Pertemuan dengan Weh

Pertemuan dengan Weh



Mimpi Tak Kenal Putus Asa

Ringkasan novel Edensor nan membuat mimpi menjadi bara nan menyala ialah suatu hal nan sangat menarik disimak. Walaupun banyak nan menjadikan mimpi ini sebagai ikatan emosi nan akan membawa orang nan memimpikannya semangat, kehidupan nan penuh rintangan membutuhkan dorongan dari orang-orang konkret nan akan membut mimpi itu menjadi satu wujud nan indah. Setelah ia terwujud, lalu membangun mimpi baru nan akan membawa ke mimpi berikutnya hingga mimpi nan paling indah, yaitu masuk surga.

Emosi nan tak stabil terkadang membuat mimpi terasa sangat jauh dari jangakauan. Saat merasa bahwa mimpi itu jauh sekali dari gapai tangan, jiwa menjadi tertekan dan merasa bahwa tidak akan dapat meraih mimpi itu sehingga kelelahan jiwa membuat tubuh pun lelah berjuang. Kepasrahan berbuah keputusasaan. Tentu bukan ini nan diharapkan. Namun, kenyataannya demikian. Banyak nan menyerah dengan mimpi sebab merasa bahwa mimpi itu tidak bukan buat dirinya. Ia tidak percaya lagi kalau mimpi itu ada.

Yang dilakukannya akhirnya hayati tanpa mimpi. Ia hanya ingin menjadi orang baik dan terus menjadi baik. Kalaupun suatu saat mimpi nan telah dikuburnya menjadi satu kenyataan, ia mungkin tak menganggap itu berupa wjud mimpinya, melainkan sesuatu nan biasa saja. Ia tidak mau membuat mimpinya menjadi bara barah penyemangat hidupnya. Ia merasa Tuhan tidak mendengar keluh kesahnya. Ia tidak mau laki bermimpi nan mungkin terlalu jauh dari jangkau atau gapai tangannya.

Suatu fenomena nan perih ketika orang meletakkan mimpinya di bawah kakinya dan mengubur mimpi itu tanpa mau berjalan dengan mimpi itu lagi. Ia merasa bahwa mmpi itu hanya sekedar mimpi dan mungkin tak semua mimpi dapat terwujud. Kalau semua mimpi terwujud, mungkin global menjadi tak latif lagi. Ketika banyak mimpi nan tak tergapai, itulah estetika dari mimpi-mimpi nan tergapai. Hatinya cemburu dengan orang-orang nan dikabulkan kehendaknya.

Ia merasa telah bekerja keras, tetapi Tuhan belum juga mengabulkan keinginannya. Ia tidak meminta nan berat. Ia hanya meminta sebuah rumah dengan tiga kamar tidur dan membelinya tanpa utang. Berpuluh tahun bekerja keras, semua itu belum juga terwujud. Entah misteri apa nan disembunyikan Tuhan darinya sehingga ia belum juga mendapatkannya. Mimpi nan tidak mungkin bersayap ini menjadikan orang nan bermimpi itu layu.

Pasti bukan sepeerti itru citra nan ada di novel ini. Walaupun mimpi terasa menjauh, tetap saja sang mimpi tak boleh dibiarkan pergi. Kalau memang mimpi itu ialah satu asa nan sangat didamba, maka sebagai pejuang nan mempunyai mimpi itu, dia tak boleh menyerah. Kalaupun ingin beristirahat dari mengejar sang mimpi, lakukanlah dengan tetap menggenggam mimpi itu. Jangan lepaskan hingga kapanpun.

Keyakinan bahwa mimpi akan tercapai itu akan mendekatkan dengan mimpi itu sendiri walaupun mungkin perjalanan meraih mimpi agak tersendat. Biarkan snag mimpi diketahui banyak orang sehingga semakin banyak nan mendoakan agar sang mimpi cepat berbentuk. Memang tak mudah mendapatkan dukungan nan begitu setia dan tiada kenal pamrih. Kebanyakan memang memberikan asa namun ingin juga mendapatkan jatah dari bagian mimpi nan menyenangkan itu.

Tidak menjadi masalah buat berbagi mimpi sebab kesuksesan akan dipandang sebagai sesuatu nan sangat menyenangkan ketika diraih bersama dengan banyak orang dan memberikan akibat nan luas kepada orang lain. Bukan sesuatu nan berbentuk seperti pembanggaan pada diri sendiri, tetapi membawa banyak orang meraih mimpi nan sama itu akan menyenangkan sekali. Berbagi ialah satu mimpi latif nan menyenangkan. Seremoni kesuksesan akan terasa ketika dilalukan oleh semakin banyak orang.

Biarkan orang lain juga ikut merasa mimpinya terwujud ketika mimpi itu menjadi nyata. Keinginan demi keinginan seharusnya saling berkesinambungan dan tak patah di tengah jalan. Kalau patah, mimpi dapat hanyut dan tak tercapai hingga maut memisahkan diri dengan mimpi. Apapun nan telah diimpikan tetaplah digenggam dan jangan lepaskan. Mungkin Tuhan akan memberikan mimpi itu pada waktu nan tepat. Atau mungkin saja mimpi itu akan dijadikan sebagai hadiah di surga nanti. Hanya Tuhanlah nan tahu apa nan akan terjadi dihari esok.

Kalau berputus harapan dengan mimpi, ditakutkan akan menjadi depresi dan akhirnya malah menjadi gila dan hilang ingatan. Hal ini tentunya bukan sesuatu nan diharapkan. Mimpi bukan buat membuat orang nan memimpikannya hilang ingatan. Mimpi itu dapat saja diganti sinkron dengan perkembangan zaman. Saat nan diimpikan sudah tak ada lagi atau ada sesuatu nan lebih baik, maka tak menjadi masalah buat mengubah mimpi.



Andrea Hirata – Sang Pemimpi

Siapa nan tidak mengenal Andrea Hirata, sosok nan meski majornya ekonomi (bukan sastra), lewat kekuatan kata-katanya dapat menggerakkan seluruh jiwa-jiwa manusia buat tidak sekali pun jatuh dalam keputusasaan. Sebaliknya, berjuang dan terus berjuang, sebab sebagaimana Arai pernah bilang bahwa: “Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita”. Biarkan Tuhan Memberikan jalan kepada jiwa-jiwa nan tidak pernah lelah berharap hanya pada-Nya.



Pertemuan dengan Weh

Ringkasan novel Edensor ini akan bermula dari hal nan terkesan tatkala dua tokoh utama, Ikal dan Arai berjumpa dengan Weh nan menurutnya lelaki ajaib nan hidupnya hanya di bahari dan menguasai segala rasi bintang sebagai petunjuk dan penentu arah perjalanan “maritim”nya. Weh merupakan lelaki nan sedikit misterius dan harus menanggung aib dalam seluruh fase hidupnya sebab ia menderita burut sebagai akibat dari ulah nenek moyangnya nan melangggar aturan/larangan agama.

Dari Weh-lah, Ikal belajar mengenai hakikat kehidupan seorang manusia nan hayati tidak wajar dan diluar kebiasaan. Dari Weh, ia belajar mengenai membaca tanda-tanda alam (dan kearifannya) sehingga alam sampai kapanpun mau bersahabat dengan manusia. Dari Weh, berbagai rasi dan zodiak bintang dipelajari nan sangat bermanfaat dalam menentukan arah dan memprediksi datangnya ombak atau badai di lautan lepas. Sebuah pelajaran nan sangat berharga, nan sama sekali tidak mungkin akan didapat dari pelajaran formal di sekolah.

Akhirnya, Zenit dan Nadir merupakan pesan terakhir Weh sebelum ajal menjemputnya. Pesan nan tidak mungkin hilang dan lekang oleh terjangan zaman sampai kapanpun, sekalipun Weh kini jasadnya sudah tidak dapat dipisahkan dari tanah. Ikal paham bahwa kehidupan ada akhir namun mimpi tak boleh berakhir. Mimpi akan membaut semangat tanpa kenal putus asa.

Menjemput mimpi ialah satu perjuangan. Mimpi nan diidam-idamkan Ikal dan Arai, lewat keinginan Pak Balia buat bersekolah di Universiteit Sorbonne, Paris, nan akhirnya membawa mereka berdua menjelajahi benua Eropa (bahkan Afrika). Sebuah tawaran beasiswa bergengsi dari Uni Eropa tidak disia-siakannya sehingga berangkatlah mereka buat mengejar mimpinya.

Menjalankan segala pesan dari ruang-ruang bawah sadarnya, mereplika dan merangkai berbagai estetika dan asa mengenai kehidupan penuh perjuangan nan mesti ditebus dengan bulir airmata, dan peluh keringat sampai nadir. Universitas Sorbonne melambaikan tangannya kepada mereka breharap minta segera disingahi. Dan mimpi itu menjadi kenyataan, kawan. Ikal dan Arai dapat menempuh tingkatan master di benua indah, surga peradaban, dan surat keterangan pendidikan tinggi terbaik di dunia.

Universitas Sorbonne nan telah melahirkan banyak begawan-begawan ekonomi dan sastra secara tidak disangka-sangka dapat mereka singgahi, dan ajaibnya hanya dengan satu jalan: mimpi. Iya, mimpi nan menjadi kenyataan. Mimpi nan akhirnya memberikannya pengalaman tidak terkira sebab dapat bergaul dengan jenius-jenius dari negara dan benua lain.

Dalam satu kelasnya, Ikal dapat bersama teman-teman dari berbagai negara seperti Kanada, India, Jerman, Belanda, AS, dan sebagainya. Sebuah hayati nan tidak mudah tentunya, sebab jika tidak sungguh-sungguh dalam menyikapi hayati di rantau orang maka kesengsaraan dan kegagalan akan menjadi mimpi jelek setelah pencapain mimpi latif Ikal dan Arai mampu menginjakkan kaki di benua Eropa.

Demikian kompendium novel Edensor semoga dapat menginspirasi banyak orang.