Gunung Tangkuban Parahu Meletus Terakhir pada 1910

Gunung Tangkuban Parahu Meletus Terakhir pada 1910

Dalam cerita rakyat ( folklore ), kita sering menemukan mitos nan berkembang di dalamnya. Kita ambil contoh mitos nan tumbuh dalam kisah Gunung Tangkuban Parahu . Dikisahkan bahwa Gunung Tanghkuban Parahu merupakan artefak atau peninggalan dari kemarahan Sangkuriang, tokoh di balik mitos Gunung Tangkuban Parahu. Ketika Sangkuriang ditantang Dayang Sumbi buat membangun danau dan bahtera selama satu malam, proyek itu gagal dilakukan Sangkuriang.

Alhasil, Sangkuriang marah dan merasa kesal. Untuk melampiaskan kemarahannya, Sangkuriang menendang bahtera nan ia untuk hingga tertelungkup. Dalam bahasa Sunda, tertelungkup artinya nangkuban . Nama gunung itu diambil dari bahasa Sunda nangkuban sehingga menjadi t angkuban yang berarti ‘sesuatu nan tertelungkup’.



Gunung Tangkuban Parahu - Mitos Sebagai Cara Menjelaskan Sesuatu

Mengapa di masyarakat dahulu sering beredar mitos? Jangan salah, mitos ialah cara orang-orang zaman dahulu buat menjelaskan sesuatu. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan saat itu, mereka membuat cerita-cerita buat menjelaskan sesuatu. Mitos itu kemudian diceritakan secara turun-temurun hingga sampailah kepada kita.

Mitos bukan sekadar cerita. Di dalam mitos, biasanya tersimpan pesan moral buat pendidikan generasi ke generasi. Ketika berkunjung ke suatu daerah dan menyaksikan sesuatu nan asing bagi Anda, cobalah tanyakan mitos nan berkembang di daerah tersebut pada zaman dahulu. Biasanya, setiap daerah memiliki mitos masing-masing buat menjelaskan Norma mereka.



1. Mitos di Eropa

Mitos bukan hanya terdapat di Inodesia, Eropa nan kita kenal sekarang sangat modern pun tak lepas dari mitos. Sebut saja, Yunani. Selain dikenal dengan bangsa “pemasok” para filsuf di dunia, Yunani dikenal dengan sebutan Negeri Para Dewa. Kenyataan alam nan terjadi pada zaman Yunani antik seringkali dikait-kaitkan dengan kepercayaan mereka terhadap dewa. Entah itu dewa kesuburan, dewa cinta, atau dewa kemurkaan.

Angka juga tak lepas dari persepsi mitos. Hingga saat ini, masyarakat kebudayaan Barat masih mempercayai angka 13 sebagai angka sial.



2. Mitos Menurut Comte

Menurut August Comte (seorang filsuf), mitos tak lain merupakan corak berpikir gaya tradisional manusia. Di dalam corak mitologi, kekuatan-kekuatan di luar manusia seringkali dijadikan sandaran dalam segala segi kehidupan. Ada orang nan percaya terhadap kekuatan makhluk mistik (animisme), ada nan percaya terhadap alam dan nenek moyang (dinamisme), dan ada pula nan percaya terhadap kekuatan nan tidak terlihat atau kekuatan ruh (spiritualisme).

Comte melihat perkembangan mitos ini membunuh potensi manusia sebagai makhluk nan rasional. Oleh sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa dalam pandangan Comte, mitos sama sekali bukan rasionalitas manusia. Selanjutnya, Comte mambagi sejarah pemikiran manusia menjadi tiga tahap; termin mitos, termin filsafat, dan termin sains.

Pada termin kedua (filsafat), manusia sudah mulai mengembangkan cara berpikir logis dan teratur. Namun, termin ini belum cukup pada strata nan lebih penting, yakni dominasi atas alam. Oleh sebab itu, sains dibutuhkan sebagai termin terakhir buat menguasai alam ataupun menjawab kenyataan alam.



Gunung Tangkuban Parahu Menurut Sains

Sains tak memandang Gunung Tangkuban Parahu sebagai produk wacana mitos. Jika ada seorang ilmuwan memandang gunung tersebut, mungkin pertanyaan nan akan muncul ialah proses apa nan menyebabkan gunung itu tercipta, kandungan apa nan ada di dalam gunung tersebut, atau aktif tidaknya gunung itu.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, mitos Gunung Tangkuban Parahu hingga kini masih tetap bertahan. Sebagian orang mungkin menggemarinya sebagai sebuah kisah kolosal atau sebagian lain memandang bahwa mitos tersebut masih perlu dipertahankan sebab berfungsi sebagai alat budaya.

Jadi, ketika berkunjung ke Gunung Tangkuban Parahu, Anda bukan hanya menikmati pemandangan indah, melainkan mendapat pengetahuan nan baru buat diceritakan kepada teman, keluarga, atau saudara-saudara Anda. Lengkapilah wisata Anda dengan informasi-informasi di seputar loka wisata nan dikunjungi agar wisata menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Bagi nan belum pernah ke Gunung Tangkuban Parahu di Lembang, Jawa Barat, Anda tak perlu khawatir. Perjalanannya hanya ditempuh kurang lebih satu jam dari pusat Kota Bandung. Dengan menggunakan kendaraan generik jurusan Lembang, Anda sudah bisa menikmati estetika nan disajikan oleh alam ini.



Gunung Tangkuban Parahu Meletus Terakhir pada 1910

Pada 2005, status Gunung Tangkuban Parahau di Lembang, Bandung, Jawa Barat, sempat dinaikkan menjadi siaga sebab aktivitas Gunung Tangkuban Parahu ini mengalami kenaikan. Sebagai informasi tambahan, Gunung Tangkuban Parahu ini terakhir kali meletus pada 1910.

Gejala-gejala akan meletusnya kembali Gunung Tangkuban Parahu pada 2005 ditandai dengan terjadinya 100 kali gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam di Gunung Tangkuban Parahu pada saat itu. Kekuatan gempa ketika itu sekitar 2 SR. Pada saat status normal, gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam hanya terjadi 2-7 kali.

Karena sering terjadi gempa, loka wisata Gunung Tangkuban Parahu ini sempat ditutup buat generik sehingga para wisatawan dilarang memasuki daerah wisata ini. Meskipun gempa nan terjadi dapat dikatakan berukuran kecil, tetap saja menimbulkan kekhawatiran kawah-kawah di sekitar Gunung Tangkuban Parahu mengeluarkan gas beracun.



Gunung Tangkuban Parahu - Gunung Berapi Tipe A

Gunung Tangkuban Parahu berada sekitar 30km utara Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, nan berbatasn dengan Kabupaten Subang. Gunung Tangkuban Parahu memiliki bentuk seperti trapesium terpancung dan lebih populer berbentuk seperti bahtera terbalik.

Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Barat dan masuk dalam gunung berapi tipe A, yaitu gunung ini sempat meletus dalam 400 tahun terakhir sehingga perlu dilakukan supervisi nan rutin. Tinggi Gunung Tangkuban Parahu ialah sekitar 2.084 meter di atas permukaan laut.

Sejumlah data memperlihatkan bahwa Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi pada tanggal 4-7 April 1829. Ketika itu, letusan abu keluar terus menerus nan bersumber dari pusat erupsi Kaldera Ratu dan Kaldera samping Domas. Pada 1846, terjadi lagi erupsi di Kaldera Ratu. Kemudian, terjadi letusan freaticdan terbentukilah Kaldera Baru pada 1896. Letusan terakhir Gunung Tangkuban Parahu terjadi pada 1910 di dalam Kaldera Ratu sehingga menghasilkan skorea dan abu.

Pada abad ke-18, Gunung Tangkuban Parahu mengeluarkan material lepas dengam jumlah nan besar ke arah barat daya seperti genre lumpur. Karena jumlahnya sangat banyak, muntahan material gunung ini mampu menutupi lembah Sungai Citarum dan membendung genre sungai. Pada akhirnya, terbentuklah danau nan ada di ketinggian 720 meter dari permukaan bahari atau kira-kira sebesar Danau Toba di Sumatera Utara.

Semua daerah di selatan Kota Bandung ketika itu terendam air. Saat ini, tepian bekas danau tua ini masih dapat dijumpai. Tingginya intensitas letusan nan berlangsung dalam kurun waktu 1,5 abad tersebut, membuat Gunung Tangkuban Parahu memiliki banyak kawah. Sebagian kawahnya mengeluarkan bau asap belerang, behkan ada pula kaldera nan mengeluarkan asap beracun.

Gunung Tangkuban Parahu bukanlah gunung barah satu-satunya nan bertipe A. Ada beberapa gunung lainnya nan bertipe sama dengan Gunung Tangkuban Parahu, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Galunggung, dan Gunung Ciremai.