Tokoh Sumpah Pemuda

Tokoh Sumpah Pemuda

Menatap gambar tokoh Sumpah Pemuda nan terpampang, baik di dinding sebuah gedung, di buku ataupun media baca lainnya harusnya membangkitkan semangat historis dan konvoi akan pentingnya kebersamaan dan persatuan. Betapa tidak, ada pesan mendalam dari peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda.

Saat itu, para pemuda tidak implisit sedikit pun buat memikirkan kepentingan diri, kelompok, suku, ataupun agama. Yang ada hanya satu kekuatan buat mengikrarkan satu kesatuan bernama Indonesia. Pikirannya jauh ke depan, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Intinya menjadi satu kesatuan dalam bangsa berdikari nan bebas dari penjajahan.

Tentunya, semangat tersebut harus direpleksikan secara nyata dalam perbedaan makna kekinian. Semangat nan harus terus berkobar bagaimana para pemuda berjiwa buat menjaga keutuhan kedaulatan negara. Tidak akan merasa nyaman manakala ada sejengkal pun tanah nan lepas dari wilayah Indonesia.

Semangat lainnya nan harus terus terpatri ialah bagaimana agar mampu mengukir prestasi dan berkarya untuk bangsa. Untuk selanjutnya, dapat berkontribusi dalam mendorong terciptanya kesejahteraan masyarakat nan berkeadilan dan bermartabat.
Karenanya, sangat bertolak belakang dengan semangat Sumpah Pemuda, ketika masih kerap terjadi perkelahian antarwarga, perkelahian antardesa, tawuran pelajar atau mahasiswa, dan konduite korupsi nan melanda tokoh muda.



Pencetus Kongres Pemuda

Pada 30 April-2 Mei 1926 digelar Kongres Pemuda. Kongres nan digagas dan diketuai oleh Mohammad Tabrani Soerjowitjitro ini menyepakati kegiatan pemuda, terutama diarahkan pada bidang sosial, ekonomi , dan budaya.

Sebelumnya, pada 15 November 1925 dilaksanakan rendezvous buat membahas aplikasi Kongres Pemuda I, di Gedung Lux Orientis, Jakarta. Rendezvous dihadiri oleh organisasi Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen. Tabrani sendiri dari Jong Java. Ada juga nan hadir secara perorangan.

Pada akhir rendezvous disepakati buat menyusun panitia Kongres Pemuda I. Tujuannya menumbuhkan semangat kebersamaan di antara organisasi pemuda di Tanah Air. Selain itu, menyusun landasan pokok berdirinya persatuan Indonesia di kancah bangsa-bangsa di dunia.

Ditetapkanlah sepuluh orang panitia kongres nan diketuai oleh Tabrani. Jajaran panitia lainnya Bahder Djohan, Jan Toule Soulehuwij, Sumarto, dan Paul Pinontoan. Sementara, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara dijabat oleh Sumarto, Djamaludin (Adinegoro), dan Suwarso.

Persoalan nan dibahas pada kongres antara lain masalah kedudukan wanita nan dipaparkan oleh Djamaludin mewakili Bahder Djohan sebab terlambat datang dari Bandung. Sementara, Paul Pinontoan mengetengahkan peranan agama. Terkait dengan bahasa dipaparkan oleh Muhammad Yamin, ada dua alternatif peluang bahasa persatuan nan disodorkan, yaitu bahasa Jawa atau bahasa Melayu .

Yamin sendiri meyakini bahasa Melayu akan lebih berkembang. Peserta kongres pun tampaknya sepakat. Hanya saja, Tabrani tak sependapat. Tabrani menginginkan ditetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Walaupun unsur-unsurnya bahasa Melayu. Pendapat tersebut dapat diterima oleh Yamin dan juga Djamaludin.
Akhirnya, kongres menetapkan masalah bahasa persatuan akan dikemukakan pada Kongres Pemuda II. Secara umum, Kongres Pemuda I menekankan akan pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda. Sayangnya, pada kongres kedua, Tabrani dan Djamaludin tak dapat mengikuti sebab tengah di luar negeri.



Sumpah Pemuda

Dalam gambar tokoh Sumpah Pemuda sebagai tindak lanjut Kongres Pemuda I, pada 20 Februari 1927 diadakan pertemuan. Namun, rendezvous tersebut tak mencapai kesepakatan bersama. Selanjutnya, pada 3 Mei 1928 digelar rendezvous kembali nan dilanjutkan pada tanggal 12 Agustus 1928. Rendezvous nan dihadiri oleh seluruh organisasi pemuda ini memutuskan waktu aplikasi Kongres Pemuda II pada Oktober 1928 dan membentuk panitia.

Berikut ini susunan panitia Kongres Pemuda II.

  1. Ketua Sugondo Djojopuspito (PPPI)
  2. Wakil Ketua R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
  3. Sekretaris Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
  4. Bendahara Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
  5. Pembantu I Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
  6. Pembantu II R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
  7. Pembantu III R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
  8. Pembantu IV Johannes Leimena (Jong Ambon)
  9. Pembantu V Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

Gagasan Kongres Pemuda II menggelinding dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi pemuda nan dibentuk tahun 1926. Anggotanya para pelajar seluruh Indonesia. Atas prakarsa PPPI juga, kongres digelar di tiga gedung berbeda, yaitu pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta.

Kongres dihadiri oleh utusan dari organisasi pemuda, perorangan, organisasi orang dewasa, anggota Volkstraad, dan sebagainya. Sedikitnya, 750 orang hadir pada kongres nan dikawal ketat polisi Belanda ini.

Rapat pertama, Kongres Pemuda II dilaksanakan Sabtu 27 Oktober 1928. Tempatnya di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein, kini terkenal dengan nama Lapangan Banteng. Pada kesempatan itu, Ketua PPPI Sugondo Djojopuspito menegaskan agar kongres dapat memberikan kekuatan menuju persatuan para pemuda. Lalu, Moehammad Yamin menuraikan persatuan dan pemuda. Menurutnya, faktor sejarah, hukum adat, pendidikan, bahasa, dan kemauan bisa memperkuat persatuan.

Masalah pendidikan dibahas pada kedap kedua, hari Minggu, 28 Oktober 1928. Tempatnya di Gedung Oost-Java Bioscoop. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menjadi pembicara. Keduanya berpendapat pentingnya pendidikan kebangsaan dan masalah demokratis bagi anak.

Lalu, kedap epilog dilaksanakan di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106. Saat itu, Sunario menegaskan di samping gerakan kepanduan, betapa pentingnya demokrasi dan nasionalisme. Sementara, Ramelan mengemukakan bahwa gerakan kepanduan dan konvoi nasional tak bisa dipisahkan.

Sebelum ditutup, lagu "Indonesia Raya" dikumandangkan. Lagu karya Wage Rudolf Supratman tersebut, dimainkan secara instrumentalia dengan biola. Peserta kongres menyambut antusias. Selanjutnya, disampaikan rumusan hasil akhir kongres, nan diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Inilah keputusan terpenting kongres: pengakuan serta janji setia segenap organisasi pemuda untuk: “Berbangsa Satu, Bertanah Air Satu, dan Berbahasa Persatuan Satu, yakni Indonesia”. Keputusan nan dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928 ini dan dikenal dengan Sumpah Pemuda.



Tokoh Sumpah Pemuda

1. Soenario

Soenario merupakan seorang pengacara nan sangat aktif dalam membela para aktivis nan berjuang buat kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajah. Dalam acara itu, dia bertugas sebagai penasihat panitia serta sebagai pembicara.



2. J. Leimena

J. Leimena ialah mahasiswa nan berperan sebagai aktivis, juga ketua organisasi Jong Ambon, dan tergabung dalam panitia kongres.



3. Soegondo Djojopoespito

Ketua panitia kongres. Aktivis pendidikan, nan tinggal atau kost di rumah Ki Hajar Dewantara.



4. Djoko Marsaid

Wakil ketua panitia kongres, ketua Organisasi Jong Java.



5. M. Yamin

Penyair, aktivis nan menginginkan bahasa Indonesia buat dijadikan bahasa nasional pada Kongres Pemuda.



6. Amir Sjarifudin

Aktivis anti-Jepang, perwakilan dari Jong Batak.



7. W.R. Supratman

Wartawan juga pengarang nan mengalunkan instrumentalia lagu Indonesia Raya pada kongres.



8. S. Mangoensarkoro

Tokoh bangsa, selalu menekankan pentingnya pendidikan.



9. Karto Soewirjo

Aktivis Jong Islamieten Bond. Setelah Indonesia merdeka, memimpin pemberontakan buat mendirikan Negara Islam di Indonesia.



10. Kasman Singodimedjo

Perinitis Pramuka dan ‘bidan’ lahirnya Tentara Nasional Indonesia.



11. Moh. Roem

Aktivis pemuda dan mahasiswa hukum. Ia terbakar nasionalismenya sebab diperlakukan diskriminatif pada sekolah Belanda .



12. A. K. Gani

Aktivis pemuda dari Organisasi Jong Sumatra Bond.



13. Sie Kong Liong

Pemilik rumah di Jalan Kramat Raya, loka diadakannya kongres nan kini jadi museum.

Nah, itulah klarifikasi mengenai gambar tokoh Sumpah Pemuda. Semoga klarifikasi nan disampaikan bermanfaat bagi Anda.