Mengontrol Kata-Kata nan Terucap

Mengontrol Kata-Kata nan Terucap

Kata-kata ialah senjata nan nan paling ampuh buat mengalahkan “lawan” atau merekatkan persahabatan. Kata-kata memang lebih tajam daripada pedang. Ketika seseorang terluka sebab pedang atau senjata lain, luka tersebut masih dapat diobati. Namun, ketika luka berasal dari kata-kata dapat jadi tidak dapat diobati atau kalaupun dapat diobati membutuhkan waktu nan lama.

Rasulullah bersabda bahwa, “berkatalah nan baik atau diam!” Dalam peribahasa lain juga disebutkan bahwa “mulutmu harimaumu” . Pun dalam sebuah lagu kita diingatkan bahwa “memang lidah tidak bertulang” . Semuanya memiliki inti nan sama, yaitu kata-kata ialah pisau bermata dua, dapat buat membunuh, tapi dapat juga buat memasak. Bergantung pemakainya ingin seperti apa.



Kekuatan Kata-Kata

Kekuatan kata-kata dapat berdampak baik dan buruk. Berikut ini akibat negatif dari kekuatan kata-kata.

  1. Perceraiansuami istri sebab salah satu di antara mereka tak dapat mengendalikan kata-kata nan diucapkan.
  2. Persahabatan putus sebab kurang dapat memilah-milah mana nan harus disampaikan mana nan tidak.
  3. Menantu membenci mertua atau sebaliknya sebab kata-kata pedas nan baik sadar maupun tak sering diucapkan baik oleh menantu maupun mertua
  4. Pertengkaran antar tetangga hanya sebab masalah sepele nan berujung pada bentrok antar suku
  5. Seorang karyawan dipecat sebab berani mengeluarkan kata-kata nan tak berkenan terhadap atasan, dan lain-lain.

Selain dapat berdampak buruk, kata-kata juga dapat berdampak positif bagi pemakainya, misalnya:

  1. Membuat orang nan tadinya tak suka menjadi simpati.
  2. Mendamaikan dua pihak nan bertikai setelah mendengarkan kata-kata bijak nan ke luar dari mulut kita.
  3. Membuat cinta suami kepada istri semakin bertambah dan sebaliknya-.
  4. Membuat tetangga, kerabat, kolega, dan sahabat menyayangi kita

Kata-kata nan memiliki makna sama, namun diucapkan dengan cara nan berbeda akan memiliki imbas samping nan berbeda pula. Misalnya,
dua orang sedang mengamati obyek nan sama. Orang pertama berkata, “Jelek banget dan nggak banget! ”. Sementara itu, orang kedua berkata, “Kayaknya kalau seperti ini lebih bagus, ya!”

Atau dalam peristiwa lain, dua orang memberikan komentar terhadap temannya mengenai kehidupan temannya saat ini. Begini kira-kira dialognya.

Orang I: “Hai, apa kabar? Sibuk apa nih?”
Teman: “Baik. Alhamdulillah. Sibuk jadi ibu rumah tangga sekarang.”

Berikut ini 2 tanggapan nan berbeda atas pernyataan tersebut.

Orang I: “Alhamdulillah, senang dong, ya. Semoga kian sukses, ya dan kudoakan jadi ibu rumah tangga plus plus, hehe....”

Orang I: “What? Ibu rumah tangga? Gak salah denger gue? Ya ampyun ... tragis banget hayati lo! Ijazah lo dikemanain? Ilmu-ilmu lo?”

Simak lagi contoh kasus berikut ini:

Seorang suami dengan tak percaya diri berkata pada istrinya, “Maaf ya Dik, gaji Kakak masih ngepas banget untuk hayati kita berdua!”
Kemudian, istrinya menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah, “Ya udahlah, saya udah tau kali kalau nikah sama kamu jadinya kayak gimana. Ya udah lah ya terima aja. Mo gimana lagi! Huft…”

Bila kita ialah suami bagaimana perasaan kita mendengar istri berkata seperti itu? Sementara, seharian kita bekerja membanting tulang, dimarahi atasan, diomongin rekan sekantor, dan hal-hal tak menyenangkan lainnya.

Beberapa tahun kemudian, kondisi suami berubah. Berkat keuletannya, dia dapat menjadi orang kaya. Suami tersebut masih mengingat kata-kata istrinya nan tak berkenan di hati ketika dia masih belum memiliki apa-apa. Ibarat kata pepatah “ada uang abang sayang dan tidak ada uang abang kulempar!” . Rasa kecewa nan begitu mendalam kepada sang istri kemudian membuat suami tersebut tega menceraikan istrinya dan lebih memilih seorang wanita nan sederhana, namun baik hatinya.
Kita tidak akan pernah tahu apa dampak dari kata-kata nan kita keluarkan pada orang lain. Esok, minggu depan, bulan depan, atau bahkan beberapa tahun ke depan.

Kata-kata positif nan diucapkan seseorang mampu membuat orang lain bersemangat dan memandang hayati ini positif. Apa nan kira-kira akan dirasakan oleh pasien nan sedang dalam kondisi kritis setelah mendengar kata-kata dokter nan bunyinya seperti ini, “Ya udahlah Pak. Mending Bapak siap-siap aja ya. Udah gak ada asa Pak. Penyakit Bapak tuh udah kronis. Sudahlah gak usah ngotot mau bertahan hidup. Mungkin memang sudah waktunya.”

Apa pula nan akan terjadi bila dokter tersebut berkata seperti ini, “Bapak, manusia wajib berusaha. Kami semua akan berusaha semaksimal mungkin buat kesembuhan Bapak. Pun Bapak juga harus semangat ya. Pokoknya kita bekerja sama Pak. Masalah hasil Insya Allah absolut kuasa Allah. Pokoknya kita usaha terus Pak,”

Dengan kondisi kesehatan nan sama, namun perlakuan nan berbeda dari dokter, tentu akan menghasilkan sesuatu nan berbeda pula. Pada kasus pertama, dapat jadi pasien akan langsung meninggal saat itu juga. Bukan sebab penyakitnya, tapi sebab kata-kata dokter nan membuat semangat hidupnya runtuh. Namun, pada kasus nan kedua, pasien mungkin akan dapat bertahan hayati lebih lama. Jika hidupnya memang sudah ditakdirkan pendek, dia lebih dapat menghadapinya dengan tenang dan ikhlas.



Mengontrol Kata-Kata nan Terucap

Tidak ada satu pun orang di global ini nan bercita-cita ingin mengeluarkan kata-kata kotor atau tak pantas selama hidupnya. Bila disuruh memilih, tentu semua orang ingin menjadi orang bijak dengan kata-kata nan bijak dan berwibawa pula. Namun pada kenyataannya, banyak di antara kita nan sangat sulit buat mengendalikan kata-kata. Beberapa penyebab ketidakmampuan kita dalam mengendalikan kata-kata di antaranya sebagai berikut.

  1. Kita berada di dalam kondisi nan sangat tertekan dan merasa tidak ada satu pun orang di global ini nan dapat mengerti kita. Tak heran bila sedikit saja ada seseorang nan “menyenggol” perasaan, kita langsung mengeluarkan kata-kata nan tak pantas.
  2. Kita sudah lama menahan kemarahan sehingga ketika ada kemarahan semua nan ada pada hati kita, segala uneg-uneg dan hal-hal nan mengganjal kita keluarkan semua dengan mudahnya.
  3. Kita memang memiliki sifat seperti itu (kurang dapat mengendalikan diri).

Lalu, bagaimana caranya agar kata-kata nan keluar dari mulut kita dapat kita kontrol sehingga hanya nan baik-baik saja nan keluar. Dan jika ada sesuatu nan mengganjal, kita menyampaikannya dengan bahasa nan santun namun tegas. Berikut caranya.

  1. Selalu ingat bahwa orang nan kuat bukanlah orang nan suka mengumbar kata-kata kejam, baik secara lisan atau melalui status di jejaring sosial. Orang nan kuat ialah orang nan dapat mengendalikan amarahnya termasuk kata-kata nan keluar dari mulutnya.
  2. Selalu ingat bahwa apa nan sudah kita keluarkan tidak akan mungkin dapat ditarik kembali. Dalam hal ini, ialah kata-kata.
  3. Bila sudah tak tahan ingin mengucapkan kata-kata pedas, lebih baik kita minum air putih atau mencuci muka.
  4. Bila masih belum puas juga, kita dapat menuliskan segala uneg-uneg di kertas nan hanya Sang Pencipta dan kita saja nan tahu. Biasanya, setelah menuliskan beratus-ratus sumpah serapah melalui tulisan, hati kita akan sedikit lega.
  5. Setelah hati lumayan damai, kita dapat mengutarakan ketidaknyamanan kita dengan baik-baik.

Menyesal kemudian hari tidak ada gunanya. Tak hanya berpikir saja nan harus cerdas, tapi mengucapkan kata-kata juga harus cerdas.