Bisnis Keluarga

Bisnis Keluarga

Mencetak keturunan pebisnis nan memiliki jiwa wirausaha merupakan hal nan sangat penting dalam mempertahankan kelanggengan perusahaan keluarga di masa depan. Seorang ayah bisa sangat hebat merintis sebuah perusahaan dari nol namun, ia belum tentu jago mengkaderisasi anak-anaknya menjadi pengusaha sukses. Oleh sebab itu, seorang ayah nan juga pebisnis harus mampu memberikan konsultasi bisnis kepada keturunannya.



Pendidikan

Pendidikan dianggap sebagai salah satu jalan menuju perubahan. Pendidikan ini dapat terjadi di manapun dan tak hanya di sekolah. Di sekolah terkadang nan dilakukan oleh para guru bukanlah mendidik tetapi tak lain hanya mengajar. Mendidik itu tak dapat dipelajari kecuali dengan ilmu keimanan. Sedangkan mengajar dapat dipalajari lewat bangku kuliah dan diterapkan dengan cara menggunakan metode dan teknik mengajar.

Seorang ayah tentu saja dapat menjadi seorang pendidik sebab nalurinya. Ia ingin anaknya menjadi pengusaha sepertinya, maka nan dilakukannya ialah memberikan pengaruh bagaimana cara berbisnis nan baik dan benar. Anak-anaknya telah dilibatkan dalam bisnisnya sebagai pekerja nan paling bawah sehingga sang anak dapat memahami basis bisnis dan dasar-dasar menjadi seorang pekerja. Seorang pebisnis itu harus menjadi seorang pekerja nan hebat dan ia harus mampu menjadi seorang pengikut nan baik.

Sebelum menjadi pemimpin, sang anak harus dapat menjadi pengikut dulu. Ia melihat gaya ayahnya membangun usaha. Ia pun tak lupa disekolahkan ke loka nan dianggap akan dapat memberikan pengetahuan dan jaringan pertemanan nan dapat mempengaruhi insting dan gayanya berbisnis kelak. Kisah seorang ayah nan mendidik anaknya agar menjadi seorang pebisnis nan berhasil seperti ini telah banyak dijalankan oleh para pebisnis berdarah Cina. Mereka bahkan sangat serius dalam mengkader anak-anaknya.

Pandangan bahwa generasi pertama mendirikan bisnis. Generasi kedua mengembangkan bisnis dan generasi ketiga menghancurkan bisnis, tentu saja buat nan hal nan satu ini, tak ada nan mau hal itu terjadi. Mereka pun akan mencari orang-orang nan dapat dipercaya. Orang-orang ini akan dipupuk dan dimanjakan sehingga akan menjadi orang-orang nan sangat setia. Padahal terkadang orang-orang ini tak mendapatkan gaji nan tinggi. Mereka diberi kenyamanan dengan diberi barang-barang diluar gajinya.

Seolah-olah mereka mendapatkan perhatian lebih dan mereka akan merasa berhutang budi. Teknik ini tentu saja bukan teknik nan baik dalam menjalankan bisnis. Teknik nan baik ialah meninggalkan manajemen keluarga dan lebih menjalankan manajemen profesional nan akan membuat semua orang mempunyai hak dan kewajiban nan sama sinkron dengan taraf posisinya.

Tidak terkecuali dengan anak-anak sang pemilik usaha. Namun, siapa nan tega melihat darah daging sendiri menjadi pembantu bagi orang lain. Maka sering terdengar kisah anak pemilik usaha langsung memegang peranan kunci sedangkan karyawan nan lebih baik tersisih sebab ia bukan siapa-siapa. Bagi karyawan nan sangat potensial, ia akan keluar dari perusahaan itu dan akan membuat perusahaan baru.

Perusahaan baru ini juga mungkin bergerak dibidang nan sama sehingga ia akan berkompetisi secara langsung dengan mantan bosnya. Sang mantan bos tentu saja tak dapat berbuat apa-apa selain melayani tantangan itu. Dari keadaan ini, sanga pemilik dapat memberikan citra kepada anaknya bagaimana beratrung dengan mantan anak buah. Anak nan mudah belajar dan cepat tanggap, akan mempelajari semua situasi dan juga tak akan tinggal diam walaupun mungkin pengalamannya belum sehebat mantan karyawan tersebut.



Pengalaman

Lewat pengalaman ini, ayah dengan serius memberikan konsultasi bisnis kepada anak-anaknya. Ayah juga akan mendatangkan para konsultan bidang pemasaran dan bidang keteknisan lainnya agar sang anak dapat langsung belajar melalui mereka. Tentu tak murah harga buat konsultasi secara langsung ini. Kalau ayah mempunyai teman sesama pebisnis, mereka dapat saling menitipkan anak-anak agar anak-anak mereka dapat saling belajar dan mempelahari teknik menjalankan sebuah bisnis.

Kepekaan dalam berbisnis pun akan terasah dengan jalan seperti ini. Tidak sporadis juga mereka akan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah bonafid nan ada di luar negeri. Hal ini selain akan memberikan wawasan hayati dan mungkin juga sang anak akan bekerja di sana, juga akan memberikan pandangan tentang kerja keras. Setelah sang anak dipandang mampu, maka mereka akan ditarik pulang dan diajak membangun bisnis bersama. Ada juga ayah nan mendidik anaknya dengan memberikan tanggung jawab buat menjalankan satu roda bisnis tanpa banyak hal nan harus dilakukan oleh sang ayah di perusahaan itu.

Sang ayah berpikir bahwa kalaupun anaknya bangkrut, kebangkrutan itu akan menjadi satu pelajaran nan sangat berarti bagi sang anak. Kapital nan ada memang digunakan sebagai kapital pendidikan bisnis secara langsung sehingga sang ayah juga tak merasa rugi. Pengalaman itu ialah guru nan paling baik. Untuk membayar guru nan paling baik itulah dibutuhkan dana nan tak sedikit. Tidak sporadis juga bahwa dari pemberian tanggung jawab ini, sang anak malah dapat berkembang lebih pesat dari bisnis ayahnya.

Apapun nan dilakukan oleh ayah dalam mengembangkan pribadi seorang pengusaha kepada anak-anaknya, niscaya akan memberikan pengaruh nan sangat besar. Anak-anak akan tumbuh menjadi kuat sebab ia tahu ada pelindung di belakangnya, seorang laki-laki gagah nan akan melakukan apapun demi dirinya. Memanjakan anak memang boleh, tetapi memanjakan sambil mendidik ialah proses nan paling baik. Anak tak dibiasakan memperoleh segala sesuatu nan diinginkannya dengan mudah sehingga ia tahu dan sadar kalau ia ingin mendapatkan sesuatu, ia harus bekerja dan tak boleh hanya meminta.



Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga memiliki prospek nan cukup baik dalam jangka panjang, apalagi jika mereka nan terlibat di dalamnya menikmati pekerjaan itu. Bisnis keluarga artinya menghasilkan laba tanpa mengorbankan keluarga, namun melibatkan anggota keluarga tentunya secara profesional. Problem terpenting dalam melanjutkan bisnis keluarga ialah masalah suksesi. Suksesi memang bukan satu-satunya penentu kelanggengan bisnis keluarga, akan tetapi, suksesi menjadi akar persoalan di bisnis keluarga ketika sang pendiri semakin tua atau sudah memasuki masa pensiun, sementara tak ada generasi penerus andalan.

Terkait isu kegagalan suksesi dan kaitannya dengan pemberian konseling bisnis kepada keluarga, pengusaha Indonesia nan memiliki Gemala Group, Sofjan Wanandi punya pengalaman berbeda. Taktik nan ia pakai dalam mengelola bisnis keluarga dan memberi bimbingan serta melanggengkannya terbukti cukup berhasil. Di usianya nan tidak muda lagi, Sofjan nan juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mendapuk tiga putranya Lestarto, Lukito, dan Witarsa menjadi pewaris kejayaan bisnis Gemala Group di generasi kedua.

Ia membagi tiga perusahaan nan day to day dikelola oleh tiga putranya itu. “Ada banyak kepentingan, apalagi jika anak-anak sudah berkeluarga. Tapi, nan terpenting ialah komitmen take and give dalam menjalankan bisnis ini,” kata pria nan 21 tahun berkecimpung di bisnis ini. Suksesi bukan masalah bagi Sofjan, karena ia telah mempersiakan planning jangka panjang buat mewariskan kerajaan bisnisnya kepada anak-cucu kelak. Tidak mudah memberi konseling bisnis dengan menggembleng karakter tiap anak supaya tangguh, dan memiliki mental kuat dalam mengelola bisnis keluarga.

Seorang ayah, harus memiliki kepekaan membaca karakter dan minat si anak, itu kapital pertama nan harus dimiliki seorang konselor (pembimbing). Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap anggota keluarga, maka akan lebih mudah buat mengarahkan mereka di posisi nan tepat. “Saya tak pernah memaksa anak, tapi mengarahkan dan selalu memberikan pengertian tentang bisnis keluarga ini,” ungkap Sofjan nan kini di usia 69 tahun dianugrahi sepuluh cucu.

Ia percaya pola persuasif dengan mengajak ketiga penerusnya bergabung meski pada tiga perusahaan nan berbeda (anak perusahaan Gemala Group) cukup berhasil. Selain rasa percaya, komunikasi intens juga sangat mendukung upaya keharmonisan sebuah keluarga nan solid. Cinta kasih sayang, dukungan, dan pengertian ialah kunci keluarga harmonis. “Pada prinsipnya harmonisasi antara keluarga dan bisnis,” tutur mantan aktivis tahun 60-an ini. Sikap mengalah merupakan faktor krusial kekompakkan antaranggota keluarga nan hingga kini ia percaya.

Selalu ada waktu buat berdiskusi, itulah rutinitas wajib keluarga Wanandi nan membuktikan kunci sebuah taktik konsultasi bisnis keluarga nan cukup berhasil. Apa nan dilakukan oleh Sofian Wanandi itu banyak juga dilakukan oleh para pemilik usaha lainnya. Bahkan buat melihat anak mana nan cocok ditempatkan di mana, sanga ayah akan memberikan ujian terbuka bagi semua anaknya. Hal ini agar tak ada persaingan nan kotor antarsaudara.