Apakah Ciri-Ciri Depresi Post Partum?

Apakah Ciri-Ciri Depresi Post Partum?

Kehamilan ialah masa-masa latif nan harus dinikmati dan disyukuri. Perkembangan janin nan sangat mengagumkan akan membuat diri semakin percaya bahwa ada nan Mahakuasa pengendali kehidupan. Setiap hari berbicara dengan sang ruh nan belum berbentuk manusia secara paripurna itu.

Kondisi nan aman seperti ini hendaknya diketahui oleh semua wanita sebelum kehamilan datang. Hal ini akan membuat wanita tersebut selalu diliputi kebahagiaan kala hamil. Hati nan senang ialah salah satu penghambat tumbuhnya perasaan depresi pascamelahirkan atau nan biasa disebut dengan ( depresi post partum ).

Kehamilan terjadi sebab adanya rendezvous antara sel telur dengan sel sperma nan masuk ke dalam indung telur, melalui lorong rahim pada saat pasangan suami isteri melakukan interaksi intim.

Dari sekian banyak sel sperma nan masuk, hanya satu nan sukses membuahi satu sel ovum nan diprosuksi hanya satu kali dalam satu bulannya. Pembuahan inilah nan dalam kurun waktu seminggu akan menyebabkan terjadinya proses kehamilan.

Itulah sebabnya, butuh waktu nan cukup intens dan rileks buat membuat seorang wanita mengalami proses kehamilan. Dalam keadaan fisik dan psikis nan baik, wanita akan lebih mudah menerima sel sperma nan masuk ke dalam rahimnya.

Tidak hanya itu, pada saat hamil dan melahirkan pun, wanita membutuhkan kondisi nan selalu nyaman, terutama secara psikis agar ia terhindar dari depresi nan nantinya berpengaruh terhadap bayi nan ada di dalam kandungannya.

Untuk mengetahui lebih jelas apa nan dimaksud dengan depresi pasca persalinan, berikut kita simak klarifikasi nan lebih lengkap dalam subbab selanjutnya.



Apakah Semua Wanita Mengalami Depresi Post Partum?

Jika ditanya apakah semua wanita mengalami depresi pasca persalinan? Jawabannya tentu saja tak semua wanita mengalami depresi post partum terutama wanita-wanita nan merasa sangat berbahagia. Depresi ini biasanya dirasakan oleh wanita-wanita nan sejak kehamilannya sudah merasa tertekan.

Tekanan tersebut tak hanya datang dari diri wanita itu sendiri, tapi juga berasal dari lingkungan sekitar wanita tersebut. Beban psikologis nan menghimpit akan semakin merajarela sebab ditambah adanya perubahan hormon pascamelahirkan.

Rasa sakit sehabis melahirkan, bayi nan rewel, serta kurang tidur juga akan menambah rasa depresi pascamelahirkan. Perasaan ini mungkin berlangsung buat waktu nan tak lama bila langsung dapat dideteksi dan ditangani, tapi dapat juga berlangsung lama hingga bertahun-tahun apabila tak diobati. Dapat juga kambuh lagi setelah melahirkan anak nan selanjutnya.

Wanita-wanita nan jauh dari suami dan tak mempunyai orang nan dapat membantunya, wanita-wanita dari kalangan ekonomi lemah nan mengkhawatirkan keberlangsungan hayati masa depan anaknya ialah di antara wanita-wanita nan kemungkinan besar dapat terkena depresi post partum.

Oleh sebab itu, jika Anda termasuk ke dalam criteria wanita nan punya kemungkinan buat mengalami depresi setelah melahirkan seperti nan disebutkan di atas, hendaklah mencari jalan keluar dan antisipasi sebelum hal tersebut benar-benar terjadi.

Apabila tak dicegah dari sekarang, dapat saja hal tersebut bukan hanya merugikan ibu nan sedang hamil dan sudah melahirkan, tapi juga berpengaruh negatif terhadap perkembangan psikologis anak Anda.



Apakah Imbas Depresi Post Partum?

Ibu nan berbahagia akan membawa keluarga bahagia. Sebaliknya, ibu nan depresi akan membawa depresi pada keluarganya. Emosi ialah sesuatu nan menular bak virus. Bila tubuh dan jiwa tak kuat, maka kebahagiaan keluarga ialah taruhannya.

Ibu nan kesehatan jiwanya terganggu akan berimbas pada perkembangan bayinya, baik mental maupun fisik. Dapat jadi kualitas dan kuantitas ASI sang ibu kurang mencukupi buat si bayi.

Oleh karena itu, jika sudah terdeteksi adanya kelainan pada psikologis Anda sebagai seorang ibu nan baru melahirkan, segera konsultasikan kepada dokter kandungan atau mungkin psikolog nan dapat mencarikan jalan keluar agar Anda terhindar dari beban mental nan berkepanjangan.



Apakah Ciri-Ciri Depresi Post Partum?

Orang-orang di sekitar ibu nan baru melahirkan hendaknya memahami kondisi sang ibu. Apabila ada ciri-ciri berikut ini, maka segeralah ambil tindakan.

  1. Ibu merasa mudah lelah.
  2. Ibu sangat sering berongsang tidak terkendali. Paras muram dengan kening dan tengah dahi nan selalu berkerut ( black look ).
  3. Ibu tak doyan makan walaupun dia tahu bahwa dia butuh makan buat mendapatkan ASI nan banyak.
  4. Tidak ada keinginan buat ‘melayani’ suami.
  5. Ibu terlihat sedih dan pandangan matanya tidak bersinar seperti orang tidak punya semangat hidup.
  6. Ibu mengalami susah tidur.
  7. Ibu merasa bersalah.
  8. Yang lebih parah kalau ibu mempunyai niat mau bunuh diri dan bahkan ingin menyakiti bayinya sebab timbul perasaan benci nan sangat dalam terhadap sang bayi.


Bagaimana Penanganannya?

Bila ada ibu nan telah melahirkan mengalami ciri-ciri di atas, maka nan dapat kita lakukan adalah:

  1. Ajak ngobrol ibu tentang hal-hal nan menyenangkan.
  2. Bantu si ibu dengan cara merawat bayinya ketika dia sedang tak mood melihat sang bayi.
  3. Pujilah betapa manis, sehat, dan menariknya sang bayi.
  4. Puji ibu dengan mengatakan bahwa dia tetap terlihat lebih cantik setelah melahirkan.
  5. Jangan bebani ibu dengan pekerjaan nan berat. Biarkan dia beristirahat.
  6. Bila perlu, mintalah donasi paramedis. Memberi ibu obat antidepresi bila kondisi depresi sang ibu sangat parah.


Antisipasi Depresi Pascamelahirkan

Untuk mengantisipasi depresi setelah melahirkan, ada beberapa tindakan nan dapat dilakukan. Berikut ialah langkah-langkah nan dapat diambil buat menghindari munculnya beban mental depresi tersebut.

  1. Jika selama masa kehamilan ibu merasakan beban nan berat, maka lakukanlah relaksasi nan teratur selama masa menjelang persalinan. Relaksasi nan dilakukan dapat berupa pengolahan napas, olahraga ringan atau senam hamil, yoga ringan, meditasi, dan lain-lain nan berpotensi memberikan jalan pernapasan nan lebih panjang dari biasanya.
  2. Bangunlah di pagi hari dan berjalanlah mengelilingi komplek perumahan atau sekitar rumah buat mendapatkan udara segar dan sinar matahari di pagi hari. Hal ini dapat membantu melancarkan peredaran darah sehingga ibu tak mudah merasa lelah dan lemas.
  3. Makanlah cokelat di saat sedang tak berkegiatan. Cokelat dipercaya mampu meningkatkan serotonin di dalam tubuh sehingga ibu hamil merasa lebih bahagia dan percaya diri.
  4. Lakukan kegiatan nan menarik apabila ada waktu senggang. Kegiatan tersebut dapat dengan berbelanja keperluan bayi, berbelanja makanan kesukaan ibu hamil, membaca buku tentang persalinan nan bahagia, serta hal lain nan berpotensi meningkatkan emosi positif dalam tubuh dan pikiran ibu hamil.
  5. Mintalah teman buat menemani ibu hamil jalan-jalan agar ibu hamil tak merasa sendirian dan kesepian.
  6. Jika tubuh merasa pegal, mintalah suami atau orang terdekat buat memijat bahu dan bagian tubuh lain nan pegal dengan pijatan lembut. Jangan terlalu sering mengonsumsi obat kimia meskipun obat tersebut kondusif bagi kandungan.
  7. Dengarkanlah musik klasik. Selain dapat membuat ibu hamil nan sedang gundah menjadi lebih tenang, musik klasik juga dipercaya bisa merangsang tumbuh bunga otak janin selama masih di dalam kandungan.

Dengan langkah-langkah di atas, diharapkan Anda dan ibu hamil lainnya dapat lebih senang menjalani masa masa kehamilan sehingga kemungkinan munculnya depresi setelah melahirkan dapat sangat dihindari. Selamat berbahagia menanti kelahiran jabang bayi!