Kota Banjir

Kota Banjir

Jakarta ialah kota metropolitan. Jakarta wisata banjir juga sudah sangat dikenal oleh banyak masyarakat bahkan mendunia. Kota nan dikenal sebagai pusat segala kegiatan perekonomian dan pemerintahan Indonesia. Kota ini juga penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, jalanan layang dan mal-mal mega raksasa. Gedung-gedung dibangun, rumah saling berhimpit memenuhi lorong Jakarta nan dulunya longgar.

Kini, lorong Jakarta sudah berubah seiring jaman menjadi pemukiman padat penduduk. Wajar saja hingga akhirnya seolah di Jakarta tak ada huma kosong lagi. Namun, tahukah Anda, bahwa Anda dapat "menikmati" wisata banjir di Jakarta. Wisata dengan tampilan alam nan berbeda dan membuat miris orang disekitarnya bahkan penduduk dunia. Ya, Jakarta wisata banjir !



Penyebab Banjir di Jakarta

Pembangunan kota Jakarta nan pesat dan padat tak diimbangi dengan pembangunan wahana pembuangan air. Selain itu, pengolahan sampah nan baik dan terpenting pun juga tak dibangun semaksimal mungkin. Pada kenyataannya, seolah para petinggi di Jakarta lupa bahwa kota Jakarta akan menjadi kota padat polusi. Para petinggi di kota jakarta lebih memilih buat menumbuhkan banyak mal-mal baru daripada tumbuhan baru.

Akibat dari fenomena itu, Jakarta pun diliputi majemuk masalah, pembangunan nan liar tak terkendali memang menciptakan kota Metropolitan demikian "indah". Namun, itu semua tak berimbang dengan pembangunan saluran pembuangan air di gorong-gorong. Pembangunan malah menutup genre air dan mematikan berbagai macam pepohonan. Dampaknya Jakarta dilanda banjir setiap harinya jika musim penghujan tiba utamanya.

Kenyataan itu tak bisa dipungkiri dan dicegah sebab sudah menjadi Norma nan dipelihara. Meski warga masyarakat di posisi tak vital mengupayakan pencegahan, tapi hal tersebut tak bisa menghindari bahwa Jakarta wisata banjir menjadi fenomena getir nan harus dihadapi oleh mereka.

Penyebab banjir di Jakarta tersebut sudah diketahui dan disadari oleh semua pihak. Akan tetapi semua hanya sebatas wacana nan sebaiknya diminimalisir buat segera melakukan upaya pemugaran dalam hal banjir terutama daerah rawan banjir di Jakarta. Meski wilayah lain di Indonesia juga mengalami banjir, tapi tak seperti Jakarta nan menjadi warta serta kejadian rutinitas banjir.



Jakarta dan Rutinitas Banjir

Kalau Anda mau sejenak menengok museum-museum tua, atau mungkin sekadar sejenak mengunjungi perpustakaan kota. Tentunya Anda akan menemukan sebuah buku, atau mungkin secarik lukisan nan menggambarkan kota Jakarta tempo dulu. Faktanya tentu berbeda dengan citra kota Jakarta masa kini. Anda bisa dengan mudah menemukan perbedaannya tanpa harus memikirkan secara detil dan mencari-cari.

Kota Jakarta dulu lapang. Jalan-jalan besar. Kali Ciliwung nan melintasi Jakarta juga tampak besar. Namun, kegagahan tersebut tertelan pembangunan nan asal saja. Pembangunan beberapa mal, perumahan, gedung-gedung pencakar langit, hotel dan lainnya. Pembangunan tersebut hanya direncanakan buat kesuksesan dan laba bangunan tanpa adanya perhatian terhadap lingkungan secara maksimal.

Padahal, peran lingkungan menjadi hal primer nan harus diperhatikan sebelum perencanaan pembangunan apapun jenis bangunannya. Lingkungan memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia. Segala kebutuhan hayati manusia dipenuhi oleh lingkungan, mulai dari kebutuhan pokok hingga pelengkapnya.

Karena itulah, sebenarnya mengherankan jika kini kota metropolitan telah mendapat sebutan Jakarta wisata banjir. Selain itu, ditambah banyaknya pendatang nan berusaha mengais rezeki di kota Jakarta. Pendatang itu umumnya tak memiliki loka layak. Akhirnya mereka lantas memilih dan memutuskan buat membentuk pemukiman di pinggir sungai.

Mereka mulai bertindak seenaknya, membuang sampah sembarangan. Tidak memperhatikan ekuilibrium dan kelestarian lingkungan nan seharusnya menjadi hal primer buat diprioritaskan dalam diri mereka. Lingkungan nan lestari dan seimbang tentunya akan membuat kehidupan masyarakat nyaman di setiap waktunya. Namun, pada kenyataannya hal tersebut hanya dimiliki sebagian kecil masyarakat pendatang.

Alhasil, kali-kali di kota Jakarta penuh sampah. Air sulit bergerak sebab dipenuhi tumpukan sampah. Terjadi pendangkalan sungai. Akibatnya, ketika hujan datang, tak ada lagi daya tampung sungai sehingga air pun meluap ke jalan-jalan. Air nan meluap inipun meski tampak sedikit, tapi terus mengalir dan bertambah besar jika hujan deras mengguyur kota metropolitan ini.

Wajar, jika pada kenyataannya air hujan semakin merajalela dengan adanya kondisi tata kota metropolitan seperti saat ini. Banjir pun menjadi berkembang sebagai rutinitas kota Jakarta. Sungguh disayangkan rutinitas nan berpengaruh pada kerusakan, kerugian serta hal lainnya bagi sebagian besar masyarakat kota Jakarta.

Hingga sebutan Jakarta wisata banjir menjadi tersebar luas terutama di semua wilayah Indonesia merupakan hal nan sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Namun seperti halnya kata pepatah, nasi telah menjadi bubur. Kini, wisata banjir sering dinikmati oleh masyarakatnya.

Sebenarnya upaya pencegahan sejak awal bisa dilakukan ketika semua elemen masyarakat tumbuh pencerahan hendak membenahi lingkungan lebih baik dan tertata. Pengalaman kota Jakarta sebagai kota banjir pun bisa dijadikan pengalaman bagi wilayah lain di Indonesia, baik di desa maupun kota besar lainnya.

Pengalaman memang guru terbaik dalam kehidupan. Karenanya, pengalaman banjir di kota metropolitan sekaligus pusat pemerintahan Indonesia ini, hendaknya diwaspadai dan segera diberikan solusi penanganannya secara lebih baik lagi. Semua pihak ikut bertanggung jawab dan bekerja sama satu sama lain.



Kota Banjir

Kini kota Jakarta punya sebutan baru, yaitu kota banjir. Anehnya, bukannya berusaha mengatasi masalah nan menahun tersebut, masyarakat malah memilih memaklumi. Mungkin bukan ingin maklum, namun tak dapat lagi berbuat apa-apa dan hanya dapat pasrah menerimanya.

Miris melihat respon masyarakat seperti uraian di atas. Namun demikian, upaya penanganan sebaiknya terus diupayakan oleh semua pihak agar sikap maklum hingga berujung pada pasrah bisa diminimalisir. Masalah keruwetan banjir ini menciptakan sinonim sendiri, kalau mau lihat sebuah Jakarta wisata banjir atau dengan kata lain kota Metropolitan terendam air, langsung datang saja ke Jakarta.

Anda dapat menikmati wisata sebuah rendaman dari sebuah ibu kota negara. Mungkin Anda dapat bersampan sambil menikmati gunungan sampah dan rumah-rumah nan terbenam air. Fenomena itu sebenarnya menjadikan pandangan masyarakat semakin negatif terhadap ibukota negara ini.

Hal tersebut sebaiknya bisa ditanggulangi dengan penuh tanggung jawab diikuti penumbuhan semangat masyarakat buat ikut berpartisipasi di dalamnya. Masyarakat nan dimaksud bukan terbatas pada penduduk tanpa jabatan, namun semua elemen masyarakat tanpa kecuali termasuk para perancang bangunan jika mereka bukan termasuk warga Jakarta.

Sebenarnya banjir sebab pengaruh lingkungan tetap bisa diatasi dengan cara nan tepat seperti uraian sebelumnya di atas. Lingkungan lestari dan seimbang termasuk kunci utamanya. Jika lingkungan tersebut kelestariannya terjaga dengan baik, maka keseimbangannya pun akan terbentuk dengan sendirinya.

Oleh karenanya, meski tak mudah buat melakukan penjagaan kelestarian lingkungan menuju keseimbangannya, maka hal tersebut sebaiknya senantiasa diupayakan sejak awal. Pembiasaan peduli lingkungan tersebut tak memandang jabatan, suku, agama ataupun hal lainnya.

Semua elemen masyarakat harus bertanggung jawab dengan maksimal. Dengan demikian, masalah ruwet sebab banjir dan hal lainnya akan bisa ditangani sebaik-baiknya. Generasi penerus bangsa ini pun akan memahami arti krusial lingkungan bagi kehidupan mereka ke depannya. Mereka tak mudah buat membuat ataupun melakukan suatu perencanaan sekaligus perancangan pembangunan tanpa berpikir dan pertimbangan majemuk hal nan terkait di dalam bangunannya.

Generasi penerus bangsa termasuk generasi nan senantiasa berupaya maksimal agar kehidupan mereka senantiasa lebih baik dari generasi sebelumnya. Meski hanya sebatas banjir, tapi sebaiknya memandang masalah banjir tersebut dari berbagai sisi kehidupan agar tak terulang di masa mendatang.

Kemajuan teknologi dan informasi sebaiknya dimaksimalkan buat melakukan pencegahan banjir dan musibah lainnya. Karenanya, sebutan Jakarta wisata banjir bisa ditinggalkan dengan sebutan nan lebih baik dan menentramkan penduduk Jakarta utamanya. Semoga uraian mengenai Jakarta wisata banjir bisa menjadi pelajaran sekaligus pengalaman nan memiliki nilai positif bagi penduduk wilayah lainnya.