Kerjasama Antara Pemilik Toko Buku dan Penerbit

Kerjasama Antara Pemilik Toko Buku dan Penerbit

Apapun langkah nan diambil dalam menjalani hayati ini selalu ada risiko sekecil apapun risiko itu. Tanpa berani mengambil risiko, tak akan ada kemajuan atau terobosan baru nan akan memperbarui budaya dan peradaban manusia. Begitupun dengan memutuskan buat mencoba berbisnis dengan membuka sebuah toko .

Sebelum membuka toko, lakukan hal-hal berikut ini. Analisa tempat, analisa pasar, barang nan akan dijual, cara promosi, dan siapa nan akan membantu menjaga toko tersebut. Melakukan hal tersebut sedikit banyak akan memberikan pertimbangan mengenai jenis toko nan akan Anda buka.

Bila persiapan matang sudah dilakukan dengan baik, bisnis dapat dimulai. Tapi bagaimana dengan kondisi berikut ini. Memulai bisnis dengan membuka toko buku di suatu loka nan masyarakatnya terkenal dengan taraf kegemaran membaca buku nan sangat rendah. Tentunya hal tersebut ialah sebuah keputusan gila dan konyol sekali. Kecuali kalau orang nan melakukannya ialah orang 'gila' nan mempunyai idealisme tinggi.

Perpustakaan daerah nan bagus, rumah baca dengan halaman nan sangat luas dan hijau serta bebas biaya saja tak menarik minat masyarakat buat memanfaatkannya. Apalagi harus membeli buku di toko buku. Pembukaan toko buku atau gerai buku di loka seperti itu ialah bagai menjual es kepada bangsa Eskimo. Pemilik toko buku seperti ini ialah orang nan mempunyai kapital buat rugi dan kapital uang nan memang digunakan bagi proyek idealismenya tersebut.



Toko Buku - Penyaluran Idealisme

Semua orang tahu kalau buku ialah wahana belajar nan sangat penting. Membeli buku baik dari toko buku secara langsung maupun secara online bukanlah sesuatu nan dinilai sebagai pemborosan nan tidak perlu.

Di kota-kota besar cukup mudah ditemukan orang-orang nan rajin menyerbu toko-toko buku. Tapi di kota kecil dengan penduduk nan masih terfokus pikirannya buat cukup makan dua kali sehari, membeli sebuah buku di toko buku seharga Rp 15.000 merupakan hal nan tidak pernah terlintas di pikiran.

Apalagi buku tersebut ternyata hanyalah sebuah buku penunjang pelajaran dan bukan buku nan diwajibkan harus dibeli oleh guru atau sekolah.

Namun bagi seorang nan sangat getol membaca buku sejak kecil dan sangat merasakan bagaimana susahnya mencari buku, membuka sebuah toko buku di loka 'gersang' seperti itu ialah sesuatu nan harus dilakukan. Bukan hanya buat membukakan mata penduduk nan ada di kota tersebut bahwa buku dapat membuka jalan masa depan nan lebih cerah tapi juga buat membantu memasyarakatkan getol membaca.

Hasilnya niscaya sudah dapat ditebak. Dalam satu bulan mungkin hanya satu orang nan melihat-lihat koleksi buku di toko buku tersebut. Itupun tak membeli. Bukan itu nan dirasakan oleh si pemilik toko buku. Tapi ada sebuah tantangan nan harus ditaklukkan.

Sementara toko buku itu memang masih sebuah proyek idealis tapi ke depannya, proyek toko buku itu akan menjadi sesuatu nan serius dan akan menemukan jalan bagaimana membuat masyarakat kota kecil itu getol membaca.

Karena sudah mengetahui keadaan tersebut, pemilik toko buku tersebut tentu tak merasa rugi. Bagaimanapun satu langkah bisnis telah dilakukannya. Uang nan terpendap di kapital membeli buku-buku barang dagangannya, tak dirasakan sebagai sesuatu nan memberatkan.

Hadiah kecil bagi nan membeli buku di toko buku tersebut pun sudah disiapkan walaupun pembeli nan datang tak banyak. Optimisme dan idealisme sang pemilik toko buku ialah sesuatu nan harus diacungi jempol.

Apa nan dialami oleh pemilik toko buku di tanah 'gersang' tersebut juga dapat dialami oleh para pemilik bisnis lainnya. Memang sebelum memulai sebuah bisnis, keadaan seperti ini harus sudah terbayang oleh para calon pebisnis. Mereka pun sudah harus mempersiapkan diri bagaimana menghadapi keadaan nan cukup miris buat sebagian orang tersebut.

Kalau dirasa tak kuat, jangan mencoba menjalankan sebuah bisnis apapun. Masih beruntung ketika bayangan kegagalan memang terjadi, pemilik bisnis masih dapat mendapatkan uang tunai dari pekerjaan lain. Pelajaran dari toko buku tersebut dapat menjadi citra bagi para karyawan nan masih berencana meninggalkan pekerjaan utamanya dan memulai sebuah bisnis.

Perlu diingat bahwa menjadi seorang pebisnis, terlebih membuka usaha toko buku itu tak mudah. Bila masih menjadi karyawan dan sudah berpikir buat menjadi seorang pebisnis, pikirkanlah dahulu langkah-langkah terbaik agar tak terlalu menyesal di kemudian hari.

Tapi kalau dikira masih dapat menjalankan bisnis pribadi dengan baik dengan cara mengrekrut pekerja nan dapat dipercaya, maka ide buat berhenti bekerja mungkin bukan ide nan baik. Bagaimanapun akan lebih baik kalau dapat mempekerjakan orang lain daripada berhenti bekerja dan menjadi pekerja di usaha sendiri, seperti toko buku nan masih belum berkembang dengan pesat.

Berhenti bekerja artinya harus berjuang mati-matian agar semua kebutuhan hayati terpenuhi. Bagaimana kalau bisnis nan baru berkembang tersebut tiba-tiba senasib dengan toko buku nan diilustrasikan di atas? Gangguan pemasukan pendapatan akan membuat beban pikiran dan beban batin semakin berat.



Toko Buku - Perpustakaan Gratis

Toko buku dapat menjadi sebuah perpustakaan gratis. Ada orang nan datang setiap hari ke sebuah toko buku hanya buat menamatkan bacaannya di sebuah buku nan memang disediakan secara spesifik sebagai sampel.

Tahukah penjaga toko buku mengenai hal ini. Tentu saja penjaga toko buku tersebut tahu. Tapi mengapa tak menegur atau melarang orang tersebut melakukan perbuatannya?

Sebuah buku memang buat dibaca. Sebuah toko buku berharap pembeli membeli buku nan sudah ia baca. Tapi kalau pun orang tersebut akhirnya tak membeli buku nan sudah dia baca beberapa hari, hal itu pun bukan masalah. Paling tak itu artinya pemilik toko buku telah memberikan wahana buat membaca. Pahalanya niscaya sudah ditetapkan.

Tidak menutup kemungkinan bahwa orang nan telah membaca satu buku tapi tak membeli itu akan menjadi pembuka pintu rezeki bagi pemilik toko buku tersebut. Memang tak ada nan tahu apa nan akan terjadi di masa depan. Semua itu hanya misteri.



Kerjasama Antara Pemilik Toko Buku dan Penerbit

Penulis dan penerbit niscaya membutuhkan toko buku. Kerjasama nan dapat dijalin ialah bahwa penerbit memberikan diskon cukup besar hingga 40% - 50% buat toko buku tersebut.

Sistem nan dipakai dapat berupa sistem titip. Maksudnya ialah para penerbit menitipkan buku-bukunya di toko buku tersebut selama 3 bulan. Ketika setelah tiga bulan, ternyata buku-buku nan dititipkan tak semuanya terjual, pemilik buku dapat mengembalikan buku-buku tersebut.

Bagi para penerbit pengembalian buku dari toko buku bukanlah akhir dari hayati buku tersebut. Pemberian diskon nan lebih dari 60% ialah salah satu taktik menjual buku-bukunya di loka lain. Kalau pun toko buku bersedia. Pihak penerbit bahkan dapat tetap bekerja sama dengan pemilik toko buku agar menjualkan buku-bukunya dengan harga nan sangat murah.

Dalam setiap rintisan bisnis, terlebih merintis usaha toko buku ini, kesabaran memang sangat diperlukan. Terdengar sangat klise memang, tapi kenyataannya, hal tersebut lah nan dibutuhkan. Ketika tersenyum menghadapi pelanggan nan hanya "numpang baca", percayalah, suatu saat, akan ada orang nan membeli buku Anda dengan tersenyum.