Puisi WS Rendra - Puisi Terakhir Rendra

Puisi WS Rendra - Puisi Terakhir Rendra

Tahukah Anda puisi WS Rendra ? Puisi-puisi WS Rendra memang sudah banyak dikenal masyarakat luas, terutama bagi mereka nan bergelut dalam global sastra. Sebelum membahas puisi WS Rendra, ada baiknya kita ketahui dulu profil dari WS Rendra.

Di Solo, 7 November 1935, lahir seorang putra dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Nama Willibrordus Surendra Broto Rendra saat itu diberikan. Ayahnya seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, sedangkan ibunya ialah seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.

Hidup bersama dengan kedua orangtuanya nan berkecimpung di global seni, darah seni sudah mengalir sejak kecil. Bakatnya dalam bidang sastra sudah mulai terlihat sejak Rendra mulai duduk di bangku SMP. Menulis puisi, cerpen dan drama merupakan hobinya.

Karya-karyanya, termasuk puisi WS Rendra, ditampilkan dalam berbagai kegiatan kesenian sekolahnya. Drama pertama nan berjudul Kaki Palsu kali pertama dipentaskan dan drama pertama nan mendapatkan penghargaan ialah Orang-Orang di Tikungan Jalan .



Puisi WS Rendra

Sekarang saatnya membahas puisi WS Rendra. Nama seorang WS Rendra begitu berpengaruh dalam global sastra Indonesia dan disejajarkan dengan penyair besar seperti Chairil Anwar. Puisi WS Rendra selalu menarik buat didengar sebab puisi WS Rendra mengandung sarat makna. Tema pemberontakan, kritikan dan percintaan merupakan beberapa makna nan terungkap pada sebagaian puisi WS Rendra.

Puisi WS Rendra pertama kali mulai dipublikasikan kepada masyarakat luas melalui media massa pada 1952 melalui majalah Siasat . Publikasi puisi WS Rendra ini menjadi tonggak karya-karya puisi WS Rendra dan menghiasi berbagai media massa terutama pada masa 60-an dan 70-an.

Puisi WS Rendra juga populer di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa sastra. Rambut ikal dan panjangnya menjadi salah satu karakteristik khas penyair kawakan ini dan tetap dikenal seperti itu hingga masa akhir hidupnya. Berikut merupakan beberapa karya puisi WS Rendra nan populer.



Sajak Rendezvous Mahasiswa

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kaki coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan dia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik dapat berlaga.
Orang berkata “Kami ada maksud baik”
Dan kita bertanya: “Maksud baik buat siapa?”

Ya! ada nan jaya, ada nan terhina
Ada nan bersenjata, ada nan terluka
Ada nan duduk, ada nan diduduki
Ada nan berlimpah, ada nan terkuras.
Dan kita di loka ini bertanya:
“Maksud baij saudara buat siapa?”
Saudara berdiri di pihak nan mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani nan kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan nan luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan nan diimpor
tidak cocok buat petani nan sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara buat siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara nan panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik buat memihak nan mana?
Ilmu-ilmu nan diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tak akan mereda.
Akan hayati di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samudra.
Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada nan menangis, ada nan mendera.
Ada nan habis, ada nan mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak nan mana!

Puisi WS Rendra berikut merupakan pertanyaan Rendra pada Tuhan dan juga renungannya atas kehidupan nan semuanya ialah titipan Tuhan pada manusia di global ini.

Puisi Renungan

Sering kali saya berkata, Ketika orang memuji Milikku,
Bahwa ini hanya titipan.
Bahwa Mobilku ialah titipan-NYA
bahwa rumahku ialah titipan-NYA
bahwa hartaku ialah titipan-NYA
bahwa putra/putriku hanyalah titipan-NYA

Tapi mengapa saya tak pernah bertanya...
Mengapa Dia Menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku
dan kalau bukan milikku, apa nan harus saya lakukan buat milik-NYA ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu musibah
Kusebut itu ujian, Kusebut itu petaka..
Kusebut itu apa saja
Untuk melukiskan bahwa itu adalah... D.E.R.I.T.A.
Ketika saya berdoa, kuminta titipan nan cocok dengan hawa nafsuku, Kedaginganku!!!
Aku ingin lebih banyak Harta,
Aku ingin lebih banyak Mobil,
Aku ingin lebih banyak Rumah,
Aku ingin lebih banyak Popularitas.
Dan kutolak sakit, Kutolak kemiskinan
Seolah semua "derita" ialah sanksi bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya,
Harus berjalan seperti matematika
"Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku...
Dan nikmat global seharusnya kerap menghampiriku"...
Betapa culasnya aku, Kuperlakukan DIA seolah Kawan Dagangku
Dan bukan kekasih...
Kuminta DIA membalas "perlakuan baikku"
Dan menolak keputusann-NYA nan tak sinkron keinginanku.

Duh, Gusti,
Padahal tiap hari kuuapkan...
"Hidup dan Matiku, Hanyalah buat beribadah kepadaMu ya Tuhan...:
Padahal ketika kelak LANGIT dan BUMI bersatu,
bencana dan berkeberuntungan
Sama saja, TIDAK ADA artinya lagi...



Puisi WS Rendra - Puisi Terakhir Rendra

Puisi-puisi WS Rendra sangat menghipnotis banyak orang. Senior-seniornya mengakui karya Rendra atau puisi WS Rendra sebagai karya emas nan tak dapat disamakan dengan karya penyair manapun. Lihat saja salah satu puisi WS Rendra di atas nan merupakan renungannya pada Tuhan. Puisi WS Rendra tersebut dituliskan dengan begitu memikat dan menggetarkan jiwa ketika kita membaca puisi WS Rendra.

Rendra dikenal juga dengan penyair nan mampu membacakan puisi-puisinya dengan sangat memukau. Kepiawaiannya dalam membaca sebuah puisi bisa membuat bulu kuduk merinding dan tidak membuat orang bosan buat mendengarkan puisi WS Rendra buat ke sekian kalinya.

Rendra pernah menyatakan bahwa puisi ialah napasnya. Bahkan ketika terbaring lemah sambil melawan penyakitnya, tak membuat Rendra berhenti menulis puisi. Semangat menciptakan puisi tampak membuatnya tidak patah semangat. Walau ketika Tuhan berkata lain dan Rendra akhirnya meninggal global setelah berjuang melawannya. Puisi WS Rendra tetap menjadi napasnya. Dan bukan napas terakhir.

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tak memuaskan
untuk punya posisi nan ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, saya cinta padamu

Rendra
31 Juli 2009
Mitra Keluarga

Inilah puisi WS Rendra nan terakhir, dibuat pada 31 Juli di RS Kawan Keluarga Jakarta. Puisi nan menjadi bagian dari rasa sakit nan tak ingin dirasakannya. Terlihat dari bait awal: Aku lemas/Tapi berdaya/Aku tak sambat rasa sakit atau gatal . Itulah nan dirasakan Rendra di saat-saat terakhir masa hidupnya. Tak ingin terkalahkan oleh penyakit nan dideritanya. Bahkan semakin mendekatkannya Tuhan melalui puisinya.