Hubungan Antara IQ, EQ, dan SQ

Hubungan Antara IQ, EQ, dan SQ

Anda tentu sudah mendengar istilah SQ ( Spiritual Quotient ), atau nan lebih populer disebut dengan kecerdasan spiritual. Tetapi masih ada sebagian di antara kita nan masih belum paham apa itu sebenarnya SQ. Dalam diri kita dikaruniai beberapa kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Lantas apakah SQ merupakan kecerdasan nan baru? Atau kah SQ itu gabungan dari kedua kecerdasan tersebut?



SQ - Sekilas Tentang SQ

Apa sebenarnya SQ itu? Apakah hanya sebatas kecerdasan spiritual saja? SQ pertama kali diperkenalkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ memanfaatkan kecerdasan spiritual dalam berpikir integralistik dan keseluruhan buat memaknai kehidupan. SQ merupakan kecerdasan jiwa nan membantu seseorang buat mengembangkan dirinya secara utuh, melalui penciptaan kemungkinan buat menerapkan nilai-nilai positif.

SQ secara sederhana bisa diartikan sebagai kecerdasan buat menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, menempatkan konduite dan hayati manusia dalam konteks makna nan lebih luas dan kaya. Jadi, SQ bisa menilai bahwa tindakan atau jalan hayati seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan nan lain.

Di manakah SQ dalam diri kita? SQ merupakan kecerdasan nan bertumpu pada bagian dalam diri kita nan berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar kita. Sehingga dengan adanya SQ bisa membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh.

SQ merupakan kecerdasan nan memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional, agar manusia bisa lebih memaknai hayati dan menjalani hayati penuh berkah, khususnya di saat ini, di mana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu. Jadi, jika IQ bekerja buat melihat ke luar melalui mata dan pikiran serta EQ bekerja mengolah nan ada di dalam telinga dan perasaan kita, SQ menunjuk pada kondisi pemusatan diri.

Untuk menjadi pribadi nan handal baik secara intelektual, emosi, maupun spiritual, kita tak hanya memerlukan kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual atau SQ. Dengan SQ, kita memiliki kemampuan buat menyelaraskan hati, pikiran dan sikap, sehingga menjadi orang nan berkarakter dan berjiwa positif. SQ bisa memengaruhi setiap perilaku, sikap dan tindakan kita, baik nan bersifat intrinsik dan ekstrinsik, sehingga hayati kita lebih bermakna.



SQ - Ciri Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam Diri Seseorang

SQ merupakan kecerdasan buat menghadapi persoalan makna dan nilai-nilai. Sebenarnya apa nan menjadi ciri dari kecerdasan spiritual itu? Bagaimanakah karakteristik seseorang nan dikatakan memiliki SQ nan baik? Berikut beberapa ciri-ciri seseorang nan memiliki SQ nan baik.

  1. Memiliki kemampuan bersikap fleksibel, yaitu mudah beradaptasi secara impulsif dan aktif.
  2. Memiliki taraf pencerahan nan tinggi.
  3. Mempunyai kemampuan buat mengahadapi dan memanfaatkan penderitaan nan pernah dialaminya.
  4. Memiliki kemampuan buat menghadapi dan melampaui rasa sakit nan diderita.
  5. Mempunyai kualitas hayati nan diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
  6. Menghindari melakukan suatu perbuatan nan bisa menyebabkan kerugian nan tak perlu.
  7. Kecenderungan buat melihat keterkaitan antara berbagai hal.
  8. Memiliki Norma buat bertanya "mengapa?" atau "bagaimana jika?", ketika ingin mencari jawaban-jawaban nan mendasar.
  9. Dapat menjadi apa nan disebut dalam istilah psikologi "bidang mandiri", yaitu memiliki kemudahan buat bekerja melawan konvensi.

Seseorang nan mempunyai taraf SQ nan tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin nan penuh pengabdian. Pemimpin nan memiliki taraf SQ nan baik bisa menjadi seseorang nan bertanggung jawab buat membawakan visi dan nilai nan lebih kepada orang lain.

Dengan kata lain bisa memberi inspirasi kepada orang lain. Perlu diketahui juga, bahwa tindakan atau langkah seseorang nan memiliki SQ nan baik bisa menyiratkan seperti apa global nan mereka inginkan ini ialah perjalanan dari pengertian penghargaan menjadi kesadaran.



Hubungan Antara IQ, EQ, dan SQ

Jika kita memiliki ketiga kecerdasan dalam diri kita, yaitu IQ, EQ dan SQ, lantas bagaimana ketiga kecerdasan tersebut bisa kita kelola dengan baik? Nah, Anda dapat melihat interaksi antara ketiga kecerdasan tersebut dengan ilustrasi sebagai berikut.

SQ mampu mengoptimalkan kerja IQ dan EQ. Seseorang nan memiliki SQ nan tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna nan ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul. Jika hati telah tenang, EQ akan memberikan frekuwensi buat menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila EQ telah tenang, ditandai dengan genre darah telah teratur, maka seseorang akan bisa berpikir (IQ) secara optimal, sehingga seseorang lebih tepat dalam mengambil keputusan.

Dari ilustrasi di atas, manajemen diri buat mengolah hati dan potensi diri tak cukup hanya mengandalkan IQ dan EQ. SQ merupakan kecerdasan nan sangat berperan dalam diri seseorang sebagai pembimbing kecerdasan lainnya.

Jadi jika ingin sukses, tak cukup dengan kecerdasan rasional nan bekerja dengan rumus dan logika kerja, melainkan kita perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, bisa bekerjasama dengan orang lain, memiliki motivasi kerja, dan bertanggung jawab.



Mengembangkan SQ Sejak Usia Dini

SQ atau kecerdasan spiritual dalam diri kita tidak dapat muncul dengan begitu saja tanpa dikembangkan sejak dini. Mengapa pentingnya mengembangkan SQ sejak usia dini? Hal ini dikarenakan SQ mampu memberikan keutuhan perkembangan mental, jiwa dan pribadi seseorang. Itu harus ditanamkan sejak anak-anak. Berikut beberapa cara nan dapat diterapkan pada anak buat mengembangkan SQnya.

  1. Memiliki SQ nan baik. Orangtua nan ingin mengembangkan SQ pada anaknya, haruslah seseorang nan sudah mengalami pencerahan spiritual juga, sehingga sudah mengakses sumber-sumber spiritual buat mengembangkan dirinya. Pada akhirnya akan mudah mentransfer nilai SQ pada anak.

  2. Bantu anak buat merumuskan misi dalam hidupnya. Berikan pada anak Anda berbagai taraf tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Contohnya dengan memberikan pertanyaan "setelah itu apa?". Anda dapat membantu anak buat menemukan misinya jika sudah sekolah, kamu mau apa, setelah itu apa, "Aku mau jadi orang pintar", jika sudah pintar mau apa? Setelah itu apa?, dan seterusnya.

  3. Membaca kitab kudus bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita. Membaca Al Qur'an sangat krusial buat melatih suasana hati dan jiwa anak, apalgi disertai dengan klarifikasi makna dan hikmah-hikmah atau pelajaran nan terkandung di dalamnya.

  4. Menceritakan kisah-kisah agung dari tokoh spiritual. Kisah nan dapat Anda ceritakan bisa diambil dari seorang tokoh nan punya karakter, jiwa, dan pikiran besar nan pernah sukses. Contohnya seorang rasul, wali, ulama, ilmuan, dan orang-orang berhasil lainnya, sehingga akan muncul motivasi positif dalam diri anak.

  5. Ajaklah anak Anda dalam berbagai kegiatan-kegiatan sosial. Sejak dini, anak-anak sebaiknya diikutsertakan dalam acara atau kegiatan sosial. Keikutsertaan anak dalam kegiatan sosial bertujuan buat melatih anak sebagai makhluk sosial sejak dini.