Pengertian Autis – Terapi Autisme

Pengertian Autis – Terapi Autisme

Pengertian autis menjadi sebuah informasi nan belum sepenuhnya sampai pada masyarakat. Para orang tua dengan anak penderita autis bahkan kadang tak mengetahui pengertian autis itu sendiri. Lebih banyak dari mereka nan kebingungan mengenai penyakit apa nan tengah diderita oleh anaknya.

Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pengertian autis menyebabkan autisme sering disamakan dengan down-syndrome . Padahal, dua hal tersebut jauh sekali berbeda. Pemahaman mengenai pengertian autis nan salah sering mengakibatkan penanganan nan salah pula.

Pengertian autis sepertinya sudah cukup dipahami sejak zaman dahulu oleh “orang bule” nan berada diluar negeri sana. Gangguan austisme sudah ada sejak berabad-abad lampau, tetapi istilah ini baru diperkenalkan oleh Leo Kanner pada 1943. Ia memberi nama autisme berasal dari kata auto nan artinya 'sendiri'.

Pengertian autis nan lebih seksama disampaikan oleh Baron-Cohen (1993). Baron-Cohen menjelaskan bahwa autisme merupakan “suatu kondisi” anak sejak lahir atau saat masa balita nan menyebabkan anak tersebut tak mampu membentuk interaksi sosial atau komunikasi normal, nan berakibat isolasi dari manusia lain, dan masuk dalam global repetitif, aktivitas dan minat obsesif.

Sejauh ini, pengertian autis masih terus dipelajari. Autisme tak dapat didiagnosis langsung secara klinis karena merujuk pada definisi Baron-Cohen, penyebabnya ialah “suatu kondisi,” dan bukan pada kelainan gen, campur tangan virus, maupun sejenisnya. Autisme hanya dapat dikenali dengan cara mengamati konduite anak secara saksama.

Akan tetapi, buat bisa mencegah dan menangani masalah autisme pada anak, artikel ini akan membahas berbagai hal mengenai autisme. Dari mulai pengertian autis, ciri-ciri dan karakteristiknya, serta terapi penangannya sehingga orang tua nan mengalami hal tersebut tak langsung menjadi panik ketika mengetahui bahwa anaknya mengalami kelainan nan disebut sebagai autisme.

Untuk menghindari pemahaman nan salah mengenai hal-hal nan berhubungan dengan pengertian autis dan ciri-cirinya, simaklah uraian mengenai hal tersebut di bawah ini.



Pengertian Autis – Konduite dan Karakteristik Anak Penderita Autisme

Menurut pengertian autis itu sendiri, ciri-ciri penyandang autis sekilas memiliki konduite menyerupai penderita keterbelakangan mental, gangguan pendengaran, atau berperilaku aneh. Namun, jika saksama diperhatikan, ada disparitas nan mencolok pada penyandang autisme.

Sebelum umur 24-30 bulan, umumnya, anak-anak autis berkembang sebagaimana layaknya anak-anak normal. Baru setelah itu muncul gejala-gejala perubahan, seperti berikut ini. Meskipun demikian, informasi mengenai pengertian autis ini patut buat diperhatikan sejak dini.
Berikut ini ialah ciri-ciri anak penderita autisme nan memungkinkan Anda buat lebih cepat mengerti dan memahami pengertian autis itu sendiri.



Hambatan dalam Berkomunikasi

Ciri-ciri autisme nan pertama dan menjadi wahana pemahaman nan cukup baik mengenai pengertian autis ialah kesulitan si anak dalam berkomunikasi. Anak nan normal, dalam hal ini tak menderita autis niscaya bahagia berbicara dengan orang lain. Bahkan mengatakan hal nan tak perlu pada setiap orang nan ditemuinya. Tapi tak dengan anak penderita autis. Anak autis biasanya akan menunjukkan konduite seperti dibawah ini:

  1. Anak mengalami keterlambatan bicara.
  2. Sering menggunakan kata-kata tetapi tak tepat secara konteks dan tak ada hubungannya dengan arti kata tersebut secara lazim.
  3. Menolak berbicara, atau berbicara sangat sedikit, misalnya ya atau tidak.
  4. Sering mengucapkan kata-kata nan tak jelas.
  5. Menggunakan bahasa tubuh.
  6. Hanya mampu berkomunikasi dalam waktu singkat.
  7. Tidak menyukai stimulasi pendengaran.
  8. Sering melakukan gerakan aneh buat stimulasi diri sendiri, misalnya dengan memukul-mukul kepala, dada, dan lain-lain.


Hambatan Sosial

Selain kesulitan dalam berkomunikasi, pengertian autis lainnya dapat dikenali melalui gejala pada anak nan berhubungan dengan global sosial.

  1. Anak lebih suka menyendiri.
  2. Bersikap dingin dan tak memberi respon, misalnya tersenyum, tertawa, dan sebagainya.
  3. Tidak menaruh perhatian pada keadaan sekitar dan lingkungannya.
  4. Tidak tertarik dalam pertemanan dan relasi.
  5. Tidak menyukai bermain bersama anak lain.
  6. Tidak bereaksi terhadap isyarat.
  7. Menolak menatap mata versus bicaranya.
  8. Bersosialisasi (berteman).


Hambatan Penginderaan

Hambatan lain nan dapat membantu Anda buat memahami pengertian autis dapat dilihat dari gejala anak nan berhubungan dengan “ketidakberesan” pada indera nan mereka milliki.

  1. Sensitif terhadap stimuli panca indera, misalnya cahaya, suara, bau, dan rasa.
  2. Sulit memproses dan memberi reaksi pada indrawi.
  3. Mudah terganggu dengan situasi generik nan seharusnya normal, misalnya tangis bayi, mesin mobil, serangga, atau mesin printer.


Hambatan Motorik

Hambatan motorik juga dapat menjadi salah satu “tanda pengenal” nan dimiliki anak dengan gangguan autisme.

  1. Tidak dapat impulsif dan refleks.
  2. Tidak memiliki khayalan dalam bermain.
  3. Tidak dapat memerankan sesuatu atau terlibat dalam permainan nan bersifat pura-pura.


Hambatan Perilaku

Hambatan konduite sepertinya menjadi ciri-ciri Anak dengan gangguan autisme. Pengertian autis akan lebih mudah dipahami ketika para orang tua menemukan ciri-ciri ini pada anak mereka.

  1. Bisa sangat aktif atau sebaliknya.
  2. Sering marah dan kesal tanpa alasan nan jelas.
  3. Menaruh minat nan sangat tinggi dan obsesif terhadap suatu benda atau orang.
  4. Sulit mengubah rutinitas, dan menuntut “kesamaan” dalam Norma mereka.
  5. Melakukan sesuatu nan diulang-ulang tanpa alasan nan jelas.


Pengertian Autis – Terapi Autisme

Jika sudah memahami pengertian autis dengan baik. Upaya buat menyembuhkan anak pun niscaya menjadi besar. Lalu, bagaimana menangani anak penyandang autisme? Pertanyaan itu sulit dijawab, mengingat kompleksnya treatment dan terapi pendidikan nan diketengahkan oleh para peneliti dan praktisi autis. Tidak ada mekanisme standar, tetapi semua sepakat bahwa terapi harus dimulai sejak dini.

Dalam pengertian autis, dimulainya terapi menyesuaikan dengan gejala nan timbul, mengingat autisme memiliki banyak sekali variasi gejala awal. Jadi, terapi tersebut diarahkan pada kendala nan mula-mula dikenali.

Beberapa terapi nan dikenal buat penanganan autisme serta hal nan juga harus dipahami ketika orang tua memahami apa itu pengertian autis, ialah sebagai berikut.



a. Applied Behavioral Analysis (ABA)

ABA ialah terapi dengan cara memberikan hadiah atau pujian (positive reinforcement) secara terprogram kepada penyandang autisme. Terapi ini paling populer digunakan di Indonesia.



b. Terapi Wicara

Terapi wicara ialah terapi buat mengatasi kesulitan bicara dan berbahasa.



c. Terapi Okupasi

Terapi okupasi ialah terapi buat mengatasi kendala motorik halus. Dilakukan dengan mengajari cara memegang pensil atau sendok dengan halus, menyuapkan makanan, dan sebagainya.



d. Terapi Fisik

Terapi fisik ialah terapi buat mengatasi gangguan pervasive dan motorik kasar. Misalnya, dengan latihan keseimbangan.



e. Terapi Sosial

Terapi sosial ialah terapi buat membantu penyandang autisme berkomunikasi dua arah dan memberikan fasilitas buat berteman, sekaligus mengajari cara-caranya.



f. Terapi Bermain

Terapi bermain ialah terapi buat membantu anak bermain dan membangun sinergi. Biasanya, terapi berkaitan dengan teknik-teknik permainan.



g. Terapi Perilaku

Terapi konduite ialah terapi buat mengatasi frustasi, mengajak anak memahami perubahan lingkungan dan memperbaiki perilakunya.



h. Terapi Perkembangan

Merupakan terapi dengan mempelajari minat anak, mengetahui kekuatan dan taraf perkembangannya, kemudian ditingkatkan ke kemampuan sosial, emosional dan intelektualnya.



i. Terapi Visual

Terapi dengan mengembangkan kemampuan anak dalam berkomunikasi melalui gambar. Misalnya, dengan video games.



j. Terapi Biomedik

Terapi dengan berfokus pada gangguan metabolisme nan berdampak pada fungsi otak.

Tidak ada satu pun terapi nan menjamin keberhasilan mengatasi autisme. Oleh sebab itu, diperlukan kesabaran dari orang tua buat mempelajari terapi mana nan cocok buat anak-anaknya. Pengertian autis pun menjadi salah satu pengertian nan harus dipahami oleh para orang tua. Sehingga penanganan dan pengobatan pun dapat cepat dilakukan.

Oleh sebab itu, hal paling primer nan dapat dilakukan oleh ibu ialah perlakuan saat ibu sedang mengandung sang anak. Latihlah holistik indera anak saat masih di dalam kandungan agar anak terhindar dari masalah gangguan kesehatan mental seperti nan diterangkan dalam pengertian autis di atas.

Ibu hamil dapat mulai memberikan lagu-lagu klasik pada janin saat usia kandungan mulai menginjak enam bulan. Saat itulah anak mulai sensitif terhadap bunyi nan muncul, baik dari dalam maupun dari luar kandungan sehingga sel saraf motorik anak dapat dilatih sejak dini.

Selain itu, ibu hamil juga dapat mulai mengajak ngobrol sang anak ketika ibu merasa nyaman dengan posisi tertentu. Eluslah perut ibu dan rasakan bahwa dalam perut tersebut ada anak nan sedang tumbuh, berkembang, dan merasakan apa nan diberikan oleh sang ibu. Dengan begitu, kepekaan anak terhadap rangsangan dari luar dirinya dapat diasah sejak dini. Olahraga ringan pada saat hamil juga membantu sang ibu agar dapat lebih sehat sehingga anak dalam kandungan pun merasakan hal nan sama.