Cara Berbicara Agar Balita Mendengar

Cara Berbicara Agar Balita Mendengar



Tips Cara Berbicara Terhadap Balita

Simak tips cara berbicara kepada balita Anda sebagai berikut :

Hal nan perlu dilakukan

• Bila sang bayi berceloteh, sebaiknya sang ibu langsung meresponnya dengan menghentikan aktivitas nan sedang dilakukan dan fokus kepada sang bayi.
• Sikap sang ibu ketika berbicara sebaiknya menatap mata sang bayi
• Respon dengan cepat dan dengarkan dengan penuh perhatian bila bayi berceloteh. Lalu balas celotehnya dengan menggunakan bahasa nan jelas atau sesekali menirukan bunyi celotehannya misal “mamam…mamam…”.
• Ketika berdialog dengan sang bayi, sebaiknya sang ibu konsisten menggunakan satu bahasa dan mengucapkannya dengan jelas, baik dan benar. Karena apa nan Anda sampaikan akan menjadi contoh kelak ketika bayi Anda mulai berbicara pada waktunya. Ingat bahwa memori bayi pada usia ini sedang banyak merekam aktivitas apapun di sekitarnya.

Hal nan sebaiknya dihindari

• Sang ibu tak merespon dengan cepat saat sang bayi berceloteh atau hanya membalas sekilas saja sambil melakoni pekerjaannya.
• Ketika berdialog dengan sang bayi, ibu mendominasi pembicaraan.
• Bahasa nan digunakan sang ibu ialah bahasa bayi nan tak jelas atau cadel misal “Adek mau minum cucu ya”
• Melontarkan kata “diam” walaupun menurut sang ibu itu hanya sebatas bercanda.



Cara Berbicara Agar Balita Mendengar

Anak prasekolah umumnya memang sudah dapat memahami perkataan orang lain dengan baik. Tapi jika ia merespons hanya buat hal-hal nan menguntungkan dirinya saja, hal ini lantaran sebab mereka masih memiliki sifat egosentris.

LIHAT SITUASI DAN KONDISI

Berhubung anak hanya mau mendengar hal nan menurutnya menyenangkan, cara kita menyampaikan isi pesan perlu diubah sehingga tidak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang.

Berikut kiat-kiatnya:

  1. Ketahui kemampuan pemahamannya
  2. Kalimat nan bernada menghakimi, mengancam, atau bahkan menuduh, membuat anak terpojok. Hindari berkata, “Kamu harus membereskan mainan,” gantilah dengan, “Yuk, ibu bantu kamu buat membereskan mainanmu.”
  3. Jangan ucapkan kalimat bertanya nan mendorong anak berkata tidak. Ingat, anak tidak mau diperintah. Daripada mengatakan, “Habis makan, taruh piring di loka cucian,” lebih baik ucapkan, “Sayang, coba di mana sebaiknya kamu menyimpan piring ini?” Dengan begitu, anak juga belajar buat berpikir mencari solusi.
  4. Berbicaralah dengan kalimat-kalimat nan tidak sekadar menjurus pada jawaban ya atau tidak. Setelah itu, bicarakan topik-topik nan menarik bagi si prasekolah.

Gunakan kalimat pendek

Kata-kata nan diucapkan sebaiknya pendek atau sederhana. Tidak terlalu berpanjang-panjang apalagi berbelit-belit. Sesekali perhatikan bagaimana si prasekolah berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya.

Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tidak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu sebab ucapan kita tidak dipahaminya entah sebab bertele-tele, atau sebab berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang. Semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya.

Posisi badan sejajar

Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badan si prasekolah dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak dapat lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau obrolan nan dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tak memerhatikan, sentuhlah dia buat menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, dekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Jarak nan jauh atau kesibukan Anda pada kegiatan eksklusif membuat alur komunikasi takkan sampai dengan baik. Anak akan merasa dirinya tak dianggap penting, omongan kita pun tak dianggapnya penting. Akhirnya anak tak menangkap pesan nan dimaksud.

Kontak mata

Adanya kontak mata juga menandakan kita bersungguh-sungguh terhadap apa nan diucapkan. Dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting. Teguran kita nan sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positif dengan begitu akan dianggap krusial juga oleh anak.

Momen nan tepat

Tunggu momen nan tepat. Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau ya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai setidaknya ia tidak terlalu sibuk atau sudah menyelesaikan aktivitasnya.

Kadang, sulit mengalihkan perhatian anak dari hal nan sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik main mobil-mobilan, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tidak merasa kegiatannya diganggu atau tidak dipaksa menimpali omongan kita. Apalagi kalau nan dikatakan orangtua berupa perintah atau larangan. Beri waktu beberapa menit sebelum meminta anak melakukan sesuatu.

Minta Tolong

Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti nan kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita. Jika hendak minta bantuan, nan pertama kali harus diucapkan ialah “tolong”. Pasti anak tidak merasa dipaksa saat diperintah. Sekaligus orangtua juga mengajari anak buat bersikap santun.

Beri contoh

Ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan. Jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita. Berilah contoh atau teladan nan baik dengan memberi perhatian nan tulus saat si prasekolah berbicara. Dengan contoh konkret, anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar nan baik.

Lakukan bersama

Saat melihat mainan si prasekolah begitu berantakan, takkan efektif bila kita hanya menyuruhnya membereskan semua. Alangkah bijak bila kita mengajaknya membereskan bersama. Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar.

Anak membutuhkan contoh nyata dari orangtua. Bukan tak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan nan kita harapkan tanpa menunggu disuruh. Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.

Sesekali bersikap tegas

Bersikap selalu lembut sebenarnya kurang baik juga bagi perkembangan si prasekolah. Agar anak dapat taat aturan, sikap tegas juga perlu ditunjukkan. Misalnya saat anak melakukan ketidakdisiplinan, tidak ada salahnya ditegur. Sikap tegas berarti mengatakan apa nan perlu atau harus dilakukan dengan nada bicara nan datar namun jelas. Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga tidak mau lagi melanggar aturan.

Kenali karakter

Satu hal nan tidak kalah penting, kenali karakter si prasekolah buat menemukan gaya berkomunikasi nan pas dengannya. Anak nan cenderung pemalu atau pasif memang biasanya lebih cuek ketimbang anak nan terbuka atau aktif.

Orangtua nan sehari-hari berhadapan dengan anaknya diharapkan mau lebih jeli mencoba gaya bicara nan paling efektif buat masing-masing karakter. Sesekali mungkin Anda lepas kontrol, kembali ke gaya lama atau cenderung emosional menghadapi anak nan cuek. Tidak mengapa, tapi ubahlah segera gaya bicara Anda sebelum anak menutup telinganya rapat-rapat.

Selamat mencoba!