Protein dan Tubuh

Protein dan Tubuh

Protein ialah salah satu dari enam zat gizi nan membentuk struktur tubuh manusia. Selain pada karbohidrat dan lemak, protein bisa menghasilkan sejumlah energi. Tubuh nan kurang energi protein biasanya sering merasa lemas. Bahkan, dapat menyebabkan penyakit anemia, berkurangnya sel darah merah sehingga tak mampu mengangkat oksigen sinkron jumlah nan dibutuhkan tubuh.Secara etimologis, protein sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni protos nan artinya “paling utama”. Senyawa organik kompleks nan berbobot molekul tinggi ini merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino nan oleh ikatan peptida dihubungkan satu sama lain.Kandungan molekul nan terdapat di dalam protein ialah karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan sulfur serta fosfor. Zat ini berperan krusial dalam struktur serta fungsi seluruh sel nan terdapat di dalam tubuh makhluk hidup. Itulah sebabnya orang Yunani menyebutnya sebagai zat nan paling utama.Mayoritas protein merupakan enzim dan subunit enzim nan berperan dalam fungsi struktural atau mekanis. Misalnya saja, protein nan membentuk batang dan sendi sitoskeleton.Zat ini juga sangat berpengaruh terhadap sistem imun atau kekebalan sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan serta alat transportasi zat hara di dalam tubuh.Selain itu, protein juga berperan sebagai sumber asam amino bagi makhluk hayati nan tak mampu membentuk zat tersebut atau sering juga disebut heterotrof.



Struktur Kimia Protein

Protein ialah salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida. Zat nan berperan sebagai penyusun primer makhluk hayati ini ialah satu di antara beberapa molekul nan paling sering diteliti dalam biokimia.Protein terdiri atas struktur nan dapat dilihat secara hirarki, yakni struktur primer, struktur sekunder, struktur tersier, dan struktur kuartener.Struktur utama protein ialah urutan asam amino penyusun protein nan dihubungkan dengan ikatan peptida. Seorang ilmuwan bernama Frederick Sanger menemukan bahwa terdapat deret asam amino dalam protein melalui enzim protease nan mengiris ikatan antara asam amino eksklusif sehingga membentuk fragmen peptida nan lebih pendek. Urutan asam amino tersebut menentukan fungsi protein. Struktur nan kedua ialah struktur sekunder, yakni struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino dalam protein nan kemudian distabilkan oleh ikatan hidrogen.Struktur selanjutnya ialah struktur tersier nan merupakan gabungan antara berbagai struktur sekunder nan biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi tanpa ikatan kovalen dalam membentuk oligomer nan cukup stabil.Terakhir ialah struktur kuartener nan terdiri atas majemuk atau gabungan struktur tersier lainnya.Struktur utama bisa ditentukan dengan menggunakan metode hidrolisis protein asam kuat nan kemudian komposisi asam aminonya ditentukan melalui instrumen amino acid analyzer; dengan analisis sekuens dari ujung –N melalui degradasi Edman; dengan kombinasi dari digesti melalui trispin dan spektrometri massa; dan dengan penentuan massa molekular dari spektrometri massa. Sementara itu, struktur sekunder protein bisa ditentukan dengan menggunakan spektroskopi CD dan FTIR. Struktur protein lainnya disebut sebagai domain nan terdiri atas 40 sampai 350 asam amino. Protein nan sederhana biasanya hanya memiliki satu domain, sedangkan protein nan lebih kompleks memiliki beberapa domain di dalamnya.



Protein dan Tubuh

Protein pada tubuh dikenal dengan nama hemoglobin (Hb) nan terdapat di dalam sel darah merah. Kemudian, albumin dan globilum nan terdapat dalam plasma darah. Protein berfungsi mengkatalisasikan reaksi-reaksi biokimia di dalam tubuh. Protein ialah hormon nan merangsang suatu enzim dalam tubuh.

Protein di dalam tubuh berbentuk koloid nan bisa mempertahankan derajat keasaman (pH) cairan tubuh. Bila cairan tubuh terlampau asam atau terlampau basah dibanding susunan normal, protein bisa menetralkan kembali sehingga biokimia bisa berjalan normal. Protein juga dapat membantu ekuilibrium antara cairan intraseluler dengan cairan ekstraseluler. Jika bergabung dengan lemak, protein membentuk lipoprotein, yaitu molekul nan berfungsi mengatur lemak di dalam plasma darah.

Proten berfungsi sebagai pengatur sumber energi, mengatur reaksi biokimia, mengatur ekuilibrium asam pada ekuilibrium antara cairan intra dan ekstraseluler pertumbuhan dan perkembangan, pertahanan tubuh, pengangkutan lemak, dan lain-lain. Protein dibagi menjadi dua jenis.

  1. Protein nan berasal dari tumbuh-tumbuhan disebut protein nabati. Kandungan protein dalam kacang-kacangan lebih tinggi dibanding protein hewani, yaitu berkisar 23–35 gram protein per 100 gram kacang-kacangan.
  2. Protein nan berasal dari hewan disebut protein hewani. Mengandung semua jenis amino, termasuk di antaranya 9 jenis asam amino nan dibutuhkan manusia. Protein hewani, misalnya daging, jeroan, susu, keju, telur.


Protein Bagi para Vegetarian

Vegetarian dibagi menjadi beberapa kelompok, di antaranya sebagai berikut.

  1. Kelompok vegan, kelompok mereka nan tak mengkonsumsi daging atau dari hewan, termasuk susu dan telur. Mereka hanya mengonsumsi kacang-kacangan dan padi.
  2. Kelompok ovo-vegetarian, mereka tak mengonsumsi makanan hewani, kecuali telur.
  3. Kelompok lacto-vegetarian, mereka tak mengonsumsi makanan hewani, kecuali susu.
  4. Kelompok lacto-ovo-vegetarian, kelompok ini masih mengonsumsi telur dan susu.

Yang perlu diperhatikan oleh para kelompok vegetarian ialah dengan tak mengonsumsi makanan nan berasal dari hewan (daging, termasuk telur dan susu) atau kurang energi protein di dalam tubuh akan mengakibatkan kekurangan vitamin B12 dan kalsium.

Kekurangan B12 bisa menyebabkan kurang darah dan kekurangan kalsium bisa menyebabkan gangguan tulang. Gejala kekurangan protein dapat dengan ditandai kepala pusing.
Agar hal tersebut tak terjadi, konsumsilah protein botani (kacang-kacangan) atau dengan mengombinasikan padi dan kacang. Selain bisa memperbaiki protein, bisa mengurangi pengeluaran membeli daging nan mahal dan menu makanan lebih variatif.



Akibat Kurang Energi Protein

Seperti nan sudah disebutkan di atas, protein merupakan unsur nan sangat krusial nan dibutuhkan oleh tubuh. Kebutuhan tubuh akan protein ialah sebanyak 1 gram per kg berat tubuh seseorang. Kebutuhan protein pada tubuh seseorang juga akan meningkat pada wanita nan sedang hamil dan para olahragawan.Kurangnya energi protein dalam tubuh akan menyebabkan kerontokan rambut, atau bahkan kwasiorkor nan merupakan penyakit kekurangan protein. Misalnya saja, anak nan busung lapar atau orang nan mengalami gangguan pertumbuhan dan hipotonus. Selain itu, kekurangan protein secara berkesinambungan juga akan mengakibatkan marasmus nan berakibat pada kematian.Protein dihasilkan dari berbagai makanan nan diolah melalui sistem pencernaan dalam tubuh. Protein dari makanan tersebut akan diuraikan menjadi peptid nan strukturnya lebih kecil dan sederhana melalui donasi enzim. Jumlah asam amino nan dibutuhkan oleh tubuh ialah sebanyak sembilan. Makanan nan mengandung berbagai sumber protein ialah daging, ikan, telur, susu, tumbuhan berbiji, kacang-kacangan, kentang, dan lain-lain. Oleh karena itu, penuhilah kebutuhan protein sebab zat tersebut berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh, berperan dalam pembentukan dan pemugaran sel dan jaringan dalam tubuh, berperan sebagai buatan hormon enzim dan antibodi, serta mengatur ekuilibrium kadar asam basa di dalam sel.Dari gambaran di atas, bisa disimpulkan bahwa protein amatlah krusial buat membentuk sel dan jaringan dalam tubuh. Dengan pertumbuhan nan baik, maka akan dihasilkan produktivitas nan baik pula sehingga manusia dan organisme lainnya dapat melakukan aktivitas nan seharusnya mereka lakukan.