Stensilan Horor
Teknologi grafika, stencil duplicator , menjadi salah satu produk sederhana buat menggandakan berbagai buku, brosur, kertas ujian, selembaran, dan sebagainya. Jauh lebih murah daripada harus menggandakan dengan letterpress, handpress, juga offset.
Sekitar awal tahun 90-an, mesin stensil mulai meredup dari kesuksesan. Digantikan dengan mesin fotocopy dengan biaya nan terjangkau. Mini offset mulai banyak dikenal, dengan munculnya berbagai Toko Mini Offset di masyarakat.
Sebagian orang tetap menilai cetakan stensil dengan menggunakan electronic sheet mempunyai hasil cetakan nan lebih bagus. Tetapi, sebagian lain lebih memilih buat menghindari ruang stensil dengan bekas ceceran tinta hitam di mana-mana.
Dari ketersediaan wahana dan prasarana itu lah cerita stensilan banyak beredar di era tersebut. Hasilnya, generasi sekitaran tahun 1980-an, tumbuh dengan cerita-cerita tersebut. Dinamakan stensilan sepertinya juga mengacu pada kertas nan digunakan buat mencetak cerita nan memang kebetulan bertemakan dewasa.
Anda nan menginjak remaja atau dewasa pada masa-masa itu pastinya juga pernah membaca cerita stensilan. Dan mungkin dapat jadi ketagihan dengan cerita-cerita tersebut. Wajar, sebab hal-hal seperti itu memang memiliki banyak peminat.
Cerita Dewasa
Seperti nan telah disebutkan di atas, hadirnya cerita-cerita stensilan ialah sebab ada wahana serta prasarana nan menunjang. Dalam hal ini keberadaan mesin stensil ialah salah satu faktornya. Mesin stensil digunakan buat menerbitkan karya-karya nan dibuat terbatas dan buat dikonsumsi dengan harga nan sangat terjangkau.
Muncul berbagai novel-novel murah nan bertemakan cerita cinta, seks, horor, dan sebagainya. Pada dasa warsa 1980-an. Novel-novel ini memiliki loka tersendiri bagi para penggemarnya. Spesifik di kalangan remaja-dewasa, novel stensilan Enny Arrow mulai menyebar di masyarakat.
Banyak dijajakan kios-kios buku, lapak-lapak buku bekas kaki lima, para pedagang koran dan majalah. Baik sembunyi-sembunyi dan ditawarkan dengan berbisik, dipajang pada deretan buku-buku bekas, atau ditawarkan dengan terang-terangan.
Melihat minat publik nan menjanjikan, bermunculan banyak pengarang nan "misterius" menyuguhkan berbagai cerita cinta dewasa. Pengarang Enny Arrow, lebih misterius. Karena sampai detik ini tak ada nan mengetahui siapa pengarang stensilan nan mengekspos kisah seks dewasa tersebut. Banyak pula pengarang stensilan menggunakan nama "Enny Arrow" agar novelnya dikejar oleh para penggemar, sekaligus meningkatkan rating "Anny Arrow" di khalayak publik.
Pada akhir tahun 2000, tersiar kabar penangkapan Suwarno dengan ribuan tumpukan kopi cetak stensilan. Dia dianggap sebagai behind the scene buku stensil Enny Arrow. Tapi penangkapan polisi ini tetap tak mengungkap siapa sebenarnya Enny Arrow.
Nama "Enny Arrow" lambat bahari menjadi istilah nan sangat lekat dengan "cerita stensilan", sebuah buku murah berbahan kertas stensil dengan tema cerita cinta nan dibumbui fantasi khayalan tentang cinta dan seks dewasa. Melalui buku stensilan, pada saat itu menjadi surat keterangan awal pelajaran seks di kalangan remaja.
Tahun 2003, sebuah survey dari majalah Men's Health versi bahasa Indonesia mengatakan sekitar 17,2 % respondennya mengakui bahwa literatur pertama pengetahuan tentang seks berasal dari bacaan-bacaan stensilan Enny Arrow.
Sebenarnya karangan Enny Arrow tak memiliki tema dan jalan cerita jelas. Tetapi bahasa hiperbolis dan ungkapan vulgar, sengaja diekspos buat membangkitkan khayalan para pembaca. Seakan menyiratkan fenomena tersembunyi tentang kehidupan seks di tengah masyarakat.
Bisa saja menjadi sebuah kritik atas kemunafikan sosial dan pelecehan atas norma-norma moral nan berlaku di masyarakat. Walau pun kehadiran stensilan ini tetap memberikan dampat tersendiri bagi para pembaca, terutama para remaja nan memiliki rasa penasaran nan tinggi.
Pada masa itu, cerita-cerita panas terbilang masih sulit buat didapatkan. Akses internet belum secanggih sekarang, perangkat komputer juga hanya dimiliki oleh beberapa orang. Sehingga, akses para remaja buat dapat mendapatkan cerita-cerita panas ya hanya dari bacaan berbentuk novel atau cerita stensilan. Dan Enny Arrow ialah penulis nan paling banyak menghasilkan karya jenis itu.
Novel stensilan karya Enny Arrow ini ini memiliki judul-judul nan cukup vulgar. Dari membaca judulnya saja, sudah mampu meningkatkan gairah. Beberapa judul cerita stensilan karya penulis "misterius" ini ialah Gairah Cinta, Malam Kelabu dan Sepanas Bara. Ini belum lagi ditambah dengan pemilihan cover nan takkalah sensual.
Jalan cerita nan ditulis pun menggunakan pemilihan bahasa nan eksotis. Sehingga mengantarkan para pembacanya buat membayangkan hal-hal berbau pornografi. Penggambaran suasana diceritakan secara gamblang. Boleh dikatakan bahwa cerita karya Enny Arrow ini ialah "blue film" nya masyarakat Indonesia zaman dulu.
Pertanyaan nan kemudian muncul ialah siapa sesungguhnya Enny Arrow? Sampai kini penulis nan pakar di cerita-cerita erotis tersebut tak diketahui nama aslinya. Ia masih sangat misterius. Entah lelaki atau wanita. Entah tinggal di Indonesia atau di mana. Yang jelas, ia ialah legenda buat cerita-cerita erotis di Indonesia.
Stensilan Horor
Dekade 80-an. Banyak muncul pengarang novel stensilan nan bercerita tentang cinta, seks, jimat, horor, balas dendam, rahasia hantu. Salah satu penulis stensilan nan juga cukup terkenal ialah Abdullah Harahap. Ia dikenal sebagai pengarang produktif dengan puluhan karya. Dia mungkin memang bukan tokoh terkenal dan orang krusial dalam global sastra. Tetapi di kalangan masyarakat, karya memiliki banyak penggemar nan bahagia dengan adegan horor dan misteri.
Membaca ulang karya-karya stensilan horor dari Abdullah Harapah menjadi ilham bagi tiga penulis lain. Mereka ialah tiga penulis sastra Indonesia. Ketiga penulis tersebut menyusun sebuah karya kreatif dan kolaboratif. Buku nan lahir sebab terilhami oleh jalan cerita horor milik Abdullah Harahap ialah "Kumpulan Budak Setan".
Karya terbaru ini, sebagai sebuah bentuk apresiatif pada karya stensilan Abdullah Harahap, merefleksikan kenyatan hayati nan penuh pilihan. Pilihan-pilhan nan menggiurkan buat sebuah kerakusan dan kehausan gelimang harta duniawi. Seperti akhir cerita dalam cerpen-cerpennya, selalu berujung pada jurang perangkap nan membelenggu manusia menjadi budak-budak setan, hamba kegelapan. Dan tentunya, penuh penyelasan.
Sebenarnya, cerita stensilan dengan tema cerita cinta bernilai sastra kekinian masih memiliki peluang nan baik. Terutama, harga nan terjangkau. Hingga banyak para penerbit menggunakan media stensil buat mencetak buku-buku tebal dengan isi naskah berkualitas. Hal ini dimaksudkan agar buku bacaan terbitannya mampu dibeli luas oleh semua kalangan masyarakat.
Jelas, taktik ini lebih memudahkan masyarakat buat mengakses ilmu pengetahuan dengan harga murah.
Harus diakui bahwa cerita stensilan memang identik dengan cerita-cerita erotis. Padahal, novel stensilan bukan hanya bercerita tentang urusan syahwat. Ada jenis stensilan lain nan jalan ceritanya juga tak kalah menegangkan. Adalah stensilan jenis horor.
Penuturan jalan cerita nan ada di dalam stensilan horor juga tak kalah detail. Pembaca akan dibawa pada sebuah jalan cerita nan menegangkan. Melalui pilihan-pilihan kata nan termuat dalam cerita tersebut, sensasi horor di tahun 1980-an akan benar-benar terasa.
Di zaman sekarang ini, cerita stensilan dalam bentuk cetak khususnya sangat sulit buat didapatkan. Kalau pun ada, bentuknya sudah tak karuan. Buku-buku tersebut dapat saja sudah mulai dimakan oleh rayap dan ringkih sebab usia.