Kegunaan dan Kekuatan Mitos

Kegunaan dan Kekuatan Mitos

Kata mitos berasal dari kata myth . Definisi myth menurut Longman Dictionary of Contemporary English ialah an idea or story that many people believe, but which is not true (gagasan atau cerita nan dipercayai banyak orang tapi tak benar). Misalnya, the myth of male superiority (mitos superioritas laki-laki).

Definisi lain dari kata myth atau mitos ialah an ancient story, especially one invented in order to explain natural or historical events (kisah kuno, terutama nan diciptakan buat menjelaskan peristiwa-peristiwa alam atau peristiwa bersejarah).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mendefinisikan mitos sebagai cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut, mengandung arti mendalam nan diungkapkan dengan cara gaib.

Memitoskan artinya mengeramatkan, mengagungkan secara berlebih-lebihan tentang pahlawan, benda, dan sebagainya; menjadikan mitos; mendewakan. Mitos sering disinonimkan dengan "kebohongan". Biasanya, orang akan menyebut segala sesuatu nan tak benar, tak berdasarkan fakta, dan tak masuk akal sebagai mitos.

Jika seorang politisi atau selebriti hendak menepis warta imbasan jempol tentang diri mereka, mereka biasanya akan mengatakan bahwa warta itu "hanyalah sebuah mitos". Jika ada evaluasi nan salah tentang manusia dan peristiwa masa lampau atau masa kini, seorang cendekiawan juga akan menyebutnya sebagai mitos.



Mitos di Indonesia

Sepanjang sejarah Indonesia, kita mengenal banyak mitos. Salah satunya mitos Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Ia digambarkan sukses menyatukan seluruh Nusantara setelah mengucapkan Sumpah Palapa. Barangkali sejarah tentang Gajah Mada tersebut benar. Akan tetapi, Gajah Mada telah dikembangkan menjadi tokoh mitos oleh Muhammad Yamin. Ia bahkan menggambar paras Gajah Mada seperti raut wajahnya sendiri.

Mitos biasanya sering dikaitkan dengan gambaran seorang tokoh, terutama tokoh nan dikultuskan. Misalnya, salah satu mitos nan paling menonjol di Indonesia ialah mitos Ratu Adil, tokoh nan dianggap akan membebaskan bangsa Indonesia dan menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Kemunculan mitos Ratu Adil ini bersumber pada mitos Imam Mahdi nan dianggap masih hidup. Ketika mempelajari sejarah perkembangan Islam di Nusantara, kita menjumpai kisah tentang Wali Sanga. Namun, Wali Sanga sebenarnya sejarah sekaligus mitos.

Sebagai sejarah, siapa nan dimaksud sebagai Wali Sanga tampak jelas, walaupun ada disparitas pendapat siapa tiap-tiap anggota Wali Sanga tersebut jika kita merujuk pada tokoh sejarah nan konkret. Misalnya, siapa sebenarnya Sunan Gunung Jati? Apakah sahih bahwa Sunan Gunung Jati ialah Falatehan? Akan tetapi, banyak juga cerita berbalut mitos seputar Wali Sanga. Sunan Kalijaga, misalnya, diceritakan selama tiga tahun bersemedi di tepi sungai menjaga tongkat Sunan Bonang agar dapat diangkat sebagai murid.

Pada awal abad ke-20, ketika konvoi nasional melawan kolonialisme Belanda mulai bangkit, gejala mitos mulai muncul. Sebagian rakyat Indonesia pada saat itu menganggap atau menyangka tokoh Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai tokoh Ratu Adil.

Oleh Haji Agus Salim, pemimpin Sarekat Islam ini diperingatkan agar tak terjebak dalam gejala pemitosan tersebut. Meskipun sempat terbujuk oleh sikap rakyat nan mengultuskannya itu, sebagai orang nan rasional, Tjokroaminoto tentu menyadari bahaya pemitosan itu.

Sebenarnya, Haji Agus Salim sendiri juga tak lepas dari permitosan. Hal itu antara lain dikarenakan dominasi beliau terhadap banyak bahasa asing (poliglot). Dr. Nurcholish Madjid bahkan menganggap Haji Agus Salim sebagai wali kesepuluh, jika itu ada.

Proses pemitosan juga dialami tokoh-tokoh Indonesia nan lain. Tokoh-tokoh tersebut biasanya ialah figur-figur kharismatik nan memiliki talenta istimewa. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka ialah sederetan tokoh nan sering dimitoskan.

Soekarno dianggap sebagai tokoh pemersatu bangsa dan penyambung lidah rakyat. Hatta digambarkan sebagai tokoh nan sangat disiplin, selalu tepat waktu, teliti, dan tindakan-tindakannya selalu benar, seolah ia seorang manusia sempurna. Sjahrir diagung-agungkan sebagai bapak cendekiawan Indonesia. Partainya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), ialah partai legendaris sebab walaupun kecil, dimitoskan mampu memengaruhi kesamaan politik dan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Tan Malaka ialah tokoh revolusioner nan mengembara di berbagai negara selama bertahun-tahun, diburu pemerintah kolonial Belanda dan Inggris, dan berjumpa dengan Lenin dan Stalin. Menjelang proklamasi kemerdekaan, Tan Malaka masuk ke Indonesia dan menggerakkan revolusi dari bawah. Mitos tentang tokoh-tokoh tersebut hanya bisa dibongkar dengan penelitian sejarah. Akan tetapi, sejarah nan telah ditulis tentang tokoh-tokoh Indonesia tersebut seringkali justru menambah mitos pada diri mereka. Sebabnya, sisi-sisi gelap tokoh-tokoh tersebut belum dapat diungkapkan sepenuhnya.



Kegunaan dan Kekuatan Mitos

Umar Yunus, seorang ahli sastra, sering membahas unsur mitos dalam cerita-cerita rakyat Indonesia, seperti Sabai Nan Aluih, Lutung Kasarung, Sangkuriang, Malin Kundang, Putri Bungsu, dan Bawang Putih-Bawang Merah. Umar Yunus juga mengamati penggunaan unsur-unsur mitos dalam karya sastra Indonesia modern, seperti Salah Asuhan dan Pertemuan Jodoh (Abdul Muis), Belenggu (Armijn Pane), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana), dan Atheis (Achdiyat Kartamiharja).

Hasil penelitian Umar Yunus menunjukkan bahwa karya sastra Indonesia modern, seperti sastra tradisi, terutama hikayat, sebagian besar dibangun dari mitos. Namun, ada disparitas dalam fungsi mitos pada sastra tradisi dan sastra modern. Dalam sastra tradisi, fungsi primer mitos nan terdapat dalam suatu kisah atau hikayat ialah pengukuhan (myth of concern).

Adapun dalam sastra modern, mitos berfungsi menolak, merombak, dan membebaskan sesuatu (myth of freedom), atau menolak suatu mitos. Menurut Umar Yunus, pada dasarnya kehidupan manusia dikuasai oleh mitos-mitos. Dengan sendirinya, interaksi antarmanusia dikuasai oleh mitos nan mereka ciptakan sendiri.

Sebagai manusia nan dikuasai oleh mitos, sikap kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos nan ada dalam diri kita. Mitos membuat kita menyukai atau membenci apa nan terkandung dalam mitos-mitos tersebut. Manusia selalu memiliki berpretensi tentang segala sesuatu nan berkaitan dengan mitos. Mitos juga menentukan ketakutan atau keberanian kita terhadap sesuatu.

Cerita-cerita rakyat selalu mengandung pesan. Misalnya, kisah Sangkuriang mengandung pesan agar seorang laki-laki tak boleh menikahi ibunya sendiri. Bagi sebagian orang dalam masyarakat nan kebudayaannya belum berkembang, pesan ini akan dengan mudah dilanggar. Sebabnya, ada kesamaan alamiah manusia maupun nafsu kebinatangan pada seseorang buat mencintai, secara seksual, ibunya sendiri.

Tentu saja, bisa dibuat suatu peraturan di masyarakat buat tak melakukan interaksi seksual nan termasuk inses tersebut. Akan tetapi, peraturan tersebut akan mudah dilanggar. Oleh sebab itu, diciptakan kisah mitos tentang dampak jelek jika seseorang mengawini ibunya sendiri. Pesan mitos itu juga terdapat dalam mitologi Yunani Oedipus.

Dalam mitos-mitos tadi, Sangkuriang maupun Oedipus tak tahu bahwa mereka mengawini ibu mereka sendiri. Sangkuriang maupun Oedipus sebenarnya tak bermaksud melanggar anggaran atau melakukan dosa. Secara hukum mereka tak bersalah. Akan tetapi, dalam mitos Sangkuriang maupun Oedipus, sanksi berupa kutukan tetap jatuh kepada mereka sebab melanggar pesan mitos tersebut.

Dengan demikian, orang nan mendengar mitologi itu akan merasa sangat takut buat melanggar pesan mitos tersebut. Mitos barangkali salah satu kebutuhan manusia. Oleh sebab itu, mitos sering dieksploitasi sebagai media komunikasi, seperti nan dikatakan oleh Roland Barthes dalam bukunya, Mythologies (1956).

Barthes mengatakan bahwa sebagai bentuk simbol dalam komunikasi, mitos tak hanya diciptakan dalam bentuk wacana tertulis, tetapi juga sebagai produk sinema, fotografi, iklan, olahraga, dan televisi. Kita dapat menyaksikan gejala tersebut dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam iklan televisi.

Sebagai pemirsa televisi, kita tentu tahu bahwa kita sedang dibohongi oleh berbagai iklan berbagai produk, seperti obat-obatan, vitamin, makanan, pakaian, kendaraan, bank, peralatan elektronik, kosmetika, dan barang-barang konsumsi nan lain. Misalnya, iklan rokok digambarkan dengan adegan pria gagah petualang nan gagah berani dan kreatif sehingga memberi kesan bahwa rokok dapat memberikan kekuatan fisik, keberanian, dan daya kreativitas. Upaya nan dilakukan oleh iklan tersebut ialah me-mitos-kan kekuatan nan dimiliki oleh produk-produk mereka.

Meskipun merasakan jeda antara citra iklan dan fenomena dan terkesan mitos, kita dapat menerima iklan tersebut. Sebabnya, nan kita ambil hanya intisari pesan iklan tersebut, yaitu memperkenalkan suatu produk agar diperhatikan dan dipertimbangkan buat dipilih dan dibeli. Ilustrasi iklan nan mengandung kebohongan kita anggap sekadar sebagai unsur hiburan.