Warung Jajanan Khas dan Cafe Tradisional

Warung Jajanan Khas dan Cafe Tradisional

Bagi penggemar kuliner, datang ke aneka macam cafe di Bandung, akan memenuhi hasrat dalam memanjakan lidah. Bandung memang pusat jajanan selain menjadi pusat fashion. Bicara masalah cafe di Bandung, akan ditemukan majemuk sentuhan dari nan jadul sampai dengan modern bahkan ada nan futuristik. Begitu pula dengan olahan makanannya, selalu saja ada nan baru dari cafe di Bandung ini. Dari mulai cemal-cemil sampai makanan berat, di Bandung memang tempatnya. Udara malam kota Bandung nan dingin sejuk, memang membuat perut gampang lapar dan hal inilah salah satu faktor kenapa orang menjadi gampang tergugah buat menciptakan berbagai jenis makanan. Persinggungan dengan etnis di luar Sunda nan membawa kultur berbeda, melahirkan sentuhan dan cita rasa nan berbeda pula pada masakannya.

Cafe di Bandung memang loka memanjakan lidah. Jangan risau soal harga, sebab ada nan akrab dengan kantong pelajar sampai hanya nan dapat ditebak kantong para pengusaha sukses. Tapi cita rasa makanan cafe di Bandung tidak selalu identik dengan harga mahal. Ada barang ada harga, tidak selalu cocok buat menggambarkan masakan di Bandung. Karena asal tahu tempatnya, anda akan menemukan berbagai macam makanan nan lezat di lidah namun ringan di kantong.



Bandung Kota Cafe

Bandung merupakan kota surga masakan nan akan memanjakan lidah anda. Julukan Bandung Kota Cafe pun rasanya tak terlalu berlebihan. Apabila nan dimaksudkan merupakan keragaman cita rasa dan hidangan, wisata masakan nan ditawarkan oleh kota Bandung, tak sekadar ' jalinan pembuka' dari prosesi wisata, melainkan juga konklusi dan bahkan transendensi hayati anda kepada pengalaman baru. Maka janga pernah lewatkan buat mengunjungi beberapa cafe di Bandung, bila anda tidak ingin kehilangan moment buat menikmati hayati dengan sesungguhnya.

Sebagai kota cafe, Bandung memang telah sukses menyediakan keberagaman nan dapat memenuhi selera siapa saja. Mencari cafe atau loka makan dan minum di Bandung, semudah mencari jarum di dalam kardus berisi jutaan jarum. Cafe dan restoran memang ada dimana-mana. Sejak anda keluar dari pintu tol Buah Batu, banyak cafe nan siap menyambut hangat kedatangan anda. Cafe di Bandung tersebar dimana-mana, baik nan mencoba menghadirkan suasana kota-kota Eropa, bagai jalinan satu garis Jalan semenjak dari jalan Buah Batu, Sumatera, Asia Afrika, Merdeka, Djuanda, Cikapayang, Cipaganti, dan terakhir Jalan Setiabudi. Tinggal melirik kiri kanan disepanjang jalinan jalan-jalan di kota Bandung tersebut, akan dengan mudah ditemukan cafe. Kembali kepada selera anda sendiri, di loka seperti apa, di macam cafe di Bandung nan mana nan lebih terasa sreg. Jangan sungkan buat mencoba. Kalau di Jakarta ada ungkapan "malu bertanya tersesat di Blok M", maka di Bandung berlaku ungkapan "malu masuk cafe tersesat di IGD" sebab anda kelaparan.

Ada beberapa pojokan cafe di Bandung nan berusia ratusan tahun, bertahan dari masa kolonial dan menyajikan apa nan telah menjadi karakteristik khas nan disajikan secara turun-temurun. Tentu saja ini menjadi salah satu daya tarik dari momentum wisata masakan ini, sehingga menjadi wisata buat melakukan permainan mesin waktu. Flashback sejarah. Atau kalau memang samasekali tak pernah terlintas atau bersinggungan dengan kekhasan tersebut, mencoba menyantap makanan cafe di Bandung nan menyajikan makanan khas eropa tempo dulu, dapat memberi pengalaman berarti nan tidak akan terlupakan dalam sejarah hayati anda sendiri.



Cafe Mesin Waktu

Ada BMC atau Bandungsche Melk Centrale nan didirikan oleh Louis Hlrschland dan Van Zijl abad ke-19. Sinkron namanya, cafe di Bandung ini terletak di Jalan Aceh, menyediakan pelbagai produk susu. BMC memang merupakan pabrik pengolahan susu buat disebar ke seluruh Bandung. Saat ini, selain produk olahan susu, masakan nan disajikan di BMC juga terdapat makanan kudapan lain seperti bakso nan gurih dan sambal pedasnya mantap. Hem, bukankah ini akan memberi pengalaman bagaimana menikmati jajanan sambil bernostalgia ke alam tempo dulu ?

Selain berbentuk cafe di Bandung, adapula lokasi wisata heritage di Jalan Braga, nan akan mengantarkan Anda pada toko roti Sumber Hidangan. Eksis sejak 1929 dan menjadi saksi kehadiran aktor Hollywood di masa kolonial, seperti Charlie Chaplin, atau Humprey Bogart. Sementara itu di Jalan Tamblong, tak jauh dengan Masjid Lau Tze, berdiri cafe dan toko kue Bakery & Cafe nan berdiri sejak 1945 dan menyajikan hidangan dessert yang lezat. Es krimnya bermacam rasa dengan harga terjangkau. Suasananya begitu nyaman, hanya dikunjungi oleh mereka nan setia saja. Sentuhan tempo dulu sangat kental terasa di toko ini.



Warung Jajanan Khas dan Cafe Tradisional

Anda nan tak terikat dalam perjalanan antar cafe di Bandung dari selatan ke utara dan lebih memilih wisata belanja, tersedia majemuk jajanan dari warung dengan sejarah dan rasa nan tidak kalah pentingnya. Silakan berbincang dengan sesama pengunjung, pasti akan ditemukan majemuk pengalaman unik kenapa mereka selalu setia mengunjungi cafe di Bandung ini. Beberapa jenis makanan tradisional juga sama pentingnya, dan menjadi sejarah nan turut mendukung perkembangan wisata masakan di tanah Sunda ini.

Misalnya saja di Buah Batu terdapat kedai Mie Baso Akung, gurihnya tanpa tanding. Di jalan Cendana, terdapat gorengan khas Bandung gorengan Cendana. Di stasiun Bandung, anda akan menikmati kedai Sate Khudori, dan bila tengah malam tiba, wangi Perkedel Bondon akan merayu anda buat mencicipinya. Hups, perjalanan belum selesai bila perut memang masih bersedia menampung. Anda dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan lainnya.

Beranjak ke Bandung Tengah, ada cafe malam Ceu Mar berlokasi di Jalan Cikapundung nan sedianya hanya menyediakan sup daging cincang bagi para loper koran. Pada akhirnya cafe malam ini mengenyangkan wisatawan Bandung nan tengah lapar di malam hari. Jangan anggap sepele, sejarah cafe di Bandung nan dinamakan cafe Ceu Mar ini memang pada awalnya hanya menyediakan makanan buat para loper koran. Tapi soal selera makan, jangan anggap sepela. Dan hal itulah nan disadari oleh pendiri cafe Ceu Mar ini sehingga tidak pernah menggap sepela soal cita rasa. Tidak mengherankan bila pada kemudian hari, cafe ini mampu bersaing dengan loka lain dalam hal memenuhi hasrat perut para pengunjung nan sedang lapar di malam hari.

Tidak ketinggalan pula kedai baraya (ramai-ramai), seperti Bancakan di jalan Trunojoyo.

Kesemua kedai itu, merupakan penampakan tradisional nan dijaga turun temurun misteri resepnya. Dari nan masih spot kecil, hingga menjadi besar, seperti kenyataan cafe tradisional di kawasan wisata bunga, jalan Sersan Bajuri, Lembang, dan Setiabudi. Di sana tersebar cafe seperti Sapulidi, Sindang Reret, Kampung Daun, Rumah Sosis, Rumah Baso, atau Kampung Legoek Cafe & Resto.

Lantas kenalilah, citarasa orisinil Sunda, seperti gepuk, nasi bakar, lalapan, liwet, picung, pepes ikan mas, pepes tahu, petay, dan sambal terasi. Untuk penutupnya tersedia cendol, bajigur, dan bandrek nan menyegarkan. Selamat datang di Bandung.