Jawa Post, Bisnis Lain, dan Global TV

Jawa Post, Bisnis Lain, dan Global TV

Mungkin saja banyak orang nan awalnya membeli koran Jawa Post sebab ada tulisan Dahlan Iskan di situ. Tapi lama-kelamaan, gaya bahasa dan warta nan ditampilkan oleh Jawa Post memang berbeda dengan gaya bahasa dan sudut pandang pemberitaan.



Jawa Post - Selalu Ada nan Baru

Slogan Jawa Post, 'Selalu ada nan baru' membawa imbas nan luar biasa terhadap perkembangan koran nan hampir wafat suri ini. Jargon tersebut tak saja membuat para wartawan dan awak redaksi lainnya buat selalu menampilkan sisi pemberitaan nan berbeda dengan koran lainnya, tapi juga membuat mereka berpikir buat melakukan perluasan pasar nan luar biasa.

Hingga saat ini, Grup Jawa Post telah memiliki 151 koran lokal dan nasional. Tidak mungkin Grup Jawa Post mampu dan mau melakukan perluasan nan sebegitu luas dan besar dengan dana investasi nan tak sedikit kalau mereka tak tahu potensi pasar nan ada di suatu daerah. Koran lain nan ada di seluruh nusantara ini bnyak. Media pemberitaan seperti televisi dan internet juga mempunyai pangsa pasar nan luar biasa. Tapi Grup Jawa Post masih berani melebarkan sayapnya dengan berbasis pada warta cetak. Kalau bukan sebab kegilaan, orang-orang Jawa Post ini niscaya mempunyai taktik pasar nan meyakinkan.

Berita nasional memang perlu. Warta lokal lebih membumi. Demi memberikan kebutuhan masyarakat terhadap informasi nan dekat dengan kehidupan mereka, Jawa Post membuat koran-koran lokal nan diberi nama sinkron dengan nama loka koran tersebut diterbitkan. Misalnya, Sumatera Ekspres, Palembang Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Radar Banten, Malut Pos , dan lain-lain.

Luar biasanya, koran lokal milik Grup Jawa Post itu menyebar di hampir semua pulau besar di Indonesia, seperti, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, Maluku, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Untuk pulau-pulau besar, seperti Jawa dan Sumatera, Grup Jawa Post bahkan memiliki beberapa koran lokal nan spesifik buat kabupaten-kabupaten nan dinamika penduduk, politik, dan ekonominya cukup dinamis.

Di Palembang sendiri, misalnya, Jawa Post memiliki 7 koran lokal. Salah satunya adalah Sumatera Ekspres . Tahun-tahun awal kemunculannya, Sumatera Ekspres jauh kalah oplah dibandingkan dengan koran lokal nan lebih dulu ada, Sriwijaya Pos (Sripo). Tapi sekarang, Sumatera Ekspres sudah cukup terkenal dan bahkan terkadang mampu mengalahkan Sripo.

Teknik penjualan dan pemberitaan serta harga dan promosi menjadi pegangan Grup Jawa Post dalam menjalankan bisnisnya. Konsep 4P ( Product, Price, Place , dan Promotion ) merupakan satu konsep nan benar-benar dilakukan secara militan sehingga seolah-olah masyarakat tak perlu lagi merasa 'lapar dan haus' informasi. Semua disediakan oleh Jawa Post. Belum sempat merasa 'lapar', Jawa Post telah menyuguhkan hal nan lain lagi. Itulah teknik bisnis nan patut dicontoh oleh para pebisnis lain.



Jawa Post dan Dahlan Iskan

Mau tak mau, semua orang akan berkata bahwa Dahlan Iskan lah nan membuat koran Jawa Post bangkit dan berkembang. Dahlan Iskan nan visioner dan pemimpi itu tidak ingin kalah dalam semua tindak tanduknya. Dia selalu ingin nan terbaik, terdepan, dan terhebat. Tidak salah kalau akhirnya sepak terjang Dahlan Iskan selalu saja menjadi sorotan publik termasuk ketika dengan geramnya dia mengeluarkan kursi di loket pembayaran tol dan membiarkan seratusan mobil lewat tanpa membayar biaya tol sama sekali.

Tanpa kerja keras, disiplin, dan pengutamaan kepentingan orang lain, tidak mungkin Grup Jawa Post dapat berdiri tegak seperti sekarang ini. Dahlan Iskan ingin institusi nan dipimpinnya bergerak bergerak maju seperti Jawa Post nan paham kebutuhan masyarakat. Pelayan negara ini harus dibuat seperti itu agar rakyat merasa terlayani oleh pemerintah. Pemikiran itulah nan membuat Dahlan Iskan sering terlihat begitu agresif.

Saat memimpin PT PLN, Dahlan Iskan memberikan gebrakan nan tak dapat dikatakan setengah-setengah. Kemampuan dalam menjalankan bisnis di Jawa Post menjadi dasar keyakinan seorang Dahlan Iskan bahwa tak mungkin suatu pekerjaan dapat dijalankan dengan baik tanpa semua lini bekerja dan bergerak bersama dalam satu prosedur irama nan harmonis.

Kalau pimpinan bergerak bagus tapi tanpa didukung oleh bawahan nan juga bagus, pekerjaan itu hanya akan sampai pada kata perintah dan tak pernah terealisasi. Dahlan Iskan tak mau itu terjadi. Oleh sebab itulah, dia bergerak seperti seorang cowboy . Tapi sebenarnya hal tersebut tak harus terjadi kalau saja bawahannya mau bekerja lebih keras dan lebih disiplin lagi.

Cangkok hati nan dilakukannya tak membuatnya patah semangat dan menjadi lemah. Dahlan Iskan tahu bahwa hidupnya tak akan abadi. Keabadian ada di kampung keabadian. Sebelum melancong dan menetap di kampung keabadian itulah, dia ingin melakukan banyak hal dan memberikan semua kemampuannya sebanyak-banyaknya sebagai bekalnya di kampung keabadian tersebut.

Di koran Jawa Post , tak sporadis Dahlan Iskan masih menyumbangkan ide-idenya buat beberapa kolom. Tulisannya masih sangat lugas, tegas, dan mudah dipahami. Kalimatnya pendek dan sangat mengena. Bahasa nan dipakainya ialah bahasa pembacanya.

Dahlan Iskan ialah maskot Jawa Post . Tapi tentu saja Dahlan Iskan tidak ingin Jawa Post wafat ketika dia mati. Oleh sebab itulah, regenerasi dan manajemen nan kuat ialah salah satu gaya kepemimpinan Dahlan Iskan nan patut dicontoh. Buktinya ialah ketika Dahlan Iskan lebih fokus kepada pekerjaaannya sebagai seorang pimpinan PT PLN dan sekarang sebagai seorang menteri. Jawa Post tetap berdiri dan bahkan berlari dalam berekspansi bisnis nan lebih luas.

Persaingan nan terjadi antara koran-koran besar seperti Kompas , tak menyurutkan Jawa Post . Walaupun Kompas , misalnya, lebih dikenal di taraf nasional, Jawa Post tetap berjaya di daerah-daerah. Bahkan Jawa Post tetap menjadi salah satu ikon Jawa Timur. Orang Jawa Timur akan lebih nyaman membaca koran Jawa Post dibandingkan dengan Kompas. Ini terbukti dari jumlah oplah nan didapatkan oleh Jawa Post .

Dengan melihat perkembangan koran Jawa Post tersebut, Dahlan Iskan semakin konfiden bahwa kepemimpinan nan mendidik bawahan dengan hati dan seprofesional mungkin akan melahirkan dan menumbuhkan pemimpin-pemimpin muda asa masa depan bangsa. Mengerti kebutuhan orang lain ialah satu hal nan harus dimiliki oleh semua pimpinan sehingga mereka dapat membuat program dan langkah nan tepat dan pas dengan langkah anak muda.

Hal ini telah dibuktikan oleh oleh Grup Jawa Post dengan menerbitkan berbagai majalah dan tabloid nan bersegmentasi sinkron dengan jenis kelamin dan usia. Semua genre tabloid dan majalah itu dibuat agar fokus pemberitaan dan sudut pandang gaya penulisan sinkron dengan keinginan dan kebutuhan pembaca nan bersangkutan.

Kerja keras para awak Jawa Post itu telah diganjar penghargaan bergengsi, yaitu, Newspaper of The Year oleh World Young Reader Prize 2011. Inilah salah satu bukti kejayaan Jawa Post . Dahlan Iskan semakin konfiden akan kemampuan para awak Jawa Post . Semakin konfiden juga Dahlan Iskan buat melakukan tugasnya di loka lain nan masih membutuhkan tangan dinginnya.



Jawa Post, Bisnis Lain, dan Global TV

Demi memahami kebutuhan masyarakat, Grup Jawa Post juga merambah global televisi. Ada JTV di Surabaya. Ada Batam TV dan Pekanbaru TV di wilayah Sumatera bagian tengah. Selain itu, Graha Pena nan latif dan cukup bagus buat digunakan sebagai gedung rendezvous juga akhirnya disewakan buat umum. Dahlan Iskan pun sudah merambah bisnis pembangkit listrik. Semua bisnis itu selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Itulah kepiawaian Dahlan Iskan dan Jawa Post dalam melihat peluang bisnis.