Filosofis di Balik Candi Borobudur

Filosofis di Balik Candi Borobudur

Sulit rasanya melupakan candi nan berbentuk pundek berundak dan terdiri dari 10 lantai ini. Reliefnya nan diukir indah, arca-arca nan menakjubkan, sempat membawa candi besar ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Ya, candi menakjubkan itu ialah Candi Borobudur.Candi ini terletak di daerah Magelang, 40 Km dari barat bahari Yogyakarta dan berjarak 100 Km dari barat daya Semarang.

Namun Borobudur lebih dikenal sebagai salah satu objek wisata nan berada di Yogyakarta. Padahal dari Yogyakarta, kita membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam buat dapat sampai ke candi besar itu.



Asal-Usul Borobudur

Borobudur didirikan pada jaman kerajaan Mataram dari wangsa Syailendra nan bernama Samaratungga nan didirikan sekitar tahun 824 Masehi. Asal usul nama Borobudur sendiri masih belum bisa dipastikan.

Banyak sekali sumber nan menceritakan asal usul nama Borobudur. Salah satunya menyebutkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata ‘Bara’ dan ‘Beduhur’ . Bara artinya Vihara sedangkan beduhur artinya tinggi.

Untuk menikmati candi Borobudur seutuhnya, memang tak cukup hanya melihat di kejauhan. Tidak afdol rasanya bila tak berfoto di stupa nan terletak di puncak paling atas. Maka tidak sporadis kita jumpai, wisatawan asing maupun lokal nan berbondong-bondong menaiki candi pundek berundak ini.



10 Strata Kesempurnaan

Sebenarnya 10 taraf Borobudur menggambarkan 10 strata nan harus ditempuh seseorang buat mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Tingkat pertama ialah Kamadhatu , yaitu strata nan paling rendah berupa nafsu rendah manusia. Lalu Rupadhatu yang kita jumpai setelah naik empat taraf dari kaki Borobudur. Rupadhatu melambangkan manusia sudah tak terlalu terikat nafsu tapi masih terikat oleh bentuk dan rupa.

Di lantai kelima hingga lantai tujuh kita tak menemukan relief apapun di dinding candi. Arupadhatu ialah nama buat strata itu. Artinya tak ada bentuk atau tak berwujud apapun. Arupadhuta berarti melambangkan alam atas manusia, manusia sudah tak mempunyai keinginan dan tak mengalami keterikatan oleh rupa dan wujud tetapi belum sampai ke nirwana.

Di lantai atas, kita akan melihat banyak sekali patung budha nan diletakkan di dalam stupa nan berlubang. Sekilas terlihat seperti sebuah kurungan. Nah, di bagian puncak Borobudur ini ada stupa nan besar sekali nan dinamakan Arupa. Arupa ialah lambang dari nirwana loka dimana sang Buddha bersemayam.

Bila Anda berminat buat jalan-jalan ke Borobudur, jangan lupa buat berkunjung juga ke desa Karanganyar dan Wanurejo. Di desa-desa itu Anda dapat menikmati kelihaian para pengrajin. Tidak perlu risi bila Anda ingin menginap di sekitar candi Borobudur sebab sudah ada hotel nan berdiri di sekitar candi itu.

Sebelum Anda ke Borobudur, sebaiknya mempersiapkan fisik dan bekal nan cukup. Karena naik ke stupa paling atas membutuhkan tenaga nan tak sedikit. Cukup melelahkan memang, namun lelah Anda akan terobati begitu Anda melihat estetika pegunungan nan mengelilingi Borobudur. Jangan lupa buat membawa payung, atau nan lebih praktis lagi memakai topi lebar agar tak kepanasan. Selamat berlibur!



Filosofis di Balik Candi Borobudur

Candi Borobudur ialah salah satu candi umat Budha terbesar di dunia. Memiliki 504 stupa Budha dengan 1460 relief. Berbentuk punden nan memiliki undakan sebanyak 10 tingkat. Begitu megah dan selalu membuat orang penasaran buat menikmati kemegahannya.

Ratusan tahun terkubur dalam tanah, kemudian dipugar agar kemegahan Candi Borobudur ini dapat dinikmati banyak orang selain sebagai loka ibadah umat Budha.

Candi nan terletak di Magelang ini dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja dari Kerajaan Mataram Kuno. Ia berasal dari keturunan Wangsa Syailendra. Dibangun sebagai loka ibadah nan baru diselesaikan pada 26 Mei 824.

Bangunan Candi ini memiliki kemegahan dan filosofi di baliknya. Filosofis di balik Candi tersebut terdapat pada relief serta bagian-bagian bangunannya, mulai dari relief, Kamandhatu, Rupadhatu, Arupadhatu, dan Arupa.

  1. Relief

Relief nan terdapat pada Candi Borobudur secara holistik mencerminkan ajaran Sang Budha. Itulah nan menyebabkan sebagian orang menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu fasilitas buat mempelajari ajaran Budha.

Jika berjalan searah jarum jam mengelilingi tiap taraf Candi Borobudur, Anda bisa membaca kisah Ramayana nan melegenda. Pembacaan kisah ini yaitu dengan mengamati relief-relief latif dan apik di dinding. Dimulai dari arah kiri pintu masuk Candi, lalu memutar ke sekelilingnya searah jarum jam.

Selain kisah Ramayana, relief menggambarkan keadaan masyarakat pada masa itu. Salah satunya yaitu kehidupan para petani nan saat itu mulai maju. Selain kehidupan petani, kehidupan pelayaran pun digambarkan dalam relief di sekeliling Candi Borobudur. Relief nan diciptakan oleh para maestro ketika itu.

  1. Kamadhatu

Kamadhatu ialah bagian dasar Candi Borobudur. Bagian bangunan candi ini melambangkan manusia nan masih terikat oleh hawa nafsu.

Kamadahtu ini merupakan istilah nan berasal dari bahasa Sanskerta nan bermakna “ranah nafsu” atau global nafsu. Kamadhatu sendiri merupakan salah satu dari tiga ranah atau tiga global nan dalam bahasan Sansekerta disebut dengan Triloka nan terdapat dalam kosmologi Buddhisme.

Kosmologi ini mempercayai adanya reinkarnasi diman jiwa akan berkelana dari satu tubuh ke tubuh lain dalam lingkaran Samsara. Terdapat enam alam nan ada di Kamadhatu ini, di antaranya;

  1. Alam dewa
  2. Alam asura
  3. Alam manusia
  4. Alam binatang
  5. Alam siluman
  6. Alam neraka

Alam nan ada dalam Kamadhatu ini memberikan pengertian bahwa dalam kehidupan manusia, terdapat alam-alam nan membawanya kedalam lingkaran Samsara.

  1. Rupadhatu

Rupadhatu ialah bagian Candi nan terletak di atas Kamadhatu. Terdiri atas empat tingkatan. Bagian ini ialah lambang manusia nan telah sukses membebaskan diri dari nafsu nan membelenggunya. Meskipun demikian, manusia masih terikat dengan rupa dan bentuk. Hal ini tergambar dalam patung-patung Budha nan letaknya terbuka.

Pada bagian Rupadhati ini, patung-patung Buddha terdapat pada relung atau ceruk dinding nan berada di atas pagar langkan atau selasar. Terdapat 432 arca Buddha nan terdapat dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan ini.

Pada pagar langkan, terdapat sedikit disparitas rancangan nan melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu. Disparitas ini seperti, pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna sedangkan empat taraf pagar langkan di atasany dimahkotai stupika atau stupa kecil. Bagian teras-teras bujur sangkar ini dihiasi banyaknya ukiran relief-relief.

  1. Arupadhatu

Pada bagian ini, patung-patung Budha letaknya di dalam stupa nan berlubang. Ini melambangkan manusia nan sudah terbebas dari rupa, nafsu, dan bentuk. Konon, jika laki-laki dan perempuan dapat saling berpegangan di dalam stupa dengan tangan dari kedua sisi lubang stupa tanpa saling melihat, artinya mereka berjodoh.

Mitos lain yaitu jika tangan dapat menyentuh Budha nan ada di dalam stupa tanpa melihat sambil membayangkan keinginan kita, keinginan itu akan tewujud. Arupadhatu ini memiliki 3 taraf nan letaknya antara Rupadhatu dan Arupa.

Tingkatan paling tinggi pada Arupadhatu ini menggambarkan ketidakadaan wujud nan paripurna dengan dilambangkan oleh stupa nan terbesar dan tertinggi. Stupa ini dilambangkan polos tanpa adanya lubang-lubang.

Stupa primer nan dibiarkan kosong tanpa adanya arca Buddha ini diduga bermakna kebijaksanaan nan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian, dan ketiadaan sempurna. Hal ini membuktikan bahwa manusia sudah tak terikat lagi dengan hasrat atau nafsu, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran Samsara nan ada dalam Kamadhatu.

  1. Arupa

Arupa ialah bagian teratas dari bangunan Candi Borobudur. Ini ialah bagian candi nan paling mulia sebagai lambang nirwana. Nirwana ialah loka Budha bersemayam dengan kekal.

Demikianlah pembahasan mengenai candi terbesar di dunia, yaitu Borobudur. Candi ini memang memberikan kemegahan tersendiri bagi wisatawan dan juga para umat dan simpatisan Buddha. Semoga bermanfaat.