Penyebab Timbulnya Bahaya

Penyebab Timbulnya Bahaya

kwd]Gunung Merbabu[/kwd] masuk dalam wilayah dua kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali. Gunung dengan ketinggian sekitar 3.145 di atas permukaan bahari ini tercatat pernah beberapa kali meletus berabad-abad silam.

Namun, kini gunung ini tergolong tak aktif. Gunung Merbabu dikelilingi beberapa gunung di sekitarnya, yaitu Gunung Merapi, Gunung Ungaran, dan Gunung Telomoyo.

Gunung Merbabu merupakan salah satu tujuan favorit banyak pendaki gunung di Indonesia sebab medannya nan tak terlalu berat dan panorama alamnya nan benar-benar memikat. Gunung Merbabu memiliki dua puncak dan lima kawah.

Kedua puncak Gunung Merbabu ialah puncak Kenteng Songo dan puncak Syarif. Sedangkan, kelima kawahnya meliputi kaldera Kombang, kaldera Rebab, kaldera Condrodimuko, kaldera Sambernyowo, dan kaldera Kendang.



Jalur Pendakian

Setidaknya ada empat jalur pendakian uang biasa dilalui para pendaki Gunung Merbabu.

  1. Jalur Tekelan

    Jalur pendakian ini di mulai dari kawasan objek wisata Umbul Songo, Kopeng, Salatiga. Dari Umbul Songo para pendaki harus mengarahkan perjalanan ke Desa Tekelan. Desa ini merupakan desa terkhir menuju Gunung Merbabu. Di desa inilah bascamp pendakian Merbabu berada.

    Dari basecamp Desa Tekelan, pendakian dilanjutkan menuju Pos Pending, Pos I (Pos Gumuk), Pos II (Lempong Sampan), Pos III (Pos Watu Gubug), Pos IV (Pos Pemancar), dan Pos V (Pos Helipad). Pos IV ialah pos terakhir sebelum para pendaki akan sampai ke puncak Syarif atau puncak Kenteng Songo.
  2. Jalur Cuntel

    Jalur pendakian Cuntel juga dimulai dari kawasan objek wisata Umbul Songo. Dari sini, para pendaki harus mengarahkan perjalanan ke Desa Cuntel. Perjalanan dari Umbul Songo menuju Bascamp Desa Cunthel ini pun harus melewati hutan pinus dan ladang-ladang penduduk.

    Dari basecamp Desa Cuntel, pendakian dilanjutkan ke Pos Bayangan I, Pos Bayangan II (Pos Gumuk), Pos I (Pos Watu Putut), Pos II (Pos Kedokan), Pos III (Pos Kergo Pasar), Pos IV (Pos Pemancar), dan Pos V (Pos Helipad). Setelah Pos V terlewati, 30 menit perjalanan pendaki selanjutnya akan mengantarkan para pendaki ke puncak Syarif atau puncak Kenteng Songo.
  3. Jalur Wekas

    Pendakian melalui jalur Wekas dimulai dari Desa Kaponan, Magelang. Dari Kaponan, pendaki harus mulai berjalan kaki menuju Desa Wekas. Desa ini merupakan desa terakhir menuju Merbabu. Desa ini merupakan bascamp pendakian melalui jalur Wekas.

    Dari basecamp Desa Wekas, pendakian dilanjutkan menuju Pos I dan Pos II. Jalur Wekas ini hanya memiliki dua pos. Perjalanan selanjutnya akan membawa pendaki ke persimpangan jalur Thekelan dan jalur Wekas. Persimpangan ini terletak antara Pos Pemancar dan Pos Helipad. Dari sinilah, puncak Merbabu akan dicapai.
  4. Jalur Selo

    Jalur pendakian Selo dimulai dari Desa Selo. Desa terakhir nan ditemui jika melakukan pendakian melewati jalur ini ialah Desa Tuk Pakis. Perjalanan dari Selo ke Tuk Pakis memakan waktu sekitar satu jam. Dari Tuk Pakis nan menjadi basecamp pendakian, perjalanan dilanjutkan ke Shelter I, Shelter II, Shelter III, dan Shelter IV. Selepas Shelter IV, pendaki masih harus menempuh perjalanan sekitar satu jam sebelum sampai di puncak Kenteng Songo.
  5. Pendakian Gunung Merbabu rata-rata memakan waktu tujuh jam perjalanan. Menempuh jalur nan berbeda saat naik dan turun akan membuat pengalaman mendaki makin lengkap. Medan jalur utara (Thekelan, Cuntel, dan Wekas) lebih terjal dibandingkan jalur selatan (Selo), tetapi jeda tempuhnya lebih pendek.

    Sebaliknya, jalur Selo lebih landai, tetapi jeda tempuhnya lebih jauh. Jalur Selo ialah alternatif menarik ketika turun gunung. Lelahnya fisik seolah tersegarkan pemandangan yang elok sepanjang jalur ini. Sabana, padang edelweis, dan bunga-bunga liar akan menyapa sepanjang perjalanan ini.


Persiapan Mendaki Gunung

Mendaki gunung ialah kegiatan berat dan berisiko tinggi. Maka, sebelum mendaki gunung, persiapan nan matang perlu dilakukan.

  1. Persiapan fisik, misalnya berolahraga.
  2. Persiapan mental, ini berkaitan dengan perlaku dan sikap nan harus dijaga selama melakukan kegiatan pendakian. Juga kondisi psikis masing-masing individu.
  3. Perlengkapan, antara lain jaket, kompas, peta, sleeping bag, matras, senter, sepatu khusus, topi, tenda, tali-temali, korek api, pisau, sarung tangan, jas hujan, dan sebagainya.
  4. Perbekalan, meliputi makanan, obat-obatan, dan uang.
  5. Administrasi, berkaitan dengan perizinan, laporan kepada petugas, dan kartu bukti diri diri serta rombongan.


Penyebab Timbulnya Bahaya

Kadangkala, para pendaki menghadapi berbagai macam bahaya dalam kegiatan pendakian. Gangguan kesehatan hingga kehilangan nyawa bisa dialami dalam kondisi ini. Berikut ini ialah beberapa penyebab munculnya bahaya dalam pendakian.



1. Kekurangsiapan fisik dan mental

Untuk mengatasi permasalahan ini maka sebaiknya sebelum melaksanakan pendakian ke pegunungan, seseorang harus melakukan persiapan secara fisik dan mental. Secara fisik bisa dengan mengkondisikan badan dalam keadaan seratus persen sehat atau fit. Sedikit saja gangguan dalam badan seperti sakit ringan, bisa menjadi pemicu masalah besar saat berada dalam dataran tinggi nan terjal. Kesulitan dan juga energi nan banyak terkuras dalam pendakian memungkinkan penyakit ringan bisa menjadi penyakit nan berbahaya bagi pendaki.

Lakukanlah olahraga ringan secara rutin jauh sebelum hari keberangkatan. Ini berguna buat melatih fisik agar tetap dalam kondisi puncak. Untuk mempersiapkan segi mental, seorang pendaki seharusnya telah mempunyai cukup pengalaman dan pengetahuan tentang aktivitas pendakian. Oleh karena itu bagi para pemula membutuhkan pemandu dalam aktivitas ekstrem ini. Sewalah seorang pemandu nan telah pakar dalam mendaki gunung Merbabu, agar keselamatan diri dan rekan setim bisa dijaga dengan pasti.



2. Kurangnya pengetahuan akan segala hal nan berhubungan dengan pendakian gunung

Cara terbaik buat menutupi kekurangan pengetahuan dalam pendakian ialah dengan bertanya dan berdiskusi dengan para pendaki nan telah berpengalaman. Sebab hanya dengan cerita dan nasehat dari mereka nan merupakan ilmu sekaligus pengalaman dari pendaki. Boleh saja dengan membaca buku namun pastikan isi dan penulis buku bisa dipercaya.



3. Tersesat

Ini biasanya terjadi sebab pendaki melintasi jalur baru, tak melengkapi diri dengan kompas, atau terpisah dari rombongan.



4. Cuaca buruk, misalnya hujan deras, kabut nan sangat tebal, atau udara nan sangat dingin

Cuaca jelek sebaiknya menjadi alasan kuat bagi para pendaki buat berhenti dan mengurungkan aktivitas mereka. Karena hujan deras dan kabut tebal bisa membuat lokasi pendakian semakin berbahaya. Banyak korban nan mereka merupakan seorang pendaki ulung, namun dikarena situasi nan tak terduga mereka menjadi panik.



5. Perbekalan dan perlengkapan kurang memadai

Bawalah bekal nan lebih buat memastikan diri tercukupi saat berada di loka pendakian. Perlengkapan juga harus dicek ulang saat akan berangkat. Perhatikanlah dalam tas apakah alat-alat krusial sudah terbawa atau tidak. Dengan persiapan nan memadai akan mengurangi resiko kecelakaan saat mendaki gunung.

Ada kalanya situasi terjadi tanpa dugaan seorang ahli, maka di saat itu kekuatan doa dan keyakinan seseorang menjadi motivasi buat keluar dari kondisi terburuk.