Pendidikan dan Karakter Bangsa

Pendidikan dan Karakter Bangsa

Apa nan tak dimiliki oleh Indonesia? Alamnya menyimpan harta karun. Lautnya menyimpan harta karun. Pantainya sangat luas. Gunungnya juga merupakan ladang uang luar biasa. Manusianya pun berlimpah ruah, mulai dari nan masih kecil hingga nan telah uzur. Sayangnya, ratusan juta manusia nan tinggal di negeri ini masih belum mampu mengangkat nusantara ini menjadi satu negeri nan disegani. Indonesia tak memiliki sumber daya manusia nan cerdas dalam segala bidang nan bisa mengambil harta karun tersebut tanpa donasi tangan-tangan orang asing. Akhirnya, orang-orang asinglah nan menguasai semua harta karun tersebut. Melalui industri nan dibangun, mereka menguasai hampir seluruh industri di Indonesia .



Kurang Cerdaskah?

Lihatlah pimpinan, konsultan, komisaris, atau tampuk pimpinan paling tinggi industri besar Indonesia. Siapakah mereka? Nama-nama nan tak mengandung kaitan budaya dengan Indonesia bertengger di sana. Ke manakah para sumber daya manusia Indonesia nan begitu besar ini? Tak adakah nan mampu memimpin industri-industri besar itu? Semua ini menjadi satu renungan, kurang apa nan harus diupayakan oelh bangsa ini agar mampu menjadi penguasa di negerinya sendiri? Harus bagaimanakah para wanita menjaga dirinya agar dapat melahirkan anak nan sehat dan hebat nan dapat menjadi pemimpin bangsanya di masa depan?

Mungkin ada halangan budaya, intelektualitas, leadership skill atau halangan komunikasi, halangan manajemen dan faktor x lainnya nan membuat sumber daya bangsa ini tidak dapat bertengger di top manajemen perusahaan besar. Segala kemungkinan dapat saja disalahkan, tapi sesungguhnya orang Indonesia tidak kalah cerdas dari orang-orang asing tersebut. Hanya saja kadang kurang rasa percaya diri dan selalu menganggap bahwa orang asing terutama nan berkulit putih lebih unggul dan lebih mampu dalam memimpin telah membuat orang-orang Indonesia lebih banyak berada di posisi bawah.

Dengan kekayaan alamnya nan begitu besar, bangsa ini niscaya tak akan kekurangan sumber makanan nan penuh dengan gizi nan dapat melahirkan anak nan cerdas. Bangsa ini sering merasa tak memiliki apa-apa. Bangsa ini sering merasa iri dan merasa meragukan kemampuan anak bangsanya sendiri. Mereka beranggapan bahwa hanya orang nan berpenampilan hebat nan dapat memimpin. Sedangkan anak bangsa nan bertubuh pendek, berhitung pesek, berbibir tak seksi itu, bukan tipe pemimpin.

Bangsa ini masih melihat dari sisi penampilan. Padahal, tak ada interaksi penampilan dengan kemampuan otak. Begitu banyak orang cerdas nan penampilannya biasa saja. Mungkin sebab sejak kecil sering dibuat tidak berdaya dan tidak disuruh buat maju, bangsa ini akhirnya lebih bangga menjadi orang nan dipimpin dan bukan menjadi pimpinan nan dapat berbuat banyak hal bagi orang-orang nan dipimpinnya. Mereka sepertinya malu kalau harus berbicara di depan banyak orang. Mereka tak percaya diri mengajukan ide-ide cemerlangnya. Mereka takut berhadapan secara langsung dengan orang-orang nan dianggapnya lebih pintar dan lebih menawan dibandingkan dirinya.

Lihatlah apa nan dikatakan anak sekolah dasar ketika ada pemilihan ketua kelas? Masing-maisng mereka malah memilih orang lain. Mereka takut memilih diri sendiri. Mereka takut dikatakan sombong. Janganlah soal pemilihan ketua kelas, buat menjawab soal dari guru saja, anak Indonesia ini sering malu-malu. Mereka lebih berani bersuara kalau bersama-sama. Kalau diminta mengutarakan jawabannya sendiri-sendiri, mereka akan saling tunjuk. Budaya satu ini harus dihapuskan. Anak bangsa ini harus berani mengungkapkan idenya walaupun salah ataupun ide itu ditolak. Anak bangsa ini harus terbiasa berdebat dan harus biasa menerima kekalahan agar mereka tak takut mengutarakan ide-ide atau jawabannya.

Para guru berperanan sangat krusial dalam hal ini dan orangtua memegang peranan nan jauh lebih krusial lagi. Semua harus mampu menjalankan tanggung jawabnya dalam mendidik anak bangsa agar lebih mampu menonjolkan diri dengan cara nan elegan dan tak terkesan arogan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Mereka harus disiapkan memiliki kemampuan nan lebih dengan keilmuan nan mumpuni. Mereka harus didik dengan lembut tapi penuh ketegasan. Karakter ini akan membuat mereka menjadi seorang pemimpin nan tegas, lugas, tapi penuh dengan afeksi dan tak membedakan orang-orang nan ia pimpin.

Sudah saatnya bangsa ini tak lagi saling mengejek terhadap kebijaksanaan dari pemerintah. Namun, bantulah pemerintah menjadi pemerintah nan adil dan berniat hanya buat mencerdaskan kehidupan bangsa demi mendapatkan generasi penerus nan hebat dan tak lemah. Kalau hanya mengkritik setiap kali ada kebijakan nan dikeluarkan oleh pemerintah dan seolah apapun nan dilakukan oleh pemerintah itu salah, bukankan mungkin ada nan salah dengan orang nan sering kengkritik itu?

Apakah mungkin itu merupakan salah satu cerminan bahwa mereka ialah orang nan kalah? Akan lebih baik membuktikan seperti apa nan mereka kehendaki. Ketika konsep itu berhasil, biarlah pemerintah nan belajar kepadanya. Jangan hanya dapat mengkritik tanpa mampu melakukan apapun. Tidak dapat satu konsep itu hanya ada di kepala. Konsep itui harus dibuktikan dan dijalani. Masing-masing orang cerdas nan mempunyai konsep pendidik di negeri ini, harus membuktikan konsepnya. Selanjutnya, konsep nan sukses itu diterapkan ke lingkungan nan lebih luas agar generasi muda bangsa ini tumbuh menjadi generasi cerdas, bertanggung jawab dalam keimanan nan kokoh.



Mudah Puas

Pendidikan nan lebih mengagungkan IQ kadang membuat banyak output pendidikan menjadi para pecundang nan merasa tidak dapat keluar dari zona kehidupan. Membuat mereka berpikir bahwa segitulah jatah mereka di global ini. Keadaan terlalu menerima dan mudah puas dengan apa nan telah didapatkan membuat mereka tidak mau mengambil risiko dan takut gagal. Rasa takut gagal ini menyelimuti hati begitu dalam sehingga kalau gagal rasanya berakhirlah segalanya. Padahal orang nan berhasil itu selalu merasakan kegagalan. Yang mereka lakukan dari kegagalan itu ialah bangkit dan mempelajari kegagalannya sehingga kegagalan itu tak berulang.

Biasanya orang Indonesia nan meraih berhasil ialah orang-orang nan tak hayati dalam tempurung global asalnya. Mereka ialah orang-orang nan telah mengalami petualangan kehidupan nan sangat banyak nan didapatkannya dari global luar. Pikiran nan terbuka dan keinginan buat tak menjadi budak membuat para sumber daya manusia seperti ini bergerak dan melakukan sesuatu buat diri dan bangsanya.

Orang nan berhasil itu biasanya juga telah melalang buana hingga ke beberapa wilayah atau bahkan negara. Dengan demikian ia tak merasa berasal dari satu daerah. Ia aklan merasa sebagai manusia dunia nan harus melakukan banyak hal bagi manusia lainnya. Ia tak berpikir sempit hanya akan memajukan daerah asalnya. Ia akan berpikir bahwa bangsa ini ialah bangsanay sehingga ia akan melakukan nan terbaik buat bangsanya. Pemikiran nan telah menyatu dalam sila ketiga dari Pancasilan ini, yaitu, Persatuan Indonesia, akan membuatnya begitu bersemangat mencari konsep terbaik demi generasi terbaik sehingga apapun bentuk kemajuan termasuk industri di Indonesia dapat dikuasai oelh anak bangsa sendiri.



Pendidikan dan Karakter Bangsa

Hanya melalui pendidikan nan terarahlah nan akan melahirkan sumber daya manusia nan mampu menjadi pemimpin global apapun termasuk global industri. Kurikulum nan tak menciptakan para kuli melainkan para pemain dan pencipta global industri. Kesempatan menciptakan generasi nan akan menjadi pemimpin global sudah ada di depan mata. Pembentukkan karakter nan dimulai dari usia dini pun harus sudah diorganisir dengan baik.

Berbagai perlombaan dan pemberian suntikkan semangat agar tertarik kepada global penelitian harus dimulai sejak balita. Anak diajak buat berpikir lebih rasional dan ilmiah. Ketika memasuki sekolah dasar, anak sudah dapat berpikir kritis dan selalu ingin menjadi pionir nan akan berakhir pada semangat berani mengambil resiko. Arahkan anak buat mau menjadi pengusaha. Jiwa kewirausahaan akan membuat anak tak hanya memiliki satu profesi saja. Mereka akan menjadi seorang dokter atau ilmuwan nan mempunyai perusahaan obat sendiri. Seorang guru nan mempunyai bisnis pengadaan barang dan jasa, misalnya.