Menghadapi Pembantu

Menghadapi Pembantu

Ngomong-ngomong soal ibu rumah tangga, rasanya tak pernah lepas dari nan namanya asisten rumah tangga, atau nan biasa kita sebut pembantu. Mencari nan cocok pun tak semudah nan kita bayangkan.

Dari tinggal serumah dengan majikan inilah, cerita pembantu mengalir deras. Ada nan merasa cocok dan puas, ada pula nan sering mengeluh sebab si pembantu selalu saja berulah.



Mencari Pembantu nan Cocok

Memilih dari sekian banyak pembantu nan ditawarkan agen, ternyata tak gampang. Kebanyakan mereka berasal langsung dari daerah. Ada nan usianya masih sangat muda sehingga masih perlu banyak bimbingan. Jika nan berasal langsung dari daerah, biasanya para pembantu itu belum terbiasa dengan kehidupan di kota.

Katakanlah jika kita berdomisili di Jakarta, banyak dari mereka nan masih canggung dan perlu banyak waktu buat beradaptasi. Ada pula nan sudah memiliki banyak pengalaman sehingga menjadi arogan dan mempunyai banyak syarat berat nan diajukan seperti meminta gaji nan tinggi, fasilitas nan enak dan lain sebagainya.

Ada baiknya jika Anda ingin mengambil pembantu langsung dari agen, perlu ditelaah lebih dalam tentang latar belakang nan kelak akan menjadi asisten Anda di rumah. Ini diperlukan agar nantinya tak timbul rasa menyesal dan saling tak percaya di dalam melaksanakan tugas kerumahtanggaan.

Berkonsultasi dengan teman atau tetangga nan setidaknya pernah mengambil pembantu dari agen tersebut. Pertimbangkan baik dan buruknya, agar tak muncul cerita pembantu nan jelek dan mengikutsertakan nama Anda di kemudian hari.



Berbagai Macam Cerita Pembantu

Setiap orang niscaya memiliki cerita nan berbeda tentang asisten rumah tangganya. Cerita pembantu nan baik akan memuaskan sang majikan, begitupun sebaliknya.

Ada nan pernah cerita pembantu pribadinya sangat rajin bekerja. Tidak pernah terlihat santai atau suka teleponan dengan satpam depan kompleks. Si pembantu ini sangat mennyukai pekerjaannya, sehingga ia mau mengabdi seutuhnya kepada sang majikan.

Ada juga cerita pembantu nan sebaliknya. Sporadis kelihatan bekerja. Kerjaannya hanya teleponan entah dengan siapa, mengutak-ngatik ponsel sambil memasak, dan terlihat santai sering menonton televisi.



Menghadapi Pembantu

Kalau sudah terjadi hal-hal nan tak diinginkan oleh majikan, barulah mencari segala cara buat menghadapi berbagai cerita pembantu nan ada. Jika ada nan berjumpa dengan jenis pembantu nan malas, biasanya majikan nan aktif mengingatkan dan sering menyuruh ini dan itu kepada pembantunya. Mereka tak mau pembantu memakan gaji buta.

Jika berjumpa dengan pembantu nan ganjen dan suka menggoda satpam depan, Anda perlu berhati-hati. Anda tak mau kan suami Anda dirayu oleh pembantu? Untuk mencegahnya, sibukkan pembantu dengan pekerjaan nan membuat ia tak memiliki waktu buat merayu atau ganjen ke sana-sini.

Jika dapat dihindarkan, jangan memilih nan ganjen, cerewet atau suka banyak omong, malas dan nan pekerjaan tak benar. Pilihlah nan baik tingkahnya, kelihatan jujur, tak banyak bicara dan nan pekerjaannya rapi. Bagaimanapun pembantu ialah asisten Anda nan menemani Anda 24 selama seminggu di rumah.

Jika telah mendapatkan pembantu nan sinkron harapan, jagalah interaksi baik dengannya, agar nantinya tak timbul cerita-cerita pembantu nan dapat memusingkan kepala Anda. Beri gaji dan fasilitas nan layak untuknya. Ajari dengan sabar hal-hal nan belum diketahui tentang Norma Anda sekeluarga.

Dan ingat, ketika Anda telah melakukan semua itu, pembantu akan merasa nyaman dengan Anda dan dapat membantu Anda dalam urusan rumah tangga selama bertahun-tahun lamanya.



Kelas Pekerja nan Terlupakan

Sebagai salah satu kelas pekerja, pembantu rumah tangga sebenarnya satu kelompok dengan para buruh. Yaitu kelompok nan rentan dengan perlakuan ketidakadilan para kaum kapitalis (pemilik modal). Kalau di global buruh pemilik modalnya ialah pemilik pabrik, maka bagi pembantu rumah tangga, pemilik kapital ialah majikannya.

Disebut rentan, sebab para buruh dan pembantu rumah tangga cenderung punya posisi tawar menawar nan rendah dalam bekerja. Mereka umumnya jadi objek dan harus lapang dada menerima perlakuan tak menyenangkan.

Hanya saja dibanding buruh, pembantu rumah tangga termasuk kelompok pekerja nan nasibnya lebih riskan. Kok bisa? Ada banyak faktor penyebabnya. Pertama, pembantu rumah tangga umumnya berpendidikan rendah.

Lulusan SMP, SMA, bahkan ada nan hanya SD atau malah tak pernah mengecap pendidikan. Kedua, jika buruh punya organisasi buruh nan menjaga hak-hak mereka, maka pembantu rumah tangga tak ada. Ini berpengaruh kepada minimnya konservasi jika mereka mengalami perlakuan tak adil dari majikan.

Dari segi peraturan pemerintah pun, belum berpihak kepada para pembantu rumah tangga. Perhatian terhadap profesi mereka masih sangat kurang. Lihat saja, jika buruh punya peraturan penggajian nan layak (UMR), libur mingguan, perlop tahunan, tunjangan hari raya (THR), maka tak bagi pembantu rumah tangga. Tak hanya itu, jam kerja mereka juga amat panjang. Bahkan boleh dibilang 24 jam sehari (dikurangi waktu tidur) mereka habiskan buat bekerja.

Penghargaan terhadap mereka pun tergantung ‘belas kasihan’ dari majikannya. Apalagi adanya pandangan salah kaprah mengenai fungsi dan status pembantu rumah tangga. Banyak nan beranggapan bahwa mereka bukan kelas pekerja profesional. Hanya sekadar ‘pembantu’, babu atau jongos nan minus buat dihargai.



Regulasi buat Pembantu Rumah Tangga

Kebijakan perundang-undangan (regulasi) nan berpihak kepada pembantu rumah tangga, jadi kebutuhan mendesak. Bukan lagi sesuatu nan dapat ditawar-tawar. Mengapa? Karena semakin banyak saja jumlah korbannya.

Mereka tak saja menerima upah sangat rendah (200 ribu sampai 300 ribu rupiah per bulan), waktu kerja tak terbatas dan jenis nan dikerjakan sangat beragam, tapi juga seringnya mendapat perlakuan melecehkan dari banyak majikan.

Salah satu forum swadaya masyarakat nan peduli terhadap nasib mereka, yaitu Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) mengungkapkan data memiriskan.

Bahwa dalam kurun waktu 2000 - 2007, tercatat sebanyak 412 kasus kekerasan nan dialami pembantu rumah tangga dari majikan mereka. Data ini boleh dianggap seperti kenyataan gunung es. Sedikit nan terungkap, tapi fenomena sesungguhnya jauh lebih banyak dan tak terungkap.

Berkaitan dengan jumlah, walaupun belum ada data resmi mengenai jumlah pembantu rumah tangga di Indonesia, tapi diperkirakan ada sekitar tiga hingga empat juta orang. Jumlah nan menempatkan mereka sebagai kelompok pekerja perempuan terbesar.

Berangkat dari data-data ini, pemerintah sudah seharusnya cepat tanggap. Memang, saat ini sudah ada payung hukum UU Nomor 13 Tahun 2003 nan mengatur tentang Ketenagakerjaan.

Tapi, undang-undang ini hanya mengatur interaksi industrial (pekerja formal). Pembantu rumah tangga digolongkan sebagai pekerja informal. Ini berarti, UU tersebut tak mengakomodir kepentingan mereka.

Lalu, keberadaan UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Awalnya UU ini memberi angin segar akan konservasi bagi pembantu rumah tangga terhadap perlakuan majikan nan tak manusiawi. Tetapi, di lapangan UU itu kehilangan tajinya. Majikan nan seenak udelnya memperlakukan pembantu, tetap saja tidak dapat dijerat dengan UU tersebut.

Dua payung hukum nan sudah ada ini, boleh dibilang melempem ketika dihadapkan dengan masalah nan membelit pembantu rumah tangga. Para aktivis kemanusian pun bergerak.

Bersama-sama mereka meminta pemerintah, khususnya anggota dewan buat merancang dan secepatnya mensahkan UU baru nan melindungi hak pekerja informal tersebut.

Pemerintah pun menanggapi permintaan para aktivis. Pada tahun 2010, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memasukkan persoalan pembantu rumah tangga ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).

Namun hingga kini (2012), UU baru nan dinanti tidak jua muncul dan disahkan. Bahkan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) sebagai pihak nan paling bertanggungjawab terhadap masalah ini, justru terkesan tidak ambil peduli.



Prinsip Dasar Memilih Pembantu
  1. Sebelum memilih pembantu ada baiknya Anda mengenali kebutuhan rumah tangga Anda.
  1. Perhatikanlah kebutuhan perkembangan anak Anda.
  1. Sebelum memutuskan mengambil pembantu kenalilah sikapnya. Pastikan sikapnya baik terhadap anak Anda.
  1. Watak seseorang lebih baik dari pengalaman, mungkin kesabaran lebih baik ketimbang berpengalaman tetapi memiliki sifat temperamen.
  1. Perhatikan juga kebersihan dan kerapian sebab hal ini juga lebih krusial dari pengalaman.
  1. Perhatikan juga sifat dan hatinya sebab lebih krusial juga dari pendidikan nan tinggi. Pendidikan tak boleh dikesampingkan, tapi rasanya karakter itu lebih penting. Sifat dan hati seorang pembantu nan penyabar dan mungkin cenderung “keibuan” lebih krusial dibandingkan dengan pendidikan nan tinggi.


Kiat Memilih Pembantu
  1. Cobalah Anda mengambil pembantu selain dari yayasan.
  1. Jangan mengambil pembantu secara sembarangan maupun tak dikenal. Hal ini buat menghindari dari kejadian-kejadian nan tak diinginkan.
  1. Jika Anda mencari pembantu carilah di link nan terkenal atau setidaknya berasal dari keluarga nan Anda ketahui atau dengan latar belakang nan memang telah Anda ketahui.
  1. Carilah pembantu nan “bersih” buat menghindari adanya penyakit nan dapat menjangkiti seluruh keluarga Anda, jika semua sakit, Anda juga nan rugi.
  1. Jika kualitasnya menurun dalam hal pekerjaan dalam waktu singkat maka perlu dicurigai.
  1. Jangan pernah meninggalkan kunci kamar Anda khususnya jika Anda memiliki barang berharga di dalamnya.