Koes Plus - Barometer Prestasi Musik Indonesia

Koes Plus - Barometer Prestasi Musik Indonesia

Bagi para generasi muda nan hayati tahun 60-an tentu tidak akan asing lagi dengan grup musik Koes Plus . Grup musik ini memang sampai saat ini masih ada meskipun personelnya tidak lengkap lagi sebab tutup usia. Awalnya, Koes Plus bernama Koes Bersaudara nan berdiri pada 1962.

Koes Plus terdiri atas lima putra Koeswojo nan berasal dari Tuban, Jawa Timur. Mereka ialah Koesdjono (John Koeswojo), Koestono (Tonny Koeswojo), Koesnomo (Nomo Koeswojo), Koesjono (Yon Koeswojo), dan Koesrojo (Yok Koeswojo).

Apa pun nan dibuat Koes Plus pada zamannya selalu hits . Lagu-lagu mereka selalu hits di mana-mana. Pada saat itu, Koes Plus ialah kelompok musik nan benar-benar berkonotasi plus, baik dalam karya, kreativitas maupun produktivitas. Awalnya nama grup musik Koes Plus ialah Koes Bersaudara nan merupakan pelopor era nge -band di Indonesia.

Pada saat itu, hampir semua penyanyi di Indonesia selalu membawakan karya cipta orang lain. Hal ini nan membuat Tonny menggagas agar Koes Bersaudara menciptakan lagu sendiri dan merekamnya. Single " Senja ", " Telaga Sunyi ", dan " Bis Sekolah " pun tercipta dan berhasil di pasaran sehingga menjadikan mereka ialah grup musik tanah air pertama nan berhasil rekaman.

Sayangnya, oleh penguasa saat itu, lagu-lagu Koes Bersaudara dianggap kebarat-baratan, rock n roll , musik ngak ngik ngok (istilah penguasa orla), tak patriotik, anti revolusi, dan apolitis. Padahal saat itu banyak juga band Indonesia nan menyanyikan lagu grup asing. Pada dasa warsa 1960-an, global musik memang sangat dipengaruhi oleh grup revolusioner dari Inggris, The Beatles.

Koes Bersaudara kemudian ditangkap dan dijebloskan dalam penjara pada 1965. Namun, di dalam penjara, kreativitas mereka tetap ada. Banyak hits nan diciptakan di balik penjara seperti " To the so Called the Guilties ", " Di dalam Bui ", " Mengapa Hari Telah Gelap ", " Lagu Sendiri " dan lainnya. Setelah tiga bulan, mereka dibebaskan dari penjara.



Koes Bersaudara Berubah Koes Plus

Koes Bersaudara semakin tenar, tetapi keadaan Indonesia saat itu sedang kacau. Masa Orde Baru dimulai. Perekonomian Indonesia sedang sulit-sulitnya membuat grup musik ini pun kehilangan penghasilan. Nomo, merasakan hal nan berat dan memutuskan keluar dari grup Koes Bersaudara.

Posisi Nomo Koeswojo sebagai drummer digantikan oleh Murry, drummer muda asal Jawa Timur. Hal ini bukan hanya mengubah formasi nan kemudian memberi inspirasi bagi Tonny menemukan nama baru Koes Plus, tapi juga menciptakan style dan rona musik nan lain dari Koes Bersaudara.

Nama Koes Plus muncul pada 1968 setelah Koes Bersaudara vakum sementara waktu sebab Nomo Koeswojo, sang pemain drum, mengundurkan diri. Tiga saudara Koeswojo lainnya, Tonny Koeswojo (gitar, kibor, vokal), Yon Koeswojo (vokal, gitar), dan Yok Koeswojo (vokal, bas) sepakat meneruskan karier bermusik mereka nan telah mereka rintis sejak tahun 1960-an.

Tidak mudah bagi Koes Plus buat memikat penggemar Koes Bersaudara. Ini terbukti dengan album volume pertama Koes Plus nan memamerkan kerasnya pukulan drum Murry, kurang bergaung di pasaran. Namun, hal tersebut tak bertahan lama. Popularitas Koes Plus kembali naik setelah mereka tampil di Istora Senayan membawakan lagu-lagu kreasi sendiri.

Lagu-lagu Koes Plus volume I langsung laris terjual, berlanjut dengan volume II nan antara lain berisi lagu " Kisah Sedih di Hari Minggu ", " Cintamu Tlah Berlalu ", " Pencuri Hatiku ", " Bunga di Tepi Jalan ". Di volume II ini Koes Plus mengeluarkan lagu pertama nan berlirik Inggris " Why Do You Love Me ". Lagu-lagu Koes Plus mulai booming di penjuru Indonesia. Semua orang terkena endemi Koes Plus. Hampir sebagian orang akan menyanyikan lagu-lagu Koes Plus setiap hari.



Kontrak Rekaman Koes Plus

Seiring dengan menanjaknya karier musik Koes Plus di belantika musik Indonesia, sejumlah perusahaan rekaman mengantre agar Koes Plus mau rekaman dan di loka mereka. Kontrak rekaman Koes Plus dengan Dimita Moulding Ltd hanya mencapai delapan album.

Awal 1973, perusahaan rekaman Remaco menawari Koes Plus rekaman menggunakan teknologi rekam lebih modern. Kesuksesan Koes Plus kembali terulang saat mereka meluncurkan album Volume 8 dengan lagu andalan " Kolam Susu " karya Yok Koeswojo.

Sekitar 14 album bernuansa Pop nan kental sudah dirilis oleh Koes Plus. Berbagai tema lagu disajikan secara populer, bahkan banyak nan menjadi hits dan digandrungi oleh para penggemarnya. Lagu-lagu nan menjadi hits di antaranya " Diana ", " Bujangan ", " Kota Lama ", " Anak Manja ", " Tangis di Hatiku ", dan masih banyak lagi lagu lainnya.

Koes Plus pun jeli membuat album-album khusus. Misalnya album pop keroncong sebanyak empat buah. Beberapa lagunya nan terkenal berjudul " Kr. Penyanyi ", " Kr. Betawi ", " Surat Pertama ". Selain itu, Koes Plus pun membuat album Pop Jawa hingga empat Volume. Beberapa hits -nya ialah " Tul Jaenak ", " Jo Podo Nelongso ", " Ojo Ngono ". Bahkan, Koes Plus pun membuat sembilan album Pop Melayu.

Kreativitas dan produktivitas Koes Plus semakin menjadi. Mereka mengekplorasi kemampuannya dengan mengeluarkan album dengan judul-judul nan saat itu tak lazim digunakan. Misalnya, Pop Anak-anak, Pop Melayu, Pop Jawa, Pop Kroncong, In Concert, In Folk Song, In Hard Beat, hingga Christmas, dan Pop Qosidah .

Para penggemar Koes Plus semakin bertambah seiring kepiawaian mereka dalam bermusik. Lagu-lagu Koes Plus nan berlirik sederhana, komunikatif, dan melodius membuat orang awam pun dapat menikmati musik mereka. Selain itu, lirik lagu mereka mudah dinyanyikan dengan chord gitar nan gampang dimainkan sehingga pemusik pemula pun dapat memainkannya.



Koes Plus - Barometer Prestasi Musik Indonesia

Tidak dapat dipungkiri, sejak tahun 1960-an hingga awal 1990-an, Koes Plus masih menancapkan tajinya di industri musik Indonesia. Bagaimana pun harus diakui, suatu prestasi nan hebat bagi sebuah grup musik, ketika Koes Plus sukses merilis sekitar 20 album di tahun 1974 dengan berbagai tema, corak, warna, dan gaya. Itu belum termasuk kreativitas Koes Plus mengiringi penyanyi lain, juga rekaman versi bahasa Indonesia buat album-album Koes Plus Pop Jawa.

Popularitas Koes Plus (1973-1977) dikukuhkan oleh penobatan mereka sebagai grup musik pilihan pendengar hasil polling majalah musik "Aktuil" dan hasil angket nan diselenggarakan Puspen ABRI. Koes Plus benar-benar telah menjadi barometer prestasi musik Indonesia. Terbukti dengan mendapatkannya Golden Record sebanyak 15 kali setiap meluncurkan album-album terbaru.

Popularitas Koes Plus meredup di tahun 1977 dengan banyak hadirnya penyanyi solo di Indonesia. Selain itu, mulai munculnya pemusik baru seperti Chrisye, Guruh Soekarno Putra, Gombloh, Iwan Fals, Vina Panduwinata, hingga Ebiet G. Ade.

Koes Plus semakin redup pamornya ketika motor Koes Plus, Tonny Koeswojo meninggal global pada 27 Maret 1987 dampak penyakit kanker usus nan dideritanya sejak empat tahun sebelumnya. Sejak itu, anggota Koes Plus lainnya seperti ayam kehilangan induk. Yon, Yok, dan Murry bukan tanpa usaha menghidupkan kembali kejayaan Koes Plus. Namun, sepertinya waktu tidak mengizinkan mereka kembali populer.

Dekade 1990-an, Koes Plus tampil di beberapa anjung besar dan pentas di hotel-hotel. Formasi mereka pun berganti-ganti personel, hanya Yon dan Murry nan masih setia mengibarkan bendera Koes Plus. Sementara itu, Yok dan Nomo lebih asyik dengan pekerjaan dan global baru mereka sendiri.

Koes Plus dianggap sangat berjasa dalam pengembangan musik di tanah air. Masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasi grup musik legendaris berupa penghargaan "Legend Basf Award" tahun 1992.