Apa Faktor Peyebab Kerusakan Dampak Gempa Bumi?

Apa Faktor Peyebab Kerusakan Dampak Gempa Bumi?

Masyarakat Indonesia tentu tak asing lagi dengan istilah gempa bumi. Bala gempa bumi sering terjadi di negara ini, seperti tragedi tsunami Aceh dan Pangandaran nan diawali gempa bumi, yaitu gempa Yogyakarta dan gempa Padang. Indonesia memang merupakan salah satu negara nan sangat rentan terkena gempa bumi. Hal itu disebabkan Indonesia dilalui oleh jalur rendezvous tiga lempeng tektonik, yaitu Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Oleh sebab itu, gempa bumi merupakan salah satu bala nan perlu diwaspadai masyarakat. Salah satu cara mewaspadai dampak nan timbul dari bala ini ialah memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai gempa bumi. Salah satunya ialah dengan sering membaca artikel tentang gempa bumi .



Apa Itu Gempa Bumi?

Gempa bumi ialah kenyataan alam nan ditunjukkan dengan bergetarnya bumi sebab dampak lepasnya energi nan ada dalam bumi. Peristiwa itu terjadi dengan tiba-tiba dan ditandai adanya patahnya lapisan batuan nan ada di dalam kerak bumi. Lempeng-lempeng tektonik nan bergerak menghasilkan energi nan sangat besar, sehingga menyebabkan gempa bumi. Energi tersebut menyebar ke segala arah berbentuk gelombang gempa bumi, sebagai imbas dari gempa bumi. Imbas tersebut terasa hingga ke bagian permukaan bumi dan bisa dirasakan dalam wilayah nan luas, tergantung kedalaman dan besarnya energi nan dilepas.



Bagaimana Ciri Gempa Bumi?

Gempa bumi merupakan bala nan tak bisa dicegah sebab timbul secara tiba-tiba. Selain itu, timbulnya gempa bumi tak bisa diprediksi, meski oleh pakar gempa dan geologi sekali pun. Namun, biasanya gempa bumi terjadi pada lokasi eksklusif dan berpotensi akan terjadi secara berulang di loka tersebut pada waktu nan tak bisa diprediksikan.

Gempa bumi biasanya terjadi dalam waktu nan singkat, misalnya dalam hitungan detik. Meski terjadi sesaat, gempa bumi bisa mengakibatkan timbulnya bala lain sebagai efeknya. Bala tersebut di antaranya longsoran tanah, guncangan, tsunami, kebakaran, dan letusan gunung api. Namun, dampak nan timbul dari gempa bumi bisa dikurangi apabila manusia selalu waspada dan paham cara mengatasinya.



Apa Faktor Peyebab Kerusakan Dampak Gempa Bumi?

Gempa bumi terjadi di dalam lempengan bumi. Namun, efeknya akan terasa hingga ke permukaan bumi. Majemuk dampak nan timbul ialah bala lain sebagai dampak langsung dari gempa bumi atau dampak nan bersifat sekunder, seperti interaksi arus pendek listrik nan menyebabkan kebakaran. Besarnya bahaya nan ditimbulkan dampak gempa bumi dipengaruhi oleh hal-hal seperti kekuatan gempa bumi, kedalaman gempa bumi, lama getaran nan timbul dampak gempa bumi, jeda hiposentrum gempa bumi, kondisi tanah di lokasi, dan kondisi bangunan di lokasi.



Bagaimana Proses Terjadinya Gempa Bumi?

Teori nan terkenal mengenai terjadinya gempa bumi ialah teori lempeng tektonik. Teori ini merupakan kombinasi antara teori konvoi benua ( continental drift ) dan pemekaran dasar samudra ( sea floor spreading ). Berdasarkan teori ini, permukaan bumi nan kita tinggali ini terpecah jadi lempeng-lempeng tektonik nan besar sebagai dampak peristiwa gempa dahsyat jutaan tahun nan lalu. Lempeng tektonik ialah segmen keras pada kerak bumi nan mengapung di atas astenosfer.

Astenosfer bersifat cair dan juga panas. Karena sifat astenosfer nan cair, lempeng tektonik pun bebas bergerak serta saling berinteraksi antara satu sama lain. Daerah atau loka nan berada pada perbatasan lempeng itu mempunyai keadaan tektonik nan cukup aktif, sehingga rawan terkena gempa bumi, letusan gunung berapi, dan terbentuknya dataran tinggi.

Selain itu, litosfer (lapisan bumi nan terletak paling atas) ialah batuan nan nisbi cukup dingin. Litosfer nan ada di unsur paling atas berada dalam keadaan padat serta kaku. Di bagian bawah litosfer terdapat mantel, yaitu batuan nan lebih panas lagi dibanding litosfer. Karena bersifat sangat panas, lapisan mantel tak kaku seperti litosfer. Mantel dapat bergerak sinkron proses distribusi panas nan dikeluarkan. Proses distribusi panas tersebut dikenal dengan istilah konveksi.

Lempeng tektonik nan termasuk dalam bagian litosfer padat serta terapung di bagian atas mantel juga bisa bergerak. Pergerakannya memungkinkan setiap lempeng saling berinteraksi satu sama lain. Konvoi antara lempeng bisa bersifat saling menjauh ( spreading ), saling mendekat ( collision ), atau saling bergeser ( transform ).

Pergerakan nan terjadi antarlempeng tersebut terjadi setiap saat. Dalam satu tahun, pergerakannya mencapai 0 - 15 cm. Pergerakannya itu bisa bersifat saling menjauh, saling mendekat, atau saling bergeser. Konvoi itu tak terasa oleh manusia sebab berlangsung sangat lambat. Namun, ada kalanya gerekan lempeng itu macet dan konvoi antarlempeng itu membuat setiap lempeng saling mengunci.

Saat saling mengunci, muncul pengumpulan energi dalam waktu nan cukup lama. Hal itu terjadi hingga batuan di lempeng tektonik tak sanggup menahan lagi gerakan tersebut. Pada saat itulah, lempeng tektonik tak kuat menahan gerakan, sehingga muncul divestasi energi nan sangat besar secara mendadak. Peristiwa itulah nan disebut dengan gempa bumi.



Bagaimana Kondisi Lempeng Tektonik di Indonesia?

Bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik nan besar. Indonesia ialah kawasan nan sangat rawan terjadi gempa bumi sebab berada di jalur rendezvous tiga lempeng besar dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia nisbi bergerak ke bagian arah utara mendekati lempeng Eurasia. Lalu, lempeng Pasifik bergerak dan bergeser ke barat, merapat ke lempeng Eurasia. Dengan demikian, Indonesia berada dalam impitan lempeng nan saling merapat.

Pertemuan lempeng di Indonesia ini ada di lautan, mulai di sepanjang bahari selatan Pulau Jawa, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, hingga Papua. Selain itu, lempeng tektonik juga memanjang di bahari sebelah barat Pulau Sumatra hingga memutar ke bahari utara Indonesia. Hal itu membuat Indonesia dikepung oleh tiga lempeng besar tektonik. Apabila gempa bumi terjadi dengan kedalaman nan nisbi dangkal, hal itu berpotensi menyebabkan tsunami. Maka, wilayah bahari Indonesia rentan terkena tsunami, sebagaimana terjadi di Aceh dan Pangandaran.



Bagaimana Mewaspadai Dampak nan Timbul dari Gempa Bumi?

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, gempa bumi terjadi secara tiba-tiba dan tak bisa diprediksi. Gempa bumi juga tak bisa dicegah. Namun, dampak nan timbul dari gempa bumi bisa dikurangi dengan cara mewaspadai dampak nan ditimbulkannya. Masyarakat dan pemerintah setempat harus terus mengusahakan upaya mitigasi bala agar risiko nan ditimbulkan dari gempa bumi pun bisa dikurangi, seperti korban jiwa dan kerugian materi.

Dampak nan timbul dari gempa bumi terhadap alam antara lain tanah longsor, jalan terbelah, dan pergesaran tanah dalam skala kecil hingga besar. Sementara akibat gempa bumi terhadap struktur bangunan ialah rubuhnya bangunan hingga menyebabkan rusaknya mal hingga hilangnya nyawa korban. Dengan demikian, pencegahannya ialah dengan memperkuat struktur bangunan hingga menerapkan pembangunan antigempa. Sementara masyarakat nan berada di pesisir pantai, apabila terjadi gempa bumi harus segera menjauhi laut.

Tsunami nan timbul dampak gempa bumi dengan kedalaman dangkal terjadi dalam selang waktu beberapa menit setelah gempa bumi. Selang waku itu bisa dimanfaatkan buat memberi peringatan dini dan menjauhi wilayah pantai.

Demikian artikel tentang gempa bumi. Semoga masyarakat bisa selalu meningkatkan kewaspadaannya apabila terjadi bala gempa bumi. Dengan begitu, risiko nan timbul sebagai dampak gempa bumi pun bisa dikurangi.