Gus Dur: Dari Cicit Pendiri NU Sampai Presiden Dua Tahun yang Bikin Baper!

Gus Dur: Dari Cicit Pendiri NU Sampai Presiden Dua Tahun yang Bikin Baper!

Hai, sobat muda! Kali ini gue bakal ngulik riwayat hayati Gus Dur yang penuh warna, mulai dari masa kecil yang “kontroversial” sampai jadi presiden yang cuma duduk 2 tahun tapi berpengaruh gede. Siap-siap dibawa jalan‑jalan santai ala geng, ya!

Presiden Dua Tahun

Setelah Soeharto lengser, Gus Dur langsung ngeluncur ke panggung politik nasional. Dia berdiri bareng PKB, terus melaju di Pemilu 1999 dan berhasil jadi Presiden RI lewat pemilihan MPR. Sayangnya, masa kepemimpinannya “cuma dua tahun” karena terjerat Buloggate dan Bruneigate, akhirnya dimakzulkan pada 23 Juli 2001.

Selama menjabat, Gus Dur sempat ngeluarin dekrit presiden yang isinya: (1) bubarin MPR/DPR, (2) kembalikan kedaulatan ke rakyat dengan percepat pemilu dalam setahun, dan (3) bekukan Golkar. Sayangnya, dekrit itu “gak diakui” sama siapa‑siapa, bikin masa kepresidenannya makin “bikin baper”.

Rebel Sama Penguasa

Gus Dur pernah jadi ketua NU tiga periode (1984‑1999). Walau deket sama rezim Orde Baru, dia nggak takut ngelawan kebijakan otoriter Soeharto. Contohnya, pas Soeharto bikin ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang nyoba narik simpati modernis, Gus Dur balas dengan bikin Forum Demokrasi (Fordem) yang melibatkan semua agama.

Pada Maret 1992, Gus Dur rencananya mau adain Musyawarah Besar NU dengan target satu juta kader. Sayang, Soeharto ngintip dan nyuruh polisi “memaksa” bus‑bus yang mau ke Jakarta. Akhirnya Gus Dur kirim surat protes, menuntut hak NU buat menampilkan Islam yang “adil, terbuka, dan toleran”.

Cicit Pendiri NU

Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940, dengan nama asli Abdurrahman Addakhil. Karena nama “Addakhil” kurang “kekinian”, diubah jadi Abdurrahman Wahid. Dia adalah cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari, jadi otomatis dia dapet “status VIP” di lingkungan pesantren.

Uniknya, sejak kecil Gus Dur udah “kontroversial”. Cerita paling legendaris: pas masuk SD di Jakarta, gurunya nanya tanggal lahir. Gus Dur jawab “4 Agustus 1940” tapi ternyata dia pakai kalender Hijri (4 Sya’ban 1359). Karena salah konversi, tanggal resmi jadi 7 September 1940. Kesalahan kecil yang jadi bahan lelucon sampai sekarang.

Gus Dur Gak Pernah Pacaran

Di era remaja, kebanyakan temen‑temen Gus Dur pada “pacaran‑pacaran”. Dia malah “gak suka” karena pemalu dan lebih milih baca buku atau main bola. Ketika ditawarin kuliah di Mesir, pamannya, K.H. Fattah, malah nyaranin “cari istri dulu”. “Kalau nunggu pulang, nanti dapat wanita tua yang cerewet,” katanya (bikin gelak tawa).

Paman Gus Dur akhirnya ngenalin Siti Nuriyah, yang dulu jadi murid di Mu’allimat. Awalnya Siti Nuriyah ragu karena trauma mantan guru yang “nyerang” dia waktu masih 13 tahun. Tapi setelah Gus Dur kirim surat yang “nyentuh hati”, Siti Nuriyah akhirnya setuju. Mereka resmi nikah 11 Juli 1968.

Ideologi Pancasila & NU

Pada 1983, Soeharto menjadikan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara. NU berada di persimpangan: tetap pegang tradisi Islam atau “menyatu” dengan Pancasila. Gus Dur melihat bahaya “menolak” Pancasila, mengingat nasib Masyumi yang dibubarkan.

Dia kemudian menyatakan NU harus menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Keputusan ini bikin Gus Dur makin populer di kalangan NU dan bahkan disukai pemerintah Orde Baru. Pada Musyawarah Nasional 1984, banyak yang usul Gus Dur jadi ketua NU, dan dia terima dengan syarat dapat pilih pengurus yang “loyal”.

Akhir Perjalanan

Setelah masa kepresidenan berakhir, Gus Dur sempat mau ikutan Pemilu 2009, tapi “kondisi politik” bikin dia “digembosi”. Pada 30 Desember 2009, Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pemerintah mengumumkan berkabung 7 hari untuk menghormati jasa-jasanya.

Itulah sekilas riwayat hayati Gus Dur yang penuh liku, dari cicit pendiri NU sampai presiden dua tahun yang tetap jadi ikon pluralisme di Indonesia. Semoga cerita ini bermanfaat buat lo semua, sobat Ahira! Keep it cool, keep it learning.