Sukarno dan Fatmawati

Sukarno dan Fatmawati

Sukarno sebagai presiden pertama di Indonesia tentunya memiliki pesona tersendiri, baik di mata rakyat Indonesia maupun para pemimpin global lainnya. Beliau menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta, pada tanggal 17 Agustus 1945.Ia juga menjadi pencetus konsep dasar negara, nan dinamakan sebagai Pancasila.

Beliau mengenyam pendidikan dalam bidang Arsitektur di ITB, nan dulu dikenal sebagai Technische Hoge School. Ketika beliau menjabat sebagai presiden turut juga mempengaruhi karya Arsitektural di Indonesia. Saat itu, Jakarta prediksikan olehnya sebagai kota nan akan menjadi pusat pemerintahannya. Di mana beliau telah merencanakan Jakarta sebagai paras Indonesia utnuk melakukan kegiatan berskala internasional.

Selain terkenal sebagai bapak kemerdekaan dan dihormati oleh para pemimpin global dimasanya. Beliau juga terkenal sebagai pria flamboyan nan dikelilingi oleh banyak istri. Sebut saja ke 9 Istrinya, di mulai dari Siti Oetari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Kartini Manoppo, dan Heldy Djafar.

Mengetahui banyaknya wanita nan diperistri oleh beliau, teringat akan sepenggalan kata nan diucapkan oleh Su Hok Gie, dalam film Gie. Di mana ia mengungkapkan akan kekecewaannya terhadap beliau ketika itu nan hidupnya tak jauh berbeda dengan para Raja Jawa di zaman dahulu nan bersenang-senang dengan para selirnya, ketika masih banyak rakyat nan menderita.

Entah bagaimana pendapat para aktivis kala itu mengenai beliau. Mungkin banyak ketidakpuasan dalam benak mereka. Sama halnya dengan masyarakat zaman ini nan tak pernah dapat dipuaskan dengan kendali pemerintah saat ini. Pastinya kisah percintaannya dengan para istrinya itu sama terkenalnya dengan kisah perjuangan memerdekakan bangsa. Bahkan mungkin lebih menarik, seperti gosip seniman nan sering ditayangkan dibeberapa televisi partikelir saat ini.

Namun, tak hanya sekedar kisah cinta, para istri itu tentu sudah melewatkan banyak hal dan turut mendampingi sang presiden dalam kepemimpinannya. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya juga pernah mendampinginya, bahkan ketika dalam masa pembuangan.

Sebenarnya, pada saat masa perjuangan kemerdekaan, para pemimpin bangsa sedang berada dalam pergolakan pemikiran. Entah bagaimana tercetuslah topik mengenai poligami nan sempat menuai perdebatan antara Sukarno dan H. Agus Salim.

Agus salim nan dalam pemahaman ajaran agama nan diperolehnya menyetujui poligami berbeda pendapat dengan Sukarno nan menentang adanya poligami sebab dianggap bisa merendahan harkat serta prestise kaum perempuan.

Beberapa tahun kemudian terjadi hal nan sebaliknya. Dimana Sukarno nan telah menjadi presiden memiliki istri banyak, sedangkan Agus Salim tetap setia dengan satu istri. Untuk itu mari kita intip sekelumit romansa Presiden RI pertama kita bersama beberapa wanita nan sangat berpengaruh dalam hidupnya.



Sukarno dan Oetari

Istri pertama dari presiden pertama Indonesia ini bernama Siti Utari . Ia merupakan anak dari Hadji Oemar Said Tjokroaminoto pemimpin Perkumpulan Islam nan sangat terkenal dan disegani saat itu. Ketika Sukarno melanjutkan pendidikan di sekolah lanjutan atas, beliau menumpang tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Saat itu, beliau dan Utari sangat dekat, layaknya adik dan kakak.

HOS Tjokroaminoto merupakan orang nan sangat diseganinya dan sudah dianggap sebagai pengganti orangtuanya. Sebelum berusia 20 tahun, ia dinikahkan dengan Oetari nan saat itu berusia 16 tahun, di mana saat itu status mereka ialah kawin gantung.

Beberapa saat setelah menikah, beliau kemudian melanjutkan pendidikan Tinggi di Technische Hoge School, sehingga ia harus pergi ke Bandung dan berpisah dengan istrinya. Inilah kemudian salah satu faktor kuat nan membuat Sukarno menceraikan Oetari.



Sukarno dan Inggit Garnasih

Saat melanjutkan pendidikan tingginya di Bandung, beliau menyewa kamar kos di rumah Inggit Ganarsih. Wanita nan usianya terpaut 13 tahun lebih tua darinya. Saat itulah ia terpikat dengan kecantikan Inggit Ganarsih nan sangat lembut dan keibuan. Kecantikan Inggit seolah tetap mempesona di usianya nan sudah tak remaja lagi.

Ketika Inggit berpisah dengan suaminya, beliau merasa menemukan cinta dari Inggit Ganarsih. Hingga pada akhirnya mereka menikah, dan Inggit dengan setia senantiasa mendukung perjuangan suaminya itu. Bahkan ia rela menghabiskan hartanya buat perjuangan sang Presiden.

Tidak hanya itu, Inggit juga membantu biaya perjuangan suaminya itu dengan berjualan jamu. Bahkan pada saat suaminya berada dalam penjara, dengan beraninya Inggit menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui Al-quran, telur dan lainnya. Banyak pengorbanan nan dilakukannya.

Gosip, cemooh dan pelecehan para polisi Belanda tak membuatnya gentar. Ia juga tetap setia mendampingi suami nan diasingkan di Ende dan bengkulu. Namun tetap memberikan semangat bagi suaminya nan sedang putus harapan dan patah semangat itu.

Sayangnya, ketika di Bengkulu Sukarno jatuh cinta kepada seorang gadis muda bernama Fatmawati. saat itu beberapa hari sebelum kemerdekaan, kata perpisahan pun terucap ketika Sukarno bermaksud buat menikahi Fatmawati. Inggit nan tak ingin dimadu mengalah menyerahkan kedudukan sebagai ibu negara kepada Fatmawati. Ia pun akhirnya menghabiskan residu masa tua di rumahnya di Bandung.



Sukarno dan Fatmawati

Tentunya banyak di antara kalian nan mengenal sosok ibu negara nan telah menjahitkan Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih nan dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945. Fatmawati merupakan istri ketiga Sukarno nan ditemuinya ketika berada dalam pengasingan di Bengkulu.

Di Benggkulu, beliau menghabiskan waktunya bersama Inggit Ganarsih nan dengan setia menemaninya di pembuangan. Namun, Fatmawati nan ketika itu masih remaja memiliki wajah nan memikat presiden pertama Indonesia ini. Sukarno nan mendambakan anak kandung nan tak dapat diberikan oleh Inggit Ganarsih kemudian meminta izin buat menikahi Fatmawati nan masih muda. Inggit Ganarsih menyetujuinya, namun dengan adanya keputusan talak terlebih dahulu.

Pada akhirnya, beliau pun memiliki 5 orang anak dari pernikahannya bersama Fatmawati, yaitu Guntur, Megawati,Rachmawati,Sukmawati dan Guruh. Perceraian Sukarno dan Inggit Ganarsih membuat Fatmawati menjadi istri satu-satunya ketika Sukarno diangkat menjadi Presiden RI. Dan pada akhirnya ia menjadi ibu negara nan terus dikenang hingga saat ini.



Sukarno dan Ratna Sari Dewi

Ini dia salah satu Istri cantik beliau nan sangat disayanginya, Ratna Sari Dewi. Sebagai warga Jepang, ia berkenalan dengan dengan Sukarno melalui seorang rekanan ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Pada saat itu Sukarno telah berusia 57 tahun. Taaruf dampak kunjungan kenegaraan itu pun berlanjut hingga ke pelaminan.

Dan ketika usianya 19 tahun, Ratna Sari Dewi resmi menjadi istri kelima Presiden Pertama Republik Indonesia ini. Mereka dikarunai seorang putri nan bernama Kartika Sari Dewi Soekarno. Hebatnya, disparitas usia nan sangat jauh ini tak lantas memandamkan kobaran asmara mereka. Bahkan Ratna saat itu berani menentang ibunya dengan berpindah keyakinan.

Kisah cinta mereka ini membuat para istri Sukarno menjadi cemburu.Tapi wanita nan terkenal blak-blakan ini seolah tak perduli. Ia bahkan bersaha keras untu mempelajari kebudayaan Indonesia. Sayangnya ketika Sukarno mengalami masa redup dalam pemerintahannya, Ratna Sari Dewi kemudian membawa anaknya dan membesarkan di Paris.

Banyak orang nan mecemooh dan menganggap istrinya itu tak setia. Namun, hal tersebut dibantahnya dengan alasan bahwa suami nan menyuruhnya demi keselamatan dirinya.

Itulah sekilas beberapa kisah Sukarno sang pemimpin bangsa dengan para istrinya. Di mana sebagai seorang pemimpin bangsa, ia menjadi panutan tak hanya dalam perjuangan dan kebijakan sebagai presiden, tetapi bagaimana akhirnya ia juga menjadi kepala keluarga dalam rumah tangganya.