-orang Babilonia nan tinggal di Mesopotamia dahulu. Bangsa Sumeria pada 2000 SM pun sudah menggunakan sistem 60 ini. Kemungkinan, sistem sapta 60 ini digunakan agar perhitungannya mudah, sebab angka 60 merupakan angka nan dapat dibagi habis oleh angka 10, 12, 15, 20, dan 30.

Setelah itu, Claudius Ptolemy membagi setiap derajat menjadi 60 bagian, pada 130 SM. Meski ada sebanyak 60 bagian, tapi nan digunakan cuma 2 bagian saja. Bagian pertama itu menjadi menit, dan nan kedua jadi detik. Sisanya, membentuk satuan waktu nan lebih kecil dari detik. Sistem waktu ini membutuhkan waktu nan panjang buat tersebar luas. Terbukti, jam penunjuk waktu nan menggunakan sistem menit baru dibuat pada abad ke-16. Sekarang, kita mengenal sistem waktu itu.



Greenwich dan Sistem Waktu Dunia

Lantas, di manakah letak baku waktu global saat ini? Jawabannya ada di Greenwich, Inggris. Penetapan Greenwich sebagai baku waktu global tidak dapat lepas dari berkembangnya teknologi kereta api.

Di akhir abad ke-19, jaringan kereta barah Amerika Perkumpulan dan Kanada melalui berbagai waktu lokal, melintasi garis bujur nan lebar. Kejanggalan ditemui saat memesan tiket. Tiket di kota nan satu harus mencantumkan waktu pemberangkatan dan waktu tiba di kota nan lainnya. Di sini timbul kebingungan, sebab setiap kota mempunyai waktu lokal masing-masing. Saat itu, belum ada baku waktu dunia.

Lantas, pada 1879, seorang insinyur kereta barah asal Kanada bernama Sir Sandford Fleming, mengusulkan adanya baku waktu dunia . Usul ini dikemukakan pada 8 Februari 1879 di Royal Institute Kanada berdasarkan pengalaman Fleming setelah mengalami keterlambatan kereta barah di tahun 1876 di Irlandia.

Fleming mengusulkan sebuah waktu tunggal nan berlaku bagi seluruh dunia, nan terletak di pusat bumi dan tak terhubung ke setiap permukaan meridian. Dia menyarankan zona waktu baku dapat digunakan secara lokal, namun berada di bawah waktu dunia nan tunggal.

Lalu, berkat promosi dan usulan Fleming tadi, pada 1884 diadakan sebuah konferensi internasional bernama Konferensi Meredian di Washington DC, Amerika Serikat. Saat itu, hadir 27 wakil dari berbagai negara. Di rendezvous tersebut, diambil keputusan bahwa negara dibagi dalam 24 zona waktu. Setiap zona selebar 15 derajat bujur bumi, dimulai dari Greenwich, Inggris. Saat itu mulai dikenal Greenwich Mean Time (GMT).

Lalu, mengapa Greenwich nan jadi pusatnya? Para astronom percaya bahwa kota itu ialah pusat nol derajat. Namun, menurut geolog Mesir, Dr. Zaglur Najjar, keputusan tersebut bersifat politis. Saat itu, Inggris merupakan kekuatan kolonial nan paling besar di dunia. Hal itu terlihat dari banyaknya daerah jajahan Inggris di dunia.

Dari Greenwich, bumi terbelah menjadi garis-garis bujur imajiner. Perhitungannya, setiap 15 derajat sama dengan 1 jam. Setiap 15 derajat dari sana, dihitung berbeda 1 jam dalam hitungan 24 jam. Dari bujur nan berjarak 180 derajat dari Greenwich pula perhitungan hari dan tanggal internasional bermula. Posisi kita di garis bujur menjadi patokan perhitungan waktu.

Logikanya begini. 24 jam itu merupakan waktu satu putaran bumi, disparitas waktu 1 jam ada di 360 derajat/24 sama dengan 15 derajat garis bujur. Setiap daerah nan mempunyai disparitas posisi bujur sebesar 15 derajat, artinya akan mempunyai disparitas waktu 1 jam.



Waktu Global - Sekilas Zona Waktu Indonesia

Dari posisi Greenwich, Indonesia berada di 95 derajat bujur timur hingga 141 derajat bujur barat. Posisi 95 derajat bujur timur ini kalau dihitung dari garis nol derajat Greenwich punya waktu nan berbeda sebanyak 95 derajat/15 derajat, atau sama dengan 7 jam lebih awal dari waktu Greenwich. Dari posisi ini, dapat dicontohkan, kalau di London pukul 00.00 berarti di Jakarta pukul 07.00.

Karena Indonesia posisinya terbentang dari 95 derajat bujur timur sampai 141 derajat bujur barat, maka Indonesia terbagi menjadi tiga zona waktu, yakni waktu Indonesia Barat (WIB), waktu Indonesia Tengah (WITA), dan waktu Indonesia Timur (WIT). Masing-masing berbeda 1 jam.

Dalam sejarahnya, zona waktu tersebut mengalami perubahan setiap zaman. Tiga zona waktu sendiri ditetapkan pada 1963. Pada 1987, pemerintah membuat kebijakan buat memutuskan Bali masuk ke zona WITA, sebab pertimbangan pariwisata, dan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik ke zona WIB dari zona WITA.

Pada Maret lalu, ada wacana penyatuan zona waktu WIB, WITA, dan WIT dari Komite Akselerasi dan Ekspansi Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). KP3EI meniru beberapa negara nan menyatukan zona waktu, dan dapat memberi laba ekonomis.

Wacana itu rencananya dilaksanakan dengan menyederhanakan bujur 45 derajat menjadi 1 jam. Menurut mereka, sebaiknya satu negara hanya memiliki sedikit mungkin zona waktu, buat kemudahan administrasi dan lain-lain. Wacana ini masih dipertimbangkan pemerintah sampai sekarang.

Itulah sejarah soal waktu dunia nan mungkin dapat menambah wawasan kita soal kemunculan waktu di zaman modern sekarang. Semoga bermanfaat.