Kecelakaan Sriwijaya Airline

Kecelakaan Sriwijaya Airline

Sriwijaya Airline mulai ikut memarakkan bisnis penerbangan di Indonesia pada penghujung 2003. Luasnya wilayah Indonesia dengan 13.000 pulau dan jumlah penduduk nan mendekati seperempat miliar jiwa merupakan potensi pasar nan empuk bagi bisnis ini. Berangkat dari luasnya peluang inilah, Chandra Lie, Lie Hendri, Andi Halim, dan Fandy Lingga mendirikan maskapai penerbangan Sriwijaya Airline.

Setelah mengantongi AOC ( Air Operation Certificate ) dari Departemen Perhubungan RI pada 28 Oktober 2003, Sriwijaya Airline melakukan penerbangan perdananya pada 10 November 2003 dengan melayani rute Jakarta - Pangkal Pinang. Selanjutnya, Sriwijaya Airline makin memperbanyak rute penerbangannya dengan menambahkan rute Jakarta - Pontianak dan Jakarta - Palembang.

Sriwijaya Airline mengalami pertumbuhan signifikan sejak tahun pertama. Para pendiri Sriwijaya Airline meyakini bahwa berhasil itu tidak lepas dari spirit nama Sriwijaya Airline nan diambil dari nama besar Kerajaan Sriwijaya di Sumatra nan dapat menyatukan seluruh wilayah di Indonesia. Dengan menggunakan nama nan sama, Sriwijaya Airline bertekad buat bisa menghubungkan semua wilayah di Indonesia.

Hingga saat ini, Sriwijaya Airline memiliki 200 penerbangan setiap harinya. Pada tahun 2011, Sriwijaya Airline tercatat telah mengangkut lebih dari 8 juta penumpang. Dengan perkembangan bisnis nan demikian, Sriwijaya Airline telah sukses menguasai 12,5% pasar penerbangan domestik Indonesia dalam kurun satu dekade.



Armada dan Penghargaan Sriwijaya Airline

Sriwijaya Airline mengawali bisnisnya dengan mengoperasikan 13 unit pesawat terbang Boeing 737-200 buat melayani rute domestik. Manajemen Sriwijaya Airline melihat bahwa jenis pesawat ini cocok digunakan buat wilayah Indonesia dan sinkron dengan daya dukung bandara-bandara nan ada di Indonesia. Selain menggunakan pesawat Boeing 737-200, Sriwijaya Airline selanjutnya juga mengoperasikan pesawat Boeing 737-300 dan 737-400

Seiring dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan dan kepentingan buat bisa memenuhi pelayanan nan lebih baik, Sriwijaya Airline menambah jumlah armada dan memperluas jangkauan wilayah penerbangannya. Kali ini, Sriwijaya Airline menambah 10 unit pesawat terbang jenis Boeing 737 - 400 dan 737 - 800 NG nan teknologinya lebih maju buat melayani rute domestik serta internasional.

Untuk memenuhi kebutuhan peremajaan armada pesawat terbangnya, Sriwijaya Airline saat ini juga sudah memesan 20 unit pesawat terbang Embraer 175 dan 195 buat menggantikan Boeing 737-200 nan akan segera dipensiunkan. Pesawat-pesawat Embraer ini selanjutnya akan melayani rute domestik Sriwijaya Airline nan sebelumnya dilayani oleh Boeing 737-200.

Sebagai perusahaan penerbangan nan berkomitmen pada pelayanan maksimal buat pelanggannya, Sriwijaya Airline selalu berusaha menggunakan armada-armada nan layak terbang. Selain menggunakan pesawat jenis terbaru, Sriwijaya Airline juga melakukan perawatan intensif kepada armada pesawatnya.

Tidak mengherankan, pada 2007 lalu, Sriwijaya Airline menerima penghargaan " The Boeing International Award for Safety and Maintenance of aircraft ."" Pada tahun nan sama, Pertamina juga memberikan penghargaan " Aviation Customer Partnership Award "" kepada Sriwijaya Airlline. Penghargaan ini diberikan Pertamina kepada maskapai penerbangan nan tak pernah melalaikan kewajibannya buat membayar bahan bakar nan telah dipergunakan.

Perusahaan konsultan pemasaran terbesar di Indonesia, Mark Plus & Co, juga memberikan penghargaan kepada Sriwijaya Airline pada 2008. Penghargaan ini diberikan buat dedikasinya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya.



Kota Tujuan Sriwijaya Airline

Sriwijaya Airline nan mengantongi kode penerbangan SJ dari IATA dan SJY dari ICAO, selain melayani rute domestik juga melayani rute internasional. Rute Internasional perdana nan dilayani Sriwijaya Airline ialah Singapura nan terbang perdana pada 18 Desember 2008. Selain Singapura, Sriwijaya Airline juga singgah di Penang dan Kuala Lumpur (Malaysia) serta Dili (Timor Leste).

Untuk memperluas jangkauan terbang pada rute internasionalnya, pada September 2012 mendatang Sriwijaya Airline berencana membuka penerbangan pada beberapa kota di Australia dan Cina. Rute internasional baru ini nantinya akan dilayani oleh pesawat Boeing 737-800 NG.

Komitmen Sriwijaya Airline buat bisa menghubungkan semua wilayah di Indonesia ditandai dengan semakin luasnya cakupan rute domestik nan dimiliki Sriwijaya Air. Pada saat ini Sriwijaya Airline melayani rute penerbangan di enam kawasan wilayah Indonesia meliputi kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku.

  1. Di Sumatra, Sriwijaya Airline memiliki rute penerbangan di dua belas kota, yaitu Banda Aceh, Batam, Bengkulu, Lampung, Jambi, Medan, Padang, Palembang, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Tanjung Pandan, dan Tanjungpinang.

  2. Di Jawa, Sriwijaya Airline memiliki rute penerbangan di tujuh kota, yaitu Bandung, Jakarta, Malang, Semarang, Solo, Surabaya, dan Yogyakarta.

  3. Di Kalimantan, Sriwijaya Airline memiliki rute penerbangan di enam kota, yaitu Balikpapan, Banjarmasin, Berau, Palangkaraya, Pontianak, dan Tarakan.

  4. Di Sulawesi, Sriwijaya Airline memiliki rute penerbangan di lima kota, yaitu Gorontalo, Kendari, Manado, Palu, dan Makassar.

  5. Di Bali - Nusa Tenggara, Sriwijaya Airline memiliki rute penerbangan di dua kota, yaitu Denpasar dan Kupang.

  6. Sriwijaya Airline juga memiliki rute penerbangan nan melayani dua kota di Maluku, yaitu Ambon dan Ternate.

Pada 2012, rute domestik Sriwijaya Airline juga akan diperluas agar dapat melayani penerbangan menuju kota-kota di Papua. Untuk itu, pihak Sriwijaya Airline sudah memesan pesawat Embraer buat melayani rute penerbangan di Papua.



Kecelakaan Sriwijaya Airline

Walaupun bukan maskapai penerbangan nan tak memiliki predikat zero accident , Sriwijaya Airline tetaplah dapat disebut sebagai maskapai penerbangan nan kondusif dan memperhatikan keselamatan penumpang. Kepedulian terhadap keamanan dan keselamatan penumpang inilah nan menyebabkan Sriwijaya Airline sukses dimasukkan dalam kategori 1 buat kualitas keselamatan penerbangan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia.

Selain melakukan perawatan intensif dan peremajaan terhadap armada pesawatnya, Sriwijaya Airline juga merekrut awak pesawat nan memang memiliki kemampuan mengoperasikan pesawat terbang secara optimal. Rata-rata jam terbang pilot Sriwijaya Airline di atas 10.000 jam terbang, sedangkan co pilot diatas 5.000 jam terbang.

Namun demikian, setidaknya tercatat dua kecelakaan nan menimpa Sriwijaya Airline dan keduanya terjadi ketika pesawat sedang mendarat dan tergelincir. Kecelakaan nan dialami Sriwijaya Airline tersebut tak menimbulkan korban jiwa bagi penumpang dan awak pesawatnya.

Kecelakaan pertama terjadi pada 27 Agustus 2008 di Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, sekira pukul 16.00 WIB. Kala itu pesawat Sriwijaya Airline tujuan Jakarta-Jambi tergelincir ketika mendarat hingga keluar landasan. Pesawat jenis Boeing 737-200 dengan nomor penerbangan PK-CJG 062 tersebut akhirnya berhenti di kebun sayur penduduk. Kecelakaan ini terjadi pada saat Bandara Sultan Thaha Syaifuddin sedang diguyur hujan.

Permukaan landasan nan licin dan ada masalah dengan sistem pengereman pesawat Sriwijaya Airline diduga sebagai penyebab dari musibah ini. Dampak kecelakaan ini, tercatat 18 orang mengalami luka-luka termasuk tiga orang petani nan tengah berada di kebun.

Kecelakaan berikutnya terjadi pada 20 Desember 2011 lalu. Pada saat itu, pesawat Sriwijaya Airline dengan nomor penerbangan SJ 230 PK CKN rute Jakarta-Yogyakarta-Balikpapan mengalami kecelakaan di ujung runaway 27 Bandara Adisucipto. Pesawat naas tersebut mengangkut sekira 139 penumpang dan lima orang dilaporkan mengalami luka ringan.

Saksi mata nan melihat kejadian menyatakan bahwa pada saat itu Bandara Adi Sucipto sedang diguyur hujan lebat. Dari arah barat pesawat Sriwijaya Airline melaju dengan kecepatan tinggi dan sempat terguncang sebelum mendarat. Beberapa saat setelah menyentuh landasan sempat terlihat ada benda nan terpental dari pesawat dan akhirnya pesawat berbelok mengarah ke rerumputan di ujung landas pacu.