1. Hukum Pertama Mendel

1. Hukum Pertama Mendel

Hukum Mendel merupakan hukum nan mengatur dan menentukan pewarisan genetik. Hukum ini pernah kita pelajari dalam pelajaran Biologi. Anda masih ingat dengan tabel nan menyilangkan kromosom jantan dan betina, lalu akan menghasilkan sifat nan seperti apa? Nah, itu merupakan pelaksanaan cara kerja hukum ini. Jadi, sifat nan kita miliki saat ini ialah hasil persilangan nan terjadi dari orang tua kita, nan dapat diidentifikasikan dengan hukum ini.

Mungkin sebagian kita sudah lupa dari mana asalnya hukum ini. Padahal, mempelajari dan mengetahui bagaimana pewarisan genetika itu sangat penting. Pewarisan genetika bukan saja milik mereka nan berkecimpung di global medis atau kedokteran saja. Orang awam pun juga perlu mendapat pengetahuan tentang hukum ini. Salah satu kegunaan nan dapat kita dapatkan dengan mengetahui hukum ini ialah bahwa pewarisan itu ternyata dapat diturunkan.



Hukum Mendel - Mengenal Hukum Pewarisan Genetika

Biasanya, setiap hukum itu diberi nama sinkron atau berdasarkan dari siapa nan menggagasnya, termasuk juga dengan hukum Mendel. Jika begitu dari mana hukum ini dapat terbentuk? Hukum Mendel ialah hukum pewarisan sifat genetika pada organisme nan dikemukakan oleh Gregor Johann Mendel.

Mendel membuat sebuah percobaan dengan membuat persilangan terhadap tanaman, nan ternyata sifat tanaman diturunkan dari hasil persilangan ini. Oleh sebab nan menggagasnya ialah Mendel, sehingga hukum ini dinamakan hukum Mendel.

Hukum dibagi ke dalam dua bagian. Dua bagian dari hukum ini ialah hukum Pertama Mendel dan hukum Kedua Mendel. Dengan kata lain, kita akan mengenal pewarisan sifat genetik ini melalui kedua hukum tersebut.

Hukum Pertama Mendel merupakan hukum pemisahan atau segregation , sedangkan hukum Kedua Mendel merupakan hukum berpasangan secara bebas atau disebut juga independent assortment .

Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai hukum ini, serta bagaimana hukum ini berlaku, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu bagaimana ihwal munculnya hukum dari Mendel ini. Hukum Mendel merupakan hukum tentang hereditas nan dapat menjelaskan prinsip-prinsip penurunan sifat pada organisme atau makhluk hidup.

Sebelum hukum ini benar-benar menjadi hukum Mendel dan dapat diyakini kebenarannya, tak sedikit pakar Biologi nan meragukannya, bahkan banyak nan belum mengakui pendapat atau konsep atau teori dari Mendel tentang hereditas.

Tepatnya pada tahun 1865, Gregor Johann Mendel menulis karya ilmiah dengan judul Experiment in Plant Hybridization . Karya ilmiah berbentuk makalah tersebut mengupas hasil percobaan nan sudah dilakukan oleh Mendel berupa penyilangan-penyilangan tanaman, serta memuat hipotesis Mendel mengenai hukum pewarisan material genetik dari induk kepada anaknya.

Dari hasil percobaan nan dilakukan Mendel tersebut, terciptalah konsep genetik dan faktor-faktor nan menentukan sifat dari organisme. Meskipun sudah melakukan percobaannya dengan menyilangkan tanaman dan menemukan pewarisan sifat di dalamnya, tetap saja konsep Mendel tersebut belum dapat diterima oleh para pakar Biologi pada saat itu. Sampai akhirnya, muncul inovasi lain mengenai kromosom secara mikroskopik nan dapat mendukung teori Mendel tentang pewarisan sifat organisme.

Tahun1900 dapat dikatakan sebagai tahun nan berharga untuk Mendel sebab hukumnya dapat diterima. Pada tahun ini, beberapa pakar Biologi juga mengemukakan pendapat mereka tentang teori Mendel ini secara terpisah. Para pakar Biologi tersebut ialah Von Tscermak, de Vries dan Corren.

Melihat apa nan dikemukakan oleh beberapa pakar tersebut, para pakar nan lainnya berubah pikiran. Akhirnya mereka mau mengakui kebenaran dari teori Mendel. Teori Mendel menyatakan bahwa ada faktor penentu dari sifat-sifat organisme nan dapat diwarisi dari satu generasi ke generasi, nan disebut dengan hukum Mendel.



Dua Bentuk Hukum Mendel

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan bagaimana pewarisan sifat genetik itu, kita dapat melihat dua bentuk hukum Mendel , yaitu hukum Pertama Mendel, dan hukum Kedua Mendel. Lalu bagaimana kedua bentuk hukum ini bekerja? Berikut klarifikasi singkatnya.



1. Hukum Pertama Mendel

Hukum pertama ini disebut juga dengan hukum segregasi bebas. Hukum ini menyatakan bahwa pada pembentukan gamet atau sel kelamin, kedua gen induk sebagai pasangan alel akan memisahkan diri sehingga setiap gamet akan menerima satu gen dari induknya.

Hukum ini memiliki tiga prinsip dasar, yaitu:

  1. Gen. Gen dalam hukum ini memiliki bentuk alternatif nan dapat mengatur variasi dari karakter nan akan diturunkannya. Gen ini ialah konsep mengenai dua macam alel, nan terdiri atas alel resisif, yaitu alel nan tak selalu nampak dari luar, penulisannya dinyatakan dengan huruf kecil, sedangkan alel kedua ialah alel dominan, yaitu alel nan nampak dari luar, dan penulisannya dinyatakan dengan huruf besar.
  2. Tiap individu selalu membawa sepasang gennya. Sepasang gen itu terdiri atas satu dari induk jantan dan satu lagi dari induk betina.
  3. Jika satu pasang gen ini terdiri dari dua alel nan berbeda, maka alel dominan akan terekspresikan atau terlihat secara visual dari luar. Sementara alel resesif tak dapat terekspresikan, namun tetap dapat diwariskan pada gamet nan telah dibentuk pada turunannya.


2. Hukum Kedua Mendel

Hukum Kedua Mendel ini menyatakan bahwa jika ada dua individu memiliki dua pasang atau lebih sifat, maka sifat tersebut akan diturunkan sepasang saja secara bebas, dan tak tergantung dengan pasangan nan lainnya. Itu artinya, gen dan alel dengan sifat nan berbeda tak akan saling mempengaruhi.



Manfaat Mempelajari Hukum Mendel

Setiap hukum nan telah dijadikan teori tentu memiliki khasiatnya masing-masing. Seperti hukum gravitasi nan dapat menjelaskan mengapa benda selalu jatuh ke bawah, demikian halnya dengan hukum Mendel. Terkadang kita masih dibingungkan mengapa pewarisan sifat ini dapat diketahui dan didapatkan melalui penjabaran konsep. Hukum ini fokus pada bagaimana individu dapat mendapatkan sifat-sifat nan berasal dari induknya.

Pewarisan sifat ternyata dapat kita pelajari dengan melakukan penyilangan gen dan alel dari indukannya, atau dengan kata lain perwarisan sifat kita dapat didapat melalui hasil persilangan antara gen dan alel orang tua kita. Lalu, apa saja kegunaan nan dapat kita dapatkan dari mengetahui hukum Mendel ini? Berikut beberapa manfaatnya.

  1. Kita dapat mengetahui bahwa sifat itu ialah turunan dari orang tua kita, sehingga kita tak dapat menolak.
  2. Pewarisan sifat itu menjadi ciri-ciri individu dan sekaligus nan membedakan dengan individu nan lain.
  3. Pewarisan sifat ini tak hanya berlaku pada manusia, tetapi semua makhluk hayati mengalami pewarisan sifat, termasuk hewan dan tanaman.
  4. Melalui hukum ini, kita dapat mengetahui bahwa nan menjadi faktor nan dapat mewarisi sifat ialah informasi buat semua sifat atau rona oleh gen.
  5. Gen nan ada dalam tubuh kita berada dalam bentuk nan berpasangan, dan bentuk nan berpasangan ini disebut dengan alel.
  6. Kita dapat mengathui bahwa alel dominan dari suatu gen itu kemungkinan dapat menutupi aktualisasi diri alel resesif.

Berdasarkan dari klarifikasi di atas mengenai hukum Mendel, setidaknya membuka wawasan kita betapa kompleksnya sebuah penciptaan itu. Kita memiliki sifat nan bhineka satu sama. Meskipun kita berasal dari orang tua nan sama, tetap saja sifat kita dengan saudara ada perbedaan. Disparitas sifat tersebut dapat terjadi dalam proses penyilangan gen.