Dilarang Makin Mengasyikkan

Dilarang Makin Mengasyikkan

Pernahkah Anda menyaksikan gemerlap percikan bunga api? Ya, siapa pun niscaya pernah menyaksikan pemandangan bagus satu ini. Kembang barah dan tahun baru memang dua hal nan saling mengikat. Merayakan tahun baru tanpa menyalakan bunga barah seolah terasa hambar.

Dalam seremoni tahun baru, bunga barah dipakai beriringan bersama petasan dan terompet. Padahal kalau ingin dipikir-pikir, seremoni seperti itu hanya membuang uang, energi, dan waktu. Namun, manusia memang mempunyai cara tersendiri merasa bahagia. Mereka ingin kebahagiaan itu menjadi lengkap dan paripurna dengan hal-hal nan mereka inginkan termasuk membakar bunga barah dan menyalakan petasan.



Percikan Barah Warna-Warni

Bagaimanapun, percikan barah nan tersembur ke atas langit itu memberikan estetika tersendiri. Percikan bunga barah beraneka rona dan bentuk itu seolah menghias langit malam nan cenderung menghitam. Kehadiran bunga barah mampu menciptakan suasana riang, bahagia, romantis. Bahkan, dapat saja sedih bagi sebagian orang.

Anda dapat menikmati suasana latif ini bersama orang-orang terkasih. Misalnya, keluarga, sahabat, dan pacar. Pemandangan bagus itu akan terasa lebih latif jika dilewati dengan orang-orang nan paling berarti dalam hayati Anda. Tidak perlu pergi ke luar negeri buat mencari estetika luar biasa itu, Anda cukup menyaksikannya di halaman rumah dan rasakan sensasinya. Sensasi tahun baru ini benra-benar telah menjadi satu budaya baru sehingga banyak orang merasa kurang lengkap bila tak mengikuti apa nan dilakukan oleh orang kebanyakan.

Padahal buat mendapatkan sensasi senang nan sesungguhnya itu tak harus dengan bunga api. Namun, begitulah nan terjadi di tengah masyarakat. Tidak mengherankan kalau teknologi bunga barah semakin berkembang. Bahkan di acara-acara besar eksklusif taraf internasional, penyalaan bunga barah seolah telah menjadi rangkaian acara penutupan nan paling ditunggu oleh banyak orang. Para pakar bahan peledak tentu saja menjadi sangat bahagia sebab keahliannya digunakan banyak orang.

Banyaknya korban nan berjatuhan sebab pembuatan petasan atau bunga api, ternyata tak menyurutkan orang buat terus berkreasi dengan bunga api. Mereka menciptakan sensasi nan bhineka dengan tampilan nan tak serupa. Yang paling banyak memang bentuk kembang nan berjatuhan atau bentuk jamur besar saling menumpuk. Ada juga bentuk roket nan memancarkan pijar sehingga bagai tembakan ke udara dengan rona nan indah. Malam lebaran juga tak luput dari estetika bunga api.

Masyarakat seolah tak merasa berat membeli bunga barah dengan harga terkadang cukup buat membeli satu buah sepatu dengan merek nan bagus (250 ribuan hingga 300 ribuan). Kembang barah nan hanya dinikmati sangat sebentar itu seolah dijadikan sebagai gong atau epilog dari semua rasa bahagia. Anak-anak nan membeli bunga barah seharga 10 ribu hingga 30 ribu juga seolah mendapatkan satu permainan nan sangat menyenangkan. Padahal uang 30 ribu itu dapat dipakai buat membeli beras nan cukup bagus sebanyak 5 kg. Beras sebanyak itu mungkin cukup buat makan satu keluarga selama seminggu.

Namun, itulah global dan cara orang menemukan kebahagiaannya. Pemerintah sendiri telah berusaha membatasi penjualan petasan dan melakukan razia terhadap orang-orang nan menjual petasan ilegal. Yang terjadi ialah semakin banyak orang berusaha menjual petasan. Hal ini tak lain terkait dengan permintaan. Kalau tak ada permintaan tentu saja tak akan ada orang nan berani menjual petasan atau bunga barah lagi. Masyarakat harusnya sadar kalau bahan nan digunakan buat membuat petasan atau bunga barah itu sangat berbahaya bagi kesehatan maupun bagi jiwa nan membuatnya.

Kalau dipikir dari kacamata budaya, petasan mungkin akan sangat sulit buat dihilangkan. Masyarakat Tionghoa sangat membutuhkan petasan ketika merasakan imlek atau tahun baru China. Masyarakt Betawi juga sangat membutuhkan petasan. Kadang orang nan akan naik haji pun diiringi dengan petasan. Padahal hal-hal seperti itu bukan bagian dari hukum Islam. Malahan hal itu diyakini sebagai salah satu dari perbuatan nan mubazir.

Tetapi itulah budaya. Masih banyak orang nan lebih takut melanggar embargo budaya atau adat daripada embargo agama. Masyarakat takut menjadi dikucilkan atau menjadi orang nan dipandang sok suci. Padahal adat itu terkadang tak sinkron dengan tuntunan agama. Adat tak akan emmbawa ke surga kalau bertentangan dengan ajaran agama. Ketakutan kepada manusia terasa lebih kental daripada ketakutan kepada Sang Khalik.



Penghias Langit 1 Januari

Terompet, petasan, dan bunga api, memang merupakan tiga hal nan seolah wajib ada di malam pergantian tahun. Terutama, pergantian tahun Masehi. Ketiganya merupakan penambah semarak keceriaan malam tahun baru. Suara riuh petasan nan memekik telinga dipadu suara terompet nan tidak kalah membuat bising menjadi kenyataan wajar pada malam 1 Januari. Semua orang ingin menikmatinya. Mereka rela melelahkan tubuh dan membengkakkan mata demi menyaksikan kemeriahan malam tahun baru.

Padahal semua itu tak memberikan kegunaan apa-apa. Mereka seakan tak merasa bagian dari global kalau tak ikut serta dalam pesta nan melenakan itu. Bahkan ada nan sampai menegak minuman keras dengan kadar alkohol nan sangat tinggi. Bagi mereka itulah pesta nan harus dirayakan setahun sekali. Bagaimana kalau mereka wafat dampak dari minuman nan tak tahu dari bahan apa oplosannya. Tahun baru itu dapat membuat maksiat dan dapat menyebabkan kematian nan tak diinginkan.

Kebisingan itu selalu terjadi setiap tahun, tanpa kecuali. Di setiap negara, suasana bising itu nyaris serupa terjadi di awal tahun Masehi. Kebisingan itu seolah tambah semarak dengan kilatan-kilatan cahaya nan mengangkasa dari sebatang bunga api. Percikan bunga barah terdiri atas berbagai bentuk dan rona nan semuanya indah.

Keindahan nan terkadang hanya semu saja. Jangan-jangan kemeriahan ini sengaja diciptakan oelh orang-orang nan ingin barangnya laku. Para pencipta bunga barah dan para pembuat petasan jangan-jangan tidur pada malam itu. Bagi mereka kebahagiaan ialah ketika berkarya dan biarkan orang lain berbahagia dengan hasil karya nan telah mereka ciptakan.

Hal inilah nan membuat momen tahun baru selalu dinantikan oleh setiap orang. Semarak nan hanya terjadi setahun sekali. Meskipun demikian, ada pula orang nan tak begitu antusias merayakan tahun baru Masehi. Namun, hal ini tidaklah mengurangi estetika bagi nan lainnya. Toh , setiap orang memiliki kebebasan buat menentukan sesuatu. Kebebasan nan seharusnya ada batasnya itu terkadang membuat banyak orang terlena. Mereka lupa kewajiban. Pemandangan nan seharusnya latif itu menjadi satu pemandangan nan tak bagus lagi kalau ternyata apa nan dilakukan hanya membawa kemudharatan.



Dilarang Makin Mengasyikkan

Karena dinilai cukup membahayakan, keberadaan petasan dan bunga barah sempat dilarang. Bahkan, mungkin hingga kini masih dilarang. Namun, hal itu tidaklah menyurutkan tekad para penggila kedua mainan "berapi" tersebut. Bagaimanapun, keduanya menghadirkan estetika dan kesemarakan nan sulit dibayar oleh apapun.

Semakin banyak dilarang, bermain bunga barah dan petasan seolah semakin mengasyikkan. Jika sudah demikian, aparat pengaman keduanya pun seolah tidak dapat berbuat banyak. Kecuali, membiarkan dan turut menyaksikan estetika kedua benda nan "dilarang" itu. Alasan pelarangannya jelas, demi keselamatan.

Salah satu sifat manusia ialah ketika ada larangan, ia merasa embargo itu hanya akan mengekang dirinya. Padahal semua embargo apalagi embargo dari Tuhan, niscaya ada akibat negatif nan akan dirasakan kalau dilanggar. Tuhan sangat tahu apa nan bai bagi manusia. Hanya saja manusia tak mau atau pretensi tak tahu atau bahkan berusaha mengecoh semua bentuk embargo itu agar manusia tetap dapat melampiakan nafsunya. Inilah manusia nan penuh dengan kesalahan dan dosa. Tuhan memang maha pengampun. Ketika manusia bersalah di pagi hari dan manusia itu berusaha memperbaiki diri, maka dosanya akan diampuni.

Pemerintah melarang petasan dan bunga barah juga ada tujuannya. Korban jiwa telah banyak. Korban nan menderita stigma seumur hayati juga telah banyak. Pemerintah tidak mau rakyatnya menderita. Pemerintah ingin masyarakat berbahagia dengan cara nan kondusif dan tak berbahaya.

Sekali lagi, pesona bunga barah merupakan salah satu pemandangan bagus karakteristik khas tahun baru nan bisa Anda nikmati. Anda boleh melibatkan diri sebagai pelaku dan penikmat maupun hanya sebagai penikmat. Semua bergantung pada Anda menyikapi estetika tahunan itu. Jika berperan sebagai pelaku, Anda tetap harus berhati-hati bermain api!