Pernikahan merubah status seseorang

Pernikahan merubah status seseorang

Islam agama nan sempurna, diturunkan Allah SWT buat mengangkat derajat setiap manusia nan memeluknya. Islam mengatur seluruh hayati manusia, mulai dari hal-hal nan tampaknya remeh seperti bersin dan tersenyum, hingga hal-hal nan besar semisal pengaturan pemerintahan dan sistem kenegaraan. Tidak ketinggalan juga anggaran tentang ikatan pernikahan.

Islam benar-benar mengatur masalah pernikahan ini dan memasukkannya ke dalam anggaran tentang pergaulan antara pria dan wanita. Anggaran ini mengatur bagaimana sampai pernikahan itu dapat terjadi, misalnya apakah setiap pernikahan harus diawali dengan aktivitas nan dinamakan pacaran atau tidak? Jika memang tak diawali dengan aktivitas pacaran, lalu bagaimana dua anak manusia nan tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya bisa memutuskan unatuk menikah dan hayati bersama membangun sebuah rumah tangga. Hal-hal seperti inilah nan diatur dalam Islam.

Pernikahan juga disebut-sebut sebagai peristiwa nan menyempurnakan keimanan seorang muslim. Pernikahan juga disebut sebagai salah satu dari sebuah perjanjian terberat antara manusia dengan alloh SWT.

Banyak hikmah nan diperoleh dari sebuah ikatan pernikahan. Beberapa di antaranya dirangkum dalam makna ikatan pernikahan sebagai berikut:



  1. Pernikahan ialah sebuah ibadah

Kalau boleh dikatakan, makna terbesar dari sebuah ikatan pernikahan ialah sebagai wahana buat lebih beribadah lagi kepada Alloh SWT. Dengan beberapa kalimat sederhana yaitu kalimat ijab nan dikatakan oleh wali mempelai wanita yaitu ayah dan dibalas dengan kalimat qobul nan diucapkan oleh mempelai pria seperti:...

“...saya nikahkan Anda dengan anak aku nan bernama fatimah binti muhammad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai...”

“...saya terima nikahnya fatimah binti muhammad dengan mas kawin nan disebut di atas...”

Maka terbukalah dengan lebih lebar pintu surga buat kedua anak manusia itu. Dengan sebuah ikatan pernikahan, segala apa nan dilakukan oleh sang istri kepada suami dan sebaliknya, nan dilakukan suami kepada istrinya akan bernilai ibadah di sisi Alloh SWT.

Jangan meremehkan perbuatan seringan apapun, jika perbuatan itu dilakukan dan membawa keridhoan dari Alloh maka perbuatan nan ringan itu akan bernilai ibadah di sisi Alloh dan memberikan pahala bagi pelakunya.

Sebut saja perbuatan seorang istri membuatkan kopi buat suaminya. Jika hal ini membuat suami bahagia maka si istri telah mendapatkan pahala dari ini. Ini hanyalah contoh dari perbuatan nan ringan, apalagi perbuatan lain nan besar justru akan bernilai lebih.

Dalam ikatan pernikahan, aplikasi semua hak dan kewajiban dari suami dan istri juga bisa disebut dengan ibadah nan mendatangkan pahala bagi keduanya. Ketaatan sang istri pada suami dan kerja keras pantang menyerah buat mencari nafkah untu istri dan anak-anak nan dilakukan suami juga akan menghantarkan mereka pada surgaNya alloh.

Terlebih bagi seorang wanita, sebuah pernikahan ialah jalan terbesar baginya buat menuju surgaNya Alloh dengan penuh kemudahan. Dengan menjadi istri nan sholihah, menjalankan semua kewajibannya kepada suaminya dengan sahih dan mengurusi rumah tangganya terlebih jika sudah memiliki anak-ank, setiap usaha merawat dan mengasuh anak-anaknya akan membuka jalan nan begitu lebar baginya buat menuju surga. Bahkan ada sebuah hadist rasul nan mengatakan bahwa si wanita bisa memilih buat masuk ke surga lewat pintu mana pun. Hal ini menunjukkan betapa sangat mudahnya wanita tersebut buat masuk ke dalam surga.

Tak pelak kita katakan bahwa ikatan pernikahan ialah jalan terbesar buat menggapai surga. Maka tidak salah jika ada ajakan buat menyegerakan menuju jenjang pernikahan ini. Walau pun ada sebagian orang nan berpendapat buat menunda-nunda sebuah pernikahan, dengan berbagai argumen dan pembenaran.

Padahal, pernikahan ialah sebuah ibadah. Sebuah ibadah akan semakin baik jika disegerakan. Seperti halnya shalat, puasa, maupun berhaji. Bersegera tak identik dengan terburu-buru atau tergesa-gesa. Makna bersegera di sini ialah berupaya dengan sungguh-sungguh buat mempersiapkannya. Jadi jika Anda merasa telah siap, maka bersegeralah menikah, jangan ditunda lagi.

Memang buat menikah diperlukan sebuah kesiapan mental, fisik dan juga materi. Namun hal ini tidak berarti bahwa kita bisa monoton menundanya.



  1. Pernikahan menghalalkan interaksi pria dan wanita

Sebelum menikah, sebenarnya Islam juga telah mengatur interaksi pria dan wanita pra-pernikahan atau sebelum pernikahan. Islam melarang seorang laki-laki dan perempuan berduaan di tempat-tempat nan berpotensi mengundang kemaksiatan. Selain itu, Islam memerintahkan laki-laki dan wanita nan telah dewasa buat menutup auratnya masing-masing, khususnya di hadapan orang-orang nan bukan saudara dan keluarga mereka.

Setelah menikah, maka hal-hal nan sebelumnya dilarang seperti berduaan, berpegangan tangan, mencium versus jenis, hingga berhubungan badan, menjadi halal, dan bahkan berpahala. Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa dosa-dosa seorang laki-laki dan wanita nan telah menikah dapat gugur hanya dengan saling berpegangan tangan dengan penuh rasa cinta. Malah Islam memberikan pahala sebesar berjihad (membunuh musuh Islam) buat seorang suami nan menggauli istrinya dengan penuh kasih sayang.

Ada sebagian orang nan mengatakan bahwa dalam menikah interaksi suami istrilah nan menjadi penentu keharmonisan sebuah rumah tangga. Dalam Islam, interaksi suami istri tidak sekedar hanya sebuah interaksi seksual namun juga sebuah ibadah nan menghasilkan pahala nan begitu besar.

Alloh membalas interaksi suami istri ini dengan pahala nan sangat besar. Terlebih dengan interaksi ini, akan dihasilkan sesosok calon manusia baru nan akan meenjadi penerus keberlangsungan kehidupan manusia di dunia. Dengan sosok manusia baru ini, kehidupan suami dan istri akan lebih mudah lagi dijadikan jalan buat menggapai ridho Alloh guna menuju surgaNya.



  1. Pernikahan merubah status seseorang

Seorang laki-laki nan awalnya hayati seorang diri, akan mempunyai tanggung jawab nan lebih besar setelah menikah. Dirinya akan lebih mengutamakan kepentingan keluarganya dibanding keinginan pribadinya. Ketika ia masih bujang, nan ia lakukan hanya buat dirinya sendiri namun setelah menikah, ia harus memikirkan juga istri dan anak-anak.

Jika saat bujang, seberapa pun banyak uang nan ia dapatkan dapat begitu saja ia hambur-hamburkan, namun setelah menikah, ia harus mencari uang buat menafkahi anaknya dan juga istrinya.

Demikian juga seorang wanita. Setelah menjalin ikatan pernikahan, egoismenya akan tunduk terhadap keputusan sang suami sebagai pemimpin keluarga. Dia akan mengetahui bagaimana merasakan rasa cinta dan kasih nan sebenarnya. Rasa pengorbanan seorang wanita dan ibu akan semakin tampak ketika dirinya diberi anugerah seorang buah hati.

Jika ketika belum menikah ia bisa pergi kemanap pun seenak hatinya namun setelah menikah, ijin suamilah nan dapat membuatnya keluar dari rumah. Dan ketika menjadi seorang ibu, akan lebih terasa perubahan nan lebih besar.



  1. Pernikahan ialah penyatuan dua insan dan keluarga masing-masing

Selain dua insan, pernikahan juga telah menyatukan dua keluarga besar dengan latar belakang nan berbeda-beda. Pernikahan telah menjalin sebuah tali silaturrahmi nan belum pernah terikat sebelumnya. Tautan ini telah membuat manusia saling mengenal satu sama lain hingga keluarga masing-masing.

Keluarga pria menjadi bagian keluarga si wanita. Walau pun awalnya tak saling mengenal namun kemudian menyatu menjadi sebuah keluarga besar.



  1. Pernikahan menambah rezeki manusia

Sebagian pihak berpendapat bahwa menikah akan mengurangi rezeki (harta) nan kita miliki, sebab uang nan kita miliki akan kita bagi buat keluarga kita. Sebenarnya bukan demikian, justru dengan menikah, rezeki kita akan semakin besar, sebab hakikatnya dalam sebuah pernikahan bukan rezeki satu orang (suami) dikotomi (suami-istri), namun pola berpikir nan sahih ialah dalam pernikahan rezeki dua orang (suami-istri) menjadi satu (keluarga). Lagipula Allah telah berjanji buat mencukupkan setiap rezeki manusia di dunia. Bahkan Allah berjanji buat memakmurkan setiap orang nan telah berkeluarga.

Demikianlah makna nan bisa kita ambil dari sebuah ikatan pernikahan. Makna nan begitu dalam dan bisa mengubah sebuah kehidupan dari dua anak manusia. Semoga menambah keilmuan nan kita miliki dan memantapkan hati kita buat menikah (bagi nan belum menunaikannya).