Aneka Mainan Anak Tradisional

Aneka Mainan Anak Tradisional

Aneka mainan anak tentu banyak dikoleksi oleh anak-anak. Di zaman modern seperti sekarang, Anda tentu telah mengenal aneka mainan anak nan sangat banyak dijual di pasaran. Mulai dari mobil-mobilan, robot mainan, atau bahkan mainan berupa PS ( play station ) nan sangat diminati oleh anak-anak zaman sekarang.



Aneka Mainan Anak Tradisional

Saat ini, sebagian besar anak-anak mulai melupakan aneka jenis mainan anak tradisional nan sebenarnya tidak kalah menarik dengan mainan modern. Mainan tradisonal malah banyak nan memacu kreativitas dan kecerdasan otak, sehingga sangat baik buat dimainkan oleh siapa saja.

Mungkin Anda pun sudah mulai lupa tentang permainan tradisional, daftar aneka jenis mainan anak tradisional di bawah ini mungkin dapat membantu menyegarkan ingatan Anda.



1. Dakon

Mainan tradisional nan satu ini membutuhkan sebuah papan dengan 16 cekungan (bila tak ada, dapat membuat cekungan di permukaan tanah). Papan ini terbagi menjadi dua lajur, setiap lajur ada 7 cekungan dan ada satu cekungan di tiap ujung papan dakon.

Untuk memainkan dakon, diperlukan biji dakon nan nantinya akan diisi ke dalam lubang/cekungan. Cara bermainnya pun sangat mudah, Anda dan versus tinggal mengambil biji-biji dakon di salah satu cekungan milik Anda dan menyebarnya hingga habis. Bila seluruh biji dakon nan ada di 14 cekungan telah habis, tinggal menghitung jumlah biji dakon nan ada di cekungan di ujung papan. Siapa nan sukses mengumpulkan biji dakon paling banyak, dialah nan menang.



2. Bekel

Salah satu aneka mainan anak tradisional nan sudah mulai dilupakan ialah bekel. Permainan ini memerlukan biji bekel (biasanya terbuat dari besi dengan bentuk unik) dan sebuah bola kecil dari karet. Cara memainkannya cukup mudah, lemparkan bola ke atas dan Anda harus sigap mengambil biji bekel nan tersedia. Peraturan nan paling krusial ialah tangan Anda tak boleh menyentuh biji bekel lain dan bola nan dilempar harus dapat ditangkap kembali.



3. Kelereng

Salah satu permainan tradisional nan banyak dimainkan oleh anak laki-laki ialah kelereng (ada juga nan menyebutnya dengan gundu). Kelereng ialah permainan menggunakan bola-bola kecil nan terbuat dari kaca.

Biasanya dimainkan oleh banyak anak dengan cara menggambar lingkaran di atas tanah. Setelah itu semua kelereng nan dimiliki tiap anak diletakkan di dalam lingkaran tersebut, kecuali satu kelereng nan akan digunakan buat “menembak”. Intinya, bila Anda sukses mengeluarkan kelereng versus dari lingkaran, Anda berhak merebut kelereng tersebut.



4. Egrang

Egrang juga merupakan salah satu dari aneka mainan anak nan hampir punah di Indonesia. Permainan ini menggunakan dua batang bambu nan diberi pijakan kaki dengan ketinggian tertentu. Anda dapat berjalan menggunakan egrang dan berlomba dengan siapapun. Permainan ini sangat membutuhkan keseimbangan, sebab Anda hanya akan berpijak pada dua batang bambu buat berjalan.



5. Gasing

Mainan ini umumnya dibuat dari kayu nan dibentuk meruncing ke bawah, bagian bawah nan runcing inilah nan akan menjadi suatu poros buat dapat berputar. Cara memainkan gasing tergolong cukup mudah. Anda tinggal memegang gasing dan sebuah tali di tangan lain. Lilitkan tali tersebut ke badan gasing secara merata, setelah itu lempar gasing ke tanah tapi tetap pegang ujung talinya (seperti mengibaskan tali nan berisi gasing).

Gasing pun akan berputar di atas tanah dalam beberapa saat. Anda dapat mengadu gasing dengan gasing lawan, gasing siapa nan roboh terlebih dahulu, dia dinyatakan kalah.



6. Gebokan

Gebokan atau kasti ialah permaianan atau mainan bola. Permainan nan melibatkan dua kelompok ini memakai bola tenis buat alat menembak versus serta tumpukan batu buat disusun. Siapa saja nan sukses menumpuk batu secara cepat tanpa kena pukulan bola, itulah nan menjadi pemenang dari permainan gebokan ini.

Permainan ini dimuali dengan menentukan terlebih dahulu kelompok mana nan akan bertindak sebagai penjaga awal serta kelompok nan dikejar dengan suit. Kelompok nan bertugas menjaga harus dengan segera menangkap bola sesudah tumpukan batu berjatuhan oleh kelompok nan dikejar.

Jika bola tersebut sukses mengenai lawan, kelompok nan anggotanya terkena bola tersebutlah nan menjadi penjaga tumbukan batu. Kolaborasi seluruh anggota kelompok sangat diperlukan, sama seperti dalam olahraga baseball atau softball. Ada juga versi lain permainan gebokan nan sering dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar. Dalam hal ini, pemain terbagi ke dalam dua regu. Salah satu regu memperoleh giliran menjaga dan regu lainnya memperoleh giliran memukul.

Selain itu, ada juga pos-pos nan ditandai dengan benda berupa tiang dan pemain serang atau nan memperoleh giliran memukul tak diperbolehkan di”gebok” atau dilempar menggunakan bola. Nah, pemain serang ini secara bergiliran memukul bola nan dilempar oleh seorang kelompok penjaga.

Sementara itu, pemain penjaga berjaga-jaga di lapangan dan berupaya menangkap pukulan pemain penyerang. Saat bola terpukul, pemain penyerang berlari ke pos selanjutnya atau “pulang” ke “rumah” nan dibatasi dengan sebuah garis. Bila pemain nan tengah berlari ke pos atau pulang sukses di”gebok”, ia dinyatakan mati, lalu kedua regu berganti (regu serang menjadi regu jaga dan sebaliknya).

Pemain serang nan sukses “pulang” akan memperoleh satu angka. Sementara itu, regu nan memperoleh angka paling banyak saat pertandingan berakhir dinyatakan sebagai pemenang. Permainan ini memang memakai mobilitas dasar berlari, memukul bola dengan menggunakan sebuah tongkat, menangkap, dan juga melempar. Permainan ini pun terdiri atas dua base dengan jeda terdekat minimal 20 meter.



7. Galah Asin

Galah asin atau disebut juga dengan galasin dan ada juga nan menyebutnya gobak sodor merupakan homogen mainan daerah orisinil dari Indonesia. Galah asin ialah sebuah permainan berkelompok nan terdiri atas dua grup dan setiap kelompok memiliki tiga sampai 5 orang anggota.

Inti dari permainan ini yaitu menghadang versus supaya tidak bisa lolos melewati setiap garis secara bolak-balik. Untuk memperoleh kemenangan, semua anggota tim secara lengkap harus melakukan aktivitas bolak-balik di dalam lokasi lapangan nan sudah ditentukan.

Biasanya, permainan ini dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan memakai acuan garis-garis nan ada. Selain itu, bisa juga dengan memakai lapangan segi empat nan ukurannya 9 x 4 meter dan dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas pada masing-masing bagian biasanya diberi tanda dengan menggunakan kapur.

Anggota tim nan memperoleh giliran menjaga lapangan dalam permainan ini dibagi dua, yakni anggota tim nan menjaga garis batas horizontal dan anggota penjaga garis batas vertikal. Anggota tim nan mendapat tugas menjaga garis batas horizontal akan berupaya melewati garis batas nan telah ditentukan sebagai garis batas bebas.

Sementara anggota tim nan mendapat tugas menjaga garis batas vertikal, ia memiliki akses buat semua garis batas vertikal nan berada di tengah lapangan. Permaianan ini dapat dikatakan sangat menyenangkan sekaligus cukup sulit, karena setiap pemain selalu harus berjaga serta berlari secepatnya bila diperlukan buat bisa meraih kemenangan.

Itulah aneka mainan anak tradisional nan saat ini mulai dilupakan. Semua permainan memerlukan ketangkasan nan dapat memacu saraf motorik anak-anak, sebab itulah mainan-mainan tersebut sangat bagus buat dimainkan.