Bongkar Periodisasi Sastra Indonesia: Dari Zaman Kuno Sampai Generasi Kekinian
Daftar Isi
Mengenal Angkatan‑angkatan Keren yang Bikin Sastra Indonesia Hidup
Kalau ngomongin periodisasi sastra, nggak lepas dari Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, sampai Angkatan 45 yang super legendaris. Masing‑masing angkatan punya vibe, gaya nulis, dan tujuan yang beda‑beda, bikin dunia sastra jadi kaya playlist musik—ada yang mellow, ada yang hardcore.
Angkatan Balai Pustaka
Ini biasanya disebut “penerbit klasik” yang dulu ngasih ruang buat novel, cerpen, dan puisi. Mereka fokus ngelindungi bahasa Indonesia dari “bahasa Melayu rendah” yang dianggap kurang “kekinian”. Penulis‑penulis topnya antara lain:
- Abdoel Muis – Surapati, Salah Asuhan
- Aman Datuk Mandjoido – Si Doel Anak Jakarta
- Hamka – Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
- Marah Roesli – Siti Noerbaya
- Noer Sutan Iskandar – Salah Pilih, Katak Hendak Menjadi Lembu
- Soetan Takdir Alisjahbana – Anak Perawan Disarang Penyamun, Dian Tak Kunjung Padam
- Toelis Sutan Sati – Sengsara Membawa Nikmat
Angkatan Pujangga Baru
Kelompok ini muncul sebagai protes ke Balai Pustaka yang “censored” banget. Mereka bawa napas modern, tema perjuangan, dan semangat kebebasan berkreasi. Tokoh‑tokohnya:
- Armijn Pane
- Moh. Yamin
- Sanusi Pane
- Tengku Amir Hamzah
- Roestam Effendi
- Selasih
Angkatan 45 (Generasi Realis)
Berbeda dari yang romantis‑idealistik, generasi ini lebih realistis, nyeritain realita sosial pas era pasca‑kemerdekaan. Karya‑karyanya masih sering dibaca di kampus:
- Chairil Anwar – puisi Aku, Kerikil Tajam
- Asrul Sani – Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat
- Achdiat K Miharza – Atheis
- Pramoedya Ananta Toer
- Moechtar Lubis
- Utuy Tatang Sontani
Siapa Sih Ahli yang Bagi‑Bagi Era?
Berbagai pakar sastra punya cara sendiri buat ngebagi periodisasi sastra. Ada yang pakai tiga periode besar, ada yang cuma dua, bahkan ada yang nambah sub‑periode. Yuk, intip dulu beberapa pendapat paling hits:
Bongkar Tiga Era Besar Menurut Pakar Populer
HB Jassin – Bagi karya jadi “Sastra Melayu Lama” + “Kesusastraan Indonesia Modern”. Modernnya lagi dipecah jadi empat angkatan: Angkatan 20, Angkatan 33 (Pujangga Baru), Angkatan 45, dan Angkatan 66.
JS Badudu – Tiga periode: Sastra Lama (prasejarah + Hindu‑Arab), Sastra Peralihan (Balai Pustaka), dan Sastra Baru (Pujangga Baru, 45, dan muda).
Ajib Rosidi – Dua fase utama: Masa Kelahiran (terbagi tiga sub‑periode) dan Masa Perkembangan (juga tiga sub‑periode).
Zuber Usman – Tiga era: lama, peralihan, baru. Era baru dibagi lagi jadi empat angkatan: Balai Pustaka, Pujangga Baru, Jepang, dan 45.
Usman Effendi – Ringkas: Sastra Lama, Sastra Baru, Sastra Modern.
Zaidan Hendy – Selaras dengan Badudu: tiga periode (lama, peralihan, baru) dengan rincian angkatan yang mirip.
Nugroho Notosusanto – Dua periode: Melayu Lama + Indonesia Modern. Modernnya dibagi masa kebangkitan (1920‑1942) dan masa perkembangan (1945‑1950).
Sabarudin Ahmad – Dua periode: Periode Lama (Dinamisme, Hiduisme, Islamisme) dan Periode Baru (Balai Pustaka, Pujangga Baru, 45).
Kenapa Periodisasi Sastra Penting Buat Kita?
Gak cuma buat akademisi doang, periodisasi sastra bantu kita ngerti konteks sosial, politik, dan budaya di balik tiap karya. Jadi, pas lo baca novel atau puisi lama, lo udah “ngebaca” era yang melatarbelakangi tulisan itu. Ini kayak ngeliat timeline musik—kamu tau kenapa rock dulu booming, kenapa hip‑hop muncul, dan kenapa EDM nge‑hit sekarang.