Penularan HIV AIDS Melalui Interaksi Seksual

Penularan HIV AIDS Melalui Interaksi Seksual

Penyakit AIDS HIV merupakan penyakit nan menyerang sistem kekebalan tubuh. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome ialah gejala dan infeksi nan diakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia nan diakibatkan oleh virus HIV. Virus HIV sendiri merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus .

Jika virus HIV ini menyerang manusia, virus ini akan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Orang nan terinfeksi virus ini akan mudah sekali sakit atau terserang penyakit. Penyakit AIDS HIV saat ini belum ada obatnya, meskipun sudah ada langkah penanganan buat memperlambat laju penyebaran virus ini.

Virus HIV ini menyebar melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam atau melalui darah. Virus HIV ini pun menyebar melalui cairan tubuh nan sudah terinfeksi HIV, misalnya darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Secara umum, penularan penyakit AIDS HIV ini bisa ditularkan melalui interaksi seks nan berganti-gant pasangan, transfusi darah, melalui jarum injeksi nan terkontaminasi, melalui kehamilan, atau melalui kontak nan melibatkan cairan tubuh.

Penyakit AIDS HIV ini menurut para ilmuwan berasal dari Benua Afrika. Dan nan sangat mirisnya, HIV AIDS sudah menjadi endemi penyakit. Diperkirakan, sekitar 38,6 juta orang terinfeksi HIV AIDS, termasuk anak-anak nan tertular dari ibu nan terinfeksi HIV. Dalam sejarah kesehatan, penyakit AIDS HIV pun menjadi salah satu penyakit nan paling mematikan di dunia.

Gejala dan Penyebab Penyakit AIDS HIV

Jika seseorang terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuhnya akan menurun. Biasanya, virus HIV mempengaruhi seluruh organ tubuh. Selain itu, penderita AIDS pun memiliki risiko besar menderita kanker, misalnya kanker leher rahim dan kanker sistem kekebalan nan dinamakan limfoma. Biasanya, penderita AIDS akan menderita gejala nan bersifat sistemik, seperti demam, berkeringat terutama malam hari, pembengkakan kelenjar, dan penurunan berat badan.

Gejala nan timbul pada penderita AIDS ini disebabkan oleh virus HIV. Virus HIV ini menyerang organ vital dalam sistem kekebalan manusia, misalnya makrofaga dan sel dendritik. Saat tubuh terjangkit virus HIV, virus tersebut akan bercokol di dalam tubuh dan akan berkembang menjadi AIDS. Perkembangan HIV menjadi AIDS ini sekitar 9 tahun.

Akan tetapi, itu tak bisa dijadikan patokan perkembangan virus. Hal ini dikarenakan variasi perkembangan HIV bervariasi pada tubuh manusia, ada berkembang 2 ada juga nan berkembang secara perlahan selama 20 tahun. Hal itu diakibatkan setiap kekuatan tubuh manusia berbeda.

Penularan HIV AIDS Melalui Interaksi Seksual

Selain melalui transfusi darah dan pemakaian jarum injeksi nan terkontaminasi, penyakit AIDS pun menular secara seksual melalui interaksi badan. Dalam hal ini, penyakit AIDS dapat tertular melalui interaksi seks bebas atau berganti-ganti pasangan. Interaksi seksual tanpa pengaman berisiko lebih besar terjangkit HIV AIDS.

Selain itu, interaksi seks nan dilakukan secara berkaitan dengan mulut ataupun secara anal berisiko terjangkit HIV AIDS. Penyakit menular seksual pun bisa meningkatkan penularan HIV AIDS. Hal ini dikarenakan gangguan pertahanan jaringan epitel dampak adanya luka pada alat kelamin.

Selain sebab interaksi seksual, penyakit AIDS pun bisa ditularkan melalui transfusi darah dan infeksi dampak jarum injeksi nan terkontaminasi. Penggunaan jarum injeksi nan tak steril atau menggunakan jarum injeksi secara bersama-sama, berisiko terkena penyakit AIDS HIV. Dalam penyebarannya, infeksi nan diakibatkan jarum injeksi ini sebesar 50% dari jumlah penyakit AIDS HIV nan ada di dunia.

Tahapan Infeksi HIV AIDS

Pada 1990, organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) mengelompokkan tahapan infeksi HIV AIDS. Berikut ini tahapan infeksi HIV AIDS menurut WHO.

  1. Stadium I merupakan termin pertama infeksi HIV AID. Tahapan nan disebut dengan nama asimtomatik ini belum bisa dikategorikan sebagai penyakit AIDS.
  1. Stadium II merupakan termin kedua dalam infeksi HIV AIDS. Tahapan ini merupakan manifestasi membran mukosa dan menimbulkan radang saluran pernapasan atas.
  1. Stadium II merupakan termin ketiga dalam infeksi HIV AIDS. Pada termin ini, menyebabkan diare kornis selama lebih dari sebulan, menyebabkan infeksi bakteri, dan penyakit TBC (tuberkulosisi).
  1. Stadium IV merupakan termin paling kronis dari penyakitk HIV AIDS. Pada termin ini, akan timbul penyakit seperti toksoplasmosis otak, trakea, bronkus, dan sarcoma kaposi. Penyakit-penyait tersebut merupakan indicator penyakit AIDS.

Tes HIV AIDS

Penyakit AIDS HIV ini termasuk penyakit paling mematikan di dunia, tetapi banyak orang nan tak menyadari jika mereka terinfeksi virus HIV. Untuk mengetahui seseorang terinfeksi penyakit AIDS HIV, dilakukan tes HIV. Tes tersebut dilakukan dengan cara memeriksa imunoasai enzim dan pengujian western blot . Selain itu, tes HIV dilakukan dengan cara mendeteksi antibody HIV pada serum plasma, cairan mulut, darah, dan urine.

Akan tetapi, jangka waktu infeksi dan berkembangannya antibodi nan berfungsi buat melawan infeksi pada setiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu, dibutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan buat mengetahui apakah pasien itu bebas dari HIV atau terinfeksi HIV AIDS.

Selain cara-cara nan tela disebutkan sebelumnya, ada juga cara lain buat mengetahui infeksi HIV AIDS, yaitu dengan cara melakukan deteksi antigen HIV-RNA dan HIV-DNA. Akan tetapi, metode inspeksi ini tak disetujui secara spesifik untk memeriksa infeksi HIV. Namun, inspeksi dengan cara HIV-RNA dan HIV-DNA telah diaplikasikan oleh beberapa negara maju.

Pencegahan Penyakit AIDS HIV

Penyakit AIDS HIV menular melalui tiga jalur utama, yaitu melalui interaksi seksual berganti-ganti pasangan, kontak dengan cairan atau jaringan tubuh nan terinfeksi, dan melalui ibu ke janinnya selam periode kehamilan. Sebagian besar penderita penyakit AIDS tertular atau terjangkit penyakit ganas ini memalui interaksi seksual. Ya, interaksi seksual berganti-ganti pasangan dan tak menggunakan pelindung berisiko lebih besar terjangkit HIV AIDS.

Penggunaan kondom, baik kondom pria dan kondom wanita mengurangi risiko terjangkit HIV AIDS sebesar 80%. Tentunya, cara paling tepat agar tak terjangkit HIV AIDS ialah hindari seks bebas dan berganti pasangan. Interaksi seksual sesama jenis pun berisiko terinfeksi HI AIDS.

Selain melalui interaksi seks, penyakit AIDS HIV pun menular melalui tranfusi darah dan penggunaan jarum injeksi nan terkontaminasi. Penggunaan jarum injeksi pada penggunaan narkoba berisiko tertular penyakit mematikan di global ini. Tranfusi darah dari darah nan terkontaminas HIV pun berisiko besar tertular penyakit AIDS. Jadi, buat mencegah tertular penyakit AIDS HIV, jauhi penggunaan narkoba dan transfusi darah nan terkontaminasi.

Selain melalui interaksi seks dan transfusi darah dengan jarum injeksi nan terkontaminasi, penyakit AIDS HIV pun dapat menular dari ibu hamil ke janin nan dikandungnya. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat antiretrovirus, melahirkan dengan cara Caesar, dan pemberian makanan formula akan mengurangi penularan HIV dari ibu ke anaknya. Selain itu, pecegajan penularan HIV AIDS dari ibu ke anaknya pun bisa dilakukan dengan cara tak member ASI kepada anaknya.

Sampai sekarang ini, belum ditemukan obat buat menyebuhkan penyakit ganas ini. salah satu metode buat menangani penyakit ini ialah dengan cara perawatan antiretrovirus nan disebut dengan post-exposure prophylaxi s.

Dari klarifikasi tersebut, bisa disimpulkan bahwa HIV AIDS merupakan salah satu penyakit mematikan di global nan belum ada obatnya. Agar tak tertular HIV AIDS, cara nan paling tepat ialah menjauhi penyebab HIV, seperti interaksi seks berganti-ganti pasangan dan penggunaan jarum injeksi narkoba.
Itulah klarifikasi mengenai penyakit AIDS HIV. Semoga klarifikasi ini menambah pengetahuan Anda mengenai penyakit AIDS HIV.