Film Hantu Jamu Gendong Menjual Sensualitas Jupe
Akting 'Berani' Jupe di Film Hantu Jamu Gendong
Dalam film Hantu Jamu Gendong nan dirilis pada 2009 ini, akting Jupe sebenarnya tidak jauh berbeda dengan akting di film-film sebelumnya. Seperti di film Beranak Dalam Kubur (2007), Susahnya Jadi Perawan (2008), dan Basahhh... (2008). Berkisar 'keberanian' Jupe melakoni adegan ranjang dan memamerkan lekuk tubuh sintalnya.
Padahal, film nan diangkat dari urban legend (legenda atau mitos masyarakat perkotaan) itu sebenarnya mengandung tema menarik. Film ini berkisah tentang hayati seorang perempuam muda bernama Sri (dibintangi oleh Jupe). Karena ditinggal oleh suaminya, Sri harus menghidupi putri semata wayangnya. Hal ini membuat ibu dan anak tersebut memutuskan buat meninggalkan kampung halaman mereka dan pindah ke Jakarta.
Ternyata, tak mudah buat mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sri dan anaknya pun harus menggelandang buat beberapa waktu sebab tak memiliki kerabat nan dapat menampung.
Untunglah, ada seorang ibu nan baik hati. Bukan hanya memberi Sri dan anaknya loka berteduh, ibu itu pun menawarkan pekerjaan sebagai penjual jamu gendong. Ibu baik hati tersebut ternyata pemilik usaha penjualan jamu gendong. Punya banyak karyawan (penjual jamu gendong) dan Sri pun akhirnya bekerja di loka itu.
Hidup sepertinya akan berjalan lancar dan mudah bagi Sri. Ia dan putrinya pun mulai merenda kehidupan latif nan akan mereka bangun. Namun, takdir ternyata berkata lain.
Belum lama bekerja sebagai penjual jamu gendong, Sri mengalami nasib naas. Ketika pulang bekerja pada malam hari, ia diperkosa oleh beberapa pemuda berandal. Bukan hanya diperkosa, Sri juga dibunuh oleh mereka. Mayatnya kemudian dikubur pada salah satu bagian di rumah tua tanpa penghuni.
Nah, dari sinilah cerita mengenai urban legend itu berawal. Cerita mengenai roh penasaran Sri nan menuntut balas kepada para pemerkosanya. Tak hanya itu, roh penasaran Sri juga jadi bahan perbincangan masyarakat sekitar sebab sering menghantui mereka. Hantu Jamu Gendong , demikian roh penasaran tersebut dinamakan.
Masyarakat sekitar percaya bahwa dengan melakukan ritual 'pemanggilan' eksklusif di salah satu lokasi nan dipercaya sebagai loka diperkosa dan dibunuhnya Sri, maka penampakan hantu itu akan muncul. Berbusana seperti penjual jamu gendong tapi punya paras menyeramkan layaknya setan.
Ide nan mendasari film ini, yakni mengenai urban legend Hantu Jamu Gendong sejatinya sarat dengan kritik sosial dan potret realita masyarakat kelas bawah di Jakarta. Menarik sebab menggambarkan hayati kelompok marjinal nan berjuang keras demi sesuap nasi. Sayangnya, ketika urban legend tersebut diangkat ke layar lebar (film), daya tariknya menjadi pupus.
Sutradara film ini yaitu Koya Pagayo, hanya tertarik mengupas cerita 'balas dendam' Sri nan wafat penasaran. Selama 90 menit durasi film, penonton hanya disuguhi aksi arwah Sri dalam membunuhi para pemuda pemerkosanya. Termasuk beberapa adegan tak masuk akal nan dilakukan arwah Sri dalam memikat para korban, yaitu beradegan ranjang dan mencumbu mereka.
Karenanya, memang tepat bila film ini dikategorikan sebagai film horor-seks. Banyak adegan vulgar nan harusnya tak lolos sensor. Adapun suasana horor nan terasa, hanya mengandalkan irama musik khas film horor Indonesia dan permainan backsound mengejutkan penonton, bukan sebab alur cerita nan dibangun secara cermat dan akting gemilang para pemainnya.
Akting nan ditunjukkan oleh Jupe di film ini pun tidaklah istimewa. Karakter dari Sri kurang optimal tergali sehingga penonton kurang merasakan bagaimana penderitaan batin dari Sri nan semasa hidupnya memiliki nasib tragis. Sebaliknya, para penonton malah lebih tertarik buat melihat aksi 'keberanian' Jupe dalam beradegan ranjang dan membuka busana. Ia memamerkan organ vitalnya (payudara) nan memang berukuran di atas rata-rata itu.
Begitu pun versus main Jupe di film ini, yaitu Fendi Trihartanto, Rina Hasyim, dan Diah Cempaka Sari. Akting mereka masih terbilang biasa-biasa saja sehingga karakter nan mereka perankan tak mampu memikat para penonton.
Film Hantu Jamu Gendong Menjual Sensualitas Jupe
Ada benarnya ketika banyak kalangan menilai bahwa film Hantu Jamu Gendong hanya menjual sensualitas dari sosok seorang Jupe. Sementara alur cerita dan perwatakan para tokohnya tidak terlalu diutamakan. Film ini pun berjenis sama dengan sebagian besar film bergenre horor Indonesia lainnya, yaitu menjual kemolekan tubuh dan 'keberanian berakting panas' atau adegan buka-bukaan dari pemeran perempuannya.
Jupe sendiri memang merupakan seniman berpredikat bom seks di Indonesia. Masyarakat sudah sangat mafhum bila disebutkan nama Jupe, maka akan terbayang sosok seniman nan getol berpakaian seksi dan seringkali tersangkut pada pemberitaan kontroversial. Bila bukan sebab busana seksi, kehidupan glamor dan bebas dengan pasangan di luar nikah, maka Jupe niscaya terkait dengan hal-hal lain nan ujungnya hanya satu, mengumbar sensualitas tubuh.
Makanya saat dirilis, masyarakat perfilman Indonesia telah menduga bahwa film bertokohkan hantu cantik dan seksi ini, merupakan film unjuk 'keberanian' akting dari Jupe. Alur cerita menarik atau akting berkualitas dari para pemainya jangan diharapkan bakal ada dan itu ternyata benar.
Berbagai warta mengenai film ini pun nyaris tak ada nan memberitakan dari sisi kualitas filmnya.Yang ada, malah pemberitaan akan komentar sensasional Jupe terhadap film nan dibintanginya itu. Seperti diberitakan oleh salah satu media online , bahwa Jupe kesal dengan akting para pemain di film ini, yakni akting para berandalan nan diceritakan dalam film melakukan tindak pemerkosaan terhadapnya.
Jupe kesal sebab baginya akting para pemerkosa itu terlalu 'lembut'. Jupe pun meminta versus mainnya itu lebih militan dan garang dalam memerkosa dirinya. Seharusnya adegan pemerkosaan tersebut menghabiskan waktu selama empat jam agar sinkron dengan keinginan Jupe. Jupe pun menikmatinya.
Ada lagi warta nan tidak kalah sensasional, apalagi kalau bukan mengenai adegan percumbuan di salah satu bagian film ini. Jupe terlihat beradegan ranjang dengan versus mainnya. Adegan ranjang itu semakin ramai dibicarakan sebab Jupe terlihat tak mengenakan selembar benang pun alias tanpa busana.
Lalu, apa jawaban dari Jupe terhadap akting dan penampilan sensualnya di film ini? Dengan santainya ia menjawab bahwa itu semua hanyalah tuntutan peran dari film nan ia bintangi. Sebagai seniman profesional, ia akan melakoninya walau itu akan menimbulkan polemik di masyarakat. Sepanjang memang jelas akting atau adegan tersebut sinkron tuntutan dari skenario film, bagi Jupe bukanlah masalah.
Ironisnya, fenomena nan ada di balik film ini ternyata tidak membuat Forum Sensor Film (LSF) Indonesia meng- cancel dirilisnya film Hantu Jamu Gendong. Bahkan, adegan ranjang dengan Jupe tanpa selembar benang pun, bebas disaksikan oleh para penonton tanpa sedikit pun tersentuh oleh gunting sensor dari LSF. Banyak adegan lain di film nan menampilkan Jupe berpakaian seksi, juga menunjukkan auratnya tanpa sungkan.
Hal tersebut membuat banyak tokoh masyarakat nan kecewa dengan kinerja dari LSF. Apakah sebab sudah begitu banyaknya film-film seperti Hantu Jamu Gendong nan beredar di Indonesia sehingga LSF pun jadi jenuh dan mandul dalam bekerja? Atau sebab batasan evaluasi pornografi dalam global perfilman di Indonesia telah begitu lentur dan permisif? Ini kiranya harus jadi pekerjaan rumah bagi siapa pun nan peduli terhadap kualitas perfilman Indonesia buat secepatnya dibenahi.