3 - Gambaran Diri

3 - Gambaran Diri

Kematangan emosi ? Istilah apaan tuh? Ya, bagi sebagian orang istilah kematangan emosi dapat dikategorikan sebagai sebuah istilah nan baru. istilah nan masih terdengar asing. Untuk itu, penulis akan memberikan sedikit informasi terkait apa itu kematangan emosi. Namun, agar pemahaman mengenai bahasan ini lebih mudah diserap, penulis akan mulai menjelaskan emosi terlebih dahulu.

Secara sederhana emosi bisa diartikan sebagai gejolak jiwa, pikiran, dan kondisi perasaan nan meluap-luap. Kadang kita sering menyamakan emosi dengan marah. Pengertian ini memang tak salah, namun, marah hanyalah bagian kecil dari aktifnya emosi manusia. Kontemplasi, cinta, dan haru merupakan bentuk-bentuk dari emosi kita. Terkadang banyak nan tak sanggup mengendalikannya.

Seseorang mencapai titik kebijakan dalam hayati biasanya dalam usia tua. Hal ini berkaitan dengan waktu hayati nan dihabiskan. Semakin tinggi umur memang semakin memiliki banyak pengalaman. Namun sekali lagi, kematangan emosi tidak hanya diperoleh dalam usia tua. Mereka nan mampu mengambil pelajaran dalam hidupnya bisa mencapai kematangan emosi dalam usia nan masih muda.

Kematangan emosi seseorang akan muncul dalam diri seiring dengan perjalanan waktu dan usia seseorang. Nah, buat mengetahui bagaimana kematangan emosi tampak dalam diri seseorang, berikut ialah karakteristik generik dari kematangan emosi.



Ciri Kematangan Emosi 1 - Analisis Etis

Seseorang nan memiliki kematangan emosi biasanya selalu memandang empiris berdasarkan nilai etis. Seseorang nan telah memiliki kematangan emosi tak akan berkata atau melakukan perbuatan tanpa memikirkan etis tidaknya terlebih dahulu. Ya, seseorang nan telah memiliki kematangan emosi akan selalu melihat apakah perbuatan, tindakan, pikiran itu baik atau buruk.

Mereka hayati berdasarkan nilai-nilai moral nan berlaku dalam lingkungan, adat, dan agama mereka. Kematangan emosi ini tentu diperoleh melalui pendidikan nan berjenjang, mulai dari taraf keluarga, sekolah, dan masyarakat nan lebih luas.

Etika memang akan berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan nan lain. Namun, disparitas ini tak menghancurkan karakteristik dari kematangan emosi seseorang. Misalnya, ketika ia berkunjung ke suatu loka nan berbeda budaya maupun agama dengan dirinya, ia akan mempertimbangkan apakah tindakannya akan mengganggu orang lain, atau apakah tindakannya bertentangan dengan etika nan mereka tempati.

Pendidikan emosi akan efektif ketika ia dilakukan secara alamiah dalam lingkungan. Orang nan hayati jauh dari loka asal mereka biasanya memiliki kemampuan analisis etis dalam mematangkan emosional mereka.



Ciri Kematangan Emosi 2 - Kendali Diri

Ciri kematangan emosi termin ini jelas lebih sulit dari analisis etis. Mereka nan mampu mengendalikan diri ialah mereka nan tak diperbudak oleh emosi. Terkadang, kemampuan mengendalikan diri ini berkaitan erat dengan rendah diri. Semakin mampu ia mengendalikan diri, semakin ia memposisikan dirinya sebagai individu nan sederhana.

Pengendalian diri ialah suatu hal nan sulit sebab terjadi perang dalam diri manusia. Ia mampu berbuat sesuatu, namun tak melaksanakannya. Contoh, ia memiliki uang namun tak bersikap boros. Ia memiliki peluang menjadi seorang pemimpin, namun ia menyerahkannya kepada orang lain. Ia dapat membeli rumah nan mewah, namun ia tak melakukannya.

Kemampuan diri begitu sulit sebab ia harus menafikan suatu potensi nan kita miliki. Seseorang nan mampu mengendalikan dirinya biasanya selalu hayati dalam kondisi secukupnya.Orang nan mampu mengendalikan diri ini sudah memiliki kematangan emosi nan jauh lebih baik.

Namun, jangan salah mengartikan soal pengendalian diri ini. Kendali diri bukan berarti kita tak boleh berkembangan dan memiliki sesuatu nan kita inginkan. Kendali diri ialah rem ketika kita mulai menginginkan sesuatu nan lebih dari diri dan lingkungan kita. Dalam bahasa Freud kondisi ini dapat disebut super ego .

Cara nan paling efektif buat melatih pengendalian diri ialah dengan berpuasa. Metode ini tak hanya ada dalam ajaran Islam. Kristen, Hindu, maupun Buddha memiliki metode puasa walaupun dengan tata anggaran nan berbeda. Puasa secara harfiah berarti menahan. Menahan diri dari segala hal nan merugikan. Entah itu merugikan nilai ibadah puasa, maupun merugikan diri kita.

Puncak dari pengendalian diri ialah merebut kendali diri dari emosi menjadi milik kita. Dalam hal ini, seseorang nan telah memiliki kematangan emosi benar-benar akan menjadi penguasa atas diri kita sendiri. Keinginan, harapan, nafsu, rasa ingin memiliki ialah gejala-gejala emosi nan terkadang menguasai diri kita. Kita harus membalikkan keadaan sehingga kita benar-benar menguasai itu semua.



Ciri Kematangan Emosi 3 - Gambaran Diri

Ciri seseorang telah memiliki kematangan emosi nan baik ialah dimilikinya gambaran diri. Gambaran diri sendiri merupakan cara kita memandang diri kita, baik itu nan dibentuk orang lain maupun nan dibentuk oleh diri kita. Gambaran diri itu semacam pilot dan sistem bimbingan otomatis nan mengendalikan kita apakah akan sukses atau gagal mencapai tujuan tertentu. Gambaran diri positif seseorang membuat dirinya berharga di mata orang lain. Contohnya antara lain gambaran tentang kejujuran, ketegasan, wibawa, dan sikap tanpa kompromi dengan ketidakadilan. Sementara itu banyak dari kita nan gagal mencapai keberhasilan hayati nan lebih baik sebab lemahnya (negatif) gambaran diri kita. Kematangan emosi sangat menentukan kuat lemahnya gambaran diri nan kita miliki.

Pernahkah Anda bereaksi begitu cepat ketika orang lain mengatakan, “Dasar bodoh lu...”, atau “Pikiranmu kayak anak SD..”, atau perkataan dan hal-hal nan mengusik harga diri Anda?

Jika Anda mereaksi hal-hal itu secara cepat dan kemudian menolaknya dengan membuat benteng pertahanan diri, maka sebenarnya Anda sedang meletakkan diri dalam penghargaan nan tinggi. Orang-orang seperti ini biasanya selalu ingin dipandang, dihargai, dan dipuji oleh orang lain. Mereka tak akan terbiasa dengan cacian, cemoohan, maupun gunjingan.

Reaksi nan cepat terhadap hal-hal seperti itu biasanya muncul sebab seseorang tak terbiasa dalam keadaan tenang. Suntikan merupakan ilustrasi nan cocok buat menggambarkan hal ini.

Seseorang pergi ke dokter buat memeriksakan kesehatannya, lalu sang dokter memutuskan bahwa ia harus disuntik. Karena tak terbiasa dan takut, ia kemudian bereaksi cepat. Tubuhnya berkeringat, otot-ototnya pun menjadi kaku. Ia tak terbiasa tenang, oleh sebab itu tubuhnya bereaksi cepat. Sang dokter kemudian memberikan obat bius agar ia dapat tenang dan suntikan tak terlalu sakit rasanya.

Orang nan memiliki kematangan emosional biasanya terlatih dalam kondisi nan tenang, sehingga ia tak mereaksi dengan cepat segala hal nan muncul terhadap dirinya. Ia selalu memikirkan apakan nan dikatakan orang itu memiliki maksud lain semacam bercanda atau tidak. Sekalipun ia akan membalas, ia akan memikirkan terlebih dulu kata nan pantas diutarakan agar dinilai lebih etis.

Ya, itulah beberapa karakteristik generik nan menggambarkan seseorang telah memiliki kematangan emosi atau belum. Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda sudah memiliki kematangan emosi? Untuk menjawabnya, tanyakan sendiri pada diri, apakah Anda sudah punya tiga karakteristik kematangan emosi nan baru saja kita bahas?