Fase Monoteisme

Fase Monoteisme

Dalam studi sejarah perkembangan agama-agama, sebagaimana dikatakan Abbas Mahmoud Al-Akkad, manusia mengalami perkembangan dalam kepercayaannya sebagaimana mereka mengalami perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

Oleh sebab itu, perkembangan kepercayaan pun mengalami beberapa fase nan membuat sebuah kepercayaan atau agama tak hanya berada di satu jalur saja, tapi juga terdapat banyak disparitas antara kepercayaan nan satu dengan kepercayaan nan lain. Hal ini disebabkan oleh perkembangan kepercayaan tersebut nan juga mendapatkan pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar.

Kepercayaannya nan pertama sejalan dengan corak kehidupannya nan pertama, demikian hal dengan ilmu dan teknologi nan dimilikinya, walaupun kecepatannya berbeda-beda. Itulah mengapa para sarjana mengenal tiga fase generik dalam kebudayaan manusia terkait kepercayaannya kepada Tuhan, yaitu politeisme, henoteisme, dan monoteisme. Mari kita lihat satu persatu.



Fase Politeisme

Pada fase politeisme, manusia -khususnya pada masyarakat primitif- mengangkat banyak Tuhan atau dewa-dewa dalam kehidupannya. Mereka mengangkat Tuhan dalam jumlah puluhan hingga ratusan. Pada fase ini, setiap keluarga besar biasanya memiliki Tuhan atau dewanya sendiri nan sering dihubungkan dengan nenek moyang mereka nan telah meninggal. Dalam prosesi penyembahan, mereka menjadikan jimat atau patung sebagai personifikasi dari Tuhan nan disembah.

Pada fase ini, manusia menjadi sangat percaya bahwa kehidupan itu dimunculkan oleh roh nan bersemayam di loka nan manusia sendiri juga tak tahu. Spiritual semacam ini tak hanya terdapat pada masyarakat primordial saja. masyarakat modern pun masih banyak nan mengambil paham tersebut sebab kepercayaan nan kuat nan diturunkan oleh leluhur mereka.

Tidak heran jika di sebagian wilayah kepulauan Indonseia, kita akan banyak menemukan situs berupa candi dan patung sebab kebanyakan masyarakat Indonesia menganut paham tersebut.

Bahkan di beberapa tataran adat istiadat, istilah sesajen buat menghormati leluhur atau roh mistik masih senantiasa dilakukan demi kepercayaan mereka. Pada umumnya, masyarakat seperti ini percaya bahwa seorang manusia nan telah wafat tak begitu saja meninggalkan global ini. Mereka masih menyisakan roh buat dihormati sehingga jika roh tersebut tak dihormati, akan terjadi sesuatu nan tak baik pada keluarga nan ditinggalkan oleh roh tersebut.

Lantas, kebenaran seperti ini mungkin akan sulit dibuktikan sebab pada dasarnya, ada satu garis tipis nan sulit buat membedakan antara garis konkret dan garis khayali. Garis tersebut tak akan benar-benar terlihat dan tak pula benar-benar samar. Yang dapat dilakukan di sini hanyalah percaya atau tidak.



Fase Henoteisme

Fase henoteisme dinamakan pula fase seleksi atau fase pilihan. Pada fase ini, Tuhan nan jumlahnya banyak tersebut masih tetap diakui. Akan tetapi, mulai ada satu atau dua Tuhan nan lebih diutamakan daripada nan lainnya.

Dalam masyarakat Mesir Kuno, Hindu, dan Arab Jahiliyah pilihan jatuh kepada tiga dewa. Dalam keyakinan orang-orang Mesir Kuno, evolusi ketuhanan mereka sampai pada simpulan adanya tiga dewa tertinggi, yaitu Osiris beserta istrinya, Isis, dan anaknya Horus.

Demikian pula dalam masyarakat Arab Jahiliyah, pilihan jatuh pada tiga Latta, Uzza, dan Manat. Adapun pada masyarakat Hindu di anak benua India, terpilihlah tiga dewa utama, yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai Dewa Pemelihara segala sesuatu nan diciptakan Brahma, dan Syiwa sebagai Dewa Penghancur apa nan diciptakan Brahma dan dipelihara Wishnu. Itulah mengapa, sebagai simbolisasi Dewa Penghancur, patung Syiwa dibuat menyeramkan, yaitu memakai kalung dari tengkorak dan dikelilingi setan.

Pada perkembangan selanjutnya, dari ketiga dewa ini, ada dua dewa nan paling banyak dipuja, yaitu Wishnu dan Syiwa -yang pada hakikatnya merupakan perwujudan dari Brahma-. Kita mungkin heran mengapa Syiwa banyak disembah orang.

Kita jangan lupa, selain sebagai Dewa Penghancur, Syiwa pun dipersonifikasikan sebagai Dewa Kesuburan -yang perlu "diambil hatinya"- juga sebagai Dewa Seni, khususnya seni tari. Penyembahan patung Syiwa pun bertujuan agar manusia terhindar dari kehancuran dan kesialan.

Penyembahan seperti ini merupakan salah satu fase nan membuktikan bahwa manusia telah memasuki ranah logika nan tak terlalu dekat dengan khayali atau garis takhayul. Kepekaan manusia terhadap roh nan hayati di sekeliling mereka mulai dijadikan sebagai bahan pemikiran akan pentingnya memiliki satu sembahan saja.

Manusia pada zaman ini mulai menghargai pentingnya logika dan mulai berpikir bahwa jika ada dua t>han atau lebih nan memimpin global ini, maka global tak akan sebaik nan mereka alami saat itu. Oleh karena itu, mereka dengan berbagai anggapan dan pengharapan, lantas membuat satu citraan mengenai Tuhan nan cocok buat mereka sembah. Dengan kata lain, hanya ada satu Tuhan nan berkuasa di antara beberapa Tuhan nan mereka ciptakan.



Fase Monoteisme

Setelah melalui proses henoteisme lahirlah monoteisme, yaitu penyembahan terhadap satu Tuhan. Dari tiga nan satu, proses kepercayaan itu mengerucut menjadi Yang Satu atau Yang Tunggal. Dengan demikian, menurut tinjauan ilmu budaya, perkembangan konsep ketuhanan itu bersifat evolusi, seperti halnya nan terjadi pada proses kejadian manusia dan alam.

Hipotesis ini tentu saja mendapat banyak sanggahan sebab pada kenyataannya, khususnya pada agama-agama wahyu semacam Yahudi, Nasrani, Islam, konsep ketuhanan nan monoteisme tak bersifat evolusi. Tuhan mengutus para nabi dengan membawa pesan buat mengesakan-Nya.

Dengan demikian, sampai pada henoteisme atau setidaknya monoteisme praktis -menyembah satu dewa, namun masih mengakui dewa-dewa lainnya- proses evolusi itu terjadi. Adapun lahirnya monoteisme mutlak, seperti halnya Islam, proses evolusi tersebut tak terjadi. Sebaliknya, nan terjadi ialah proses revolusi ketika Tuhan mengutus Nabi kepada masyarakat penganut politeisme atau henoteisme.



Patung Syiwa dalam Fase Perkembangan Kepercayaan Manusia

Dalam beberapa massa, terutama di Indonesia, kepercayaan Hindu memiliki peranan krusial dalam perkembangan kebudayaan dan agama. Dengan hadirnya agama Hindu, maka hadir pula kepercayaan mengenai kekuatan Dewa Syiwa nan mampu mengubah berbagai kerusakan di bumi ini menjadi hikmah nan besar bagi umat manusia.

Dengan diukirnya patung Syiwa, masyarakat Hindu di Indonesia mulai percaya pada satu bagian fase kehidupan nan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia. Salah satu kejadian besar nan mereka percaya ialah kerusakan nan sewaktu-waktu akan terjadi sebab ulah dan kesalahan manusia itu sendiri.

Hal tersebut akan memberikan dua akibat bagi kehidupan manusia, yakni akibat baik dan akibat buruk. Kerusakan nan dimunculkan tersebut akan mengubah jalan hayati sebagian orang menjadi lebih baik, namun membuat sebagian orang nan lain justru menjadi lebih buruk.

Dua kemungkinan tersebut ialah salah satu bukti bahwa kehidupan selalu memiliki taraf oposisi nan saling antagonis dan saling bersaing satu sama lain. Kepercayaan terhadap Dewa Syiwa ini kemudian menjadikan umat Hindu menjadi lebih percaya terhadap kekuatan patung Syiwa nan mereka sembah selama ini.

Lantas, seiring berjalannya waktu, muncullah agama-agama lain nan juga membawa misi serupa buat mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan ini. baik Budha, Kristen, maupun Islam semuanya mengajarkan bahwa kerusakan ulah manusia memang benar-benar akan terjadi. Hal nan sering disebut sebagai kiamat itu akan mengubah jalan hayati manusia, menurut kodrat dan keyakinan masing-masing dari manusia itu sendiri.