Pasca Letuasan Merapi

Pasca Letuasan Merapi



Letusan Terbesar

Letusan 2010 ialah letusan Merapi nan sangat besar. Radius daerah rawan bala ditambah hingga 25 km. Dengan radius 25 km ini, artinya wilayah Tempel dan Medari sekitarnya harus waspada. Hujan pasir dan hujan kerikil ikut membuat suasana semakin mencekam. Aktivitas bisnis hampir terhenti, para pelajar dan mahasiswa pun banyak nan tak ke kampus sebab mereka harus menyelamatkan diri ke kota. Apalagi bagi para mahasiswa UII nan berkampus di Jalan Kaliurang. Mereka harus mengungsi dalam keadaan nan begitu menegangkan.

Masyarakat Yogyakarta memang cukup akrab dengan bencana. Tidak hanya mereka harus waspada terhadap letusan Merapi, bala gempa bumi pun telah masuk ke dalam daftar hal nan harus diwaspadai. Sesiap-siapnya semua infrastruktur dan mental, ketika bala itu benar-benar terjadi, masyarakat juga menjadi panik. Apalagi akhirnya letusan kali ini meluluhlantakan rumah Mbah Marijan nan merupakan juri kunci gunung Merapi.

Hingga saat ini pun, Merapi tetap mengancam masyarakat Yogyakarta. Banjir lahar dingin nan menyapu beberapa loka menyisakan kesedihan tersendiri bagi beberapa keluarga nan terpaksa melihat rumahnya hanyut terbawa air nan bercampur dengan lumpur dan bebatuan besar. Akses jalan pun ada nan terbelah dan hancur. Semakin menderitalah rakyat nan terkena bencana. Untungnya pemerintah cukup sigap dan terus menyalurkan bantuan, baik makanan maupun relokasi rumah.
Merapi ini memang unik dan tetap disayang oleh rakyat Yogyakarta. Mereka nan menjadi korban Merapi, seakan tak mengenal kapok. Mereka tetap mau tinggal di lereng Merapi nan sejuk. Bagaimana tidak, wilayah Merapi ini memang sangat fertile dan pemandangannya begitu indah. Tidak heran kalau ketika ada Lava Tour nan spesifik dibuat sebagai bagian dari memberikan pemasukan kepada masyarakat nan terkena bencana, diluncurkan, para pelancong banyak nan datang.

Hati siapa nan tak tersayat melihat hebatnya bala Merapi. Rumah dan lingkungan sekitar rumah mbah Marijan nan sebelumnya begitu indah, damai, dan terlihat sangat nyaman, terutama setelah ruamh itu direnovasi, kini tinggal puing nan tersisa. Di loka itu juga ditemukan mayat mbah Marijan nan terlihat sujud bersama dengan mayat orang-orang nan setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Inilah bentuk kecintaan pada titah nan telah diberikan oleh seorang raja kepada salah satu rakyat kepercayaannya.

Hikmah dari kematian mbah Marijan cukup banyak nan dapat dipelajari. Ketika ada seorang pemimpin nan dipercaya dan disegani serta disayangi oleh rakyatnya, apa pun nan dikatakan oleh raja, maka akan dipegang teguh oleh rakyatnya hingga akhir hayatnya. Bagaimana dengan pemimpin sekarang. Adakah rakyat nan benar-benar merasa diayomi oleh pemimpinnya? Rakyat itu kalau disayangi, ia akan memberikan kesetiaan nan luar biasa. Tidak ada nan mampu menghalangi rakyat buat manunggal dan memberikan dukungan setia kepada pimpinannya.

Selain itu, bentuk kesetiaan nan diperlihatkan oleh mbah Marijan ialah salah satu contoh bagaimana seseorang nan begitu setia pada keyakinannya. Walaupun banyak nan berpendapat bahwa keyakinan itu salah sebab tak sinkron dengan ajaran agama, satu sisi tetap terlihat bahwa tak mudah mengubah satu keyakinan nan telah mendarah daging. Masyarakat Yogyakarta nan tinggal di lereng Merapi tetap konfiden bahwa Merapi sebenarnya tak akan pernah menyakiti ‘para sahabatnya’ nan hayati di sekitar kakinya.

Untungnya, masyarakat tetap mau diajak buat mengungsi dan menyelamatkan dirinya. Bagaimanapun kalau bagi orang nan tak terkait dengan budaya nan ada di sekitar Merapi, nan terjadi di gunung itu ialah satu bala besar nan harus ditangani dengan baik dan seprofesional mungkin. Tidak salah kalau pemerintah daerah istimewa Yogyakarta berusaha memberikan nan terbaik kepada rakyatnya agar mereka tetap dapat hayati dengan damai dan nyaman di sekitar Merapi.



Apa Kata Pakar?

Para ahli gunung berapi mengatakan bahwa meletusnya gunung Merapi pada bulan November 2010 itu jauh lebih dahsyat daripada letusan Merapi pada tahun 1820. Hal ini terutama jika dilihat dari akibat letusan nan ditimbulkan dan juga wilayah nan mengalami kerusakan dampak letusan tersebut. Korban nan berjatuhan dan dahsyatnya kekuatan awan panas nan meluncur serta jeda luncur nan semakin panjang, membuat banyak orang ngei membayangkannya. Tidak ada nan mau mengalami nasib seperti itu.

Kehilangan anggota keluarga hanya dalam waktu nan sangat singkat. Merapi telah menelan beberapa jiwa nan setia padanya.
Pada saat meletusnya Merapi November 2010 kemarin, radius Kawasan Rawan Bala ditetapkan hingga 20 kilometer lalu diperbarui hingga radius 25 km dari puncak gunung Merapi. Dan ini merupakan titik terjauh nan pernah ditetapkan dalam waktu 100 tahun terakhir dalam sejarah letusan Gunung Merapi.

Tampaknya Merapi semakin sangar dan semakin hebat geraknya. Para ahli harus terus berkomunikasi dengan masyarakat agar mereka tetap waspada. Bila tidak, kewaspadaan itu dapat saja berkurang dan nan menjadi korban mungkin akan semakin banyak. Jika ini terjadi, dikhawatirkan Yogyakarta tak akan lagi menjadi daerah tujuan belajar dan tujuan wisata. Tidak ada nan mau hayati dibawah ancaman bala apapun.

Letusan tersebut pun dianggap sebagai salah satu letusan terbesar nan pernah terjadi pada gunung Merapi. Hal ini ditandai dengan beberapa indikator. Salah satunya dengan melihat ketinggian lontaran awan panas nan membumbung ke angkasa hingga 7,5 kilometer. Selain itu, semburan lava pun menyebar merata ke empat penjuru nan tak ditemui dalam siklus letusan Merapi pada 100 tahun terakhir. Dengan kondisi seperti ini, diperkirakan bahwa suatu saat Merapi dapat saja mengamuk dengan cara nan lebih dahsyat.

Demikian pula dengan jeda luncuran awan panas atau wedhus gembel. Dalam letusan November 2010 tersebut, awan panas meluncur hingga sejauh 15 kilometer dari puncak Merapi nan mengakibatkan banyak korban meninggal dampak terbakar. Salah satunya ialah juru kunci Merapi, yaitu mbah Maridjan nan meninggal di dalam rumahnya dengan posisi bersujud dampak terkena terjangan awan panas nan menghancurkan rumahnya.



Pasca Letuasan Merapi

Pasca letusan gunung Merapi, bukan berarti usai sudah ancaman bala nan ditimbulkan Merapi. Sebab, masih ada bahaya sekunder nan mengancam keselamatan warga dan juga kehidupan di sekitar Merapi. Bahaya tersebut ialah ancaman lahar dingin. Masyarakat nan menggantungkan hidupnya dengan mengambil pasir dan pakaian dijalur luncur lahar dingin, cukup banyak. Sayangnya terkadang mereka telat menyadari adanya banjir lahar dingin. Mereka juga terkadang tdiak peduli dengan hujan di puncak.

Banyak pakar gunung berapi nan menyatakan bahwa ancaman lahar dingin tak kalah mengerikan dibanding ancaman awan panas. Bahkan, lahar dingin ini dianggap jauh lebih berbahaya daripada awan panas. Karena lahar dingin memiliki kekuatan nan bersifat destruktif dan daya jangkau nan lebih jauh daripada awan panas. tanpa adanya kewaspadaan dan mencoba bermain-main dengan agresi lahar dingin, maka nyawa ialah taruhannya.

Dari residu letusan Merapi tersebut, akibat bahaya sekunder sudah dirasakan oleh masyarakat Muntilan, Magelang serta Yogyakarta. Tertutupnya genre sungai Gendol nan merupakan daerah penampungan lahar selama ini, menyebabkan arus lahar dingin berubah arah.

Ke arah Yogyakarta, genre lahar dingin masuk ke sungai Code nan membelah kota Yogyakarta. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat menyebabkan rusaknya kawasan nan berada di sekitar bantaran sungai sebab terendam pasir dan batu nan terbawa arus lahar dingin saat hujan turun di puncak gunung.

Di wilayah Muntilan, banjir lahar dingin merusak jalur primer nan menghubungkan Yogyakarta-Semarang. Selain itu, pemukiman nan berada di sepanjang Kali Putih pun hancur serta tertimbun pasir dan material vulkanik lahar dingin Merapi. Peristiwa ini kemudian menjadi citra masyarakat sekarang, buat dapat membayangkan tentang proses tertimbunnya candi Borobudur beberapa abad silam nan diduga sebagai dampak letusan gunung Merapi tersebut.