Apartemen VS Rumah Susun

Apartemen VS Rumah Susun

Anda bekerja di kota besar dan bingung memilih loka tinggal? Apakah memilih rumah susun atau apartemen? Lalu, apa bedanya apartemen dengan kondominium. Mari simak klarifikasi berikut ini.



Alasan Memilih Apartemen

Apartemen merupakan sebuah blok bangunan nan bagian dalamnya diberi sekat-sekat hingga menjadi sejumlah ruang, nan disewakan atau dipasarkan dengan sistem tingkatan title. Tingkatan title ialah hak milik atas satuan rumah susun, bukan hak atas tanah tetapi berkaitan dengan tanah nan didalamnya terdapat hak pemilikan bersama atas apa nan disebut bagian bersama, tanah bersama, benda bersama.

Kondominium ialah kepemilikan atas sebuah properti atau bangunan besar oleh beberapa orang atau sejumlah orang. Disparitas kondominium dan apartemen hanya pada istilah saja, kondominium lebih ke istilah sah sedangkan apartemen ke istilah fisik.

Bisa dikatakan bahwa apartemen ialah hunian nan paling tepat bagi kaum muda nan produktif dan selalu bergerak cepat, sebab tak membutuhkan perawatan spesifik sebab ruangnya nan tidak begitu luas. Kebutuhan akses nan cepat ke berbagai loka pusat kegiatan pun menjadi alasan dipilihnya apartemen, sebab lokasinya nan strategis berada di dalam kota.

Keuntungan tinggal di apartemen bagi pasangan muda ialah kemudahan mengatur waktu bagi keluarga. Ruang lingkup loka tinggal nan kecil tidak memerlukan perhatian lebih. Jadi, perhatian dapat lebih terfokus pada anak, misalnya. Sementara, orang tua bisa tinggal di pinggiran kota, atau loka lain nan nisbi lebih tenang dan populasinya tak padat agar dapat beristirahat menikmati masa tua dengan lebih nyaman.

Tapi fenomena nan terjadi di Indonesia terbalik. Para kaum muda nan masih produktif dan mempunyai gerak tinggi kebanyakan bertempat tinggal jauh dari lokasi pusat aktivitasnya. Mereka tinggal di pinggiran kota. Padahal, dengan tinggal di pinggiran kota sementara aktivitas sehari-hari di dalam kota dapat menyebabkan berbagai pemborosan, diantaranya:

  1. pemborosan waktu
  2. pemborosan biaya
  3. pemborosan lingkungan (aktif mencemari lingkungan, khususnya jalan raya)
  4. pemborosan sosial (hanya sedikit waktu buat bermasyarakat)

Sejalan dengan hal itu, apartemen menjadi loka tinggal kaum mapan nan berpenghasilan besar. Hal ini dampak dari pengembang nan menjadikan apartemen sebagai hunian mewah, eksklusif, dan hanya buat kalangan terbatas, sehingga kaum muda tak tertarik buat tinggal di sana.

Padahal, sebaiknya kaum mapan tinggal di pinggiran kota nan tak ramai sebab mereka tidak lagi membutuhkan gerak nan tinggi. Akhirnya, pengembang menjadi terbiasa buat mematok harga jual apartemen nan hanya dapat dijangkau oleh kalangan atas saja.

Tidak adanya konsep penataan kota nan sistematis nan dapat mengendalikan penyebaran penduduk, menghemat energi, mengurangi kemacetan, memperpendek jeda hingga gerak jadi efisien, dan sebagainya. Hal ini menjadi kelemahan nan konkret bagi sistem pembangunan kota di Indonesia.

Sebenarnya, pengembang sudah berinisiatif buat memasarkan apartemen dengann harga lebih terjangkau, sekitar Rp 600 jutaan. Pemerintah pun mencanangkan Rumah Susun Sederhana Hak Milik (RUSUNAMI) nan tentu saja harga nya jauh lebih murah, dan dapat dicicil dengan kembang disubsidi oleh pemerintah serta dibebaskan pajaknya.

Ini ialah kesempatan nan baik bagi kaum pengusaha muda nan sedang berkembang, buat menjadikan hunian ini sebagai loka tinggal. Hingga para pengusaha muda ini mapan, kebutuhan keluarga akan ruang nan lebih luas, jumlah anak bertambah, barulah dapat pindah ke “rumah sungguhan” nan memadai di lokasi nan lebih tenang. Sementara itu, apartemen atau rumah susunnya nan ada di tengah kota dapat disewakan ke pengusaha muda lainnya atau dijual.

Kehidupan bermasyarakat di apartemen tentu saja tak sama dengan kehidupan di lingkungan masyarakat biasa. Sebagai contoh, tetangga tak hanya ada di kiri, kanan, depan atau belakang saja, tapi di atas dan di bawah juga ada.

Dengan keterbatasan ruangan, penghuni tak dapat leluasa menyalurkan hobi seperti berkebun. Jika akan mengadakan acara, misalnya selamatan, tak dapat mengundang terlalu banyak orang. Perabotan pun harus diperhitungkan baik-baik. Karena tak dapat kita menyimpan terlalu banyak perabotan, atau membeli perabotan nan terlalu besar.

Singkatnya, rasa toleransi nan sangat tinggi diperlukan buat tinggal di apartemen. Saling menghormati, rasional, dan menghargai kemajemukan. Budaya ini ialah budaya komunal modern, tak seperti budaya komunal tradisional nan penerapan aturannya tak tertulis dan cenderung longgar.

Kehidupan bermasyarakat di apartemen harus menetapkan aturan-aturan tertulis nan disepakati oleh semua penghuni serta diadakan supervisi bersama. Ini sebab biasanya para penghuni apartemen berasal dari latar belakang budaya nan berbeda.



Lebih Jauh Mengenai Rumah Susun

Rumah susun atau biasa disingkat rusun ialah suatu bangunan bersusun ke atas atau bertingkat nan dibangun dalam satu lingkungan. Di dalamnya di bagi menjadi beberapa bagian, seperti:

  1. Tempat hunian, dengan beberapa kelengkapan nan merupakan milik bersama yaitu lift, lobby (ruang tamu), saluran air, saluran gas, atap rumah, tiang pondasi, saluran listrik, dan saluran telekomunikasi.
  2. Benda bersama, meliputi loka parker, kolam renang, pekarangan, dan lain-lain
  3. Tanah milik bersama, yaitu tanah loka berdirinya bangunan itu sendiri.

Keengganan sebagian orang buat tinggal di rusun dikarenakan konotasi rusun sebagai apartemen kumuh. Padahal, pengertian dasar apartemen dan rusun ialah sama. Lebih jauh, rusun merupakan salah satu solusi jitu bagi penanggulangan kepadatan penduduk kota serta keterbatasan huma buat pemukiman.



Apartemen VS Rumah Susun

Istilah Rusunami dan Rusunawa makin santer terdengar akhir-akhir ini. Ini sebenarnya ialah bagian dari Proyek 1000 Menara Rusun nan sedang dikerjakan oleh Kemenpera.

Rusunami ialah akronim dari Rumah Susun Sederhana Milik, nan pemasarannya disubsidi oleh pemerintah dan terutama diperuntukkan bagi masyarakat nan berpenghasilan maksimal 4,5 juta per bulan. Sementara itu, Rusunawa ialah akronim dari Rumah Susun Sederhana Sewa, nan diperuntukkan bagi masyarakat nan berpenghasilan maksimal 1,7 juta per bulan.

Perbedaan rusun dengan apartemen dan kondominium nan paling kentara ialah dari finishing . Kualitas bahan buat finishing apartemen dan kondominium menggunakan bahan dengan kualitas Grade A, sementara buat rusun hanya alakadarnya.

Tempat parkir di apartemen, minimal satu unit memiliki satu loka parkir mobil. Sementara rumah susun hanya memiliki 1 loka parkir mobil buat 10 unit. Ukuran rumah susun dengan 2 buah kamar tidur sama dengan satu unit apartemen tipe studio (tanpa kamar).

Tetapi walaupun begitu, buat kualitas pondasi, dan konstruksi dasar lainnya sama saja, sebab baku buat bangunan setinggi puluhan lantai harus mengacu pada baku internasional nan sudah baku. Untuk jenis bangunan apapun, biasanya menggunakan jasa kontraktor besar kelas internasional seperti Waskita, dan sejenisnya.

Keuntungan lain, dengan tinggal di rumah susun, biasanya iuran bulanan seperti listrik, air, kebersihan, telepon, keamanan, dan lain-lain dapat jauh lebih murah jika dibanding dengan jenis iuran nan sama di apartemen. Tiap apartemen memiliki kebijakan nan tak seragam mengenai hal ini, sebab menyangkut gengsi dan prestise.

Yang menjadi disparitas palig mencolok tentu saja harganya. Satu unit rumah susun dengan tipe 33 dan berlokasi di tengah kota dapat dimiliki dengan harga sekitar Rp 144 juta. Bila dibandingkan dengan apartemen nan memiliki luas kurang lebih sama, harganya dapat mencapai Rp 7 milyar.

Bagi sebagian masyarakat nan tergolong ekonomi pas-pasan (pas untuk beli mobil, pas untuk beli rumah) kehadiran rumah susun tentu sangat membantu. Hanya saja sangat disayangkan banyak oknum tak bertanggung jawab seperti para brooker atau makelar nan memborong rumah susun sebanyak-banyaknya buat dijual kembali semahal-mahalnya. Sungguh, orang kecil selalu jadi korban.