Habitatnya Tak Hanya di Jawa

Habitatnya Tak Hanya di Jawa

Adakah sebagian dari Anda nan tak mengenal badak? Sepertinya tak mungkin. Ya, badak merupakan salah satu binatang langka nan populasinya sudah banyak berkurang di dunia. Meski begitu, Anda sebagai warga negara Indonesia tentu masih dapat sedikit berbangga. Bukan sebab populasi badak nan berkurang tentunya. Melainkan berbangga sebab sebagian kecil populasi binatang langka ini ada di Indonesia.

Badak diyakini telah ada sejak zaman tertier (65 juta tahun nan lalu). Seperti halnya Dinosaurus nan telah punah, Badak pada 60 juta tahun nan lalu memiliki 30 jenis banyak mengalami kepunahan. Saat ini hanya tersisa 5 spesies Badak, 2 spesies diantaranya terdapat di Indonesia.



Badak Jawa Si Cula Satu

Badak ialah salah satu mamalia purba nan masih hidup. Nenek moyang binatang langka badak jawa Baluchitherium, telah hayati 50 juta tahun nan lalu, sejak jaman Erasia. Badak Jawa masih satu kerabat dengan kuda dan keledai, yakni hewan nan memiliki kuku ganjil.

Cula badak ialah evolusi dari rambut badak nan manunggal dan mengeras. Sejak jaman dahulu manusia memburu badak hanya buat mendapatkan culanya. Syahdan cula badak dijadikan ramuan obat-obatan atau jadi barang kerajinan seni berharga.

Badak jawa memiliki satu cula nan terletak di ujung hidungnya. Indra penciuman dan pendengarannya sangat tajam, tetapi badak jawa memiliki penglihatan nan kurang baik (rabun dekat). Badak Jawa melahirkan setiap 3-5 tahun sekali. Lama mengandung 16 bulan, umumnya melahirkan satu ekor anak saja dan dipelihara induknya hingga umur 2 tahun, setelah dewasa anak tersebut meninggalkan induknya. Usia binatang langka badak jawa dapat mencapai hingga 50 tahun.

Badak jawa merupakan saudara dekat dari spesies badak India. Karena ukurannya nan lebih kecil, bolehlah Anda menyebutnya sebagai adik dari badak India. Jika dilihat dari fisiknya, binatang langka badak jawa ini mememiliki panjang tubuh kira-kira 3 sampai 3,2 meter, tinggi tidak lebih dari 2 meter, kira-kira hanya 1,2 sampai 1,7 meter saja. Namun, bobot badak Jawa akan membuat Anda sedikit kaget sebab dengan ukuran seperti tadi bobotnya dapat mencapai 900 sampai 2500 kilo.

Dari kejauhan, permukaan badak Jawa sangat kasar dan tidak mungkin punya bulu. Namun, nyatanya, bintang langka badak jawa ini memiliki bulu di permukaan tubuhnya, seperti halnya badak Sumatera, namun dengan bulu-bulu nan lebih pendek. Badak ini hanya memiliki sebuah cula atau tanduk, itu pun ukurannya tak seperti cula badak spesies lainnya nan cukup besar. Cula badak ini ialah nan terkecil. Ukurannya hanya sekitar 20 sampai 30 cm saja.

Badak Jawa ialah pemakan tunas dan rerumputan. Badak memakan daun-daun muda, tunas-tunas dan ranting-ranting nan tumbuh di permukaan tanah. Jika makanan ini tak bisa dijangkau sebab terlalu tinggi, maka badak akan berusaha mematahkan batangnya dengan cara menabrakkan dirinya pada batang tersebut, atau dengan cara menghancurkan batang dengan giginya.

Keragaman makanan badak mungkin merupakan tanggapan terhadap kebutuhan buat membatasi atau mencegah racun nan masuk, memaksimalkan kandungan mineral tertentu, serta menanggulangi kesulitan-kesulitan nan disebabkan oleh keragaman musim.



Berikut Klasifikasi Ilmiah Badak Jawa:

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Subfilum: Vertebrata
Kelas: Mammalia
Ordo: Perissodactyla
Superfamili: Rhinocerotides
Famili: Rhinocerotidae
Genus: Rhinoceros
Spesies: Rhinoceros sondaicus



Ciri Khas Badak Jawa

Badak Jawa merupakan salah satu spesies badak nan paling pemalu. Entah sebab apa, badak ini sporadis sekali bersuara apalagi menampakkan diri secara terang-terangna di alam bebas. Ada anekdot nan menyatakan alasan kenapa binatang langka badak jawa ini sangat pemalu, di minder sebab hanya bercula satu, sedangkan nan lain memiliki 2 cula.

Kulit Badak Jawa ( Rhinocerus sondaicus ) memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja. Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit. Bibir atas lebih menonjol sehingga dapat digunakan buat meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut. Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Selain itu, cula badak Jawa tak pernah dipakai bertarung seperti halnya fungsi cula pada spesies badak lainya. Cula binatang langka badak jawa hanya dipakai buat menggali dan memindahkan lumpur dari kubangan nan dibuatnya buat berendam dan menerik tanaman nan akan dimakannya. Untuk bertempur, badak Jawa lebih menyukai menggunakan giginya.

Seperti karakteristik khas nan juga dimiliki oleh semua spesies badak lain, binatang langka badak jawa pun memiliki penglihatan nan buruk. Badak Jawa ini tak akan terlalu jelas melihat makhluk lain nan berada di dekatnya, binatang langka badak jawa hanya mengandalkan naluri pendengaran dan penciumannya saja buat mengenali berbagai ancaman nan mungkin dapat menyerangnya.

Ciri-ciri Fisik Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus)

  1. Warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.
  2. Memiliki satu cula, dengan panjang ± 25 cm (pada betina ada kemungkinan tak tumbuh/ kecil sekali)
  3. Berat badan mencapai 900 – 2300 kg, panjang tubuh ±2 – 4 m dan tinggi bisa mencapai hampir 1,7 m.
  4. Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.
  5. Rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.
  6. Bibir atas lebih menonjol berfungsi buat meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.

Untuk menandai wilayah kekuasaannya, badak Jawa melakukan hal sama dengan spesies badak lain, yakni dengan menumpukan kotoran dan urin di wilayahnya. Badak jawa juga kadang membuat goresan di tanah dan tanaman dengan kuku kakinya buat menandai wilayahnya itu.



Habitatnya Tak Hanya di Jawa

Meski nama hewan ini ialah binatang langka badak jawa, namun populasinya tak hanya berada di Pulau Jawa. Badak cula satu ini terdapat di seluruh kepulauan nusantara. Selain di Indonesia, populasi binatang langka ini juga tersebar di sepanjang kawasan Asia Tenggara, kawasan India, dan kawasan Tiongkok di daratan China sana.

Jumlah populasi badak bercula satu saat ini sangatlah kritis. Populasi badak cula satu di alam bebas sangatlah sedikit. Ironisnya di kebun binatang pun tak ada poplasi spesies badak Jawa ini. Di Taman Nasional Ujung Kulon saja populasi badak cula satu ini hanya sekitar 40-50 ekor. Dengan demikian, badak cula satu ialah salah satu dari lima spesies badak nan ada nan tergolong paling langka di bumi.

Jumlah Badak Jawa sekarang makin sedikit, diperkirakan hanya sekitar 50 ekor nan hidup. Habitat orisinil dari binatang langka badak bercula satu di Taman Nasional Ujung Kulon kini terancam kekeringan dan aktivitas gunung berapi aktif, bala alam dikhawatirkan menghabisi Ujung Kulon.

Badak Jawa (Badak bercula satu) nan hayati berkumpul di satu kawasan primer sangat rentan terhadap kepunahan nan bisa diakibatkan oleh agresi penyakit, bala alam seperti tsunami, letusan gunung Krakatau, gempa bumi. Selain itu, badak ini juga kekurangan ruang jelajah dan sumber dampak pencaplokan langkap (arenga) dan kompetisi dengan banteng.

Menurut penelitian habitat nan paling cocok, kondusif dan nisbi dekat ialah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat, nan dulu juga merupakan habitat badak Jawa. Jika habitat kedua ditemukan, maka badak nan sehat, baik, dan memenuhi kriteria di Ujung Kulon akan dikirim ke wilayah nan baru. Habitat ini juga akan menjamin keamanan populasinya.

Ayo kita lindungi binatang langka dari Jawa yaitu badak bercula satu. Jangan sampai Badak cula satu ini punah seperti dinosaurus.