Mulai dari Keluarga

Mulai dari Keluarga



Berjuang Terus

Kesenangan membaca itu harus ditularkan. Bila tidak, ilmu nan terkandung di dalam banyak buku nan baik akan hilang. Buku-buku itu suatu saat akan hancur. Lalu bagaimana dengan ilmu nan telah dituliskan itu? Ketika Imam Ghazali muda dirampok, ia berkata kepada kepala perampok itu dan memohon kepadanya buat tak mengambil buku-bukunya. Lalu denga entengnya, sang kepala perampok mengatakan bahwa ilmu itu ada di kepala bukan di dalam buku.

Kata-kata kepala perampok itu sahih adanya. Sejak saat itu Imam Ghazali selalu berusaha menghapal semua ilmunya sambil tentu saja menuliskannya. Lewat tulisan ini, ilmu itu akan banyak menyentuh jiwa-jiwa nan ada nun jauh di seberang pulau dan bahkan lewati batas waktu dan batas dinding kehidupan. Ilmu nan dituliskan itu akan menjadi amal jariyah bagi penulisnya. Tentu saja buku itu haruslah buku nan baik. Karena hanya ilmu nan kegunaan nan dianggap sebagai amal jariyah.

Perpustakaan sebagai salah satu loka adanya ulmu, harusnya menjadi satu acum nan baik bagi semua orang. Zaman teknologi ini memungkinkan orang tak hanya berkunjung ke perpustakaan dengan bentuk gedung nan megah. Mereka juga dapat mengunjungi perpustakaan digital. Namun, bagaimanapun, berkunjung ke gedung perpustakaan itu akan memberikan akibat nan lain. Ada suasana nan berbeda dari perpustakaan digital. Banyak buku tua nan mungkin masih dapat dimanfaatkan informasinya. Paling tak sebagai pembanding.



Promosi

Perpustakaan juga harus berpromosi. Tanpa adanya promosi nan gencar, bagaimana mungkin masyarakat akan tahu bahwa ada perpustakaan di lingkungannya. Salah satu bentuk promosi itu tentu saja pembuatan artikel nan berkenaan dengan perpustakaan tersebut. Untuk menulis artikel tentang perpustakaan nan selanjutnya bisa memikat masyarakat aktif ke perpustakaan, maka artikel nan kita susun harusnya menarik hati.

Di samping itu, artikel nan kita tulis harusnya berisi data konkrit dari perpustakaan nan kita inginkan. Dengan demikian, maka masyarakat bisa mengetahui segala hal terkait perpustakaan. Sementara itu, kita berharap tak hanya meningkatkan minat terhadap eksistensi perpustakaan, tetapi nan lebih krusial lagi ialah meningkatkan kemampuan atau kompetensi menulis dan membaca.

Dengan, mengembangkan kompetensi melalui lomba menulis artikel mengenai perpustakaan, maka ada 3 (tiga) hal nan kita dapatkan, yaitu pengembangan kompetensi menulis dan kompetensi membaca serta sosialisasi perpustakaan.

Pengertian Kompetensi Membaca
Membaca ialah sebuah kompetensi dasar nan dimiliki oleh seseorang dalam upaya menghadapi hayati lebih baik. Membaca ini merupakan kemampuan kita dalam mengartikan atau menafsirkan huruf, rangkaian huruf, rangkaian kata dan kalimat hingga sebuah bacaan dan menjadikannya sebagai bagian integral diri kita. Membaca ini melatih otak terus berproses dan aktif mengolah berbagai informasi sehingga membuat manusia menjadi lebih cerdas.

Kalau seseorang itu tak memenuhi otaknya dengan berbagai informasi nan bagus, ia dapat menjadikan otaknya wafat sebelum waktunya. Otak nan tak berisi informasi itu akan sedikit lambat memproses berabgai masalah nan terjadi di sekelilingnya. Ketika masalah ini dihadapi dengan emosi semata, mata mental dan perasaan dapat menjadi tertekan. Berbeda dengan orang nan mempunyai banyak pemikiran dan selalu mencari solusi. Ia akan dengan tenang dan sabarnya menghadapi masalahnya sebab ia tahu apa nan harus diperbuat.

Bila anak muda dilatih banyak membaca artikel atau buku nan berisi bagaimana memecahkan masalah, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi nan tak mencari jawaban dari ‘Mengapa’ semata. Mereka akan lebih mencari jawaban dengan kata ‘Bagaimana’. Dari kata tanya ini mereka akan mencari solusi nan tepat. Solusi nan tepat dalam waktu nan cepat membuat kehidupan berjalan lebih enteng dan lebih menenangkan. Tidak ada kegelisahan sebab semuanya ada pemecahan.

Setiap orang mempunyai kemampuan membaca sejak mereka mulai menyadari bahwa mereka memerlukan kemampuan buat menafsirkan setiap alat komunikasi dalam hidupnya. Jika berbicara secara lisan, mereka tak ada masalah, maka saat berhadapan dengan alat-alat komunikasi, khususnya huruf dan kata dan kalimat, maka mereka harus mempunyai kemampuan spesifik buat menerjemahkan simbol tersebut. Jika tidak, maka mereka niscaya mengalami kesulitan berinteraksi sosial.

Untuk saat sekarang, masyarakat baca kita sudah merata karena dengan program pemberatasan buta huruf nan dicanangkan pemerintah benar-benar mujarab buat hal tersebut. Kita tak lagi menemukan orang-orang nan kesulitan membaca, setidaknya sedikit sekali jumlah mereka. Dan, spesifik buat anak-anak, setidaknya buat merangsang anak-anak agar mencintai kegiatan membaca, maka kita bisa melakukan program atau kegiatan lomba penulisan artikel perpustakaan.

Menulis, Membaca dan Sekaligus Mengenal Eksistensi Perpustakaan
Dengan mengadakan lomba menulis artikel tentang perpustakaan, maka setidaknya ada 3 (tiga) kegiatan dasar nan harus dilakukan oleh peserta lomba, yaitu membaca, menulis dan mengunjungi perpustakaan. Tentunya, jika anak-anak mengikuti lomba ini, maka kewajiban mereka ialah mencari data di perpustakaan dan selanjutnya membaca buku-buku, serta akhirnya mereka harus menulis segala hal nan telah dibacanya tersebut.

Ada 3 (tiga) tugas primer nan harus dilakukan oleh peserta lomba pada saat mengikuti lomba penulisan artikel perpustakaan ini, yaitu:

* Mengunjungi perpustakaan
Pada awalnya, peserta diwajibkan buat datang ke perpustakaan. Dalam hal ini mereka memang harus mendatangi perpustakaan karena materi buat penulisan artikel perpustakaan ada di situ. Jika mereka mendatangi perpustakaan, maka setidaknya kita telah mengenalkan perpustakaan kepada mereka.

Mereka nan sebelumnya tak mengenal eksistensi perpustakaan, maka setelah mendatangi perpustakaan akan mengetahui dan menyadari bahwa ada banyak buku di perpustakaan nan bisa mereka manfaatkan. Mereka bisa mencari dan membaca, jika perlu meminjam buku nan dibutuhkan buat dipelajari di rumah.

Untuk keperluan meminjam, berarti pada saat itu kita mengarahkan peserta buat mendaftarkan diri sebagai anggota perpustakaan. Mereka akan menyadari bahwa sebenarnya buat menjadi anggota perpustakaan sangatlah mudah dan juga mempunyai kemudahan dalam meminjam buku.

* Mencari dan Membaca buku nan diperlukan
Pada saat mereka sudah apa di perpustakaan, maka mereka niscaya mencari buku nan dibutuhkan buat proses penulisan. Tentunya mereka akan berhubungan dengan kartu buku atau katalog buku. Berarti pada saat itu mereka belajar menemukan buku nan diinginkan melalui katalog buku.

Setelah itu, mereka menuju ke rak buku. Pada saat itulah mereka belajar mengetahui bahwa setiap rak mempunyai isi buat buku dengan bidang nan sama. Misalnya ada rak buku teknik, maka rak tersebut seluruhnya berisi buku-buku teknik. Ini merupakan pengetahun dasar tentang perpustakaan nan seharusnya dipahami oleh semua orang.

* Menulis artikel dengan data nan sudah didapatkan
Setelah menemukan buku nan dibutuhkan, maka mereka segera membacanya dan jika dirasakan waktunya tak cukup, maka buku tersebut bisa dipinjam buat dibawa pulang. Dengan cara seperti ini, berarti kita sedang memberikan pembelajaran mengenai bagaimana cara memahami proses peminjaman buku dan juga bagaimana memahami isi buku serta mengikat maknanya buat dijadikan karya tulis lainnya.


Setelah karya tulis selesai, maka mereka mengirimkan karyanya ke panitia dan menunggu hasil kerja panitia dalam menentukan pemenang atau tulisan terbaik nan pantas mendapatkan reward.

Memang sulit buat mengajak masyarakat dalam melakukan 3 (tiga) kegiatan sekaligus. Tetapi setidaknya dengan lomba menulis artikel perpustakaan ini, tanpa mereka sadari kita telah membawa mereka pada tiga kegiatan tersebut secara langsung.



Mulai dari Keluarga

Keluarga nan rajin membaca akan melahirkan anak nan rajin membaca juga. Tetapi kalau hanya membaca, tentu tak cukup. Sine qua non diskusi nan mendalam tentang apa nan dibaca agar apa nan telah ditelaah dalam bacaan itu akan lebih bermanfaat bagi anak dan orangtua. Anak nan sering diajak berdiskusi akan mempunyai kemampuan buat menganalisis nan lebih baik. Gaya menganalisis inilah nan akan membuat anak menjadi sangat kritis. Daya kritis ini akan membuat anak merasa gelisah ingin melakukan sesuatu demi kebaikan diri dan lingkungannya.