Koleksi Museum Fatahillah

Koleksi Museum Fatahillah

Sejarah ialah sesuatu nan memberikan catatan-catatan dan dokumentasi tentang apa nan terjadi di masa lalu. Masa lalu dapat dijadikan pelajaran buat menghadapi hari ini atau masa nan akan datang. Oleh karena, itu jangan pernah melupakan sejarah. Bahkan ada sebuah peribahasa nan mengatakan "Bangsa nan besar ialah bangsa nan tak melupakan sejarahnya". Salah satu peninggalan sejarah nan begitu latif dan masih berdiri begitu kokoh di Jakarta ialah sebuah gedung dengan corak arsitektur khas Belanda nan dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah .

Museum ini dapat menjadi alternatif liburan Anda di Jakarta. Jika biasanya liburan di Jakarta identik dengan kegiatan hura-hura, di sini Anda dapat merenungi Jakarta tempo dulu sambil mempelajari sejarah kota megapolitan ini. Untuk masuk ke museum ini, Anda juga tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Harga tiket masuk ke museum ini nisbi terjangkau, yaitu:

  1. dewasa Rp2.000/orang
  2. rombongan Rp1.500/orang
  3. anak-anak Rp1.500/orang
  4. rombongan mahasiswa Rp750/orang
  5. rombongan anak-anak Rp500/orang


Pembangunan dan Arsitektur Museum Fatahillah

Museum ini memiliki banyak nama, yakni Museum Batavia dan Musem Sejarah Jakarta. Terletak di Jalan Taman Fatahillah nomor 2 Jakarta Barat, gedung ini awalnya dibandung sebagai sebuah balai kota atau stadhuis . Pembangunan gedung ini memakan waktu 3 tahun, yakni pada tahun 1707 - 1710. Bangunan latif ini dibangun berdasarkan perintah seorang Gubernur Jendral Belanda, Johan van Hoorn.

Balai kota ini terdiri dari sebuah bangunan primer dengan dua buah bangunan sayap di sisi barat dan timurnya. Bangunan ini difungsikan sebagai kantor dan ruang pengadilan. Bangunan ini juga dilengkapi ruang bawah tanah nan merupakan penjara zaman Belanda. Baru pada tahun 1974, pemerintah Indonesia meresmikan bangunan ini sebagai museum.

Bangunan megah seluas 1.300 m2 ini terdiri dari 3 lantai. Dindingnya diwarnai dengan cat berwarna kuning tanah. Ventilasi serta pintunya terbuat dari kayu jati dan berwarna hijau tua. Sebuah penunjuk arah mata angin bertengger manis di bagian atap utamanya. Di sisi bangunan, terdapat kolam dan beberapa pohon tua di sekelilingnya. Dari segi arsitektur, museum ini sangat mencerminkan gaya arsitektur Belanda di abad ke-17. Konon, gedung ini memang dibangun dengan desain menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda sana.



Sejarah Pendirian dan Penggunaan Museum Fatahillah

Bangunan megah peninggalan Belanda ini, seperti telah disebutkan sebelumnya, merupakan gedung balai kota. Balai kota ini dibangun buat menggantikan balai kota pertama nan dibangun di kawasan Kalibesar Timur pada tahun 1620. Di awal pembangunan, gedung ini hanya memiliki 1 tingkat. Taraf kedua baru dibangun beberapa waktu kemudian.

Beberapa puluh tahun kemudian, kondisi bangunan balai kota ini mulai memburuk. Tanah Jakarta nan labil dan bangunan nan terlampau berat menyebabkan bangunan mulai 'tenggelam' dari permukaan tanah. Renovasi demi renovasi pun mulai dilakukan. Pemerintah Hindia Belanda saat itu memikirkan sebuah solusi mudah dan praktis tanpa harus mengubah fondasi bangunan. Maka lantai bangunan ditinggikan setinggi 56 cm.

Beberapa kali gedung ini direnovasi, diperlebar dan diperluas. Penambahan ruangan beberapa kali dilakukan dan penjara berkali-kali diperbaiki. Bentuk museum nan kita lihat sekarang ini merupakan bentuk akhir dari beberapa renovasi nan telah dilakukan.

Yang menarik dari bangunan ini ialah penjara bawah tanahnya. Konon, di ruangan bawah tanah terdapat setidaknya 5 buah sel tahanan seluas 4 x 4 meter dengan tinggi sel hanya 1 meter. Di ruangan sesempit dan serendah itu, para tahanan dipaksa masuk dalam jumlah banyak, tanpa dapat berdiri sebab tinggi ruangan nan hanya 1 meter. Ini menurunkan kesehatan mereka, belum lagi di dalam sel tak terdapat loka buang air. Alhasil, sebagian besar tahanan meninggal global dampak terserang penyakit.

Gedung balai kota ini dilengkapi sebuah lapangan luas nan dinamai "stadhuisplein". Syahdan di tengah lapangan terdapat sebuah air mancur. Air mancur tersebut ialah satu-satunya sumber air bagi masyarakat nan tinggal di daerah situ. Saat pembangunan, sebuah ekskavasi dilakukan buat membuat sumur tersebut dan para arsitek Belanda berusaha mengalirkan air dari Pancoran Glodok menggunakan pipa. Air mancur tersebut kemudian hancur. Baru pada tahun 1972 pemerintah Jakarta menggali dan menemukan pipa saluran air. Lantas dibuatlah air mancur nan mirip dengan air mancur zaman dahulu di tengah-tengah lapangan. Lapangan tersebut beralih nama menjadi Taman Fatahillah.

Sebelum menjadi museum, gedung nan dahulu dibuat buat menjadi balai kota ini sempat beberapa kali beralih fungsi. Di antaranya ialah sebagai gedung pengadilan. Di tahun 1925 - 1942, gedung ini dijadikan kantor pemerintah provinsi Jawa Barat. Kemudian gedung ini diambil alih oleh Jepang dan dijadikan kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Pasca-kemerdekaan, gedung ini sempat dijadikan markas Komando Militer Kota (KMK) di tahun 1952. Setelah itu barulah gedung ini kembali ke tangan pemerintah Jakarta dan olehnya gedung ini direnovasi dan dijadikan museum bersejarah.



Koleksi Museum Fatahillah

Setelah berubah fungsi menjadi museum, gedung ini dipenuhi berbagai koleksi benda bersejarah; terutama benda-benda peninggalan nan terkait dengan sejarah Jakarta. Nama "Fatahillah" sendiri diambil dari nama seorang pejuang pendirian kota Jakarta. Ia berperan dalam mengusir Portugis dari tanah Sunda Kelapa.

Selain arsitektur bangunan nan latif dan klasik, museum Fatahillah juga memiliki beberapa koleksi menarik lainnya seperti keramik dan mebel kuno mulai dari abad ke-17 sampai 19. Bagi Anda nan sangat berminat dengan desain interior mengunjungi museum ini akan memberikan kesan tersendiri dengan melihat desain-desain di era abad ke 17. Desain interior tersebut berupa perpaduan latif antara kebudayaan Eropa, Cina, dan Batavia.

Di museum bersejarah ini, Anda juga dapat melihat perjalanan sejarah Jakarta nan dulu disebut dengan nama Batavia, kemudian replika peninggalan masa Pajajaran dan Tarumanegara nan terpajang di ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Jayakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah, dan Ruang MH. Thamrin. Anda juga dapat menelusuri koleksi kebudayaan Betawi dan sejarah becak dari masa ke masa.

Jika Anda ingin melihat seperti apa bentuk penjara bawah tanah nan ada saat zaman penjajahan Belanda, Anda dapat menemukannya di Museum Fatahillah, beserta meriam si Jagur nan terkenal itu dan ada juga patung Dewa Hermes nan dulu terletak di perematan Harmoni Jakarta. Berdasarkan mitologi Yunani, Dewa Hermes ialah Dewa konservasi dan keberuntungan bagi kaum pedagang.

Museum Fatahilah juga memiliki beberapa program menarik lainnya seperti kegiatan Batavia Art Festival nan diadakan setiap bulan Juni dalam rangka HUT kota Jakarta. Selain itu, ada berbagai festival budaya nan sering dilakukan juga di museum ini. Jadi sangat sayang jika Anda tak menyempatkan waktu liburan Anda buat mengunjungi Museum Fatahillah di Jakarta Barat ini. Museum Fatahillah memiliki koleksi artefak sekitar 100.000, dengan sekira 26.000 item.

Benda bersejarah di museum Fatahillah ini ialah peninggalan zaman Belanda, baik nan berasal dari sumbangan/hibah pecinta benda antik atau juga nan diperoleh dengan cara pembelian. Sumbangan/hibah itu biasanya dari warga Belanda nan pernah tinggal di Indonesia, atau leluhur mereka pernah menetap di sini.