Penangkapan dan Pengasingan Tuanku Imam Bonjol

Penangkapan dan Pengasingan Tuanku Imam Bonjol

Masih ingatkah Anda pelajaran sejarah saat sekolah dulu? Ada banyak nama pahlawan nan telah berjasa buat negara, misalnya Tuanku Imam Bonjol. Masih ingatkah Anda apa saja jasa-jasanya?



Riwayat Hidup

Ada nan mengatakan bahwa Imam Bonjol berasal dari Maroko. Kabar itu tak terbukti, sebab menurut silsilah, Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol pada tahun 1772, dengan nama Muhammad Shahab. Ayahnya, Khatib Bayanuddin ialah seorang pakar agama nan berasal dari Sungai Rimbang, sedangkan sang ibu nan bernama Hamatun ialah seorang ibu rumah tangga biasa.

Tuanku Imam Bonjol dibesarkan dalam lingkungan keagamaan nan sangat kental. Setelah dewasa, ia pun mengikuti jejak sang ayah menjadi ulama. Sebagaimana tradisi dalam adat Minangkabau dan sebagai ulama dan pemimpin masyarakat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, diantaranya Peto Syarif dan Malin Basa.

Gelar Tuanku Imam ialah gelar kehormatan bagi kaum ulama nan dianggap sebagai pemimpin. Karena Muhammad Shahab berasal dari daerah Bonjol, maka daerah tersebut ditambahkan dalam gelarnya, yaitu Tuanku Imam Bonjol. Gelar inilah nan kemudian inheren dan terus dikenal masyarakat hingga sekarang.

Beliau juga merupakan salah seorang dari sembilan tokoh nan diberi gelar Harimau Salapan. Selain beliau, ada tujuh orang lainnya nan bergelar sama, yaitu Tuanku Tambusai, Tuanku yang Renceh, H. Miskin, H. Piobang, H. Sumaniak, Tuanku Gapuak, dan Tuanku Rao. Mereka berdelapan inilah pemimpin-pemimpin pasukan nan menentang penjajahan Belanda di Bumi Minangkabau.



Sejarah Perjuangan

Pertikaian antara kaum Padri dan kaum Adat menjadi pencetus Perang Padri nan berlangsung cukup lama, yaitu dari tahun 1821-1837. Konfrontasi tersebut disebabkan sebab ketidakcocokan pemahaman dalam menjalankan syariat Islam. Kaum ulama (Padri) meminta agar Raja Pagaruyung dan pengikutnya (kaum Adat) meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nan tak sinkron dengan syariat Islam, sebab menjurus kepada bid’ah.

Untuk menjembati masalah tersebut, dilakukan beberapa kali perundingan. Namun, usaha tersebut tak membawa hasil. Perundingan tersebut diwarnai dengan pergolakan di beberapa nagari.

Puncaknya terjadi tahun 1815. Tuanku Pasaman menyerang Koto Tangah, dekat Batu Sangkar. Perang tidak bisa dihindarkan. Sultan Arifin Muningsyah, Raja Pagaruyung, terpaksa mengungsi ke Lubukjambi.

Kaum Adat meminta konservasi pada pemerintah Hindia-Belanda. Mereka menjalin kerjasama dalam memerangi kaum Padri nan ditandai dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian di Padang pada tahun 1821.

Sebagai balasannya, Belanda mendapat hak dominasi bagian pedalaman Minangkabau (wilayah Darek). Belanda mewujudkan isi perjanjian dengan kaum Adat dengan melakukan penyerangan pertama ke daerah Simawang dan Sulit Air. Pasukan penyerang itu dipimpin oleh Kapten Goffinet dan Kapten Dienema, dibantu oleh tentara kiriman dari Batavia.

Walaupun telah mendapat donasi kekuatan dari pihak Belanda, namun perlawanan kaum Padri tak mudah ditaklukan. Hal tersebut membuat pihak Belanda meluncurkan taktik baru dengan mengajak kaum Padri melakukan perjanjian perdamaian.

Pada 1824, Gubernur Jenderal Belanda, Johanes van den Bosch, bersama dengan pemimpin kaum Padri pada saat itu yaitu Tuanku Imam Bonjol menandatangani perjanjian nan dikenal dengan nama Perjanjian Masang. Tetapi, pihak Belanda melanggar perjanjian perdamaian tersebut dengan melakuka penyerangan di nagari Pandai Sikek.

Keadaan tersebut menyadarkan kaum Adat bahwa mengundang Belanda dalam konflik internal mereka tak membawa kebaikan, sebaliknya semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. Sejak tahun 1833, pihak-pihak nan bertikai pun manunggal melawan Belanda. Musyawarah perdamaian tersebut menghasilkan kesepakatan nan bertajuk “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah” (Adat berdasarkan agama, Agama berdasarkan Al Quran).

Kaum Padri membangun benteng pertahanan di bukit Tajadi. Selama enam bulan, Belanda mengepung benteng tersebut dari segala penjuru. Pihak Belanda mengerahkan sejumlah armada nan terdiri atas puluhan ribu anggota pasukan.

Armada perang mereka tak hanya berasal dari pihak pemerintah Hindia-Belanda saja, tetapi juga berasal dari armada nan tentara-tentaranya sebagian besar ialah bangsa pribumi. Pasukan Belanda bahkan berlindung dan menjadikan pasukan dari Bugis sebagai lapisa pertama dalam armada penyerangan tersebut.

Pertempuran nan sengit menyebabkan pihak Hindia-Belanda menderita kekalahan dan kehilangan banyak tentaranya. Untuk menambah kembali kekuatan mereka, Belanda meminta donasi dari Batavia. Didatangkanlah armada baru dengan Kapal Perle, nan mendarat di pelabuhan Padang pada tanggal 20Juli 1837, di bawah pimpinan Kapitein Sinninghe. Pasukan tersebut direkrut dari orang Eropa dan Afrika dari negara-negara nan berada di bawah penjajahan Belanda pada masa itu.



Penangkapan dan Pengasingan Tuanku Imam Bonjol

Dengan dukungan pasukan donasi dari Batavia, Belanda melanjutkan kembali pengepungan. Kedudukan menjadi berbalik. Tuanku Imam Bonjol beserta pasukannya mulai terdesak. Namun, beliau tidak sudi menyerah pada Belanda.

Kegigihan perlawanan beliau telah memaksa pihak Hindia-Belanda mengganti hulubalang perangnya sebanyak tiga kali, hanya demi merebut benteng kecil nan dibangun dari tanah liat. Akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 1837, benteng Bonjol itu pun bisa direbut.

Pada bulan Oktober di tahun nan sama, beliau diundang ke Palupuh buat melakukan perundingan. Namun, itu hanyalah tipu makar Belanda. Begitu tiba di loka nan dijanjikan, beliau langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian, dipindahkan ke Ambon sebelum akhirnya diasingkan ke Lotak, Minahasa, dekat Manado.Di loka pengasingannya nan terakhir, beliau meninggal global tanggal 8 November 1864 dan dimakamkan di Lotak, Minahasa.



Pahlawan Nasional

Tak dapat dipungkiri, Perang Padri meninggalkan jejak jiwa kepahlawanan dari sebuah perjuangan, sekaligus meninggalkan trauma nan cukup dalam. Namun, perjuangan Tuanku Imam Bonjol layak mendapat apresiasi atas kepahlawanannya dalam menentang penjajahan.

Untuk mengapresiasi jasa-jasanya, pemerintah Indonesia mewakili rakyat Indonesia, memberikan predikat Pahlawan Nasional Indonesia kepada beliau. Penghargaan ini dikukuhkan melalui SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.

Selain itu, sebagai bukti pengakuan publik, nama Tuanku Imam Bonjol pun diabadikan sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan sosoknya terabadikan pada uang kertas pecahan Rp5.000 keluaran Bank Indonesia, 6 November 2001.



Peninggalan Tuanku Imam Bonjol

Hanya sedikit peninggalan sejarah nan menjadi jejak perjuangan Tuanku Imam Bonjol dan nan bisa ditemukan. Salah satunya terletak di Kabupaten Pasaman. Wilayah tersebut, tepatnya di Kecamatan Bonjol, ialah lokasi Bukit Tajadi, loka dahulu benteng pertahanan pasukan Tuanku Imam Bonjol berdiri.

Benteng Tajadi merupakan benteng terkuat selama perjuangan melawan penjajahan Belanda di wilayah nusantara. Dalam perang nan cukup panjang itu (1821-1837), tidak sekali pun Belanda sukses menduduki benteng tersebut, meskipun saat itu Belanda telah memblokade Bonjol dengan mengerahkan pasukan sebanyak hampir 14.000 tentara.

Namun keadaan bukit itu sekarang sangat memprihatinkan. Semak belukar tumbuh tak terpelihara. Bukti sejarah nan tertinggal saat ini hanya tugu nan terletak di kawasan benteng. Kondisinya pun sudah sangat ringkih dan tak terawat. Padahal dalam sejarah, benteng itu satu-satunya benteng nan tak bisa ditembus oleh pasukan Belanda, sebab kokohnya benteng nan dibangun oleh Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya.

Peninggalan lain dari jejak perjuangan Tuanku Imam Bonjol yaitu sebuah meriam nan berlokasi di belakang pasar Bonjol (sekarang). Meriam tersebut sekarang sudah dinaungi bangunan seluas 3x4 m. Meriam itu dibenamkan ke tanah sedalam kira-kira 40 sentimeter. Syahdan pada masa penjajahan Jepang, meriam tersebut sudah diusahakan buat dipindahkan. Benda tersebut ditarik dengan menggunakan homogen alat berat, tetapi ternyata meriam itu tak bisa terangkat.

Sangat disayangkan jika pemerintah daerah setempat mengabaikan usaha pelestarian terhadap peninggalan-peninggalan bersejarah Tuanku Imam Bonjol tersebut. Jika tak dipelihara dari sekarang, bukan tak mungkin anak-cucu kita kelak akan kehilangan jejak sejarah perjuangan bangsanya.