Upaya Mengatasi Banjir Jakarta

Upaya Mengatasi Banjir Jakarta

Kondisi cuaca saat ini semakin sulit diprediksi. Musim penghujan kadang berlangsung lebih lama dan banjir Jakarta semakin sulit dihindari.

Sebagai kota besar sekaligus ibu kota negara, Jakarta memang memiliki banyak permasalahan. Salah satunya ialah banjir Jakarta nan selalu terjadi saat musim penghujan datang. Bagi masyarakat di beberapa wilayah Jakarta, banjir sudah seperti risiko langganan. Artinya, mereka sadar betul bahwa banjir akan selalu menghampiri loka tinggal mereka atau kawasan kegiatan mereka setiap tahunnya.

Ketika musim penghujan datang, muncullah istilah banjir kiriman. Istilah ini maksudnya bahwa banjir Jakarta terjadi sebab kiriman air nan datang dari Bogor dan Depok. Banjir kiriman ini diantarkan oleh genre sungai Ciliwung nan mengaliri tiga kawasan tersebut, yaitu Bogor, Depok, dan Jakarta.

Curah hujan di Bogor memang cukup tinggi. Wajar saja jika kota ini memang dijuluki sebagai kota hujan. Namun, daya serap Kota Bogor terhadap guyuran hujan masih cukup baik sehingga banjir belum menjadi ancaman bagi kota ini. Meski demikian, tak semua air hujan terserap. Ada pula nan memasuki aliran-aliran sungai dan menyebabkan debit air sungai ini meningkat.

Meningkatnya debit air sungai Ciliwung nan terus mengalir hingga Jakarta berisiko buat mengantarkan luapan-luapan airnya nan bisa menyebabkan banjir. Untuk mengetahui peningkatan debit air sungai Ciliwung, pintu air di kawasan Depok menjadi loka dihitungnya ketinggian air. Melalui penghitungan ketinggian air ini, Jakarta bisa menerima peringatan dini mengenai kemungkinan datangnya banjir.

Pada titik ketinggian air tertentu, sudah bisa diketahui bahwa beberapa wilayah Jakarta nan dekat dengan genre sungai Ciliwung ini niscaya akan terkena banjir. Meskipun Sungai Ciliwung berperan dalam mengantarkan banjir kiriman dari Bogor dan Depok, banjir tak hanya disebabkan oleh bertambahnya debit air sungai maupun curah hujan nan tinggi.

Banjir di Jakarta disebabkan oleh banyak permasalahan nan terjadi di Jakarta. Masalah tersebut di antaranya ialah masalah kebersihan, masalah planning tata ruang wilayah nan kurang baik, dan masalah politis.

Oleh sebab itu, jika ingin menyelesaikan permasalahan banjir Jakarta, simpul-simpul permasalahannya harus dibuka satu per satu. Melalui titik-titik masalah ini, akan diketahui penyebab terjadinya banjir dan akibat nan ditimbulkan sehingga upaya nan kelak akan dilakukan tepat sasaran, yaitu dengan mengatasi penyebabnya dan meminimalisasi dampaknya.

Dengan demikian, banjir bukan hanya mengenai risiko tinggal di suatu wilayah. Namun, banjir merupakan masalah nan seharusnya bisa diatasi.



Penyebab Banjir Jakarta

Sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki populasi penduduk nan sangat padat. Populasi penduduk nan padat ini berpengaruh terhadap kemampuan kota Jakarta menjadi kota nan bisa menjadi loka bermukim nan nyaman, aman, dan sejahtera.

Namun, pada kenyataannya Jakarta menyimpan banyak tempat-tempat nan tak layak buat dijadikan pemukiman penduduk, seperti bantaran sungai, kolong-kolong jembatan, dan sisi-sisi rel kereta api. Kondisi pemukiman semacam ini juga nan menjadi penyebab banjir.

Kemunculan pemukiman penduduk di bantaran sungai, rongga di bawah rumah jembatan, dan sisi rel kereta barah memang sangat memprihatinkan. Di satu sisi kemunculannya merupakan bagian dari paras kondisi masyarakat Indonesia nan belum mencapai kemakmurannya, dan di sisi lain merupakan ancaman penyebab terjadinya banjir.

Permukiman penduduk semacam ini menjadi penyebab banjir sebab sebuah pemukiman harus memiliki sistem pembuangan sampah dan sanitasi nan baik. Kedua hal tersebut tak dimiliki oleh permukiman ini.

Penduduk Jakarta nan tinggal di bantaran sungai cenderung menjadikan sungai sebagai loka pembuangan sampah dan sistem sanitasi sehingga sungai menjadi tercemar. Padahal, sungai sangat berperan krusial dalam menampung genre air dan curahan hujan dan ketika sungai dipenuhi oleh sampah-sampah maka alirannya akan tersendat sehingga airnya pun meluap sehingga terjadilah banjir.

Selain itu, bangunan nan dibangun di bantaran sungai akan mempersempit lebar sungai nan berdampak pada menurunnya kemampuan sungai mengalirkan airnya. Hal ini tentu akan berakibat kembali pada meluapnya air sungai nan menyebabkan banjir.

Selain masalah permukiman, nan menjadi penyebab banjir Jakarta ialah planning tata ruang dan wilayah. Planning tata ruang wilayah ini mencakup tersedianya ruang terbuka hijau nan salah satu perannya ialah menampung air ketika musim penghujan datang dan pembangunan-pembangunan nan memperhatikan sistem genre air.

Ketika planning tata ruang wilayah Jakarta tak terencana dengan baik, bangunan-bangunan nan didirikan hanya memperhatikan kepentingan ekonomi tanpa memperhatikan lingkungan maka banjir akan sangat sulit buat diatasi. Jakarta perlu memiliki planning tata ruang wilayah nan memberikan ruang terbuka hijau, sistem genre air bawah tanah nan baik, serta pengelolaan wilayah nan higienis dan sehat .

Kenyataan nan ada saat ini ialah ruang terbuka hijau sangat sedikit di Jakarta sehingga muncul istilah hutan beton di Jakarta sebab banyaknya bangunan-bangunan bermunculan. Sedikitnya, ruang terbuka hijau juga menjadi penyebab banjir sebab Jakarta tak memiliki kawasan serapan air nan baik.

Berdasarkan hal-hal nan telah disebutkan, penyebab banjir Jakarta berpusat pada masyarakat dan perilakunya. Artinya, masyarakat nan berkepentingan buat tinggal di Jakarta sebagai loka menjalani kehidupan apa pun peran mereka harus memiliki konduite nan peduli terhadap lingkungan.

Masyarakat nan bermukim di bantaran sungai, di rongga di bawah rumah jembatan, maupun di sisi rel kereta barah juga harus ikut memiliki pencerahan lingkungan nan baik dengan tak menjadikan sungai sebagai loka pembuangan. Demikian pula dengan masyarakat nan berperan dalam perencanaan tata ruang wilayah, sebaiknya memperhatikan lingkungan dalam membangun sebuah perencanaan sehingga banjir bisa diatasi.



Upaya Mengatasi Banjir Jakarta

Banjir Jakarta terus terjadi setiap tahun saat musim penghujan datang dan seolah-olah banjir menjadi suatu hal nan wajar dan biasa. Masyarakat di beberapa kawasan nan rawan banjir bahkan sudah bosan mengalami banjir hampir setiap tahun.

Di beberapa wilayah Jakarta, banjir nan menggenangi permukiman maupun jalan kira-kira setinggi 50 hingga 100 cm. Dengan ketinggian ini, banjir sudah bisa mengakibatkan terganggunya transportasi, munculnya majemuk penyakit, dan kerugian materi. Akibat jelek nan ditimbulkan oleh banjir terus mendorong upaya buat mengatasinya.

Upaya nan dilakukan Pemerintah Daerah Jakarta buat mengatasi banjir salah satunya ialah adanya proyek banjir kanal timur. Proyek ini bertujuan buat melindungi kawasan timur hingga utara Jakarta dari banjir dengan cara menghubungkan aliran-aliran sungai nan mengaliri kawasan tersebut langsung menuju ke kanal-kanal nan telah dibuat.

Dengan metode ini, banjir nan selalu terjadi di kawasan timur hingga utara Jakarta baik di permukiman, jalan, dan kawasan bisnis tak terjadi lagi. Proyek banjir kanal timur ini sudah dicanangkan sejak tahun 2003. Kanal-kanal dibangun dengan lebar 100-300 meter dan panjang 23,5 Km.

Selain bertujuan buat mengatasi banjir Jakarta, kanal-kanal nan dibangun ini seperti membentuk sungai baru nan nantinya bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata air sehingga kawasan ini diupayakan buat terjaga kebersihan dan fungsinya. Dengan fungsi tersebut, proyek banjir kanal timur ini akan memberikan kegunaan nan lain seperti memunculkan kawasan ekonomi baru nan bisa menyejahterakan masyarakat.

Proyek kanal timur ini belum bisa dijalankan secara optimal sebab pembangunannya nan belum selesai. Masih tersisa sekitar delapan kilometer lagi panjang kanal nan harus dibangun.

Pada musim penghujan tahun ini, banjir Jakarta masih terjadi di beberapa wilayah. Fungsi buat mengatasi banjir nan dimiliki kanal ini pun belum terwujud. Pemerintah Daerah Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Generik berperan krusial dalam kelanjutan penyelesaikan proyek ini sehingga khasiatnya buat mengatasi banjir Jakarta dapat segera dirasakan oleh masyarakat Jakarta.