Kondisi Perpustakaan

Kondisi Perpustakaan

Seperti halnya buku ialah ventilasi ilmu pengetahuan, maka perpustakaan bisa dikatakan sebagai gudangnya ilmu pengetahuan, dimana buku-buku dan berbagai jenis informasi lainnya disimpan di dalamnya dan bisa memberikan informasi bagi penggunanya. Artikel tentang perpustakaan banyak dibuat oleh para praktisi perpustakaan, dan ditujukan buat mengenalkan perpustakaan bagi masyarakat.

Selain buat memperkenalkan masyarakat pada perpustakaan, artikel tentang perpustakaan juga dibuat buat meningkatkan minat baca pada masyarakat sehingga pada akhirnya masyarakat sadar akan pentingnya perpustakaan buat kemajuan pendidikan.

Itulah mengapa krusial bagi penulis agar bisa membuat artikel tentang perpustakaan nan baik, karena artikel ilmiah cenderung membosankan dan sulit dicerna.



Menulis Artikel tentang Perpustakaan

Bagaimana cara nan baik buat membuat artikel tentang perpustakaan? Penulis harus mengenali perpustakaan itu sendiri. Berikut sebagian kecil nan bisa penulis pelajari dari sebuah perpustakaan.

  1. Definisi perpustakaan.
  2. Mengenali kondisi perpustakaan di Indonesia, mulai dari kondisi bangunan, koleksi, dan lainnya.
  3. Memperkenalkan perpustakaan nan ditulisnya kepada masyarakat luas dengan melampirkan foto.
  4. Mempromosikan perpustakaan itu sendiri.


Definisi Perpustakaan

Perpustakaan selain disebut sebagai gudang ilmu pengetahuan, bisa juga diartikan sebagai loka rekreasi. Mengapa loka rekreasi? Karena di perpustakaan, seseorang bisa membawa imajinasinya ke loka mana pun di global melalui buku.



Kondisi Perpustakaan

Di Indonesia, kondisi perpustakaan masih belum memadai. Hanya forum besar dan memiliki dana banyak saja nan mampu membangun perpustakaan. Itu pun hanya forum besar nan menyadari bahwa perpustakaan merupakan asset berharga.

Sehingga kebanyakan kondisi perpustakaan di Indonesia hanya seadanya, dan staf nan bekerja di dalamnya pun hanya staf biasa dan bukan profesi idaman sehingga bekerjanya pun asal-asalan saja.



Memperkenalkan Perpustakaan

Dalam menulis artikel tentang perpustakaan, perlu dilampirkan foto-foto nan mendukung agar artikel tersebut menarik. Foto nan dilampirkan bisa berupa foto koleksi perpustakaan, foto kegiatan nan dilakukan perpustakaan tersebut agar pembaca tertarik buat mengunjunginya.



Promosi Perpustakaan

Mempromosikan sebuah perpustakaan ialah hal nan perlu dilakukan secara terus menerus. Perpustakaan bisa mengadakan kegiatan seperti mewarnai, meresensi buku atau lomba mendesain perpustakaan. Kegiatan-kegiatan ini nan nantinya akan menarik minat pembaca agar mau datang ke perpustakaan.

Memang mengajak orang buat datang dan mengunjungi perpustakaan bukan hal nan mudah sebab selain perpustakaan belum bisa dijadikan loka rekreasi, minat baca pada masyarakat perlu ditumbuhkan terlebih dahulu.

Minat baca bisa ditumbuhkan dengan cara mengenalkan buku sejak dini pada anak-anak. Buku nan diberikan pun harus sinkron dengan usia dan kemampuannya memahami isi buku.

Dengan makin tumbuhnya minat baca serta banyaknya artikel tentang perpustakaan nan mempromosikan perpustakaan di Indonesia, harapannya ke depan ialah perpustakaan bisa menjadi jantungnya ilmu pengetahuan di negara ini.



Katalog Buku sebagai Pusat Informasi

Berbicara mengenai artikel tentang perpustakaan terasa kurang lengkap jika tak menyertakan katalog. Apa itu katalog? Pengertian katalog berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah carik kartu, daftar, atau buku nan memuat nama benda atau informasi eksklusif nan ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur, dan alfabetis. Katalog di global perpustakaan memiliki pengertian kartu nan memudahkan orang buat mencari buku-buku di perpustakaan.

Menurut Fathmi (2004), katalog merupakan daftar berbagai koleksi perpustakaan nan disusun menurut daftar tertentu. Sedangkan menurut buku Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan (2003), katalog perpustakaan ialah suatu rekaman atau daftar bahan pustaka nan dimiliki oleh suatu perpustakaan atau beberapa perpustakaan nan disusun berdasarkan anggaran dan sistem tertentu.

Menurut Hunter (dalam Hasugian, 2009) katalog ialah suatu daftar dari dan indeks ke suatu koleksi buku dan bahan lainnya. Sedangkan definisi dari Gates (dalam Hasugian, 2009) menyebutkan katalog perpustakaan ialah suatu daftar nan sistematis dari buku dan bahan-bahan lain di suatu perpustakaan, dengan informasi deskriptif soal pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik, subjek, karakteristik khas bahan, dan tempatnya.

Tidak hanya katalog bisnis nan dibuat oleh para pengusaha. Di global perpustakaan, istilah katalog justru sudah sangat familiar. Menurut pengertian umum, katalog merupakan daftar nama-nama, tempat, dan barang-barang.

Sementara dalam pengertian khusus, katalog nan dikenal di global perpustakaan ialah daftar bahan pustaka atau koleksi buku nan dimiliki oleh suatu atau beberapa perpustakaan nan disusun secara teratur (sistematis dan alfabetis) menggunakan sistem tertentu.

Biasanya, bahan pustaka nan dimuat dalam sebuah pembuatan katalog terdiri dari buku, slide, terbitan berkala, piringan hitam, pita kaset, microfilm, CD Rom, dan lain sebagainya.

Membahas pembuatan katalog di global perpustakaan tidak akan lepas dari proses pembuatan katalog nan lebih dikenal dengan istilah katalogisasi. Proses pembuatan katalog buku atau perpustakaan tersebut dibedakan menjadi katalogisasi deskritif dan katalogisasi subyek.

Katalogisasi deskritif merupakan kegiatan merekam dan mengindentifikasi data bibliografi (data tentang pengarang, judul, nama penerbit, tahun terbitan, edisi dan data buku lain nan diperlukan), sedangkan katalogisasi subyek lebih ke arah proses penentuan judul subyek dan nomor klasifikasi katalog.

Perpustakaan memang membutuhkan sistem katalog buku. Tanpa diadakan katalog, akan terasa sulit buat mencari ratusan bahkan ribuan koleksi buku nan ada di perpustakaan.

Dengan adanya katalog, seorang pustakawan akan mudah mengecek keberadaan buku nan dipinjam ataupun buku nan sudah dikembalikan oleh para pengunjung perpustakaan. Keberadaan katalog pun akan memudahkan dalam pemberian atau saling bertukar informasi seputar global buku.

Untuk memudahkan dalam proses pertukaran informasi antarperpustakaan atau pusat informasi lainnya, katalogisasi pun akhirnya diseragamkan. Pada 1976, terbit peraturan panduan dalam pembuatan katalog secara internasional. Panduan tersebut ialah Anglo American Cataloging Rules atau AACR2.

Di Indonesia sendiri, peraturan dan panduan pembuatan katalog buku diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional berupa Peraturan katalogisasi Indonesia. Hal ini menjadi baku pembuatan katalog di seluruh perpustakaan di Indonesia, khususnya perpustakaan nasional, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan generik lainnya.



Bentuk Katalog Perpustakaan

Jenis katalog perpustakaan bervariasi. Namun, beberapa bentuk fisik katalog di bawah ini sering digunakan dalam sebuah katalog perpustakaan ataupun katalog bisnis usaha.

  1. Katalog berbentuk kartu. Biasanya katalog ini mempunyai ukuran 7 x 12 sentimeter. Bentuk ini paling lazim digunakan oleh sebagian perpustakaan. Kartu-kartu tersebut tersusun rapi dalam laci-laci katalog sehingga memudahkan pustakawan ketika mencari atau memberitahukan informasi mengenai buku.
  1. Katalog dalam bentuk tercetak. Katalog ini lebih praktis dan padat informasi. Biasanya informasi katalog dimuat secara sistematis dan alfabetis. Bisa dibawa ke mana pun. Namun, kelemahan dari katalog cetak adalah ketika ada entri atau data baru nan ingin dimasukkan ke dalam katalog harus melakukan pencetakan ulang.
  1. Katalog elektronik. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, katalog elektronik pun hadir dengan format nan menarik. Kemudahan dalam membuat katalog elektronik sangat dirasakan bagi pembuat katalog. Kelebihan katalog elektronik lebih cepat dan mudah diakses oleh siapa pun, menghemat biaya cetak kertas dan biaya pembuatannya.


Perpustakaan Nasional

Berbicara mengenai artikel tentang perpustakaan sebaiknya juga mengetahui apa itu perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional ialah forum pemerintah setingkat departemen, atau Forum Pemerintah Nondepartemen (LPND). Sehingga Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berkedudukan di bawah dan langsung bertanggung jawab kepada Presiden RI.

Perpustakaan Nasional dulunya bernama Bataviaasch Genootschap . Forum ini didirikan pada 24 April 1778. Forum inilah nan menjadi cikal bakal Perpustakaan Nasional. Bataviaasch Genootschap dibubarkan pada 1950.

Kemudian, pemerintah di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan buat membuat forum nan memiliki tugas menyimpan majemuk informasi dan data milik negara. Perpustakaan Nasional secara resmi berdiri pada 17 Mei 1980. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, Daud Joesoef nan meresmikannya.

Perpustakaan Nasional didirikan dari proses bergabungnya keempat badan atau forum negara lain nan tadinya ialah badan bawahan Ditjen Kebudayaan. Keempatnya, antara lain:

  1. Perpustakaan Museum Nasional
  2. Perpustakaan Sejarah, Politik dan Sosial
  3. Perpustakaan Wilayah DKI Jakarta
  4. Bidang Bibliografi dan Deposit, Pusat Pembinaan Perpustakaan

Perpustakaan Nasional sempat berpindah lokasi. Bahkan, tak dapat berada di satu lokasi nan sama melainkan terpisah-pisah ke dalam tiga tempat. Di jalan Merdeka Barat 12 ikut menempati lokasi Museum Nasional. Lalu, di jalan Merdeka Selatan 11 menumpang di Perpustakaan SPS dan juga di jalan Imam Bonjol 1, yaitu Museum Naskah Proklamasi.

Akhirnya pada 1987, lokasi Perpustakaan Nasional disatukan. Ibu negara waktu itu, Ibu Tien Soeharto menyumbangkan tanah wakaf buat pendirian gedung Perpustakaan Nasional melalui Yayasan Asa Kita nan dipimpinnya. Tanah tersebut berukuran 16.000 m2.

Lokasi tersebut terletak di jalan Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat. Gedung baru berlantai sembilan pun ikut dibangun buat disumbangkan. Bangunan lama nan telah berada di sana ikut direnovasi agar nyaman ditinggali dan enak dilihat.

Secara resmi Perpustakaan Nasional dibuka pada tanggal 11 Maret 1989, bertepatan dengan ulang tahun Perpusnas nan kesembilan. Presiden Soeharto dan ibu negara meresmikannya dengan menandatangani prasasti marmer nan diletakkan di sana.