Solusi Diri

Solusi Diri

Ketika sedang jatuh cinta dan diliputi suasana cinta, semua terlihat begitu latif dan terasa begitu manis. Global bagaikan milik berdua, nan lain hanya mengontrak. Slogan jadul, namun tetap sinkron hingga sekarang.

Tidak dapat dipungkiri, perjalanan cinta tidak selamanya manis sebab cinta juga membawa rasa pahit. Sama seperti segala sesuatu di global ini nan memiliki dua sisi. Hitam dan putih, manis dan pahit, senang dan sengsara. Meskipun menyadari adanya dua sisi itu, umumnya kita hanya siap menghadapi sisi baik dan tidak siap menghadapi sisi buruk. Contohnya ketika kesedihan datang meratapi cinta nan hilang.

Kita tentu tidak berharap hal nan jelek akan terjadi pada kita, namun kita perlu mengantisipasi dan mampu bangkit jika nan tidak diharapkan itu terjadi pada kita.



Cinta nan Memudar

Ketika cinta nan manis dan latif itu memudar dan bahkan hilang di tengah perjalanan, tidak sedikit dari kita nan terpuruk. Patah hati, tidak bersemangat, tidak nafsu makan, sedih berkepanjangan, dan menangisi cinta nan hilang.

Media cetak dan media elektronik bahkan bukan baru sekali memberitakan tentang remaja nan mencoba bunuh diri dampak cinta nan hilang ini. Selain percobaan bunuh diri, ada pula nan melakukan perbuatan kriminal kepada mantan kekasihnya (misalnya meneror, menculik, melakukan pemerasan, bahkan membunuh).

Tak ada nan melarang kita buat bersedih dan menangisi cinta nan hilang. Akan tetapi, tentu kita tahu bahwadengan bersedih dan menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Kita mungkin akan merasa lega sesaat, namun masalah belum terpecahkan. Masalah harus diselesaikan dengan akal sehat, bukan dengan emosi.



Tahapan Move on

Setelah interaksi kandas begitu saja di tengah jalan, mungkin kita tak dapat dengan mudah bangkit dari kesedihan. Tentu buat meraih keceriaan itu kita harus melalui termin demi tahap. Mulai dari ketika masa putus asa, masa penyembuhan, masa menghadapi dilemma, masa baru, masa tebar pesona, dan masa tahan banting.

Adapun klarifikasi dari tahapan demi tahapan move on tersebut, antara lain sebagai berikut.



  1. Masa Putus Asa

Awal-awal putus merupakan masa paling berbahaya bagi setiap orang. Tidak sporadis seseorang lebih memilih buat meratapinya dengan menangis didalam kamar. Tentu hal ini dianggap wajar, sebab jika perasaan sedih itu dipendam nantinya akan berdampak buruk.

Semakin kita menghindar dari perasaan patah hati, rasa sakit itu semakin terasa. Oleh sebab itu, curahkan saja segala emosi nan ada didalam hati. Rasa mencurahkannya tentu bukan dengan melemparkan barang-barang nan ada di kamar, melainkan dengan merenungkan dan menjadikannya pelajaran dalam kehidupan.

Satu hal terpenting nan harus diingat ketika mnghadapi kondisi putus cinta, yaitu hindari sosial media. Terkadang seseorang nan sedang patah hati, cenderung ingin melampiaskannya di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Mungkin bagi sebagian orang, mencurahkan isi hati di media sosial sangat ampuh buat meredakan patah hati. Padahal dalam kenyataannya, justru sikap tersebut akan mencoreng nama baik kita, sebab mempublikasikan masalah pribadi.



  1. Masa Penyembuhan

Meskipun masa putus harapan tak mudah buat dihadapi, tapi harus kita lewati. Saat ini ialah waktu nan tepat buat memperbaiki diri, jangan hanya terdiam meratapi kesedihan.

Kita dapat memulai masa penyembuhan dengan melakukan intropeksi diri terhadap masa jalinan cinta nan lalu. Apakah kita terlalu pasif atau agresif? Apakah kita cenderung mengelah atau dominan? Renungkan hal tersebut dan temukan jawabannya dalam hati kita.

Ingat, dalam masa penyembuhan ini Anda harus dapat menghilangkan pemikiran-pemikiran positif. Contohnya, beranggapan bahwa kita tak dapat mendapatkan pria lain nan lebih baik. apabila pemikiran tersebut terus menerus ditanamkan dalam benak kita, tentu sulit buat bankit dari keterpurukan.



  1. Masa Menghadapi Dilema

Pada masa menghadapi dilema, kita harus dapat bersikap realistis dengan perasaan. Tidak ada nan tahu kapan rasa sakit itu benar-benar menghilang. Oleh sebab itu, kita seharusnya jangan terlalu memaksakan diri buat melupakan semuanya dan berpura-pura tegar.

Hadapilah masa ini, seperti air nan mengalir. Secara perlahan namun niscaya rasa sakit hati itu akan sirna. Nikmati masa-masa ini dengan mencoba sedikit demi sedikit move on dari kesedihan cinta nan hilang.

  1. Masa ‘Baru’

Masa baru ialah masa buat menghadapi hari baru, lembaran baru, dan suasana hati baru. Kita harus dapat menikmati hari nan baru ini dengan penuh kebahagiaan. Bebaskan segala pikiran kita dari rasa sakit hati.

Coba cari segi positif dari putusnya cinta ini. Mungkin saja, ketika berpacaran kita sering dilarang buat melakukan berbagai hal nan disukai oleh sang kekasih. Nah, sekarang waktu nan tepat buat melakukan kegitan tersebut. Tentunya kegiatan nan dimaksud ialah kegiatan positif.

Di masa baru ini, kita juga dapat memulai buat mencoba membuka hati buat pria lain. Cobalah buat berkenalan satu sama lain. Mungkin saja, cocok dan nantinya dapat menjalin kasih.



  1. Masa Tebar Pesona

Jangan jadikan putus cinta sebagai alasan kita buat takut menjalin interaksi asmara baru. Meskipun rasanya sulit buat membuka hati lagi, tapi kita juga harus ingat setiap orang memiliki sikap dan sifat nan berbeda. Dapat saja, pria nan kali ini ialah pria nan tepat buat menjadi kekasih, bahkan berlanjut ke jenjang pernikahan.

Dalam masa tebar pesona ini, sebaiknya penampilan dan sikap harus sedikit diubah. Tentu nan diubah ialah sisi negatifnya saja. Misalkan sewaktu kita pacaran dulu, sama sekali tak mementingkan penampilan dan terkesan jutek. Nah, mulailah buat lebih menata penampilan, sehingga versus jenis terpikat. Selain itu, biasakan juga tersenyum, sebab senyum mencerminkan sikap ramah tamah.



  1. Masa Tahan Banting

Pada masa tahan banting ini, kita harus mencopa melupakan hari-hari kelam dulu. Nikmatilah masa nan baru, masa menjalin asmara dengan pria nan baru.

Jangan biarkan masa lalu itu menghantui dan menahan diri kita buat bangkit dari kesedihan. Buktikan bahwa diri kita kuat buat menghadapi kerasnya realita kehidupan ini.



Solusi Diri

Setelah selesai menangis, gunakan akal sehat buat mengenali penyebab hilangnya cinta itu. Cinta nan hilang dapat terjadi sebab pasangan kita meninggal dunia, percintaan jeda jauh (long distance love); atau pasangan kita berselingkuh. Selain itu, putus cinta dapat juga dikarenakan perselisihan nan tidak kunjung menemukan titik temu; dan jurang disparitas kian membesar.

Terus memaksakan interaksi dalam keadaan seperti ini juga bukan merupakan perbuatan nan mudah. Apa gunanya menjalin cinta jika hanya buat saling menyakiti? Kita jatuh cinta sebab ingin bahagia. Kita mencintai sebab ingin merasakan kebahagiaan.

Meskipun terasa berat, kita harus berusaha melupakan cinta nan hilang itu. Ada beberapa cara nan bisa kita lakukan buat menghilangkan rasa sakit dampak cinta nan hilang itu:

  1. Singkirkan semua benda nan bisa mengingatkan kita kembali padanya, termasuk hadiah-hadiah nan pernah diberikannya pada kita.
  1. Singkirkan fotonya dari meja belajar dan dinding kita. Hapus foto-fotonya dari ponsel dan komputer/laptop kita.
  1. Hapus nomor teleponnya dari ponsel kita.
  1. Jika perlu, keluarkan atau blokir dia dari daftar teman kita disitus jejaring sosial.
  1. Jangan terus mengingat kebaikan dan saat-saat manis bersamanya. Ini hanya akan membuat kita semakin tidak bisa menerima kenyataan. Sebaliknya, ingat-ingatlah kekurangan atau sifat-sifatnya nan tak kita sukai.
  1. Temui dan berbicaralah dengan sahabat nan dapat dipercaya. Sahabat nan baik akan mendukung dan tidak akan meninggalkan kita di saat-saat sulit.
  1. Cari kegiatan baru. Bertemu banyak teman baru akan membuat kita merasa lebih bersemangat.
  1. Tekuni hobi kita nan mungkin terbengkalai ketika kita masih menjalin cinta dengannya.

Mulailah melupakan cinta nan hilang itu. Kebahagiaan sedang menanti kita di depan sana.