Pencegahan dan Terapi Stroke

Pencegahan dan Terapi Stroke

Jika ditanyakan tiga besar penyakit mematikan di Indonesia, maka stroke termasuk di dalamnya. Penyakit stroke menyerang otak dan dapat berakibat penderita meninggal global atau mengalami stigma tetap (kelumpuhan). Stroke tercatat menduduki peringkat ketiga setelah jantung dan kanker. Fakta ini harus menyadarkan kita agar tak meremehkannya.

Memahami seluk beluk penyakit stroke menjadi suatu kemestian. Apalagi data-data statistik mengenai jumlah penderita stroke semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data nan dilansir oleh Yayasan Stroke Indonesia, disebutkan bahwa penderita stroke di negeri ini terbanyak jumlahnya di Asia. Menduduki urutan kedua buat jumlah penderita berusia di atas 60 tahun dan urutan kelima pada usia di bawah 60 tahun (15-59 tahun).

Mengacu pada hasil survei tahun 2004, ada sekitar 500.000 penduduk Indonesia nan terkena stroke, namun tak sampai berakibat pada kematian. Sepertiganya bisa pulih seperti sedia kala, sepertiga lainnya hanya mengalami gangguan fungsional ringan hingga sedang. Adapun sepertiga sisanya tergolong parah. Mereka nan masuk kelompok ini mengalami gangguan fungsional berat sehingga mengharuskan penderita tidak dapat beranjak dari kasur sebab kelumpuhan total anggota tubuhnya.

Beragam upaya pun dilakukan buat memberikan pemahaman akan pentingnya mewaspadai penyakit stroke. Untuk lingkup internasional, setiap tanggal 29 Oktober diperingati sebagai hari stroke dunia. Ini ialah upaya agar masyarakat awam mengetahui bahwa stroke bukanlah penyakit kelas kacangan.

Saat ini saja diperkirakan satu dari enam orang global merupakan penderita stroke dan setiap enam detiknya seseorang ditemukan meninggal sebab stroke. Penyakit otak ini pun didaulat jadi penyebab kelumpuhan permanen nomor satu di dunia.

Lebih mengejutkan lagi, Worlh Health Organisation (WHO) memperkirakan stroke akan jadi ancaman mematikan bagi kelangsungan hayati manusia. Ini sebab angka kematian dampak stroke setiap tahunnya akan meningkat pesat. Jika pada 2010 tercatat sebanyak enam juta penderita stroke, maka pada 2030 diperkirakan mencapai angka delapan juta. Prediksi nan sangat memiriskan bukan?

Pemahaman akan penyakit menakutkan ini menjadi teramat penting. Mencegah seseorang dari terkena akibat stroke nan teramat fatal, yakni kematian atau stigma seumur hidup. Namun, walaupun stroke jadi pembunuh nomor tiga di Indonesia dan penyebab stigma (lumpuh) tetap nomor wahid di dunia, penyakit ini sesungguhnya dapat dihindari dengan mudah. Sebanyak 85 persen stroke bisa dicegah sepanjang penyakit tersebut disadari faktor risikonya sejak dini.



Mengenali Stroke

Otaksebagai organ vital manusia memiliki kurang lebih satu triliun sel nan terdiri atas00 miliar sel aktif dan 900 miliar sel pendukung. Walau berat otak hanya berkisar dua persen dari berat tubuh manusia, tetapi otak mengonsumsi sekitar 20 persen dari suplai oksigen tubuh dan 20 persen kalori. Nah, bagaimana jika suplai oksigen tersebut berkurang dalam tingkat mengkhawatirkan nan menjadi penyebab awal dari terjadinya stroke?

Tentu saja akibatnya dapat fatal. Tanpa asupan oksigen nan dibawa melalui genre darah, 32.000 sel otak dalam hitungan detik akan mengalami kematian. Kematian jaringan otak (infark serebral) ini akan mengakibatkan kelumpuhan pada organ-organ tubuh nan sebagian besar bersifat menetap. Lebih jauh lagi, stroke bisa menjadi karena kematian ketika jaringan otak nan mengalami defisit oksigen menjadi sangat luas.
Berkurangnya genre darah dan pasokan oksigen di otak sebabnya bermacam-macam. Dapat sebab penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak (stroke perdarahan). Kedua jenis stroke ini berakibat sama yaitu menyebabkan genre suplai darah nan mengandung oksigen ke otak menjadi terhenti dan mengakibatkan gejala kematian pada jaringan otak.

Selain gejala kelumpuhan pada anggota tubuh nan amat kentara, stroke punya gejala lain. Yaitu mulai dari lupa mendadak atau kebingungan, pusing berat tanpa karena jelas, bicara mendadak pelo atau cadel (penderita sulit bicara), gelap hanya pada satu mata, gangguan menelan, mendadak kesemutan (mati rasa) seluruh badan, dan gangguan ekuilibrium mendadak (kesulitan berjalan). Ini semua merupakan gejala dari terganggunya fungsi kognitif seseorang dalam tingkat nan terbilang masih ringan higga menengah. Begitu pula dengan gangguan emosional dan fisik nan berpeluang terjadi.

Dari gejala dan karakteristiknya itu, stroke pun dikenal sebagai jenis penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak). Ada pun penyebab bermasalahnya kerja pembuluh darah, salah satunya akibat dari penyakit tekanan darah tinggi, gula darah tinggi atau kadar kolesterol dursila (kategori LDL) nan tinggi. Jenis-jenis penyakit degeneratif dan kini banyak diidap oleh manusia sebab pola makan dan gaya hayati nan salah.



Pencegahan dan Terapi Stroke

Sebelum kita mengupas bagaimana pengobatan atau terapi efektif bagi stroke, harus dipahami terlebih dahulu pencegahan dari penyakit tersebut. Karena munculnya stroke tidak bisa dilepaskan dari adanya berbagai penyakit degeneratif nan sebelumnya telah dialami oleh penderita. Ini membuat pencegahannya pun tak terlepas dari bagaimana mencegah hal-hal nan mengakibatkan penyakit degeneratif tersebut.

Berarti, individu nan mengalami penyakit seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi atau kolesterol tinggi sudah harus waspada. Mulai segera menerapkan gaya hayati sehat yaitu pola makan, istirahat, dan olahraga seimbang. Karena ketika tekanan darah, gulah darah, dan kadar kolesterol berada di atas ambang normal, ini merupakan tanda dari munculnya stroke di kemudian hari. Bila dibiarkan atau individu tersebut tak menyadarinya, sama saja dengan mengundang stroke buat segera datang.

Stroke pun identik dengan mereka nan mengalami obesitas (kegemukan). Dampak dari pola makan kaya lemak dan berkolesterol, membuat seseorang rentan mengalami obesitas (kegemukan). Nah, penderita obesitas niscaya bermasalah dengan tekanan darah, gula darah atau taraf kolesterolnya.

Namun, tak semua penderita stroke dikarenakan pola hayati nan salah. Ada juga disebabkan genetik, imbas dari penyakit eksklusif dan usia tua. Penyebab stroke atau disebut dengan faktor risiko ini terbagi atas dua, yaitu nan dapat diantipasi (stroke sebab pola hidup) dan nan tak bisa. Berikut ini rinciannya.

Faktor risiko terjadinya stroke nan dapat diantisipasi ialah sebagai berikut.

  1. Kebiasaan merokok.
  2. Meminum alkohol.
  3. Penyakit diabetes.
  4. Penyakit hiperkolesterol.
  5. Penyakit hipertens.
  6. Obesitas atau kegemukan.

Faktor risiko terjadinya stroke nan tak dapat diantisipasi ialah sebagai berikut.

  1. Penyakit jantung koroner.
  2. Stenosis arteri karotis (penyempitan pembuluh darah).
  3. Penyakit kurang darah sel sabit (termasuk penyakit keturunan).
  4. Usia lanjut.
  5. Kebiasan menggunakan obat-obatan anti pembekuan darah.
  6. Ada riwayat penyakit tekanan darah tinggi kronis (jangka waktu lama).
  7. Ada riwayat gangguan pembuluh darah.
  8. Ada riwayat fibrilasi atrium (jenis penyakit jantung).
  9. Ada riwayat gangguan pembekuan darah.
  10. Ada riwayat terkena stroke sebelumnya.

Ada pun buat mengobati stroke umumnya berupa terapi farmakologi (obat-obatan) bagi stroke skala ringan atau sedang. Untuk stroke skala berat, memadukan antara terapi farmakologi dengan terapi fisik pascastroke (fisioterapi). Dan nan paling krusial ketika seseorang terkena stroke-baik itu stroke skala ringan, sedang atau berat-harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Semakin cepat mendapat perawatan medis, semakin kecil pula akibat dari stroke nan akan dialami oleh penderita.

Lalu, bagaimana prognosis (harapan) dari seseorang nan terkena stroke? Jawabannya relatif, bergantung pada jenis stroke (sumbatan atau perdarahan), lokasi stroke, besar atau kecilnya lesi (jaringan abnormal pada tubuh atau wilayah nan terkena stroke), dan faktor risiko.

Contoh, prognosis akan jelek jika stroke mengenai batang otak nan termasuk bagian sangat krusial dari otak, lesi nan cukup luas, dan ada faktor risiko parah seperti fibrilasi atrium di jantung. Sebaliknya, jika stroke tak mengenai bagian otak nan sangat krusial dan luas lesinya kecil, begitu juga faktor risiko tertangani dengan baik, maka stroke dapat sembuh sempurna.



Stroke di Usia Muda

Banyak orang mengira bahwa stroke hanya menyerang individu nan telah berusia lanjut. Ini sebab stroke biasa terjadi pada seseorang dengan riwayat penyakit degeneratif, seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi atau kolesterol tinggi. Penyakit khas dan lazim dialami oleh orang lanjut usia. Tapi, pemahaman seperti ini harus segera diubah. Mengapa? Karena stroke pun dapat menyerang mereka nan masih muda atau dalam usia produktif.

Apalagi ditemukan kesamaan gaya hayati nan tak sehat seperti Norma mengonsumsi makanan siap saji ( fast food ) dan tingginya taraf stres nan biasa dialami para pekerja di perkotaan. Penderita stroke usia muda pun meningkat jumlahnya di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini. Menjadi ancaman menurunnya taraf produktivitas. Perekonomian keluarga juga akan terganggu sebab biaya pengobatan dan perawatan penderita stroke nan tergolong mahal.