Pulau nan Terancam Hilang

Pulau nan Terancam Hilang

Berlayar dari dermaga Pantai Kartini, Semarang, ke arah utara sekitar 1,5 kilometer, Anda akan menemukan Pulau Panjang .

Pulau ini telah lama dikembangkan menjadi pulau wisata. Jalanan kecil nan dilengkapi paving block memutari muka pantainya menambah kenyamanan pengunjung buat berkeliling pulau.

Mengapung di keganasan ombak Bahari Jawa, pulau ini menawarkan panorama alam bahari nan indah. Pantainya landai berpasir putih, dihiasi pohon-pohon tinggi nan mengundang kenyamanan mata memandang.

Kerimbunan pohon itu juga menarik berbagai jenis burung buat hinggap dan bersarang. Di antaranya burung camar, bangau, dan blekok.

Pulau Panjang memiliki luas area sekitar 19 hektare. Bagian tengahnya dihiasi hutan tropis. Pohon-pohon nan tumbuh terdiri dari jenis pohon keras seperti asam jawa, dadap, dan pinus. Sebagian dari pohon-pohon itu telah berumur ratusan tahun.

Selain wisata pantai, Pulau Panjang merupakan tujuan wisata rohani bagi umat Islam karena di sana terdapat makam Syeikh Abu Bakar, seorang ulama Jepara dari zaman kerajaan.

Semasa penjajahan, Belanda membangun mercusuar nan masih berdiri kokoh sampai sekarang dan terus memandu kapal-kapal nan melayari Bahari Jawa.



Kemegahan Karang

Pulau Panjang memiliki perairan dangkal dengan kekayaan terumbu karang. Di sisi selatan pantai nan terlindung dari ombak besar, kelimpahan karang dan larva karangnya mencapai 0,56 koloni/m2. Sementara di sisi utara pantai lebih kecil dibandingkan sisi nan lain.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan pola arus di perairan tersebut. Arus bahari di perairan Pulau Panjang merupakan subsistem arus Semenanjung Muria. Arus itu bergerak ke arah timur bahari dan begitu mendekati pantai Pulau Panjang, terpecah dua. Sebagian bergerak ke selatan pulau, sebagian lagi mengarah utara.

Arus selatan menurun kecepatannya dibandingkan arus utara. Disparitas kecepatan arus inilah nan membuat terumbu karang lebih banyak berkembang di sisi selatan pantai.



Pulau nan Terancam Hilang

Sayangnya, pulau nan latif ini terancam hilang ditelan pengikisan pantai. Fakta terbaru menunjukkan taraf kerusakan pantai nan menyedihkan, tak hanya di Pulau Panjang, tapi juga di pulau-pulau sekitarnya, seperti Pulau Bandengan, Teluk Awur, Bayuran, dan Ombak Mati Bondo.

Abrasi di Pulau Panjang mencapai luas 10 hektare, diawali dengan rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove di sepanjang garis pantai. Padahal, terumbu karang dan hutan mangrove itulah nan selama ini menjaga pantai sebab berfungsi memecah ombak. Tanpa itu, daratan akan tergerus dan longsor ke dalam laut.

Manusia memainkan peran primer dalam kerusakan pantai, salah satunya dengan aksi penjarahan terumbu karang. Lihat saja, setiap tahun, ribuan pelancong berkunjung ke Pulau Panjang dan pulangnya membawa terumbu karang buat sekadar hiasan. Padahal, tindakan semacam itu jelas dilarang.

Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan pencerahan seluruh elemen masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian pantai.

Mengingat Pulau Panjang terancam hilang, pemerintah telah membuat langkah-langkah penyelamatan. Selain upaya menghijaukan kembali hutan mangrove, telah dibangun pula tanggul-tanggul pemecah ombak nan sekaligus difungsikan sebagai tambatan perahu.

Saat ini, telah terdapat tembok sepanjang lebih dari 600 meter di sisi barat Pulau Panjang. Selain itu, dibangun pula break water dan groin atau penangkap sedimentasi. Diharapkan, dengan itu Pulau Panjang dapat kembali lestari.