PSK Pelajar - Atas Nama Modernisasi

PSK Pelajar - Atas Nama Modernisasi

Pelajar . Kewajiban primer para pelajar ialah menuntut ilmu. Tak ada pekerjaan lain nan harus dilakukan pelajar selain menuntut ilmu. Namun dalam kenyataannya, ada saja pekerjaan-pekerjaan lain nan digeluti pelajar di luar kewajiban utamanya. Pekerjaan lain nan sama sekali di luar estimasi ialah banyaknya remaja putri nan berstatus pelajar nan menggeluti aktivitas sebagai tuna susila atau nan lebih dikenal dengan istilah PSK.

Banyak media nan sudah memberitakan tentang aktivitas tak wajar dari para pelajar ini. Bila warta nan tersiar itu benar, niscaya ada kesalahan fundamental sehingga remaja putri tersebut larut dalam pergaulan nan tidak wajar, menjadi PSK pelajar. Tentu timbul pertanyaan di benak kita, sebenarnya, ada apa dengan para remaja putri nan masih duduk di bangku SMP dan SMA itu sehingga mereka dapat tenggelam di global pelacuran?

Tentu tidak mudah buat dapat menjawabnya. Tapi satu hal nan pasti, saat ini telah terjadi pergeseran moral. Pelacuran nan dulunya dianggap perbuatan nista, namun sekarang dapat dikatakan sebagai life style yang sensasional. Lalu apalagi alasannya? Tulisan ini akan mengulas dan menganalisa faktor penyebab terjadinya kenyataan PSK pelajar itu.

PSK Pelajar - Latar Belakang Sosial Ekonomi

Dulu, global prostitusi lebih didominasi oleh perempuan-perempuan nan berlatar belakang ekonomi sulit, yaitu mereka nan butuh duit sebab hidupnya selalu terhimpit oleh tekanan hayati nan menjepit. Bila setiap hari mereka selalu dihantam dengan kelaparan dan di satu sisi mereka tidak memiliki pekerjaan, maka tidak mengherankan bila pada akhirnya perempuan seperti ini meramaikan blantika kehidupan global malam walau dengan penuh keterpaksaan. Tak mengherankan bila di tengah kondisi seperti ini, para perempuan nan malang ini tampil sebagai tulang punggung keluarga.

Namun tidak sepenuhnya berlatar belakang ekonomi. Sebab ada juga di antara mereka merupakan korban patah hati, yaitu mereka nan ditinggal pergi oleh sang kekasih di saat sedang dibutuhkan sebab badan sudah mendua. Perasaan luka nan mendalam bercampur marah dan dendam membuat mereka termotivasi buat melakukan pembalasan dan pembalasan nan paling mudah ialah dengan menjadi PSK.

Walau tidak semuanya demikian adanya, namun secara sosial ekonomi, kedua hal inilah nan kerap kali menjadi alasan mengapa mereka terjun ke global hiburan malam. Menilik latar belakangnya, tidak mengherankan bila usia para wanita malam itu bukanlah seusia anak SMA, namun sedikit lebih dewasa hampir seperti wanita setengah baya. Jadi pada saat itu, kenyataan PSK pelajar dapat dikatakan masih sangat sporadis terjadi. Tapi itu dulu. Bagaimana sekarang?

PSK Pelajar - Atas Nama Hak Asasi

Lain dulu, lain sekarang. Sepertinya saat ini telah terjadi pergeseran, motivasi seorang wanita menjadi seorang PSK tidak lagi sekadar faktor ekonomi atau sakit hati. Di zaman edan ini, memang banyak orang nan mudah kehilangan arah. Salah menjadi benar, sahih menjadi salah. Sebab semua kesalahan selalu ada pembenaran dan sebaliknya, setiap kebenaran selalu ada nan menyalahkan. Atas nama hak asasi, maka semua hal boleh dilakukan dan selalu ada pembenaran. Loh , apa hubungannya dengan hak asasi?

Contoh sederhananya begini, bila ada perempuan sendirian, berpakaian minim di tengah malam sehingga memancing tindakan kriminal dan perkosaan, tapi tak ada nan boleh berpikikiran bukan-bukan. Para aktifis feminis dengan mengatasnamakan hak asasi akan mengatakan: “ Tidak ada nan salah dengan si wanita, nan salah ialah mengapa Anda terangsang .”

Jadi atas nama hak asasi, segala sesuatu kadang menjadi absurd. Padahal alam semesta telah mengajarkan adanya proses aksi reaksi. PSK pelajar hanyalah hasil reaksi dari aksi proses pergaulan bebas. Termasuk dalam hal ini baju bebas etika nan sayangnya dilindungi oleh hak asasi manusia. Jadi, bila kita menginginkan PSK pelajar tidak ada lagi, maka silakan direvisi makna hak asasi sehingga aplikasinya tepat target bila ingin diterapkan di negeri ini.

PSK Pelajar - Atas Nama Modernisasi

Para PSK pelajar notabene masih berusia sangat muda, yaitu berkisar 14 hingga 17 tahun, tentu masih labil mental psikologisnya. Di usia semuda itu, mereka kerap menjadi korban pemahaman modernisasi nan salah kaprah. Di pikiran mereka, menjadi bagian kehidupan modern ialah dengan mengikuti apa pun nan ditawarkan oleh pasar apalagi bila memang sedang trendi saat ini.

Bila nan diikuti hanyalah sebatas life style , gadget, mode pakaian, rambut, pernak-pernik atau ungkapan khas pergaulan, maka hal tersebut tidaklah menjadi masalah besar. Namun, bagaimana bila gaya hayati hedonis ala Amerika diikuti pula? Padahal hedonis hanya mengejar kesenangan belaka tanpa memerhatikan anggaran dan perlindungan para pelakunya.

Bila hura-hura ini sudah dianggap bagian dari modernisasi, maka tidak mengherankan bila banyak terjadi kasus-kasus nan membelalakkan mata, seperti pesta seks anak SMP, anak SD pecandu narkoba, siswi SMK menjadi mucikari, film porno nan disutradarai oleh seorang mahasiswi, dan masih banyak lagi. Namun atas nama modernisasi, semua itu dianggap gaya hayati masa kini. Tak mengherankan bila di tengah situasi seperti ini, PSK pelajar tumbuh fertile bagai cendawan di musim hujan.

PSK Pelajar - Parade Kemewahan di Tengah Kemiskinan

Inilah faktor nan dirasakan paling bertanggung jawab terhadap lahirnya generasi PSK pelajar. Parade kemewahan nan dipertontonkan di tengah rakyat miskin nan melolong kelaparan, jelas bisa menstimulasi konduite anomali sebagian masyarakat di kemudian hari, tidak terkecuali remaja putri.

Bila setiap harinya mereka hanya dapat melihat, menyaksikan, melihat lagi, menyaksikan lagi segala bentuk kemewahan tanpa dapat menikmatinya. Sebab nasib tidak pernah berpihak, roda kehidupan sepertinya enggan berputar sehingga nan terjadi seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama.

yang kaya makin kaya
yang miskin makin miskin

Rasa ingin memiliki nan tidak terkejewantahkan itu lalu menyebabkan mereka memilih jalan pintas. Apapun mereka lakukan asalkan dapat merasakan kemewahan walau hanya sesaat dan tidak imbang dengan nan mereka korbankan, yaitu harga diri dan kesucian dengan menjadi PSK pelajar.

Sungguh sangat disayangkan, maka bertanggungjawablah hey para pengambil keputusan! Janganlah membuat negeri ini seolah milik diri sendiri. Berhentilah pamer kekuasaan dan hiduplah membaur dengan orang kebanyakan.

PSK Pelajar - Teknologi Komunikasi nan Semakin Canggih

Dua puluh tahun nan lalu, siapa nan menyangka teknologi komunikasi akan secanggih seperti saat ini. Kapan pun dan di mana pun kita dapat saling terhubung, arus informasi nan mengalir begitu derasnya seakan tidak terbendung menerjang benak kita. Namun, kemajuan teknologi memang bagaikan pedang bersisi dua. Di satu sisi menguntungkan dan di sisi lain merugikan.

Banyak para PSK pelajar tersebut nan memanfaatkan global maya buat menjalankan operasinya. Hal tersebut terungkap saat mereka ditangkap. Di hadapan peyidik, mereka berucap bahwa dengan menggunakan jaringan sosial seperti facebook, para PSK pelajar itu menjaring mangsa. Modusnya dengan menampilkan display foto-foto para PSK pelajar di akun facebok.

Lalu, bila ada nan tertarik, bisa langsung menghubungi via telepon mucikarinya nan nomornya tertera di akun facebook tersebut. Biasanya mereka berjumpa dan bertransaksi di hotel nan telah disepakati. Luar biasa. Oleh karenanya, mulai saat ini, wahai para orang tua hilangkanlah penyakit gaptek Anda.

PSK Pelajar - Minimnya Pemahaman Agama

Seharusnya agama dapat menjadi benteng bagi pemeluknya. Sebab agama mengatur bagaimana tata cara pergaulan nan sahih berikut rambu-rambunya. Sebab bukan tanpa alasan para remaja putri itu menjadi PSK pelajar. Selain sebab ingin hayati mewah, anak seusia mereka masih suka pola pertemanan berkelompok.

Bisa dibayangkan bila ada salah satu anggota kelompok tersebut nan memperkenalkan cara mendapat uang dengan menjadi PSK pelajar, maka kemungkinan besar teman-teman satu gengnya pun akan mengikuti jejaknya. Sebaliknya, bila salah seorang di antaranya lebih tertarik pada kegiatan agama, maka teman nan lain setidaknya akan mencoba buat menekuninya. Oleh karenanya, memberikan pemahaman agama ialah penting.

PSK Pelajar - Minimnya Tokoh Panutan

Saat ini, dapat dikatakan kita sedang mengalami krisis tokoh panutan. Para generasi muda termasuk remaja putri nan menjadi PSK pelajar tersebut tidak melihat adanya tokoh nan dapat memberi contoh tauladan nan baik pada mereka. Yang terjadi malah sebaliknya, para pemimpin saling mencela, mereka nan hari ini dihormati, besok ternyata sudah masuk bui.

Tokoh agama nan seharusnya saling mengayomi, kerap kali menjadi pemicu terjadinya kekerasan atas nama agama. Hal-hal seperti ini membuat mereka berkesimpulan semua orang sama saja, tidak ada nan paripurna sehingga mereka beranggapan bahwa apa nan mereka lakukan sebagai PSK pelajar ialah sesuatu nan wajar. Sama wajarnya dengan konduite koruptor nan kurang ajar.

Tak ada manusia nan sempurna. Betul. Namun tidak ada nan tidak mungkin. Mari kita perbaiki, mulai dari dalam diri sendiri. Hingga suatu saat nanti, PSK pelajar tidak ada lagi di bumi pertiwi ini.